
Saat Tempat Ibadah Kita Jaga, Tapi Bumi Kita Abaikan, Bagaimana Sebenarnya Ajaran Agama Kita?
Dalam submisi Open Column ini, Aditiya Widodo Putra menyandingkan tempat ibadah yang bersih dengan laut yang kotor, selagi menawarkan pembacaan ulang akan krisis iklim hari ini lewat kacamata sejarawan dan filsuf agama.
Words by Whiteboardjournal
Pernah lihat pantai penuh botol plastik Aqua, sementara di kejauhan terdengar suara azan dari masjid yang terlihat kinclong?
Itulah potret realita dari manusia zaman sekarang. Kita sangat pandai membersihkan tempat ibadah, tapi rumah kita sendiri berantakan, dan laut yang kita klaim sebagai rahmat Tuhan malah kita jadikan tong sampah. Ada sesuatu yang keliru dalam cara kita beragama dan berpikir. Kita sepertinya terlalu sibuk menatap langit, mencari Tuhan di sana, sampai lupa bahwa Tuhan—jika kita mau memakai kacamata filsafat—sebenarnya sedang mengapung di antara sampah, hidup dalam perut ikan, dan menatap kita lewat mata pemulung yang kelaparan.
Filsuf India kuno, ribuan tahun lalu, sudah menuliskan peringatan keras dalam Chandogya Upanishad (sekitar 800–600 SM) melalui kalimat sakral “Tattvam Asi”, yang artinya “Engkau Adalah Itu”. Maksudnya, realitas tertinggi atau Brahman tidak bertempat tinggal di surga yang jauh. Brahman meresap di dalam tanah, di air sungai, bahkan di tumpukan sampah yang kita benci. Bagaimana maksudnya? Nah dalam tulisan ini saya mau mengajak teman² masuk ke dalam logika itu untuk membongkar kenapa kita selama ini sangat gampang merusak lingkungan. Jawabannya sederhana namun mengerikan, karena kita memisahkan yang suci dari yang kotor. Dan pemisahan itu, sengaja atau tidak, membuat kita tega melakukannya. Tanpa berlama-lama lagi. Langsung saja kita masuk kepada pembahasan inti.
Dikotomi Buatan: Kenapa Masjid Harus Bersih, Tapi Laut Boleh Kotor?
Dalam buku klasik The Sacred and the Profane (1959), sejarawan agama asal Rumania, Mircea Eliade, menjelaskan bahwa manusia religius melalui tradisi budaya kolektif selalu membagi dunia menjadi dua yaitu locus sacer atau empat suci dan locus profanus atau tempat biasa/kotor. Masjid, gereja, pura adalah yang suci. Sementara sisanya seperti laut, sungai, dan selokan dianggap profan hanya karena tidak tersentuh upacara suci, padahal secara ontologis tidak ada bedanya. Masalahnya, kita membawa logika ini ke zaman modern secara membabi buta. Kita membersihkan masjid sampai berkilau karena kita yakin Tuhan suka bersih. Tapi kita membuang sampah ke laut karena kita pikir laut bukan rumah Tuhan. Laut cuma objek mati yang bisa dieksploitasi. Padahal, dalam tradisi Vedanta yang dirumuskan oleh Adi Shankara (788–820 M) dalam komentarnya atas Upanishad, Tuhan atau Brahman itu nirguna atau tanpa sifat dan sarvagata ada di mana-mana. Tidak ada tempat yang lebih sakral dari tempat lain.
Nah, kesalahan fatal kita adalah mendewakan ritual kebersihan di tempat ibadah, tapi melupakan esensi kebersihan sebagai cara hidup.
Dalam bukunya yang berjudul Sacred Ecology (edisi ke-4, 2018), antropolog lingkungan asal Kanada, Fikret Berkes, menjelaskan bahwa masyarakat pesisir di berbagai belahan dunia seringkali memiliki sistem pengetahuan ekologi tradisional yang disebut Traditional Ecological Knowledge/TEK yang terpisah dari ajaran agama formal. Berkes mendokumentasikan bagaimana nelayan di Indonesia, Filipina, dan Karibia membedakan antara dosa ritual (melanggar aturan ibadah) dan kesalahan teknis (membuang sampah ke laut). Mereka menganggap yang pertama berdampak pada hubungan vertikal dengan Tuhan, sedangkan yang kedua hanya urusan horizontal antarmanusia—sehingga tidak memicu rasa bersalah yang cukup kuat untuk mengubah perilaku. Akibatnya, tidak ada rasa bersalah ontologis ketika mereka melempar botol plastik ke ombak. Dari sinilah benang merah mulai terlihat dimana kita perlu membongkar tembok antara tempat ibadah dan pantai.
Tattvam Asi: Menyatukan Pemulung dan Yang Suci dalam Satu Nafas
Mari kita baca ulang Chandogya Upanishad (Bab 6.8.7) yang menjadi fondasi ajaran monisme. Dalam dialog antara pendeta Uddalaka dan putranya Shvetaketu, sang ayah terus mengulang: “Tat tvam asi, O Shvetaketu”—engkau adalah itu. “Itu” merujuk pada Brahman, realitas tunggal yang tak terpisahkan. Sebuah pernyataan filosofis yang meruntuhkan semua sekat. Jika pemulung yang bersimbah peluh dengan belatung di kepalanya adalah “Itu”, dan jika sampah plastik yang membusuk juga terbuat dari unsur-unsur yang sama dengan tubuh kita (karbon, hidrogen, oksigen), maka membuang sampah ke laut sama saja dengan membuang bagian dari Tuhan itu sendiri. Dalam bukunya Ecology and the Environment: Perspectives from the Humanities (2017), sarjana lingkungan John Grim dan Mary Evelyn Tucker mengutip teks-teks Hindu kuno untuk menunjukkan bahwa ekologi bukanlah cabang ilmu baru, melainkan cabang dari metafisika.
Bayangkan, jika setiap orang menyadari bahwa sampah botol Ale-Ale yang ia lempar adalah perpanjangan tangan dari tubuhnya sendiri, akankah ia tetap melakukannya? Tentu tidak. Dalam filsafat Baruch Spinoza (1632–1677) yang termaktub dalam Ethics, ia menyebut realitas sebagai satu substansi tunggal (Deus sive Natura—Tuhan adalah Alam). Spinoza dan Upanishad bertemu di titik yang sama dimana tidak ada dualisme. Yang ada hanyalah satu kesatuan utuh. Maka, ketika kita melihat pemulung dengan belatung, kita seharusnya tidak merasa jijik, sebaliknya kita seharusnya merasa sedang bercermin. Karena kondisi pemulung adalah kondisi kita yang sedang terpecah. Kesadaran ini juga logika ilmiah. Sampah organik membusuk menjadi humus, humus menyuburkan tanah, tanah menumbuhkan padi, padi menjadi nasi yang kita makan. Tidak ada yang hilang, semua berputar. Memutus siklus itu—dengan mencemari laut—berarti memutus nafas kehidupan kita sendiri.
Satu hal lagi yang cukup saya sayangkan adalah bahwa pendidikan agama kita sangat dominan mengajarkan habluminallah (hubungan vertikal dengan Tuhan), tapi nyaris tidak mengajarkan habluminassam (hubungan dengan lingkungan) secara setara. Akibatnya, membersihkan masjid mendapat pahala besar, membersihkan pantai dianggap kerja sosial biasa. Di sinilah konsep Tattvam Asi masuk sebagai solusi epistemik. Jika kita menerima monisme imanen, maka menuntut produsen besar untuk bertanggung jawab atas sampahnya adalah tindakan liturgis. Itu adalah bagian dari ritual menyucikan diri karena sedang membersihkan bagian dari Brahman yang tercemar. Pemerintah juga harus didorong, bukan dengan demo anarkis, tapi dengan kesadaran kolektif bahwa mengabaikan sampah laut adalah bentuk penistaan dalam pengertian filosofis yang paling dalam. Hanya dengan menyadari kesatuan ini, kemiskinan struktural dapat dilawan bukan dengan marah, tapi dengan tindakan sadar yang terus-menerus.
Pada akhir tulisan ini saya mengajak teman teman untuk mencoba perspektif yang sangat tua namun selalu baru: Anggap semua yang kotor sebagai bagian dari dirimu. Kita terlalu lelah membagi-bagi hidup menjadi dosa dan pahala, surga dan neraka, masjid dan selokan. Padahal, dalam Chandogya Upanishad, tidak ada pemisahan itu. Yang ada hanyalah satu realitas yang terus bergerak, membusuk, tumbuh, dan mati. Harapan saya menulis ini untuk diri saya sendiri, kesadaran pribadi teman-teman, masyarakat umum, adalah agar kita mulai mempraktikkan ibadah yang berbeda mulai besok pagi di mana selain rajin ke masjid, juga rajin memungut satu botol plastik di tepi pantai sebagai sebuah kesadaran bahwa sampah itu adalah kulit kita sendiri yang mengelupas.
Ketika kita membersihkan laut, kita sedang membersihkan tubuh Tuhan yang selama ini kita korbankan demi kenyamanan sesaat. Mari kita ingat lagi. Karena menjadi manusia sejati salah satunya adalah tentang seberapa dalam kita bersedia membumi—dengan sampah, dan dengan seluruh kenyataan yang ada di depan mata.
Semoga bermanfaat dan terima kasih.




