In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Dalam submisi Open Column ini, Ruth Maria Artauli Purba menuliskan ceritanya ketika keluar malam yang banyak diganggu oleh kelap-kelip lampu di warung, dan bagaimana semarak yang tidak teratur ini sebetulnya menjadi hal berbahaya bagi teman-teman yang memiliki disabilitas taktampak.
In this Open Column submission, Fikri Izza unearths how sounds that resonate around and within an urban landscape may actually shape the city more than how we usually visualize it, and soundscapes might also be a method of safekeeping our memories of the city.
Dalam submisi Open Column ini, Muhamad Aditya Ibnu Salim dan Diospyros Pieter Raphael Suitela memperlihatkan proses belajar–mengajar di Kampung Pantan Nangka, Aceh Tengah, sekaligus mempertanyakan dengan mendesak: "Sampai kapan terpal plastik dianggap cukup untuk mencerdaskan kehidupan bangsa?"
Dalam submisi Open Column ini, Randy Levin Virgiawan menyingkap bagaimana ‘Jakarta-gaze,’ dalam konteks mengapresiasi musik yang lahirnya dari luar Jakarta, jelas fatal dalam mereduksi talenta “daerah” yang mestinya bisa merekah tanpa merepotkan perhatian sang ibu kota.
Dalam submisi Open Column ini, Aditya Gumay merespons segala memori dan luka yang membekas di sudut-sudut kota, dan bagaimana kota memiliki peran penting dalam merawat ingatan kolektif terhadap siklus kekerasan negara.
In this Open Column submission, Radit Mahindro shines through a variety of lenses - from tourism to the Tower of Babel - to respond to the current heightened tension between Iran and neighbours in the Arab League, Israeli occupation of Palestinian land, and over-tourism while the loss of place takes place, all to explain how geopolitical friction could be rooted in a fundamental refusal to see the “other” clearly.