In this Open Column submission, Rachel Yessica Anju goes over several expressions and remarks from different languages to show how it, just like the exchange of culture, could really represent something that is bigger than just the gathering of people.
Dalam submisi Open Column ini, Ruth Maria Artauli Purba menuliskan ceritanya ketika keluar malam yang banyak diganggu oleh kelap-kelip lampu di warung, dan bagaimana semarak yang tidak teratur ini sebetulnya menjadi hal berbahaya bagi teman-teman yang memiliki disabilitas taktampak.
In this Open Column submission, Fikri Izza unearths how sounds that resonate around and within an urban landscape may actually shape the city more than how we usually visualize it, and soundscapes might also be a method of safekeeping our memories of the city.
Dalam submisi Open Column ini, Muhamad Aditya Ibnu Salim dan Diospyros Pieter Raphael Suitela memperlihatkan proses belajar–mengajar di Kampung Pantan Nangka, Aceh Tengah, sekaligus mempertanyakan dengan mendesak: "Sampai kapan terpal plastik dianggap cukup untuk mencerdaskan kehidupan bangsa?"
Dalam submisi Open Column ini, Randy Levin Virgiawan menyingkap bagaimana ‘Jakarta-gaze,’ dalam konteks mengapresiasi musik yang lahirnya dari luar Jakarta, jelas fatal dalam mereduksi talenta “daerah” yang mestinya bisa merekah tanpa merepotkan perhatian sang ibu kota.
Dalam submisi Open Column ini, Aditya Gumay merespons segala memori dan luka yang membekas di sudut-sudut kota, dan bagaimana kota memiliki peran penting dalam merawat ingatan kolektif terhadap siklus kekerasan negara.