Responding to the current growing popularity of films like Hokum (2026), Backrooms (2026), and Obsession (2025), in this Open Column submission, Agnes Giovanni argues that the horror genre’s shift in focus from supernatural fears to dangerous men foreshadows an even darker (and realistic, yet dire and deeply personal) depiction of misogyny in cinema and real life.
Dalam Open Column ini, Muhammad Zaidan menuliskan kemiripan yang ia temukan dari film Edwin yang akan datang, Monster Pabrik Rambut (2026), dengan iklim eksploitatif di lanskap pekerjaan hari ini, dan bagaimana horor yang pelan-pelan menyergap itu kian menjadi nyata selagi durasi film bergulir.
Menjelang hadirnya Romantisasi Impulsif (2026), kami berbincang dengan Tata dan Adji mengenai keterbatasan yang membentuk identitas The Jansen, kecintaan mereka terhadap format album, hingga ambisi untuk membangun semesta cerita yang melampaui musik itu sendiri.
Menyelami isi kepala Aco Tenriyagelli dan ngobrol tentang perang kecanggungan dengan orang tua, humor sebagai jembatan antar generasi, sampai kemalingan di Italia bareng Yandy Laurens.
Dalam liputan yang didukung oleh Pulitzer Center ini, Antonia Timmerman dan Rio Tuasikal mengupas bagaimana AI generatif berat kaitannya dalam membuat kita tumpul akan kekaryaan.
Menuju hari-hari Jakarta Film Week 2025, kami menyempatkan untuk berbincang dengan Claresta Taufan, Festival Ambassador, mengenai geliat film Indonesia belakangan ini, hingga (tentu saja) sang festival.