
Anak Tak Bisa Memilih Orang Tuanya, Namun Orang Tua Bisa Memilih Ingin Menjadi Sosok yang Seperti Apa
Dalam submisi Open Column ini, Boit menuliskan bagaimana anak itu bisa berlaku seperti spons yang menyerap apa pun dari orang tuanya – termasuk trauma.
Words by Whiteboardjournal
Malam beranjak larut. Obrolan kami mengerucut makin serius. Saya mendengarkan ceritanya tentang orang tua, sementara saya memaparkan pengalaman saya ketika menjadi orang tua.
“Gue memutuskan nggak mau punya anak, saking traumanya gue sama bapak gue. Sampe sekarang, gue belum berdamai dengan dia meski hubungan kami sedikit membaik dibanding dahulu. Soalnya dia sampe sekarang nggak pernah minta maaf.”
Saya menarik napas panjang.
Ini cerita satu. Di hari lain, saya mendengar cerita yang lain.
“Ini aku tulis waktu aku lagi marah banget, Teh,” katanya sambil menyodorkan buku catatannya. Tulisannya panjang, membicarakan lelahnya jadi anak dan, seandainya bisa, memilih lahir dari batu.
“Aku lebih deket sama papa. Ibuku malah marah ketika aku bilang kalau suaminya yang baru itu mokondo. Tapi kalau dia butuh, minta duit sama aku. Saking seringnya berantem dan malah disalahin mulu, aku sempet pengen mati aja deh.”
Berpindah hari dan tempat, saya pernah menyaksikan seorang anak kecil dibentak di muka umum karena hal yang sepele, yang sebetulnya tidak membutuhkan teriakan yang menggelegar seantero ruangan.
Kami yang ada di sekitar anak itu beringsut menjauh, berusaha tidak ikut campur. Cukup lama saya menunggu anak itu dihampiri ibunya untuk dihibur atau mungkin ibunya mau meminta maaf, tapi itu tidak terjadi.
Akhirnya, saya memilih pelan menghampiri si anak yang sedang terisak dan berurai air mata dan berbincang.
“Maaf ya, Nak, orang tua memang suka lupa rasanya jadi anak. Mungkin Ibu lagi pusing di rumah, jadi kena ke kamu, deh.”
Sungguh alasan lemah untuk memvalidasi bentakan ibunya. Tapi, memang pilihan apa yang dipunyai anak kecil ketika hal itu terjadi? Balik membentak ibunya? Balik marah?
Sebenci atau seburuk apa pun kondisinya, dia tetap pulang ke rumah dan berhadapan kembali dengan orang tua yang mungkin memperlakukan dia seperti benda yang tidak punya keinginan.
Anak tidak bisa memilih lahir di keluarga seperti apa, tidak bisa memilih siapa yang menjadi orang tuanya, tapi kita sebagai orang tua bisa memilih untuk menjadi orang tua seperti apa.
Hal itu saya yakini sampai sekarang.
Anak saya dua. Keduanya perempuan, bertaut jarak 9 tahun. Sedari kecil, meski saya yakin kami, mama dan ayahnya, jauh dari sempurna, berusaha mendengar dan banyak berdiskusi dengan mereka.
Saya ingat dulu, hal yang paling tidak saya sukai dari ibu saya adalah ketika dia membelikan baju untuk saya. Maka ketika saya punya si sulung, sedari dia bisa bicara, kami belanja baju bersama. Memberinya kebebasan memilih pakaian.
Saya ingat ada masa dia tidak mau memakai baju hitam. Sempat ada teman komentar, “Jauh amat pilihan fashion anak lu.”
Kami akan memberi pertimbangan ketika baju yang dipilih tidak sesuai dengan acara atau tempat yang akan didatangi, tapi tidak mendiktenya. Kami biasanya akan menyodorkan dua atau tiga pilihan untuk mereka belajar menentukan. Sekarang? Keduanya punya sense of fashion dan karakternya sendiri.
Kembali ke trauma yang diwariskan, pilihan itu benar-benar muncul ketika kita jadi dewasa dan cara kita memperlakukan anak di sekitar kita.
Kali lain, teman saya berseru heran ketika melihat si sulung mengucapkan terima kasih ketika mengambil makanan yang kami belikan via GoFood.
“Bo, anak lu kok bisa sopan gitu, jarang loh yang kayak dia.”
Kami malah kemudian berdiskusi panjang lebar karena saya teringat kalau di rumah, kami sebagai pasangan selalu memperlakukan satu sama lain dengan sopan. Tidak pernah bertengkar atau saling membentak. Untung juga neneknya almarhum yang kalau minta sesuatu selalu diawali dengan, “Teh, tolong…”
Jadi kalau sedang kumpul dengan ibu-ibu lain dan mereka curhat tentang kelakuan anak masing-masing, saya akan ngebalikin dengan bilang, “Emang ibu atau bapaknya kelakuannya gimana di rumah?”
Biasanya mereka akan ketawa, tapi terus kembali mengeluhkan hal yang sama di lain hari.
Mungkin tidak banyak dari kita yang sadar bahwa apa yang dilakukan anak di luar adalah cerminan apa yang terjadi di rumah. Karena anak kecil itu seperti spons. Dia menyerap apa pun yang dia lihat dan dengar, lebih cepat dari dia mendengar omelan orang tuanya.
Saya sebagai anak tidak suka ketika dulu dibentak orang tua. Maka ketika saya jadi orang tua, saya belajar untuk tidak membentak anak saya.
Saya sebagai anak tidak suka kalau kami pergi ke suatu tempat tanpa berunding dulu. Saya senang dibelikan buku bacaan. Saya senang kalau penampilan saya dipuji orang. Saya tidak senang kalau ibu saya mengomentari fisik saya. Saya tidak senang dibanding-bandingkan dengan anak lain. Saya senang kalau pendapat saya dihargai.
Dan list panjang hal-hal yang saya sukai dan tidak saya sukai ketika saya masih kecil, juga perlakuan-perlakuan yang saya dapat dari orang dewasa di sekitar saya, saya bawa sampai menjadi orang tua.
Saya tidak mau mewariskan trauma kepada dua anak saya.
Metode yang kami pakai adalah disiplin, ngobrol, diskusi tanpa teriakan, tanpa paksaan dan dengan berbagai siasat. Kami berusaha hadir untuk mereka. Ngajak main, jalan, liburan, juga mengajarkan bahwa hidup di dunia butuh kemampuan sosial dan bertahan hidup.
Proses melepas hal-hal yang pernah didapat ketika tumbuh itu adalah proses yang panjang dan tidak mudah.
Jadi, alih-alih kami membatasi gerak dan ruang hidup anak dengan alasan melindungi dia, perlahan kami membuka dunianya sambil memberi bekal. Anak belajar untuk melakukan kesalahan, belajar bosan, belajar bahwa dunia tidak berpusat pada dirinya.
Dua era sulung dan bungsu membuat saya juga bertemu dua generasi orang tua yang berbeda. Membuat saya bertemu dengan beberapa kelompok orang tua yang punya konsep bermacam-macam, dengan cara berbeda tapi ada yang mirip karena rata-rata orang tua memperlakukan anak dengan konsep kepemilikan.
Antara melindungi anaknya sampai anak tidak mandiri atau memperlakukan anak dengan perintah satu arah yang otoriter. Sementara kami selalu yakin kalau anak adalah individu yang berdampingan hidup dalam satu rumah. Seperti kanvas kosong yang perlahan digambar dan akhirnya punya jiwa dan hidupnya sendiri.
Percaya pada anak. Memberi tanpa memanjakan. Mengenalkan pilihan, risiko dan tanggung jawab. Memuji, saling mengkritik, berdialog tanpa berhenti. Mengajarkan sopan santun.
Proses melepas hal-hal yang pernah didapat ketika tumbuh itu adalah proses yang panjang dan tidak mudah.
Ungkapan yang paling saya benci sampai saat ini adalah, “Kamu mah enak ya, anaknya udah pada mandiri,” atau, “Enak ya punya anak perempuan lebih cepat ngerti.”
Bukan hasil sulap, hei.
Ini hasil didikan, hasil dari kami belajar jadi orang tua dari kedua anak kami. Kalau kata Opung Domu Boru ke Pak Domu di film Ngeri-Ngeri Sedap (2022), “Jadi orang tua itu nggak ada tamatnya.”
Kembali ke trauma yang diwariskan, pilihan itu benar-benar muncul ketika kita jadi dewasa dan cara kita memperlakukan anak di sekitar kita.
“Zaman gue dulu, susah. Mau a b c d, harus d e f g. Kamu sih enak, zaman sekarang mah bla bla bla.” Tugas kita yang paling besar justru menghindarkan anak dari hal-hal yang membuat kita tidak nyaman ketika tumbuh.
Tidak mudah, tapi bisa.
Pertanyaan utamanya adalah: masa kecil seperti apa yang ingin kita berikan untuk anak kita?
Sambil bercanda di depan teman yang baru beres bercerita soal orang tuanya, saya menggoda si bungsu yang baru saja duduk.
“Dek, trauma nggak punya orang tua kayak aku?”
“Nggak dong,” jawabnya mantap.
Luka fisik bisa sembuh. Trauma dan luka dalam hati bisa diingat seumur hidup.




