
Melihat Diri Sendiri dan Realita Pekerja yang Dieksploitasi di Film Terbaru Edwin
Dalam Open Column ini, Muhammad Zaidan menuliskan kemiripan yang ia temukan dari film Edwin yang akan datang, Monster Pabrik Rambut (2026), dengan iklim eksploitatif di lanskap pekerjaan hari ini, dan bagaimana horor yang pelan-pelan menyergap itu kian menjadi nyata selagi durasi film bergulir.
Words by Whiteboard Journal
Geliat film horor Indonesia memang tak ada habisnya, silih berganti cerita namun substansi yang ditawarkan tak lebih dari pengulangan yang membosankan. Mengetengahkan tema “tradisional” tanpa menyadur kebaruan. Tak salah jika harus melulu menggunakan unsur tradisional yang erat kaitannya dengan budaya di Indonesia, akan tetapi, hal yang menjadi kebosanan dan justru melahirkan pertanyaan hari ini adalah: Sampai mana unsur tradisional tersebut membantu membentuk karakter film horor agar terkesan tidak monoton? Tetapi mungkin pertanyaan tersebut sebaiknya saya renungi saja sendiri sebagai penonton.
Selepas saya menonton premier Monster Pabrik Rambut (22/4) di Yogyakarta, sedikitnya saya menemukan jawaban dari pertanyaan di atas, dan pada akhirnya saya mengakui kalau tradisionalitas yang selalu menempel di film horor Indonesia memang tidak bisa dilepaskan, tetapi hal itu justru bisa dicampurkan dengan kebaruan yang justru memunculkan perspektif baru mengenai film horor yang bukan hanya berkutat pada kubungan jumpscare, sound deg-deg-an, dan nihil nya pesan sosial. Agaknya hari ini di tengah carut-marutnya sosial, sepertinya yang paling penting dalam film bagi saya adalah, bukan hanya lagi sebatas hiburan, tapi lebih jauh dari itu mampu menjadi jembatan atas keresahan yang terjadi di realitas sosial.
Monster Pabrik Rambut menawarkan kedua efek tersebut (setidaknya bagi saya); kelelahan akan rutinitas, saya memilih menonton film tersebut, dan setelah menonton film tersebut saya seperti terkena efek kejut yang berlebih kala harus mengerutkan dahi ketimbang menikmatinya sebagai hiburan. Bukan karena membosankan, tetapi justru karena film ini menciptakan ruang berpikir yang luas di dalam kepala ketika isu yang dibahas cukup beririsan dengan permasalahan hari ini. Selain itu, Edwin selaku sutradara menurut saya banyak menyelipkan metafora ciamik yang begitu detail dari awal film hingga akhir film. Beliau selaku penulis naskah bersama Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga seperti merekonstruksi hal yang terkadang luput dari mata manusia, khususnya permasalahan dalam ranah pekerjaan. Sebelum lebih jauh, saya mengamini bahwa film ini terkesan absurd dan eksperimental (bukan dalam artian buruk) tetapi justru 2 hal itu yang selalu saya tunggu dari sebuah film, khususnya horor, terlebih karena genre ini masif diangkat dalam perfilman Indonesia, dan saya sudah kadung termakan judul, poster, dan premis film yang absurd dan justru tak jarang mengundang tawa kebingungan. Pada akhirnya menunggu gebrakan baru dari genre horor di Indonesia tidak salah bagi masyarakat.
Setelah sebelumnya mengalihwahanakan Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan, kini Eka dan Edwin bersamaan Daishi Matsunaga menjadi penulis naskah untuk Monster Pabrik Rambut. Memang tak bisa dipungkiri jika peran Eka Kurniawan dalam penulisan naskah Monster Pabrik Rambut membawa film ini menjadi begitu absurd, surealis, dan kaya akan satir sosial. Hal itu tercermin dalam karya-karya buku beliau yang cukup dikenal menawarkan tiga hal itu.
Film ini bagi saya tak pelak menjadi sebuah film horor yang kaya akan satir sosial, metafora berlapis, dan kebaruan yang bersifat tak lebih tengah dari bentuk satir dan metaforanya.
Sorot Tajam Terhadap Budaya Kerja (Hustle Culture)
Film ini menegaskan bahwa narasi horor tidak selalu bergantung pada stimulasi audio maupun jumpscare konvensional yang berlebihan. Sebaliknya, esensi kelindan horor justru dieksplorasi melalui fenomena riil yang dekat dengan eksistensi manusia, yakni dengan mengusung pesan satir sosial terhadap tekanan di dunia kerja. Bentuk yang paling menonjol dalam karya ini adalah representasi dari budaya lembur (overtime culture). Apabila penonton jeli lebih dalam, narasi film memperlihatkan bagaimana wacana kompensasi atau upah tinggi direduksi menjadi instrumen eksploitasi demi komodifikasi dan keuntungan kapitalis (pemilik pabrik). Selain itu, aspek fisiologis yang alamiah seperti rasa kantuk direpresentasikan sebagai ancaman komunal melalui entitas misterius yang mengonstruksi atmosfer pabrik.
Fenomena ini berfungsi sebagai metafora alegoris atas represi terhadap hak istirahat pekerja. Di dalam ekosistem kerja tersebut, kantuk yang semula merupakan respons biologis yang wajar, bertransformasi menjadi teror psikologis yang mencekam ketika para pekerja dipaksa mempertahankan kesadaran (insomnia artifisial) selama berhari-hari. Ironisnya kian kentara ketika pemulihan kondisi fisik pekerja sepenuhnya bergantung pada intervensi sang pemilik pabrik. Kendali mutlak borjuasi atas entitas peneror ini menjadi sebuah ironi sosiologis: tenaga kerja dipacu melampaui batas batas biologis mereka, memposisikan tubuh pekerja tak lebih dari sekadar elemen mesin produksi yang dilarang mati.
Jika harus menarik pada realitas sosial, budaya lembur upah tinggi atau budaya porsi pekerjaan lebih dengan embel-embel upah tambahan, terasa begitu lekat dalam realitas sosial. Berhubungan dengan hustle culture. Jika harus menarik jauh dengan singkat fenomena hustle culture yang dikenal sebagai salah satu gaya hidup workaholism, yang dipopulerkan oleh pakar psikolog Wayne Oates pada tahun 1971, dalam bukunya Confessions of a workaholic: the facts about work addiction. Di mana para pelaku gaya hidup baru adalah generasi millenial yang menganggap suatu kesuksesan diri berasal dari melakukan pekerjaan secara terus-menerus dan meminimalkan waktu istirahat, menyebabkan ketidaksadaran bahwa mereka dipaksa untuk terus bekerja. Melalui kutipan singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa akan hadir ketidaksadaran dalam diri seorang pekerja yang terpaksa harus terus menerus memerah benih keuntungan bagi sang atasan. Fenomena tersebut begitu termaktub dalam film ini sehingga begitu terlihat corak para pekerja yang terus menerus berlari di sebuah treadmill bernama eksploitasi kerja.
Pada akhirnya film ini menunjukkan bahwa budaya lembur sejatinya berfungsi sebagai instrumen kontrol atasan yang berakar pada adanya ketimpangan ekonomi pekerja. Demi memenuhi tuntutan kebutuhan hidup, para pekerja terdorong untuk mengejar insentif tambahan. Di titik inilah budaya kerja berlebih masuk dengan narasi ‘upah tambahan dan apresiasi’ yang tampak menyelamatkan, padahal justru memperburuk kondisi riil pekerja. Retorika tersebut menjadi celah psikologis yang efektif bagi produsen untuk memanipulasi pekerja agar secara sukarela menerima beban kerja yang eksploitatif.
Pada titik inilah Monster Pabrik Rambut justru bertransformasi menjadi horor yang lebih mengetengahkan ‘horornya tempat kerja’ daripada horor konvensional yang berkutat pada makhluk tak kasat mata dan itu sejalan dengan jawaban Edwin di acara nonton bareng pemutaran film ini di Jogja.
Metafora Pabrik
Poin eksplorasi lain yang tidak kalah subtil adalah bagaimana film ini memanfaatkan ruang (spasial). Keputusan sutradara untuk memusatkan latar cerita pada area pabrik dan kompleks asrama yang menciptakan kesan isolasi yang kuat, seolah-olah pabrik bertindak sebagai metafora dari sebuah penjara. Desain latar yang terisolasi ini mengisyaratkan adanya pembatas yang tegas antara kebebasan di dunia luar dan kungkungan di dalam pabrik. Hambatan atau batasan tersebut digambarkan secara gamblang melalui dominasi visual pintu besi yang repetitif. Dalam konteks analisis visual, keberadaan pintu-pintu besi ini merepresentasikan kerangkeng pembatas yang memisahkan interaksi antar-karakter, yang pada akhirnya mengukuhkan premis bahwa pabrik tersebut telah bertransformasi menjadi ruang penjara yang opresif.
Menarik Simpatisan, Serta Doktrinasi
Oke, poin ini menarik bagi diri pribadi saya karena menyangkut hal tak terduga, yang mana jawaban dari Edwin sendiri masuk akal bagi saya: Terdapat satu adegan menampilkan para pekerja sedang senam di pagi hari dengan iring-iringan marching band. Hal itu cukup saya soroti karena beberapa kali saya tak sengaja melihat langsung aktivitas tersebut. Mungkin hal semacam senam yang terdapat dalam film tersebut mampu saya definisikan dalam artian luas seperti apel pagi yang seringkali dilakukan untuk transfer semangat bagi para pekerja. Hal tersebut pada awalnya diilhami sebagai tujuan yang baik dalam membangun semangat pekerja di pagi hari. Namun, seiring berjalannya waktu kegiatan tersebut justru menjadi monoton dan kaku dan malah menjadi kian tak penting. Nilai formalitas menjadi begitu terasa jelas, ketika para pekerja memandang hal semacam ini menjadi sebuah rutinitas yang terlalu membuang-buang waktu. Kembali dalam konteks film Monster Pabrik Rambut, hal itu terasa sekali dari wujud mimik wajah para pekerja yang seakan merasa bosan dengan kegiatan tersebut.
Kegiatan semacam ini kian terasa menjadi doktrinasi terselubung melalui narasi loyalitas pemilik pabrik seperti ceramah semangat patriotik untuk bekerja demi kemajuan pabrik. Diperjelas dengan detail lain bahwa pemilik pabrik selalu berbicara melalui pengeras suara yang mampu terdengar di seantero ruangan dengan quotes semangat yang pada akhirnya hanya menjadi doktrin bagi para pekerja pabrik.
Menarik jika fenomena semacam senam dan apel pagi ini menjadi budaya yang kian tergerus dari fungsi asalnya. Praktik semacam ini lumrah digunakan para atasan untuk menarik simpatisan pekerja guna bekerja demi kemajuan pabrik dan menumbuhkan loyalitas yang justru mengesampingkan kesehatan mental dan tujuan awal para pekerja. Saya harus menggarisbawahi perkara loyalitas terhadap tempat kerja ini. Memang hal itu diperlukan demi kesuksesan bersama, akan tetapi hal tersebut seringkali direduksi oleh para atasan untuk meraup keuntungan sendiri tanpa memperhatikan kondisi para pekerjanya. Loyalitas pada tempat kerja itu boleh dilakukan sebatas bersikap profesional dan berdedikasi saat bekerja, tetapi tidak sampai memberikan kesetiaan yang menyesatkan.
Pada akhirnya terlalu banyak jika harus membahas hal-hal menarik dalam film ini, tapi bagi saya film ini menjadi sesuatu yang segar bagi geliat horor Indonesia. Meminimalisir kecenderungan horor konvensional melalui cerita yang mengedepankan satir sosial. Dengan suasana yang mencekam dan simbol-simbol yang kuat, film ini mengajak penonton menyelami realitas sosial yang dibungkus dalam narasi penuh misteri. Selain itu, film ini menitikberatkan pada sisi paling gelap dari kehidupan manusia, termasuk bagaimana tubuh dan tenaga seseorang dapat diperalat demi kepentingan industri. Apa yang sebetulnya ditampilkan dalam film ini adalah budaya buruh pabrik, tetapi pada akhirnya saya atau kalian para pembaca yang sedang bekerja mampu merasakan nuansa berat dan keprihatinan terhadap budaya kerja di Indonesia yang memiliki kecenderungan serupa dengan film ini. Menjadikan konsep buruh tak berhenti untuk konotasi pada pekerja pabrik saja.
Film ini mampu menjadi instrumen pengingat bagi para penonton bahwa fenomena yang terjadi di dalam film ini bukan berangkat dari imajinasi saja. Tetapi dari keprihatinan sesama pekerja yang menginginkan suatu perubahan yang berdampak bagi kehidupan para pekerja di luar sana. Terlalu jauh jika harus berbicara dampaknya apa, tetapi dari kalimat pengingat saja fenomena ini sudah menjadi aspek yang penting bagi film Monster Pabrik Rambut dalam memberikan gagasan aktual mengenai keharusan kita untuk waspada, selalu sadar akan hal-hal kecil dalam dunia kerja dan filtrasi informasi dari sisi manapun guna menjaga kewarasan dan hak-hak kita sebagai pekerja, umumnya sebagai manusia.
Terakhir, saya mengutip penggalan dialog dalam film, bahwa “Udah capek kerja nggak tidur, haruslah nyenengin diri sendiri.”
Dialog itu saya belajar salah satu hal dari film ini bahwa wajib rasanya seorang pekerja mencari stimulus untuk tetap bahagia dalam kondisi berat, lelah, bosan, dan segala macamnya yang diakibatkan oleh pekerjaan, dalam pengertian lebih umumnya hal itu disebut self reward. Saya sepakat dengan dialog itu, karena pada akhirnya jika rasa bahagia tidak lahir di ruang kerja, mencari bahagia dari hal lain semacam membeli hal yang kita inginkan, atau berlibur sejenak adalah salah satu hal yang paling mungkin untuk mengembalikan bahagia kita. Mungkin Hindia benar bahwa Lakukan apa yang kau mau sekarang Saat hatimu bergerak, jangan kau larang terasa memang perlu dilakukan bagi kita para pekerja.




