Duka Tidak Punya Batas Kedaluwarsa
Dalam submisi Open Column ini, Boit menuliskan refleksi personalnya yang mengafirmasikan kepada kita bahwa duka akan selalu membekas, dan mungkin tidak ada tanggal kedaluwarsanya.
Dalam submisi Open Column ini, Boit menuliskan refleksi personalnya yang mengafirmasikan kepada kita bahwa duka akan selalu membekas, dan mungkin tidak ada tanggal kedaluwarsanya.
Dalam submisi Open Column ini, Dzukfikri Putra Malawi menyoroti satu komponen dalam pertunjukan musik yang kerap kalah pamor dibandingkan musisi dan produksi acaranya, yang padahal menjadi alasan suatu pertunjukan itu ada: penonton.
Dalam submisi Open Column ini, Tubagus Eko Saputra menyorot proliferasi akal imitasi di sektor pendidikan yang, akibat terjangkit demam automasi dan terlalu menempa manusia menjadi mesin, semakin menjauhkan pelajar dari kemampuan berpikir.
Dalam submisi Open Column ini, Afrizal Maarif dan Desvita Tria Ningrum mengajak kita berefleksi bagaimana persoalan memiliki rumah itu erat kaitannya dengan permasalahan struktural tentang bagaimana ruang-ruang kota dibangun, selagi mengingatkan bahwa masih ada harapan untuk kota dibangun dengan lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Dalam submisi Open Column ini, Asri Widayati menuliskan bagaimana dampak dari bencana tidak bisa diukur dari angka saja, selagi menyorot runtuhnya rencana masa depan para penyintas yang kerap luput dari perhatian.
In this Open Column submission, Radit Mahindro reimagines a more appropriate way to run a country home to 17,000 islands, 1,300 categorised ethnic identities, and 700 spoken regional languages spread across three time zones - in his words, a ‘vernacular governance’ - through ideas borrowed from ancient maritime empires to Mohammad Hatta’s cooperative commonwealth.