
Thee Marloes: Ternyata enak jadi cheesy, kayak Stevie Wonder aja, “Signed, sealed, delivered, I’m yours.”
Dalam obrolan ini, Thee Marloes membuka banyak lapisan di balik musik mereka: dari romantisisme soul revival, penggalan lirik yang ‘lebay’, sampai refleksi personal yang membentuk Di Hotel Malibu (2026).
Words by Whiteboard Journal
Words by: Rajan Nausa
Photo: Agung Hartamurti
Musik seringnya muncul menjadi penawar hati jiwa-jiwa mereka yang mencari pegangan. Soul, dalam konteks ini (juga sejarahnya), muncul memandu dengan manisnya. Sama layaknya dengan trio asal Surabaya ini yang direkatkan olehnya, sebelum melangkah sebagai wajah Asia pertama yang bergabung dengan Big Crown Records.
Dalam obrolan ini, Thee Marloes membuka banyak lapisan di balik musik mereka: dari romantisisme soul revival, penggalan lirik yang ‘lebay’, sampai refleksi personal yang membentuk Di Hotel Malibu (2026).
Thee Marloes, jadi salah satu band Asia pertama yang bergabung dengan Big Crown Records. Seberapa besar kolaborasi ini mempengaruhi perkembangan kalian sebagai musisi?
Natassya: Yang pasti banyak banget ya, karena dari semua, dari segi kami bikin album, sampai ke tur-turnya mereka surprisingly sangat membantu. Jadi, mereka salah satu label yang, kalau aku bilang sih—pendekatannya sangat kekeluargaan banget. Mereka bener-bener mau tau apa yang lagi kami kerjain, terus juga hands-on everything that we need.
Raka: Sama ini sih, mungkin kayak kami jadi tau cara kerjanya industri yang bisa dibilang– industri kecilnya di sana, gitu. Karena mereka [juga masih] independen. Tapi, pengalaman yang banyak itu waktu tektokan sama booking agent [ternyata] seperti apa. Karena semua harus di-handle sendiri, kami waktu itu belum ada manager, semua masih diurus sendiri.
Terus kalau untuk tur di luar itu kebutuhannya apa aja, terus ternyata backline semua itu harus sewa, bahkan sampai kabel pun harus ditulis di riders, nggak kayak di Indonesia kan kita main di venue apa, pasti udah ada alatnya. Sedangkan kalau di sana, semua itu memang harus detail. Yang kita request, ya itu disediakan. Kalau kita nggak request, kami nggak akan dapat apa-apa. Itu sih, lebih teknis-teknis di perjalanan aja.
Tommy: Kami belajar di proses pembelajarannya.
Raka: Sama mungkin, sudut pandangnya mereka ya: ‘kalian tuh punya lagu, potensi lagu ini tuh gini, kalian mungkin bisa melewati potensi itu.’ Kayak misalnya lagu kami jadi, terus mereka: ‘coba bikin lagi yang lain.’ Ya, emang nggak ada bagus dan jelek, cuma akibat di-push terus, tapi tetap ngebebasin, akhirnya kami terbiasa untuk memilih mana yang menurut kami paling baik.
Ngomongin pembuatan lagu juga–lirik. Kadang bahasa Indonesia, kadang Inggris. Mengetahui saat ini pendengar kalian makin luas, sejauh apa pemilihan bahasa untuk lirik mempengaruhi proses kreatif dan pesan dalam lagu Thee Marloes?
Natassya: Lagi sih, karena kami nggak dibatasi, walaupun Big Crown dari New York, mereka nggak yang mengharuskan kami bikin bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Lebih ke waktu saat itu kami mikirnya apa dan mungkin proses pekerjaannya, go with the flow aja.
Raka: Sama, kalau bahasa Indonesia tuh aku bisa nge-pack-nya jadi—entah rimanya atau tata bahasanya—bisa dimainin, sedangkan kalau bahasa Inggris kan karena bukan native juga, jadi ada beberapa yang-
Tommy: Kiasan kayak gitu ya?
Raka: Iya, banyak ungkapan-ungkapan bahasa Indonesia yang nggak bisa diterjemahkan ke bahasa Inggris sebenarnya. Untuk pendengar sih, kayaknya bahasa bukan batasan deh sekarang.
Musik ya musik
Raka: Iya, musik ya musik.
Tapi ada rencana mau pake bahasa-bahasa native kalian sendiri? Surabaya atau Jawa?
Natassya: Di album ini ada satu lagu yang pakai bahasa Batak, bahasa asalku. Menurut aku bahasa jadi salah satu instrumen juga yang bisa membawa musik. Jadi, it’s not something that is harus dibakukan, gitu.
Raka: Kalau misalnya bahasa Jawa, kayaknya nggak ya. Soalnya kami pun juga biasa ngomongnya berbahasa Surabaya, gitu. Nanti malah jadi kayak terlalu rese ya liriknya kalau pake bahasa Jawa.
Ngomongin Surabaya, sejauh apa sih budaya atau scene musik di sana tuh mempengaruhi kalian?
Raka: Secara nggak langsung, kalau saya pribadi, karena dari dulu udah lumayan sering di scene yang—mau itu kolektif DJ atau band—beragam. Dari yang jamaican sound, reggae, ska, acara-acara ska dari dulu udah sering bikin, itu mempengaruhi musik kami juga.
Jadi, kami melihat perspektifnya, kalau scene tuh seperti ini, jadi harus ada bentuk nyatanya lho untuk membuat sesuatu. Mendapatkan referensi-referensi yang lebih ke roots-nya untuk teknisnya, karena ada temen-temen yang udah koleksi plat-plat reggae dari tahun 70an, akhirnya aku terbiasa belajar mendengarkan musik.
Kalau misalnya aku suka R&B gitu, taruhlah kayak Erykah Badu, dia tuh referensinya siapa sih, nanti referensinya dia tuh referensinya siapa lagi? Jadi, akhirnya secara musikal, membawa kembali ke paling dalemnya lagi, paling jauhnya lah.
Natassya: Jadi lebih ke saling tukar referensi aja. Di Thee Marloes sendiri, aku dan mereka [Raka dan Tommy] kan juga dari scene-scene yang berbeda ya. Kami semua di Surabaya, bertemunya di satu gigs, ngobrol-ngobrol, ‘oh referensinya hampir sama, roots-nya sama.’
Raka: Musik yang disukain ternyata sama, jadi ada lemnya.

Photo by Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Pernah clash nggak karena perbedaan referensi sebelumnya?
Tommy: Iya, pasti. Karena untuk awal-awal, aku reference-nya taunya emang dari Raka. Aku yang dengerin melulu hardcore dan punk, karena emang berangkatnya dari situ, semua ini hal baru nih, akhirnya explore. Awalnya nggak ngulik banget aja.
Raka: Tapi, kalau clash dari kami bertiga, nggak pernah sih, soalnya emang mungkin kami tuh udah tau ketika waktu bikin band, mana yang ‘ah, nggak, rek’ gitu. Yang nggak masuk lah.
Natassya: Sama, mungkin kalau aku ini sih, [belajar dari] budaya di-scene-nya Surabaya, kayak harus mulai profesional gitu, loh. Kalau aku lihat, di kacamata aku, kalau misalnya scene-scene musik yang dulu, mungkin waktu kami kuliah atau SMA gitu, [banyaknya] berangkat dari hobi kan, semuanya berdasarkan senang-senang.
Jadi, takutnya kalau terus-terusan di senang-senang, pas udah nggak senang, bubar dong? Nah, ini. Gimana caranya menemukan rasa yang kayak: ‘emang niat nggak kamu bermusik dan sama-sama bikin sebuah karya?’
Tommy: Komitmennya.
Raka: Sama mungkin ini ya, waktu itu nyari siapa yang mau join [bikin band], banyak yang ternyata secara referensi nggak ketemu, ngobrolnya nggak ketemu, lama-lama kan orang dari remaja makin tua, pola pikirnya jadi makin berubah.
Natassya: Effort-nya juga nggak sama.
Raka: Nge-band dengan kepala terlalu banyak. 7 orang gitu, band 11 orang gitu, band ska gitu—pasti susah.
Soal gelombang ‘soul revival,’ yang bisa jadi ditempelkan ke kalian juga. Bagaimana kalian menyeimbangkan antara menjaga esensi klasik soul dan menciptakan sesuatu yang relevan dengan masa ini?
Natassya: Justru, malah kami nggak mau mengkotakan itu. Bahkan, kemarin kami ngobrol sama Big Crown juga, mereka nggak mau [kami] ter-stereotype soul revival.
Raka: Maksudnya, soul tuh nggak perlu revive, karena dia ada terus. Jadi, kalau dibilang soul revival, kami [lebih ke] mengadaptasi musiknya, soundnya, caranya mereka merekam, cara produksinya.
Tapi, kalau dibilang revival, kayaknya terlalu ini ya, terlalu jauh. Karena pertama, aku mikirnya, kami nggak merasakan hal yang sama dengan mereka, misalnya kayak Marvin Gaye pada saat itu, Aretha Franklin dengan liriknya. Kami nggak merasakan energi yang sama saat itu, jadi kami mungkin suka sama musik-musiknya, mencoba memainkannya, meskipun nggak sempurna, tapi ya kami coba mengolah itu.
Jadi, menurutku juga untuk tetap relevan, sebenernya nggak perlu mencoba untuk tetap relevan, sih. Karena kami hidup di era ini, pasti akan berbeda dengan referensi yang kami dengarkan atau kami coba mainkan. Kami selalu mencoba untuk mengadaptasi dan menjadikan itu referensi, tapi nggak mencoba untuk mengimitasi, karena nggak bisa.
Speaking of which, soul juga berakar dari black culture atas ekspresi kebahagiaan mereka. Di tengah kondisi dunia yang seringnya menyulitkan kita untuk ‘positif,’ bagaimana kalian menjaga agar pesan optimisme dalam musik tetap terasa jujur dan tidak terkesan ‘forced’?
Raka: Sebenarnya, kalau untuk itu, tadi sih, kami mencoba bikin lirik dengan apa yang lagi kami rasakan aja. Jadi, mungkin kalau soul dari black culture yang kami juga sangat respect, tetap jadi salah satu musik yang akan tetap menjadi referensi kami. Cuma, balik lagi, nggak mencoba untuk: ‘oh, ini kami tuh band soul yang pengen jadi OG, gitu.’
Karena sebenarnya, [kami] lebih nyaman kayak [dilabelli] band pop yang ada referensi soul-nya, gitu.
Karena [secara] lirik, selalu lirikal juga, ya kayak band pop aja. Cuma, tentu musik sama sound-nya aja yang influence-nya dari black music atau soul, yang kayak klasik gitu, atau low rider. Sekarang pun, secara bentuk sound, [kami] emang pengen agak keluar dari kolam itu, karena kami ngerasanya lebih jujur kalau kami bisa mengeksplor—karena kami bikin musik juga buat mengeksplor diri.
Single-single awal (especially “Nanti”) punya nuansa yang lebih… psychedelic/funk-rock, dengan elemen seperti solo gitar yang cukup menonjol. Ada kemungkinan untuk balik ke arah sound tersebut di album ini?
Raka: Kalau album ini nggak, soalnya udah jadi.
Tommy: Itu kan mungkin titik starting kami untuk mulai ya. Lebih balad gitu ya, kalau dibandingin lagu-lagu yang lain. Itu kan berempat soalnya, karena dulu kami masih berempat, ada Mas Bima. Masih Thee Marloes Rhythm, sebelum berubah dan whole package sound-nya jadi Thee Marloes.
Raka: Tapi, nggak tau ya. Mungkin nanti mau diselipin lagi. Sebenarnya, kalau secara sound juga, pilihan-pilihan sound-nya masih dipakai sih, cuma cara bernyanyinya aja. Karena apa? Mas Bima itu, beliau banyak bandnya rock/southern rock, gitu. Jadi, emang cara nyanyinya gitu. Mungkin kalau itu Tasya yang nyanyi akan terdengar seperti saat ini aja.
Dari rilisan kalian sejauh ini, nuansa nostalgic dan romantis terasa kuat, bahkan kalian juga embrace lirik yang bisa dibilang ‘cheesy.’ Apakah misi kalian: embracing cheesiness?
Raka: Kalau lirik, mungkin karena ini ya, aku tuh selalu liat musik soul itu kalau ngomongin tuh tanpa tedeng aling-aling. Misalnya, mau ngomongin cinta, ngomongin cinta. Misalnya, Gil Scott-Heron di lagu “The Revolution Will Not Be Televised.” Mau ngomongin cinta, mau politik, ngomongnya vokal.
Kenapa kita harus membiaskan semua kata-kata yang bisa disampaikan secara langsung? Kalau aku mikirnya gitu. Pertama, kalau misalnya banyak kiasan, tapi kami nggak bisa memaknai itu sendiri juga, ngapain? Palsu gitu jadinya.
Natassya: Enak lagi jadi cheesy, kayak Stevie Wonders aja: “Signed, sealed, delivered, I’m yours.”
Raka: Bungkus aku padamu.
Kita bener-bener harus menuju dunia yang lebih cheesy ya.
Raka: Tapi sebenarnya, bisa dibilang cheesy atau nggaknya itu dari cara menyampaikannya. Maksudnya kayak caranya mengolahnya, atau cara ‘menangisnya’ itu gimana, sih? Mungkin kami package-nya aja ya, kadang-kadang sound-nya dibuat lebih heavy, terus kayak groove-nya lebih hip-hop, tapi liriknya cheesy. Karena kami sadar: lirik kami cheesy, makanya musiknya emang dibuat kadang-kadang lebih–kayak mungkin di lagu-lagu ballad, mainin gitar overdrive-nya, supaya lebih bernyanyi, atau lead saxo-nya [dimainin]. Kalau misalnya kami lagunya yang cheesy dan sangat cengeng, aku berusaha ngasih kontranya, biar kotor gitu.
Terinspirasi dari pertanyaan kalian untuk L’Impératrice: Seberapa besar peran visual dalam proses kreatif kalian? Apakah kalian membayangkan adegan atau dunia tertentu saat menulis lagu?
Raka: Aku iya. Kebanyakan aku udah tau set-nya. Tapi, cuma satu shot aja, gitu. Misalnya, “Di Hotel Malibu,” waktu aku bikin liriknya, kebayang di ruang tunggunya bandara. “Under The Silver Moon,” itu aku bayanginnya lagi di pantai. Dua orang duduk, kayak di scene-scene, post-apocalyptic, tinggal mereka berdua.
Kalau bisa isi soundtrack film , mau apa?
Natassya: Film sci-fi, sih.
MV “Under the Silver Moon” juga ada drag queen alien juga ya…
Natassya: Benar, shout out to Nanda.
Raka: Bahkan, ada beberapa kayak MV “I’d Be Lost,” itu sebenarnya [agak jauh], karena liriknya [tercipta] abis nonton Interstellar (2014), aslinya set-nya tuh yang kebayang kayak gitu.
Ngomongin soal MV juga, aku minta sutradara dari beberapa MV kalian, Sarahdiva Rinaldy, untuk kirim pertanyaan.
Natassya: Lho?
Pertanyaanya adalah: “Who’s your fashion inspo? ((since they always look necis and sharp 24/7, i’ve been wondering hahahah))”
Raka: Aku ada dua. Kakekku, sama ada desainer, namanya Scott Fraser. Dia orang UK, tapi sekarang lagi…
Tommy: Dan penjahit ya?
Raka: Iya, penjahit juga. Dia bikin bespoke, bikin Italian knitwear-knitwear, gitu.
Tommy: Dengan package yang mungkin lebih modern.
Raka: Iya, dan gaul.. Sama, kakekku, sih. Soalnya necis dia. Dapper.
Natassya: Aku… mungkin [gaya] Motown, kayak Diana Ross. Terus, di era itu juga, Aretha Franklin. Dan opung aku.
Tommy: Kami kalau produksi baju, punya penjahit sendiri-sendiri kan. Jadi, ngambil [referensi], tapi disamain dengan era sekarang. Soalnya, kalau disamain banget—kayak misalnya Tasya sama Motown—eranya berbeda.
Okay, untuk Di Hotel Malibu (2026). Apa cerita atau perasaan utama yang ingin kalian sampaikan?
Raka: Kalau aku, karena album ini bisa dibilang—2 tahun terakhirnya kami. Cerita-ceritanya, mau secara musik, mau secara lirik, itu dialami kami. Kalau secara lirik, [justru] lebih ke pertanyaan-pertanyaan aja, sih.
Kalau aku, dari gameplay yang aku buat, banyak pertanyaan-pertanyaan yang kayak: ‘bener nggak sih, hidup tuh gimana, sih? Apakah terlalu tua kita sekarang untuk membuat keputusan-keputusan?’ Terus, ‘waktu tuh gimana sih?’ Pertanyaan-pertanyaan gitu aja sebenarnya, bukan untuk disampaikan ke orang, tapi lebih ke pertanyaan diri sendiri sebenarnya.
Secara musikal, itu memang benar-benar pengen nge-translate aja apa yang kami alami selama 2 tahun ini, apa yang kami lihat, apa yang kami dengar, kami rasakan bersama saat sesi rekaman di studio. Apa yang keluar di saat itu, ya jadi album ini. Sound-nya sendiri kami pengen benar-benar sedekat mungkin dengan apa yang kami dengarkan di studio.
Natassya: Kalau aku pribadi, jadi emang ini menandai sebuah perjalanan hidup. Terutama di aku sendiri, karena di album kedua ini, jujur, jadi salah satu momen di mana aku melihat diriku sendiri—Kira-kira potensial apa yang ada dalam diriku sendiri, dan berani nggak ya?
Di umur yang udah nggak muda lagi dan di mana segala keputusan itu sangat bakal bisa merubah semuanya. Jadi, kayak harus hati-hati ,nih. Banyak sekali perhitungan. Cuma kembali lagi, I think, tetap know yourself.
Raka: Di umur yang kalau misalnya angkat-angkat ampli udah nggak gampang. Sekali jalan-jalan jauh udah kedinginan.
Natassya: Kedinginan sedikit flu.
Tommy: Kalau di album ini, mungkin dari aku, kan emang album pertama masih iseng-iseng, album kedua ini jadi titik balik bahwa referensi emang harus di-explore dan segala macam. Terus kalau yang disampaikan mungkin… (berpose angsa di bawah).

Photo by Agung Hartamurti/Whiteboard Journal



