
ONAR: Hip-hop no school, kita tahu lah banyak haters-nya. Sama juga kayak makanan atau fashion, pasti ada aja yang benci.
Ngobrol bareng Havie (Laze), Abim (FKA Noise), Kezia, dan Daniel (Bakmie kasih) soal kedalaman bagi musik hip-hop, manifestasi ONARFEST, sampai pentingnya ‘ekslusifitas’ untuk menjaga ruang transaksi.
Words by Whiteboard Journal
Words: Rajan Nausa
Image: Agung Hartamurti
Lihat kanan, lihat kiri, makin hari, hip-hop lokal makin menunjukkan giginya. Entah jika itu bagian dari misi atau bukan, dan di luar jika itu masuk preferensi musik kebanyakan atau tidak, gelombang pasang ini jauh dari kata surut. Setidaknya jika melihat pergolakan dari satu kolektif (atau mereka yang di dalamnya lebih nyaman dengan sebutan tongkrongan) ini.
Kami berkunjung ke Bakmie Kasih, untuk ngobrol bareng Havie (Laze), Abim (FKA Noise), Kezia, dan Daniel. Obrolan yang berakhir panjang, membahas kedalaman bagi musik hip-hop, membangun ONARFEST dari mimpi, sampai pentingnya ‘ekslusifitas’ untuk menjaga ruang transaksi.
ONAR lahir dari tongkrongan dan tumbuh di fase ketika hip-hop lokal mulai keluar dari niche dan masuk ke audiens yang lebih luas. Sekarang, ketika hip-hop sudah jadi bagian dari pop culture arus utama, apa yang benar-benar berubah di scene hari ini, dan apa yang justru hilang?
Havie: Jujur kalau menurut gue sendiri, hip-hop di Indonesia hari ini tuh, kalau lo bilang ada di arus utama, gue nggak terlalu yakin, satu. Terus yang kedua, gue ngerasa hip-hop di Indonesia level-nya belum sampai kayak ada industrinya. Ibaratnya menurut gue pribadi, secara bisnis, income yang masuk ke hip-hop itu masih impor. Antara impor dari negara lain atau industri lain. Menurut gue kayak gitu.
Sekarang ada beberapa individu, artis, atau grup yang mulai viral, mulai besar.
Tapi kalau secara keseluruhan, apakah apinya panas untuk hip-hop? Secara general sih mungkin belum. Gue bisa bilang tahun 2016 kayaknya masih lebih panas, bahkan level-nya sampai unnecessary.
Banyak pihak-pihak yang gue nggak tahu siapa tiba-tiba muncul terus bikin acara, bikin festival, bikin sesuatu yang ekstensif banget. Dan mungkin setelah dari situ mereka lihat, “Oh, kayaknya belum terlalu siap ya sebenarnya market-nya.” Habis itu mundur lagi.
Tapi kalau in terms of talent, hari ini keren-keren. Regenerasi selalu ada, yang muda-muda sound-nya makin beragam. Lo mau nyari subgenre apa aja , pasti ada di Indonesia. Tapi, kalau secara bisnis atau industri, kita belum sematang itu juga kalau menurut gue pribadi.
Nah terus, in terms of ONAR, kita muncul tahun berapa ya, Bim? 2015? Saat itu apakah hip-hop udah mulai ke arus utama? Sebenarnya sih belum juga. Ya udah, karena kita tongkrongan, mungkin itu yang bikin kami masih nongkrong aja sampai sekarang.
Abim: Kalau gue kan nggak kayak Havie (Laze), gue nggak merhatiin semua hip-hop. Gue lebih merhatiin yang di sekitar gue aja.
Tapi yang gue rasain sih, ONAR kan mulai barengan sama Cul De Sac, A. Nayaka, PreachJa, party-party itulah, yang dulu sempat dibilang Vice sebagai “hip-hop Jaksel.”
Dulu party-nya di H Gourmet, Parc19, atau Hatchi, hari ini tempatnya mungkin ganti, party-nya jadi di Krapela, nongkrongnya di Bakmie Kasih, itu kelanjutannya aja.
Gue ngeliatnya berkembang terus dan nggak ada yang hilang, sih. Yang ada malah nambah terus buat lingkungan ini. Kami juga nemuin cara-cara baru bikin lagu, bikin baju, bikin desain. Jadi gimana caranya bikin semuanya makin enak lagi.
Dulu ada garis yang cukup jelas antara underground dan mainstream. Sekarang garis itu makin lebur. Kalau ONAR berdiri di tengah spektrum itu, kalian merasa lebih dekat ke mana? Atau justru spektrum itu sudah nggak relevan lagi?
Abim: Kalau gue ngeliatnya itu masalah akses. Dulu ada TV, radio, label gede, yang memungkinkan satu produk jadi global. Mainstream itu definisinya kayak “se-global apa lo?”
Nah, buat bisa tembus TV, radio, atau label, artists harus lewatin gatekeeper. Akhirnya ada yang underground, karena nggak mau ngikutin gatekeeper atau industrinya. Konsekuensinya? ya lo nggak dapet akses global itu.
Mungkin setelah internet, itu udah nggak terlalu berlaku, dan sebenarnya gue juga nggak terlalu mikirin atau peduli. Kalau ONAR sendiri, atau at least gue ya, soal gatekeeper tadi emang nggak mau urusan. Kami pengen ngelakuin yang kami pengen aja. Tinggal tergantung definisi underground sama mainstream sekarang itu apa?
Kalau misalkan underground berarti acaranya gratis atau orang-orangnya ngerokok, ya berarti gue nggak underground. Kalau mainstream berarti lo harus ngejar numbers, gue juga nggak mainstream. Kalau cara underground cocok, ya gue nggak masalah underground. Kalau cara mainstream cocok, gue nggak masalah mainstream. Yang penting caranya cocok buat gue.
Havie: Kalau menurut gue, simpelnya, spektrum lo lebih dekat ke underground atau mainstream itu yang paling bisa lihat justru orang lain, pendengar, atau pengamat. Artist-nya sih melakukan hal yang dia mau aja.
Kalau lihat arah eksplorasi sound sekarang, kalian pengen ONAR terdengar seperti apa dalam 3–5 tahun ke depan?
Abim: Kami sound next lagu aja belum tahu kayak gimana. Jadi nggak bisa jawab.




Kalian pernah bilang hip-hop harus punya depth supaya bisa mengakar dan nggak cuma jadi tren. Di era AI-slop ini, gimana cara kalian tetap menjaga kedalaman itu?
Havie: Sebenarnya depth yang gue maksud adalah sesuatu yang bisa masuk ke diri atau hati individu secara dalam. Jadi akarnya terbangun di hati atau jiwa pendengarnya.
Biasanya hal-hal yang bisa menyentuh kayak gitu adalah topik-topik yang lo sendiri rasain. Keresahan lo, kerumitan hidup lo. Ketika lo denger lagu rasanya personal dan bukan cuma surface level.
Maksud gue tuh kayak gitu ketika gue bilang depth. Ketika lo punya depth, ya gue yakin nggak akan ada lagi pertanyaan kayak, “hip-hop tuh shallow ya?” Ya tergantung lo dengerin siapa. Apakah orang yang lo dengerin bisa menyentuh hati atau diri lo?
Dan itu gue nggak bisa bilang buat ONAR ya. Itu lebih personal cara Laze berkarya aja.
Abim: Sebenernya gue punya masalah sama istilah depth sih. Mungkin personal juga ya, karena gue sering dibilang dangkal.
Kalau pandangan gue, misalnya ada alien datang ke bumi terus lihat ada orang ngantor sama ada orang nongkrong. Buat dia ya sama aja. Dia cuma lihat ada orang berinteraksi. Nggak ada yang lebih dalam atau lebih mulia.
Gue nggak merasa ada satu aktivitas yang lebih mulia dibanding aktivitas lain. Semuanya tergantung.
Kayak contohnya lo di kelas. Kenapa kelas otomatis dianggap belajar? Kenapa nggak dianggap entertainment? Bisa aja ada orang yang memang senang denger orang ngomong. Atau sebaliknya, lo nonton konser justru jadi edukasi buat lo karena ada sesuatu yang lo dapet dari situ. Jadi ada orang ke kelas buat hiburan dan ada orang ke konser buat edukasi. Mana yang lebih positif? Gue nggak tahu.
Kalaupun lo senang-senang doang, bukannya itu juga bagus? Bukannya lo juga bisa belajar? Kalau lo maksain belajar pun belum tentu efektif. Jadi gue ngelihatnya benar-benar mana yang works aja sih.
Gimana menjaga kedalaman itu? Ya bikin sesuatu yang sesuai tujuannya aja. Karena menurut gue nggak ada yang lebih dalam atau lebih dangkal. Yang ada cuma works atau nggak.
Gue dulu kuliah teknik, terus ada orang yang suka jadi komandan lapangan waktu ospek. Cara ngomongnya tinggi banget, dalem banget, orator banget. Tapi pas pengabdian masyarakat ke desa, dia masih ngomong pakai bahasa tinggi itu. Ya nggak nyampe. [Karena] mungkin warga lebih nyambung kalau diajak senang-senang dulu dibanding diajarin formal. Buat gue itu cuma soal metode—mana yang works. Gue percaya sama desain aja sih.
Daniel: Gue personal juga nggak suka kata “depth.” Gue bukan seniman, tapi gue ngerasa hidup gue nggak bisa dipisahin dari karya seni.
Abim: Bakmi lu seni.
Daniel: Barusan aja ada yang bilang bakmi gue seni. Meskipun buat gue mungkin biasa aja, tapi lagu kalian juga seni.
Yang gue sadari pas dewasa adalah kita tuh jadi budak dari kata “depth.” Kalau sesuatu nggak punya depth, berarti gagal.
Hip-hop no school, kita tahu lah banyak haters-nya. Sama juga kayak makanan atau fashion, ada aja yang benci.
Ketika orang ngehina [hip-hop], semua fokus ke “swag, sweg, swag, apaan sih musik swag?” Seolah-olah itu adalah kata-kata paling… “Wih mantep banget nih hinaan gue.” Soalnya lu mau jawab pake apa coba? Emang musik lu isinya swag, swag, swag gitu, kan?
Padahal buat orang-orang tertentu, mungkin dalam kasus analoginya Abim tadi di warga desa yang lagi dikasih pengabdian masyarakat sama Universitas tinggi terbaik itu, swag itu yang paling works buat mereka. Itu yang bikin mereka semangat hidup, bikin mereka merasa jadi manusia harus act a certain way atau respect orang dengan cara tertentu.
Kenapa sesuatu bisa direduksi cuma karena minim kata-kata, sementara yang lain dipuja karena diksinya banyak padahal esensinya sama?
Abim: Padahal lagu perlawanan juga bisa aja cuma word salad.
Daniel: Nah, makanya gue lumayan pembenci istilah “depth.” Bukan berarti gue nggak suka kedalaman, gue ngerti maksudnya. Tapi biasanya orang yang datang ke gue sambil ngomong “depth,” gue langsung waspada.
Gue lebih suka multitafsir. Sebuah karya seni kalau punya akses untuk ditafsirkan ke banyak arah, biasanya pengaruhnya lebih positif.
Segelas air juga akan terasa dalam buat seekor semut, kan?
Havie: Depth yang gue maksud tuh sesimpel ini: gue bikin kolam 150 cm. Buat orang yang tingginya 160 cm, kolam itu cukup dalam. Tapi buat orang yang tingginya 3 meter, itu dangkal. Gue cuma mempersiapkan kolamnya aja.
Abim: Kalau dari analogi kolam itu, mungkin buat lo kurang dalam karena lo belum nyoba tiduran. Kalau tiduran juga bisa dalam. Jadi, jangan maksain cara lo. Ada banyak cara.
Kezia: Ada salah satu musisi yang main di ONARFEST, namanya NozoK. Dia punya lirik yang gue suka banget: “Panggil gue Patrick, gue bintang bawah tanah.” Mau lo bilang dangkal atau dalam, itu ngena banget. Buat orang-orang yang lagi merintis, terutama early rappers, itu terasa personal banget.
Kayaknya anak-anak ONAR ini karena ketemu di kampus ITB juga ya, jadi dari dulu mungkin udah capek sama the over-intellectualization of everything.
Jadi, kayak penting banget buat orang pintar ngomong, pintar berorasi. Ketika orang salah ngomong atau salah nge-tweet, langsung dianggap salah total. Padahal apakah seseorang harus fasih dulu untuk dianggap cerdas atau benar? Menurut gue itu jebakan.
Karena di saat yang sama, kita bilang masyarakat makin demokratis, tapi kita juga makin mendewakan teks dan kemampuan menyampaikan diri secara proper.
Sementara di hip-hop no school, banyak orang menyampaikan diri dengan cara yang nggak proper—bukan harmful ya, tapi nggak lurus aja—dan justru seru buat dieksplorasi.
Makanya bentuk-bentuk baru yang mungkin kelihatan aneh itu seharusnya dibiarkan berkembang. Karena bisa jadi beberapa tahun ke depan justru jadi bentuk yang menarik.
Daniel: Dan itu siklus dunia juga. Semua movement art selalu ada counter-nya. Ada art deco, lalu dikonter brutalism. Ada lukisan yang sangat dirancang, lalu dikonter dadaism atau nihilism. Nanti ketika orang udah capek sama “tolol-tololan,” muncul lagi kebutuhan akan substance.
Intinya menurut gue: do not resist change. Lo bisa bilang depth, lo bisa bilang shallow. Tapi, ketika lo menutup mata sama hal yang beda dari lo, itu baru sempit. Dan sempit tuh serem menurut gue.

Photo: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Photo: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Photo: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Photo: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Juga di masa-masa sulit ini dengan berbagai macam isu politik dan sosial, gimana ONAR memposisikan diri dengan musik, estetika, dan pesan yang digemakan?
Daniel: Sebelum yang lain jawab… gue pengen bilang, gue tuh anak ONAR, tapi gue nggak nge-rap. Meskipun gue nggak dikenal orang sebagai musisi yang perform kayak gitu.
Bagi ONAR, soal isu sosial-politik pun, tanpa berkoar soal stance politik kita, somehow orang-orang yang datang ke sini (Bakmie Kasih) sudah mengafiliasikan dirinya bareng kita. Nggak usah ditanya, “ya si Bakmie Kasih ini mah udah pasti anti-Zionis lah.”
Jawaban pendeknya adalah ya, kami kan bagian dari masyarakat juga, kayak kalian juga, kayak lu juga. Lu resah sama hal ini? Ya lu kira kami kagak resah? Ya sama. Baru mungkin kalau lu mau telisik lebih dalam, lu ngobrol sama individunya masing-masing.
Abim: Jawaban gue se-simple gue bikin yang gue suka aja. Tapi gue nggak merasa kayak gue orang yang paling mesti didengar. Gue orang yang jago bikin lagu, ya gue bikin lagu.
Kezia: Dan kalau pertanyaannya “gimana ONAR memposisikan diri?”, gue lihat dari cara-cara mereka berperilaku, mungkin juga ONAR dan kami semua lah ya di dalam lingkup ini.
Misalnya kayak tadi, contoh deh, gue suka lihat ada post Instagram orang memboikot merek rokok ini, merek itu–kami nggak ngerokok, acara ONAR juga nggak memperbolehkan ngerokok. Kebetulan memang secara prinsipil praktik-praktik yang kita lakuin ya gitu. Jadi bentuknya bukan statement kali ya, tapi lebih ke sistem atau hal-hal yang diadopsi. Secara praktik itu harus ditampilkan, bukan hanya dari kata-kata.
Daniel: Gue kadang kalau denger orang ngomong, “wah gila nih influencer culture bikin rusak, bohong nih jangan dengerin influencer,” dalam hati gue cuma kayak, “anjir lo dengerin, nyet.”
Kezia: Yang penting semua orang fokus untuk jadi semakin jago, dan kerja yang bener, aim buat jadi excellent. Dengan gitu, kita semua akan hidup akan hidup di dunia yang jauh lebih baik. Kerja sama antara orang-orang yang cakap hasilnya lebih bagus. Kayak Rei Kawakubo bilang, percuma kolaborasi 1 + 1 = 2. Harus jadi satuan yang berkarakter, biar hasilnya nggak cuma 2.
Kami nggak mikir “apa ya posisi kita bersama?” Ya kalau kita jatuh, jatuh bareng aja. Baru dengan itu kita bisa bersinergi untuk jadi ONAR. Misalnya dengan pemikiran yang sama kita memutuskan kalau bikin toko, tokonya harus kayak gini. Kalau bikin acara, acara harus gini. Kalau bikin lagu, caranya harus kayak gini.
Itu karena kita masing-masing mengasah kepekaan sendiri, bukan dengan nge-craft sebuah posisi untuk keadaan dunia yang lebih superficial. Lebih ke diri sendiri.
Daniel: Asik banget kolektif ini ya? Keren ya? Bingung kan lo?
Abim: Sorry ya, Jan.
Hahaha, aman. Ngomongin kolektif, setiap kolektif yang makin besar pasti menghadapi kompromi. Apa kompromi terbesar yang pernah kalian ambil sejauh ini? Dan gimana kalian menjaga keseimbangan antara ego kreatif individu dan visi kolektif?
Abim: Yang gue rasain selama sama ONAR tuh somehow dinamikanya kebentuk jadi “you jump, I jump”. Lo mau apa? Ayo. Tapi, kalau misalkan ada yang mau nyari sponsor, terus gue males, yaudah dia aja gerak sendiri, nggak sebagai ONAR. Tapi, kalau misalkan kayak “oke ayo bareng”, ya kami bareng. Atau misalnya ada tawaran buat ONAR, terus ada satu yang nggak mau, yaudah kami nggak ambil.
Daniel: Bukan berarti anti setia kawan juga.
Abim: Misalnya ada tawaran manggung terus gue nggak mau, yaudah jadi ONAR nggak bisa. Kami tawarin ke yang lain. Dan kami beneran advocate itu juga. Jadi rasanya bener-bener kayak “lo lompat, gue lompat juga”.
Havie: Nolak panggung sering banget sih…
Abim: Iya, gara-gara gue misalnya. Tapi, alasan gue nolak manggung itu karena gue pengennya ONAR main di acara sendiri. Makanya kami sering simpan-simpan [bawain lagu]. Bahkan pas di Synchronize Fest, kami nggak bawain lagu-lagu kayak “SUBSTANSI”, “VETERAN”, atau lagu klasik lainnya. Itu kami simpan.
Dari situ tuh jadi kayak, “oh yaudah, kita manggung di acara sendiri aja.” Yang lain akhirnya tahu gue pengennya ada acara sendiri dan mereka dukung.
Havie: Kayaknya banyak orang salah kaprah mikir ONAR tuh grup atau band. Padahal semuanya punya karier masing-masing dan warnanya masing-masing. Jadi kompromi itu hampir nggak ada juga. Kami nongkrong bareng aja.
Ada yang bikin lagu ballad R&B, ada yang hip-hop jazz, ada gue yang mencoba lebih appeal ke masyarakat luas, ada Abim dengan Noise from Under. Ada Niche-nya sendiri-sendiri. Jadi kompromi itu hampir nggak ada ya?
Dengan penolakan panggung tadi, apakah itu bagian dari “grand design” untuk bangun hype ONARFEST?
Kezia: Bertahun-tahun, Abim dan ONAR sering banget nolak panggung kalau tawarannya jauh lebih rendah dari published rate karena emang nggak bisa cover expenses. Effort buat manggung juga, jadi nggak diambil.
Jujur, sampai Februari lalu, kami nggak yakin ONARFEST 2K26 bisa kejadian apa nggak, let alone bikin grand design. Itu angan-angan yang kami pengen, jadi kami manifestasi terus aja biar kejadian.
Tahun lalu, Synchronize Fest ngajak ONAR manggung. Dengan budget yang ditawarkan, kami tawarin balik untuk buat OTW ONARFEST. Kami emang pengen a full-blown-ONAR-only-performances untuk pertama kalinya itu di ONARFEST, bukan acara orang lain.
Dengan OTW ONARFEST, kami juga jadi bisa showcase banyak performer lain, yang kemudian jadi performer ONARFEST 2K26. ONAR-nya juga jadi semangat lagi buat rekaman karena mereka ini.
Gue lihat banyak asumsi, dan wajar banget. Ada orang di YouTube bikin review sebelum ONARFEST bilang “mereka ini pintar mencari momentum.” Misalnya Kareem mau main cuma sekali, ENVY* mau bubar. Padahal, kami juga nggak tahu ENVY* mau bubar. Jadi banyak orang mengasumsikan ada grand design, padahal nggak.
Daniel: Lo sadar nggak sih? 3–4 tahun belakangan banyak muncul kata “strategi”. Padahal 7–8 tahun lalu kami aja nggak terlalu dekat sama budaya marketing atau bahasa-bahasa bisnis.
Sekarang hidup tuh udah makin masuk iklan. Kebayang nggak sih? Tau nggak lu komentar orang untuk gue apa? Orang bilang ke gue, “gila, Bakmie Kasih pinter banget strategi bisnisnya merangkul industri hip-hop.” Bruh.
Kezia: Gue inget hari-hari pertama Daniel masak bakmi, kerja sendiri. Jadi emang nggak ada rencana besar gitu.
Daniel: Orang sekarang ngeliat pohon berbunga aja bisa bilang “wah pasti ini bagian dari strategi.” Padahal mereka tumbuh natural. [Semua mungkin karena] kita terbiasa ngeliat influencer ngomong dan tahu itu ada bayarannya, jadi akhirnya semua hal dicurigai kayak gitu juga. Padahal orang-orang ini [ONAR] gerak, mostly, tanpa strategi. Live in the moment aja.
Kezia: Kami lagi bikin toko di sebelah, kalau tokonya jadi, ya habis-habisan aja. Jadi nggak ada kayak “oke kita harus ngeluarin kaos ini demi ini.” Kami ngeluarin kaos karena memang punya desainnya.
Daniel: There is no grand scheme at all. Bukan berarti nggak ada rencana sama sekali, tapi rencananya tuh kayak: hari ini keluar rumah dulu, baru nanti mutusin mau ke mana. Bukan yang H-7 udah nyusun semuanya detail banget.
Kezia: Dan kami bukan bilang ini cara yang harus dilakukan semua orang, tapi kami nyaman banget sama cara ini. Ternyata, cara ini bikin kita nggak nambah bullshit jobs atau task yang ngak perlu.
Daniel: Gue nggak terlalu berani bilang itu.
Kezia: Itu kata David Graeber! Banyak bullshit jobs dan bullshit tasks sekarang. Kalau kita nggak melakukan perencanaan yang ngadi-ngadi, kita nggak nambah kerjaan sendiri dan nggak nambah pengeluaran. Akhirnya efisiensi itu terjadi karena real aja.
Kalau ada performance yang nggak masuk hitungannya buat ONAR atau Abim, ya nggak diambil.
Daniel: Balik lagi ke pertanyaan tadi soal kenapa nggak bawain hits klasik. Menurut gue itu sesimpel, “eh bawain di OTW ONARFEST nggak?” “Sayang nggak sih? Nanti aja.” Gitu aja. Bukan kayak “oke ENVY* mau bubar, kita akan manfaatkan momentum ini.”
Kezia: Tapi makes sense kalau pertanyaan kayak gitu muncul di masyarakat.
Abim: Di Synchronize Fest aja kami kasih judulnya OTW ONARFEST, jadi ya emang udah jelas kita [akan] punya ONARFEST. Kalau ONAR main di acara lain, apa yang bikin performance ONAR di ONARFEST menarik? Ya lagu-lagu klasiknya dibawain di situ.
Daniel: Terus gue pengen nambahin soal kompromi. Sebenernya, in a way, kita kompromi cuy. Komprominya adalah kita jadi ngerjain ONARFEST.
Kalau misalnya ditawarin manggung bareng dengan bayaran gede banget, mungkin aja ambil. Tapi karena kami tahu potensinya bisa lebih besar kalau bikin acara sendiri, yaudah bikin sendiri aja.
Belum tentu cash-nya langsung gede. Kemarin emang dapet apa? kagak dapet apa-apa. Tapi itu yang lo mau: tampil spesial dan bisa nge-capture value yang lebih besar.
Abim: Rate kita 100 juta, by the way.
Daniel: Dan itu dikit banget. Transportasi, latihan, alat, segala macem.
Gue sebelumnya nggak tahu cost manggung. Setelah ngobrol sama anak-anak, gue jadi mikir, kita terbiasa bayar makan 200 ribu sekali nongkrong, tapi nonton artis 300 ribu dibilang mahal. Padahal ada orang yang mendedikasikan hidupnya buat belajar musik, bikin album, latihan manggung, nyewa alat. Makanya gue pengen banget kita keluar dari ekosistem busuk ini.
Harga bakmi 28 ribu, 34 ribu. Sepuluh kali lu makan bakmi, lu bisa dateng sekali ke ONARFEST.
Kenapa kita merasa punya hak buat bilang, “anjir mahal banget mau nonton Perunggu 150 ribu FDC”? Padahal mereka juga nyiapin semuanya nggak pake duit kecil.
Kezia: Kalau dibandingin juga, pas kami nyoba jualan baju, lebih gampang jualan baju daripada jual tiket konser.
Daniel: Iya cuy, gila. Untungnya, gue kerjain makanan.
Laze: Ya, itu segitiga Maslow.
Daniel: Gue juga nggak terlalu setuju sama segitiga Maslow yang kebutuhan itu, karena seni tuh nggak bisa dipisahin dari hidup kita.

Segitiga Maslow (via: Logos Indonesia)
Kezia: Balik ngomongin kompromi, ada kompromi yang lebih ingin dilakukan dan tidak. Contohnya bikin ONARFEST, kompromi yang ingin dilakukan adalah kami bikin sesuatu yang belum pernah kami lakuin. Artinya kami kerepotan, keluar duit, boncos, dan lain-lain.
Tapi kompromi yang kami nggak mau lakukan adalah having to exploit cultural values dan kapital yang udah dibangun ONAR cuma untuk jadi penisi line up festival orang lain.
Karena kalau bikin sendiri, kami bisa showcase anak-anak lain, latihan bikin acara sendiri, jadi nggak terlalu dependent sama sistem existing.
Daniel: Kalau ngomong kompromi di koridor kayak gitu, iya sih kami semua ambil kompromi. Tapi bukan kompromi dalam arti “gue kurangin ini”.
Kezia: Malah minusnya gede. Aslinya, ONARFEST kalau mau nutup 100% cost, sesuai , harusnya tiketnya 700 ribu. Karena dari tiket dan crowdfunding aja masih nggak cukup dan masih harus pake kas pribadi. Menurut gue itu kompromi, tapi kompromi yang melahirkan banyak hal.
Daniel: Dan bukan cuma ONARFEST, semua festival musik menurut gue memang harusnya dihargai lebih. Kenapa kita terbiasa menormalisasikan bahwa semua acara musik harus murah, aksesibel, atau gratis?
Menurut gue kita lagi ada di posisi di mana banyak hal terlihat gratis padahal sebenarnya ada eksploitasi di belakangnya—alam, intelektual, budaya.
Kezia: Contoh paling gampangnya, media sosial gratis, tapi data kita yang jadi bayarannya. Festival juga gitu. Kenapa kita merasa 300 ribu mahal? Karena selama ini expense-nya dibantu sponsor atau pemilik modal. Harga tiket sebenarnya nggak nutup semua cost produksi festival itu. Makanya, transaksi di festival tuh sering terasa nggak nyata.
Kami bukan bilang harga festival harus 700 ribu. Kita hidup di negara dengan gaji rendah dan segala macam. Itu problem yang jauh lebih besar.
Daniel: Kompleks lah. Bukan berarti “oh kata Daniel naikin aja.” Nggak juga. Tapi sadarlah bahwa banyak hal yang kita dapet sekarang itu sebenarnya harga semu. Dan kita udah terlalu lama terbiasa sama praktik-praktik yang nggak nyata itu.
Rokok, praktik tidak nyata. Kita semua suka ngerokok, anak skena apalagi. Yang ngegulung rokoknya? Kan dibayarnya secara tidak layak dan eksploitasi.
Kezia: Itu kompromis. Tiap hari lo kompromi dengan hidup seseorang.
Abim: Si transaksi real ini sih sebenernya yang jadi… gue nggak tau sih secara sadar atau nggak, cuma yang pasti itu yang kami rasain sama Onaria gitu loh. Kayak semua yang works buat kami tuh transaksi yang real sama mereka. Dari kami bikin pop up, jualan kaos.
Nah, dari situ kami sadar, “oh, yang kita mau emang ngebangunnya tuh sama Onaria”, instead of sama sponsor, pihak ketiga, kayak investor atau agensi. Kami mau bikin interaksi yang real-nya sama mereka, bisa menikmati hal-hal bagus sendiri tanpa bergantung atau merugikan orang lain.
Kezia: ONARFEST itu harus jadi ajang konsumsi untuk orang bertransaksi dan berkonsumsi secara nyata dan langsung, antara musisi dan pendengarnya. Antara rapper dan yang dengerin. Antara orang-orang yang terlibat. Antara Azer dan anak-anak Pademangan yang bikin baju, yang ngedesain, terus jualan langsung ke pembeli yang mau pakai baju-baju mereka.
Yang nggak boleh itu dia jadi praktik konsumsi yang menguntungkan bukan kita, alias bukan lingkup pendengar dan pelaku-pelakunya, tapi menguntungkan pihak ketiga. Menguntungkan sponsor, menguntungkan angel investors, atau orang-orang yang pengen numbers-nya ini dikonversi menjadi apa.
Jadi emang, ONARFEST harus jadi praktik konsumsi. Karena kita hidup di dunia yang transaksional memang. Dan kayak, to be real, artists dan pendengar harus terlibat dalam interaksi-interaksi nyata tersebut. ONARFEST ingin memfasilitasi itu.
Daniel: Bertransaksi di dalam ruangan kami ini loh. Bukan ada orang luar yang dateng-dateng, yang kayak burung bangkai. Kebayang nggak sih maksudnya? Yang kayak masuk terus, “wah, apa nih? Seru ya? Saya mau dong jadi bagian dari itu.”
Itu kan yang kita sebenarnya selama ini biarin aja? Jadi kita dieksploitasi segitunya. Kalau emang ini bakal jadi barang konsumsi, yaudah konsum aja. Kita satu sama lain saling mengkonsum. Desa kan juga, lo bayangin, mereka kan juga nelayannya di situ, gurunya di situ, kadesnya di situ, apanya di situ.
Terus gimana cara kalian dalam terus menjaga semua ini?
Daniel: Satu pun, di ONARFEST nggak ada logo Bakmie Kasih. Meskipun ada lagu hip-hop yang mentioned Bakmie Kasih, tapi nggak ada “sponsored by.” Gue udah tau, tiap ONAR mau ada acara, atau bahkan salah satu dari anak-anak mau ada acara, udah pasti Bakmie Kasih tuh bakal sangat rame. Kalem aja. Lo mau dateng apa nggak, biarin natural aja. Biarin yaudah ya.
Abim: Pertanyaannya gimana menjaganya itu kan. Menurut gue ada hubungannya juga sama clarity sih. Dan soal apa ya… gue nggak tau ini kata yang tepat apa nggak, tapi sisi ‘eksklusifitas’ itu loh.
Soalnya gue percayanya gini, ONAR dan lingkungannya, no school, whatever, itu kan ada lingkup sendiri yang mana kayak ada experience tersendiri yang spesifik ada di situ. Yang mungkin beda experience-nya sama kalau lo ke hip-hop showcase atau festival lain.
Gimana caranya kebutuhan spesifik lingkup ini, katakanlah komunitas ini, terpenuhi. Dari musiknya, cara manggungnya. Biar bisa deliver experience spesifik tadi. Experience spesifik itu kan ada hubungannya sama apa yang lo rasain pas lo ada di situ. Itu yang bikin orang mau datang ke situ, karena orang mau ngerasain juga.
Kayak orang lebaran aja. Lo mau ketemu keluarga. Ada experience tertentu kan di hari lebaran itu. Jadi soal experience-nya ini yang mesti dijaga.
Daniel: Berarti bukan eksklusif kali ya? Diferensiasi mungkin?.
Kezia: Jadi kayaknya gini, point-nya si Abim itu, kan salah satu bagian dari pertanyaannya adalah gimana kami menjaga biar tetap ngejalanin praktik-praktik yang nggak kayak yang kita nggak mau tadi. Caranya adalah punya kejelasan tadi, kata Abim, clarity.
Kalau versi Abim, bentuk-bentuk yang kami pengen lakuin itu, sebagai contoh, menurut dia melakukan ONARFEST itu berarti kami berpraktik untuk melatih each other makin advanced untuk memahami kebutuhan manggungnya masing-masing artis, kebutuhan mendengarnya audiens.
Karena itu berarti kami kan kerja sama sama tim produksi, dan saat kasih referensi ke mereka, kami juga nggak banyak contohnya, karena artis-artis yang main di ONARFEST [masih banyak yang] jarang main juga di acara. Kami nggak bisa menjelaskan ke dia.
Itu kan berarti ada miss, ada bolong dalam praktik ini yang kami nggak kuasai. Pelaku yang kita butuhkan, pelaku sound, nggak kuasai juga. Nah, itu yang kami latih bareng-bareng agar praktiknya ONARFEST semakin advanced, atau praktiknya orang-orang di sekitar kami semakin advanced. Karena ternyata, kebutuhan kami beda sama kebutuhan orang-orang yang melakukan jenis musik lain atau aktivitas lain.
Kami menemukan di acara ONARFEST kemarin, ternyata performers kami suka nongkrong di backstage. Padahal, design backstage di venue ONARFEST nggak memadai buat crowding lama-lama dengan jumlah performer dan pekerja yang mencapai 100 orang.
Masalah ini mungkin nggak dialami oleh penyanyi pop di level kayak Raisa, Yura Yunita, atau musisi dengan jenis musik yang lebih demure lainnya.
Dengan adanya ONARFEST, kami jadi latihan mengidentifikasi praktik-praktik yang ada di lingkup kami, apa yang works, yang harus diperbaiki secara design, baik secara layout venue maupun rancangan sosial acaranya.
Eksperimentasi-ekperimentasi seperti ini bakal menghasilkan clarity tentang kebutuhan performer dan audiens di lingkup ini. Itu mungkin yang menurut Abim perlu diprioritaskan, bener nggak?
Abim: Iya, makanya tadi gue bilangnya eksklusif. Ini tuh mungkin kayak diferensiasi juga. Soalnya lo liat, festival tuh kecenderungannya akhirnya jadi mirip-mirip. Mereka soalnya ngambilnya mau sebanyak-banyaknya.
Gue mau bikin praktik yang spesifik. Kayak ke Berghain atau ke Stadium, lo bakal dapet experience spesifik, karena emang dibikinnya fokus, bukan buat check semua box, bukan buat nyenening semua orang. Tapi, orang yang beneran suka, ya seneng banget.
Nah, ada yang nggak suka juga penting. Karena itu bakal jadi filter otomatis. Mendingan yang nggak suka, udah nggak suka dari luar. Daripada dia keburu masuk dan nggak suka. Experience-nya kan jadinya juga nggak enak buat dia dan orang di sekitarnya.
Filter otomatis ini berlaku juga buat makelar, investor, brand, atau pihak ketiga lainnya, di luar pelaku dan penikmat. Jadinya, mereka pikir berkali-kali buat masuk.
Dan menurut gue, filter itu yang bagus. Jadi, sebenarnya dengan menjadi eksklusif, kita manage ekspektasinya juga. Menurut gue, semuanya tuh harus eksklusif, karena kalau lo nggak eksklusif, ya experience lo kayak generic aja.
Yang gue harapin sebenernya ya itu. Tiap-tiap kelompok bisa bikin ruang yang eksklusif juga biar experience-nya tuh ngena.
Nanti yang lain juga bisa bikin sendiri-sendiri. PORIS juga udah lakuin dengan Bencana. Praktik yang semakin banyak, spesifik, dan advanced ini menguntungkan buat kita semua, as a whole. Soalnya yang gue bayangin tuh kayak Disn*yland gitu loh. Disn*yland tuh kayak tiap area tuh beda kan? Ada Fantasy Springs, ada Mermaid Lagoon… Harusnya kita smeua menyediakan experience tuh kayak gitu loh. Lo pindah tempat yang beda-beda.
Daniel: Ini juga sadar nggak sih lo, pas kita ngomong “burung bangkai” tadi, hal kayak gini tuh juga lebih melindungi kami dari para burung bangkai. Karena burung bangkai itu selalu pengen masuk ke yang potensi profitable-nya paling tinggi. Dan kalau semua orang punya filter masing-masing, dia harus merubah dirinya untuk nyeluk ke ruangan yang berbeda di Disn*yland itu, dan udah jelas nggak bisa dilakukan kalau perusahaan yang pro-efisiensi.
At least, itu nggak bisa dilakukan sama perusahaan yang nggak peduli sama lo.
Jadi kayak lo bayangin desa-desa, makin mereka beda-beda desanya, makin mereka susah untuk dipenetrasi sama budaya atau pengaruh luar. Karena masing-masing desa tuh kayak lebih kuat dan self-sustain.
Dan lagi-lagi underlining-nya adalah, gue pengen bilang, gue tuh bukannya benci orang luar, tapi rata-rata orang luar nyatanya jahat. Rata-rata pengaruh luar nyatanya pengen ngambil doang, bukan?
Gue juga suka ngerasa, kita banyak ngelempar istilah “no sponsor, no sponsor.” Ada beberapa orang yang mengartikan kami tuh kayak kiri banget dan benci sama uang. Kami nggak benci uang, kita cuma benci dirampok.
Kezia: Ada yang bilang misalnya, “ah dari dulu juga orang bikin acara nggak pake sponsor.”
Daniel: Seolah-olah jadi perlombaan yang paling kiri. Gue kayak, “apa sih, jing?” gitu loh.
Abim: Kalau bisa ini [ONARFEST] kejadian tanpa kami yang ngerjain, itu mah enak banget. Masalahnya, nggak ada yang mau ngerjain. Gimana dong?



