
W_LIST: Best SEA Music of 2026 So Far
Kami mengumpulkan 20 lagu terbaik rilisan Asia Tenggara hingga pertengahan 2026.
Words by Whiteboard Journal
Image: Riezky Hana
Jika di Indo kita banyak menemukan frustrasi dan amarah, surprise-surprise, di Asia Tenggara ternyata: sama saja. Mungkin, ini bisa kita lihat sebagai pengingat yang baik supaya kita lebih sering ngobrol satu sama lain.
Mau ngobrol dengan sesama SEA, tapi bingung mulai dari mana? Mungkin paling gampang bisa mulai dari musik saja.
Di daftar ini, kami mengumpulkan musisi SEAbling dari Malaysia, Singapura, hingga Myanmar dan Brunei. Di dalamnya, selain amarah dan kegelisahan, kita bisa menemukan warna-warni yang menyenangkan. Mulai dari shoegaze ala Bandar Seri Begawan, post-punk Yangon, hingga midwest emo dari Malaysia.
SERANARGH! – Hilang di Arungan (Malaysia)
Kita selama ini tahu bahwa Malaysia adalah muara dari kualitas terbaik skramz di South East Asia. Mulai dari Piri Reis hingga Piet Onthel yang remuknya pol-polan itu. Senang saat kemudian menemukan nama baru yang bisa menjadi jagoan baru, yang juga punya kekhasan sendiri. Seranargh (what a name), menambahkan elemen midwest emo tanpa harus mengurangi intensitasnya. [MH]
FFO: Senja Dalam Prosa, Swarm, LKTDOV
Lobster – Drifter (Singapore)
Kita sudah merasakan bagaimana shoegaze… tunggu, sudah berapa kali dibilang bakal balik lagi?? Lirik “Drifting in and out / I can’t hear a thing” yang membuka lagu mungkin saja tepat untuk menggambarkan ekspresi kita yang diterpa ombak-ombak wall of guitar noise ini.
Tunggu sampai kamu tiba di chorus, maka kamu akan dibuat tersapu atas lush layers gitar dan suara-suara lainnya, menjadikanmu seorang ‘Drifter’ seperti yang diramal dalam judul lagu.
Dan tunggu lebih lama lagi sampai outro-nya dengan nyaman menemukan dirinya lagi untuk ‘pulang’ ke chord satu yang dihantarkan di antara dentuman bass yang melompat ke sana dan sini. Ada pula sentuhan drums yang subtil dan terkesan ‘out of place,’ menandakan bar terakhir dari lagu ini. [GF]
FFO: Whistler Post, Tropical Thrust, ELENIN
otakotak, shelhiel, Mulan Theory – Nasi Goreng (Malaysia)
Is this ultimate remix of Asian culture? Kalau di sini, setiap mendengar musik funkot, pikiran kita biasanya langsung terkirim ke pojokan-pojokan kota di malam hari yang liminal dengan lampu ajep-ajep dan botol-botol kosong yang berserakan.
Tanpa disadari, hal ini juga berlaku saat mendengar musik tersebut dari teman-teman kita di negara Asia lainnya – bahkan dari negara yang kami pikir tidak begitu mendalaminya.
Well… it wasn’t until this Malaysian hyperpop duo (Shelhiel and DJ KOTE LEMBU) proved us wrong.
Kalau ini jadi rasa yang didapatkan setelah kita mencicip sepiring hidangan M-Pop hyperlocal-nya yang adiktif, I’d like to order more. [RN]
FFO: PRONTAXAN, Rantau, Barakatak
irihi – Hanoi (Vietnam)
Butuh lagu yang sesuai buat menjadi penyegar kala bangkit dari kasur di pagi hari? Coba tengok ke band asal Saigon ini yang membawakan rona ngitung khas math rock, selagi menyanyikan nada-nada melodius yang menyenangkan untuk mengajak kita mencoba berlari kembali (atau buat OP anime juga cocok rasanya).
Mudah untuk menjadikan lagu sebagai pendar terang yang muncul dari sela-sela awan gelap. Harapannya juga lagu (dan beberapa nomor lainnya dalam EP mereka) ini bisa membantumu mengusir kelabu tersebut 🙂 [GF]
FFO: Grass Park, Murphy Radio, eleventwelfth
DJ SWEED – Experiment (Thailand)
Released as a part of an EP called Human Data, DJ SWEED’s specialty still lies in blurring the barrier between non-human experience and music, providing listeners with downtempo techno (or trippy techno?).
Leaning more into the architecture of techno, SWEED has also contributed to Melt and Reform, a project initiated by Sorrawat ‘Ben’ Suviporn, where they use mushrooms and organisms as music equipment. [JP]
FFO: Love as Punishment, Logic Lost, Bottlesmoker, Melati ESP
Figure Out – Test of Time (feat. Pat Flynn) (Philippines)
Asian hardcore might (or should?) be on the rise. Dan kita punya Figure Out yang bisa memberikan warna dari Manilla. Groovy dan pembawaannya cukup straighforward harusnya bisa “sopan” masuk ke kuping penggemar genre ini. Masih belum convinced? Cek featuringnya (juga kolaborator visualnya), kalau kanda Pat Flynn aja approve, masak kita nggak? [MH]
FFO: Hardik, Stepforward, Defy
Shye – I Always Knew (Singapore)
Shye menggambarkan hubungan yang perlahan terhapus dengan wall of sound yang atmosferik, vokal yang dreamy, dan seperti statement Shye sendiri: Mengajak kita menginjakkan kaki ke Silent Hill. [HA]
FFO: Enola, Sunlotus, Marryanne
INTOLERANT/MOROBEATS – Magna (Philippines)
Ternyata, kemarahan pada pemerintah bukan cuma milik kita. Amarah yang sama juga mewujud di Filipina, menyatukan dua kolektif, band metal INTOLERANT dan kolektif hip-hop Moro, MOROBEATS. Jauhkan imaji Nu-Metal, jika harus membandingkan, mungkin yang terdekat adalah saat Homicide kolaborasi dengan Balcony. [MH]
FFO: Homicide, Krowbar, Grimloc Records
Forests – Honestly Miffy (Singapore)
Kalau kamu sudah merindukan si unit 3-piece fifth wave emo band (atau bukan, kalau kata mereka sendiri), “Honestly Miffy” bisa menjadi quick fix ketika waktu itu menantikan album terbarunya.
Arketipnya dalam songwriting pun masih ada di sini – dari lirik-lirik yang menyinggung referensi-referensi relevan (seperti shoutout literal untuk awakebutstillinbed), sampai kekhasannya untuk ada segmen intim solo di bridge lagu. Tapi, yang menyegarkan di sini adalah chords dan riff jazz-influenced, yang… sepertinya akan cocok bersandingan dengan “Jazz Ruined My Life,” nggak sih? [GF]
FFO: Milledenials, Woodcabin, WeThePeople
Mary Sue – Stream of Time (Singapore)
Lagunya ada di Rapihaler (2026) – yang katanya ia buat saat sedang berjuang untuk bernapas (secara harfiah pun kiasan).
This song specifically, mungkin bisa dilihat sebagai filler kalau disandingkan 16 track di album. Tapi, kata Mary sendiri di dalam si lagu, ‘I embrace the filler.’ And if this is a filler, I’d be happy to get filled.
Produksian beat-nya mengalir dan melebur dengan baik bareng vokal-nya Mary yang mengingatkan pada Mac Miller (#RIP).
A good reminder to just breeze along. [RN]
FFO: Tacbo, Kink Yosev, BOBA FAT
Aizat Haris – So Fake (Brunei Darussalam)
Jangly indie-pop asal Brunei yang akan membawa kita kembali ke tahun 2014, saat captured tracks adalah zeitgeist utama, dan indie sleaze seolah satu-satunya way of life.
FFO: Atsea, Kaveh Kanes, Bedchamber
DOTDOTDOT – ขวากหนามและความหวาดกลัว (Thailand)
Tepat untuk disebut sebagai salah satu lagu yang bisa membuat pendengarnya merasa selayaknya karakter utama seiring lagunya berjalan.
Meski bisa di-dismiss sebagai lagu psikedelik Thai dengan ‘Thai influences,’ tapi penggunaan instrumen khaen di sini melebihi batasan-batasan fungsi ornamental.
Judul lagu sendiri bisa diterjemahkan sebagai ‘Rintangan dan Ketakutan,’ yang dirasa cocok untuk disandingkan dengan pertanyaan dalam lagu ini: “What kind of country is filled with nothing but thorns and fear?” …kok familier??
Mengingatkan pada instalasi Yoonglai Collective dan Krack! Printmaking Collective di Bangkok Kunsthalle (2025), di mana (secara singkat) mereka mengambil paralel dari kehidupan mereka di bawah pemerintahan sana, dengan apa yang kita rasakan bareng di sini – semua dalam subteks bahasa sebagai bentuk perlawanan. Tak luput untuk kita pahami juga, artwork album lagu ini…
Rasakan bagaimana kehidupan bisa menjadi penuh akan tekanan dan rintangan dengan menavigasi berbagai rekaman suara yang dijahit ke dalam intro dan verse, serta bagaimana sang vokalis menyanyikan “I glance around, thinking to myself / with tears welling up / Where will it all end? Who knows?” [GF]
FFO: Kinder Bloomen, The Panturas, Fuzzy, I
DJ Love – Tiw Tiw (Philippines)
Berawal dari musik warnet, DJ Love terus membawa Budots melanglang buana sebagai salah satu musik Filipina paling khas di dekade ini.
Tiw Tiw adalah salah satu lagu DJ Love paling ternama dengan ciri khas synth yang crisp dan suara trademark “tiw tiw” yang membuat lagu ini sangat berwarna. [HA]
FFO: Prontaxan, Herman Barus, Barakatak
Stone Cold Sober – Butterfly Suicide (Myanmar)
When I think of Myanmar, I wasn’t expecting to find a band with familiar sounds like we have in Indonesia.
Their music blends the sound of Dream Pop, with Mathrock and Midwest Emo, followed by descriptive lyrics of their own reflective experiences. [JP]
FFO: Drizzly, Starducc, Reality Club
Vu Thuc Khuyen – cô gái tháng 9 (rắn cạp đuôi cover) (Vietnam)
Dirilis di bawah profil in memory of the view from hanoi opera house, kita bisa berharap turunan yang mepet shoegaze dan guitar music. Namun di sini, rupanya harapan itu dinyatakan secara cranked up to 11. Rasakan wall of sound yang merupakan cover dari lagu karya kolektif otodidak rắn cạp đuôi.
FFO: Megatruh, Seek Six Sick, Individual Distortion
Chlorine – The Light Behind Your Eyes (Brunei)
Selain indie-sleaze, wabah shoegaze ternyata juga sampai ke Brunei. Yang menarik adalah, alih-alih mengambil pembawaan shoegaze yang lebih ringan, Chlorine memilih untuk tegak lurus pada estetika Kevin Shields, tapi di satu lagu lain mereka bisa sangat pop. [MH]
FFO: Strawberrywine, Whistler Post, Annie Hall
INSPIRATIVE – สิ่งอื่น (Thailand)
Bisa menjadi penawar rindu untuk suasana post-rock era 2010-an di Soundcloud, tapi dengan elemen-elemen yang lebih pop dalam setiap gerakan slowcore-nya. Unsur pop itu pun turun ke mixing-nya, yang membuatnya menjadi lebih aksesibel untuk menerima this monstrous (by today’s standards) 8:35 length.
Menoleh ke artwork-nya yang menampilkan kursi plastik, selagi mencoba mengumpulkan apa yang disampaikan di kolom komentar visualizer lagu ini di YouTube, rupanya lagu berusaha menggambarkan suasana kepulangan seseorang, di mana kerabat dan keluarga sama-sama berkumpul untuk melepasnya. Mungkin skenario melayat itu serupa dengan kita dengan kursi besi beralaskan kulit sintetis merah yang kita pakai untuk duduk bersama rasa duka.
Yang menarik dari lagu ini adalah kresendonya menyeruak seperti ‘the drop that never comes’ – dalam maksud yang baik! Artinya, INSPIRATIVE seperti ingin pendengar memperhatikan dengan sepenuhnya, hanya supaya kita bisa mencermati ‘Hal Lainnya’ – terjemahan kasar dari judul lagu! [GF]
FFO: UTBBYS, Niskala, Layur
Saigon Soul Revival – Khúc Tình Yên Vui (Vietnam)
Psych-soul dari Vietnam yang bisa jadi further listen untuk kita yang doyan Khun Narin (TH), yang juga di saat yang sama merilis salah satu album terbaiknya. [MH]
FFO: Lair, Maria Tambun, Babon
Seer – Spectre (Singapore)
Are you in between a rock for something that can slap you off of a hard place? Sepertinya lagu yang bermain dalam putaran doomgaze ini bisa membuat renunganmu lebih cepat menemukan pencerahan.
The Bandung finests, seperti yang tertulis di for fans of (FFO), bisa menemukan camaraderie dalam Seer, mengingat progresi chords-nya bisa terasa familier dan saling melengkapi. [GF]
FFO: Puremoon, Metyr, Sunlotus
Allergic Reaction x Pseudo Human – Kho (Myanmar)
Saat street punk bertemu dan beradu dengan post-punk. Rasanya memang sangat masuk akal mengingat bagaimana belakangan Myanmar mengalami cukup banyak masalah dengan militerisme (familar?). Di beberapa artikel ditulis bahwa Pseudo Human adalah band post-punk pertama di Myanmar, dan saat bertemu dengan mentah spirit Allergic Reaction, hasilnya adalah lagu yang katartik untuk memulai hari-hari kita yang semakin gelap ini. [MH]
FFO: taRRkam, The Kuda, Leipzig



