Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu black metal, grindcore hingga hardcore untuk semangat tambahan di awal pekan.
01. Avhath - Eulogy
02. Caravan of Anaconda - Threatening Vertigo
03. Dead Vertical - Trapped in The Shadow
04. Deadly Weapon - New Noise (Refused Cover)
05. Disfare - Vein
06. Hellucinate - Savage Fucking Madness
07. Pure Wrath - Clouds Retiring
08. Tersanjung 13 - Jangan Lakukan di Rumah
09. Ancient - The Impaler
10. Terapi Urine - Agar Ku Selalu Tenar
Pada bulan Juli kemarin, para pendatang Comic Con di San Diego ditunjukan trailer terbaru dari reboot film horor “It”. Trailer ini merupakan yang paling detail sejauh ini, menunjukan lebih banyak adegan dan memberikan lebih banyak klip tentang sang antagonis, Pennywise.
Seperti yang diperlihatkan di dalam trailer kedua ini fokus kepada sebuah kelompok anak muda yang akan bertemu dengan sosok kejahatan yang besar di dalam kota fiksional Derry, Maine, di mana banyak kasus anak-anak yang menghilang. Ada sedikit kekecewaan terjadi untuk para penggemar Stephen King. Di dalam salah satu adegannya yang ikonik, yaitu saat Georgie bertemu dengan Pennywise di dalam selokan, Pennywise akan mengatakan dialog dengan intonasi yang berhasil menghantui sebuah generasi. Anehnya, di trailer tersebut terlihat Georgie yang mengatakannya, dan hasilnya tidak begitu
Walau begitu, banyak yang memprediksi dari trailer tersebut bahwa reboot ini akan menjadi peningkatan dari originalnya pada tahun 1990. Satu hal yang pasti adalah horor yang digunakan akan berbeda dari sebelumnya. Alih-alih hanya menggunakan monster dan hantu, Andres Muschietti, sang sutradara ingin mencari rasa takut yang lebih dalam, seperti trauma masa kecil.
Film “It” mulai rilis di Amerika Serikat pada 8 September.
Teks: Fransisca Bianca
Foto: Waxpoetics
Hasil redefinisi nuansa heavy metal yang mewarnai “Enter Sandman” ketika pertama kali dirilis oleh Metallica ini mengalihkan perhatian kembali pada Cookin on 3 Burners setelah kolaborasi dengan Kungs melalui “This Girl” yang meroket di tangga charts pada 2016 lalu. Dengan mengintegrasikan “Enter Sandman” yang kini bernuansa retro dan lebih komikal dibandingkan sebelumnya kepada audiens, mereka telah berhasil memberikan karakter baru dari hits Metallica tersebut.
Ditemani dengan video klip yang baru, “Enter Sandman” versi Cookin on 3 Burners memang tidak memerlukan lirik untuk bercerita. Melalui sebuah pengisahan yang cukup komedik dan menghibur, memahami karakter dari versi barunya ini memang butuh penyimakan dari video yang ada. Sebuah redefinisi yang memang lebih ringan dan “cerah” dibanding sebelumnya, “Enter Sandman” memang telah bertransformasi sebagai sebuah latar baru yang menyegarkan.
Setelah dinanti-nantikan oleh para penggemarnya, Kendrick Lamar akhirnya merilis video untuk “LOYALTY.” Setelah “HUMBLE.”, ”DNA.”, dan ”ELEMENTS.”, lagu ini merupakan ketiga yang mendapatkan video musik dari album DAMN. Lagu ini sendiri memang sudah diprediksi oleh para penggemarnya karena pada lagu ini K-Dot berkolaborasi dengan Rihanna.
Premis cerita untuk videonya , Lamar dan Rihanna memerankan sebuah pasangan di dalam dunia kriminal. Sebuah pasangan yang saling mencintai dan tentu saja sesuai judul lagu, mereka saling menggoda dan menguji kesetiaan masing-masing.
Video ini disutradai oleh Dave Meyer, yang belom lama juga mensutradai “HUMBLE.”, jadi tentu akan terlihat mirip dari segi visual, di mana setiap adegan seperti ada cerita tersimpan. Meyer juga menjadi sutaradara dalam video musik “Drew Barrymore”, track dari teman satu label Lamar, SZA. Para penggemar hip hop hanya bisa menunggu apakah mereka akan menghasilkan karya lagi dari album DAMN. Mungkin “XXX” untuk melihat Lamar berbagi dengan U2?
Banyaknya desainer grafis kontemporer di Indonesia telah terbukti menghasilkan ragam karakter desain yang membuat dunia desain grafis lokal diakui secara internasional. Berdasarkan hal tersebut, untuk pertama kalinya, sebuah buku berjudul “COLLECTED” akan diterbitkan dengan isi karya terbaik dari desainer grafis Indonesia - yang kini sudah bisa dipesan.
Hadir dengan bentuk atau karya kumpulan yang telah terseleksi berdasarkan tren dan gaya desain, buku ini berisi puluhan desainer yang dinilai mampu menjadi penanda zaman. Dikurasi oleh kurator dari dalam dan luar negeri, buku ini akan dicetak terbatas, hanya 1000 eksemplar, dan sebagian akan dipasarkan di luar negeri.
Beberapa desainer yang ditampilkan di dalam buku ini:
Artnivora
Feat Studio
Corse Design Factory
Tre
Cecil Mariani
Evan Wijaya
Detego
Butawarna
Each Other Company
Cyndy Erlina
FullFill
Leboye Design
MM / AD
Ellena Ekarahendy
Lencanna
House The House
Heimlo
Studio Kudos
Gumpita Rahayu
Mata Studio
Studio 1212
Sandy Karman
Panji Krishna
Pot Branding House
Table Six
Swargaloka
Studio Skato
SUNVisual
Vincent & Ivanna
Vaith Design
Thinking Room
Visious
Yasser Rizky
Visual Cast
Pre-order dibuka hingga tanggal , kunjungi situs DGI untuk detail lebih lanjut.
Vague dibilang sebagai salah satu yang mengangkat kembali nuansa Revolution Summer di skena musik lokal. Dan layaknya pendahulunya di Rites of Spring dan Embrace, Yudhistira sang gitaris/vokalis juga menggabungkan hardcore punk dengan college rock, isian gitar tajam, serta yang telah dicetak prototipnya oleh Hüsker Dü di era 80’an dulu. Berikut adalah lima lagu Hüsker Dü terbaik menurut Yudhis.
Biarpun album kedua Husker Du, Everything Falls Apart kebanyakan masih berisi tembang hardcore/punk singkat yang menandakan era awal band asal Minnesota ini, rilisan ini melahirkan satu lagu berbeda: "Everything Falls Apart," semacam Husker Du yang nantinya mereka sempurnakan di album-album berikutnya. Tapi resep formula mereka mulai terlihat di sini: lagu bertempo sedang, energi punk, gitar berisik renyah, dan tentunya petikan gitar melodik berbalut efek chorus yang menawan. Jauh sebelum Kurt Cobain melakukan hal yang serupa dengan Nirvana.
Sulit mencomot lagu dari album magnus opus Zen Arcade; album dobel ambisius berdurasi 70 menit. Mengingat ini album berkonsep di mana setiap lagu merupakan bagian dari sebuah narasi yang lebih besar. Namun lagu pembuka, "Something I Learned Today" merupakan contoh sempurna bagaimana Husker Du bisa menyajikan energi punk lengkap dengan yang sibuk tanpa mengorbankan penulisan lagu atau melodi.
New Day Rising, album follow-up Zen Arcade adalah rilisan terbaik Husker Du dan favorit saya. Ada banyak sekali lagu dari album ini yang layak masuk dalam daftar ini. Namun pilihan saya jelas jatuh ke "Celebrated Summer," lagu definitif band ini. gitar berisik yang khas, riff melodik yang kebangetan nya, dan chorus yang mengundang Sulit buat saya mendengarkan lagu ini tanpa sok-sokan Kalau Vague mengkover lagu Husker Du, sudah pasti lagi ini pilihan pertama. buat "The Girl Who Lives on Heaven Hill" dan "Books About UFOs."
Setelah New Day Rising, Husker Du merilis Flip Your Wig, album pertama di mana mereka mulai mengurangi takaran gitar, memberikan porsi lebih ke vokal dan menampilkan penulisan lagu yang semakin ngepop. Hasilnya adalah "Makes No Sense At All," tembang terbaik yang pernah mereka tulis. Penuh dengan dan diwarnai duel vokal Bob Mould dan Grant Hart, lagu ini membuka jalan bagi band-band pop alternatif di era 90an.
Biasanya saat membicarakan album debut major label Husker, Candy Apple Grey, perhatian orang tertuju ke "I Don't Wanna Know If You're Lonely", lagu rock alternatif yang juga pernah dikover oleh Green Day. Tapi di album inilah Husker Du menunjukkan kemampuan mereka meramu lagu ballad yang efektif dan emosional. "Hardly Getting Over It" merupakan luapan keresahan Bob Mould mengenai pendeknya umur manusia di bumi setelah seorang temannya meninggal dunia tiba-tiba. Hanya bermodalkan drum, gitar akustik, dentingan piano, dan vokal rapuh Mould, Husker Du membuktikan bahwa mereka bukan sekadar musisi
-
Dengarkan Vague di tautan ini.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?