
The Jansen: Keblangsakan ini jangan dijadikan musuh, tapi dijadikan teman dan bensin untuk kita lebih kreatif lagi.
Menjelang hadirnya Romantisasi Impulsif (2026), kami berbincang dengan Tata dan Adji mengenai keterbatasan yang membentuk identitas The Jansen, kecintaan mereka terhadap format album, hingga ambisi untuk membangun semesta cerita yang melampaui musik itu sendiri.
Words by Whiteboard Journal
Words: Rajan Nausa & Garrin Faturrahman
Photo: Riezky Hana Putra/Whiteboard Journal
Barangkali itu deretan downstroke yang dimainkan seolah tak ada hari esok. Barangkali itu kemampuan mereka dalam menemukan romantisme dari kebuntuan hidup, mengubahnya menjadi (((sedikit))) lebih masuk akal. Atau mungkin sesederhana tipografi merah mudanya yang melekat di salah satu cover album. Apa pun itu, ada sesuatu tentang The Jansen yang membuat orang terus kembali kepadanya.
Menjelang hadirnya Romantisasi Impulsif (2026) – album yang mereka bayangkan sebagai penutup dari trilogi – kami berbincang dengan Tata dan Adji mengenai keterbatasan yang membentuk identitas The Jansen, kecintaan mereka terhadap format album, pandangan tentang AI, hingga ambisi untuk membangun semesta cerita yang melampaui musik itu sendiri.
Tampaknya kita sudah sangat mengenali sound-sound khas The Jansen. Dari chorus yang anthemic – dan kerap katartik – gitar yang ikut menyanyi di belakang vokal, hingga atmosfer yang hidup berkat kementahannya. Apa temuan dari teman-teman yang boleh diceritakan dalam perjalanan penemuan bentuk hingga akhirnya matang menjadi The Jansen yang kita kenali ini?
Tata: Awalnya, yang jadi landasan kenapa pemilihan chords-nya seperti itu, kenapa terjadinya dan hasil kayak gitu, semua dari keterbatasan. Keterbatasan skill, keterbatasan alat, dan tentunya keterbatasan finansial juga.
Karena kan awal bikin The Jansen itu kan dari apa yang kami bisa, lambat laun, tambah referensi, tambah segala macam, akhirnya masuklah di era baru. Mulai belajar hal-hal baru seperti memperkaya tema, konsep terobosan-terobosan baru, pemilihan sound. Apa lagi Ji?
Adji: Mungkin karena kami punya kesempatan lebih ya, pas rilisnya Banal Semakin Binal (2022), dari situ kami mulai bereksperimen tentang sound sampai menghasilkan dari Durja Bersahaja (2024). Kami lumayan eksperimen sound-sound juga, terutama sound-sound gitar. Sama drum sih yang paling enak banget buat dikulik.
Kalau ngulik bareng di rumah?
Tata: Salah satu hal yang saya syukuri dari Banal Semakin Binal (2022) adalah, pertamanya, teman-teman baru yang, memang mereka konsentrasi di ranah musik. Dari situ kami diperkenalkan banyak sound. Itu biasanya ya di kontrakannya si Jansen.
Adji: Biasanya setiap mau rekaman kami mulai brainstorming sama operator rekamannya di kontrakan.
Tetangga aman tuh? Cerita dikit, kemaren W_Music di Buitens (Bogor), saking ramainya, ada warga komplain hahaha.
Tata: Ajaibnya kami dapat kontrakan yang kalau rekaman pernah sampai mau azan subuh pun, nggak ada yang protes.
Banal Semakin Binal (2022) bisa dibilang sempat viral. Apakah album Romantisasi Impulsif (2026) nyoba ngejar hal itu lagi?
Tata: Nggak ada sih. Kami setiap nulis, ya dari keresahan yang ada saat itu aja. Mengarsip pengalaman-pengalaman yang terjadi di beberapa bulan atau setahun belakang. Biasanya kayak gitu. Kalau untuk target viral lagi, kayaknya nggak ada sama sekali.
Adji: Setiap The Jansen rekaman, ya itu arsip-arsip pada waktu itu. Dari album pertama, dari kami nggak tau apa-apa tentang sound, terus mulai aware seiring sering rekaman di studio, hingga akhirnya setelah Banal Semakin Binal (2022) kami punya kesempatan untuk memproduksi sendiri dengan alat-alat sendiri. Lebih menangkap apa yang kami senangin aja, dituang ke rekamannya.
Dalam penulisan lirik lagumu, kerap kita temukan sentilan-sentilan yang berfungsi selayaknya komentar terhadap lanskap sosio-politik hari ini. Apakah pendekatan ini didorong oleh keresahan pribadi, ataukah karena keinginan untuk merepresentasikan para pendengar?
Tata: Pastinya secara nggak langsung itu keresahan pribadi. Bagaimana setiap kami bangun tidur, beraktifitas, apa yang kami lihat, dengar, dan rasakan. Itu yang kami serap, lalu jadi ide lagu.
Jadi, bagaimana kami menceritakan sebuah penangkapan-penangkapan itu jadi sebuah lagu, dan secara organik diamini oleh beberapa orang. Akhirnya, mungkin ada istilah ‘relate’ dari para pendengar. Ternyata, banyak orang merasakan hal yang sama dengan apa yang kami rasain dari keresahan pribadi kami ini.
Adji: Jadi, bukan yang diniatkan, [lebih] karena momennya pas aja.
Sempat terbesit nggak di kalian, ‘Kalau dunia damai, pengkaryaan akan hampa, seakan tanpa tujuan’ gitu?
Tata: Sebenarnya sebagai manusia pengennya ya damai. Semua baik-baik aja, nggak ada penindasan, nggak ada ketidakadilan, sejahtera. Semuanya rata. Itu kan kita pengennya.
Nah, di The Jansen tuh ya sebenarnya, kalaupun memang terjadi damai, ya mungkin lagu kami nggak akan lagi tentang kebobrokan-kebobrokan. Mungkin, kami akan menceritakan tentang indahnya padang rumput atau menikmati kedamaian ini seperti apa. Karena balik lagi, secara penulisan, apa yang kami rasain, kami tuangkan di dalam karya.
Kami hadir sebagai penyeimbang aja. Ketika ada kebobrokan, di situ ada tugas lebih untuk kami menyeimbangi kebobrokan itu, dari lagu atau apa.
Adji: Mungkin bisa jadi juga kalau udah damai terus, [kita] menjadi resah. Resah karena damai, resah karena nyaman. Itu bisa menjadi keresahan normalnya manusia aja dengan hidup.
Tata: Kami belum tahu keresahannya apa yang ada nanti ketika semua damai. Kita belum sampai titik damai yang kita semua pengen. Tapi ketika semuanya damai, pasti akan keresahan lain.
Merespons itu, bolehkah dengar darimu apa yang bisa membantu teman-teman untuk tetap memiliki harapan di tengah segala keblangsakan ini?
Tata: Berteman dengan keterbatasan. Salah satu kuncinya, keblangsakan ini jangan dijadikan musuh, tapi dijadikan teman, mungkin? Atau dijadikan salah satu bensin untuk kita lebih kreatif lagi. Bukan cuma untuk menghasilkan sebuah karya, tapi untuk bertahan hidup.
Jangan kaku. Maksudnya, yang penting kalian punya minat. Minatnya melukis, ya melukislah. Harlan Boer punya lagu, “Bila Lapar Melukis.”
Kami juga berangkat dari keblangsakan banget, tapi karena kami pengen ngeband, yaudah cari akal-akalan. Apa sebutannya dulu? Akal-akalan si miskin. Pasti ada kok ada jalannya, pasti nemu.
Adji: Kalo gue sih lagi meng-filter informasi-informasi. Informasi sekarang sangat cepat didapatkan walau kebenarannya tuh belum tentu benar. Wah, itu kan lumayan bisa bikin stress sendiri ya, pada akhirnya.
Pada akhirnya jadi kayak ‘Mendingan gue nggak tau apa-apa, deh.’ Fokus ke pengembangan diri sendiri pada akhirnya.
Tata: Ada satu momen, kami pernah diskusi. Saya nggak bisa mengungkapkannya, tapi mungkin masuk ke pertanyaan tadi. Sampai sekarang, saya belum pernah beli gitar. Gitar yang sekarang saya pakai itu dibeliin The Jansen.
Sampai detik ini, saya bilang ‘Kalau saya nggak ada gitar, saya bisa pakai sapu,’ cuma pertanyaannya, festival mana atau pendengar mana yang mau menikmati itu?
Itu berangkat dari dulu, saya pernah ngobrol sama teman saya. Saya kan dulu lebih suka bikin film. Kami itu terbiasa, kalau nggak ada kamera bagus, ya pakai handycam. Kalau nggak ada handycam, pakai handphone. Kalau misalnya nggak ada handphone, kami bisa menghayal. Itu masih saya bawa sampai sekarang, bahkan
…ketika saya harus pakai sapu lidi di stage, masih saya akan lakukan. Itu yang dimaksud dari keterbatasan itu jangan jadi musuh.
Saya baru suka nge-band aja itu lulus SMA, dulu nggak tau-tau banget soal musik, cuman 3 chords, tapi jalan aja. Karena keterbatasan itu nggak dibikin musuh, kalaupun nggak ada gitar, mudah-mudahan nggak menghalangi.
Juga, menurut The Jansen pribadi, apa pandanganmu akan lanskap punk rock hari ini – di Indonesia, pun secara global?
Tata: Sebenarnya, kami belum punya kapasitas untuk mengkomentari hal ini, tapi kami coba sok tau aja lah ya. Mungkin bukan punk rock-nya, tapi punk-nya makin banyak variasi. Jenis yang dulu mungkin kita tau punk seperti ini, ternyata ada banyak lagi – dari segi movement, dari segi genre, terus juga dari segi ideologinya. Jadi makin beragam.
Adji: Kalau kita lihat dari scene HC punk, secara internasional, emang genre ini yang paling kuat secara kolektif, bahkan dari dulu sampe sekarang. Dari asas pertemanan dari dulu emang udah kuat sih, jadi sebenarnya kami cuman ngejalanin doang.
Tata: Justru sekarang tuh, orang-orang lebih pengen tampil beda. Meskipun beda sedikit. Pun nantinya, mungkin orang-orang sudah tidak membahas ‘Apa genre-nya?’ atau ‘Cocok nggak genre-nya?’, tapi lebih ke ‘Karyanya mau ngomongin apa?’
Kamu telah bekerja sama dengan P-VINE Records (JP). Kurasa ini selaras dengan gejolak beragam band Indonesia yang seperti punya target untuk main di Jepang. Bolehkah dengar dari The Jansen: Sebenarnya apa yang membawa teman-teman memiliki arah seperti ini – specifically Jepang?
Adji: Referensi awal The Jansen kan salah satunya, Shonen Knife salah satu band Jepang. Makanya kami bikin EP From Bogor to Japan (2016). Itu lebih kayak cita-cita bisa main ke sana aja, meskipun belum direalisasikan sekarang.
Tata: Cuma bukan berarti harus Jepang banget, pengen ke negara lain juga. Tapi kalau kenapa P-VINE nya, kenapa Ji?
Adji: Karena sebelumnya kan pernah rilis bareng starrducc, emang udah kenal sama orang sana. Terus pas pitching, ternyata si P-VINE ini juga lagi nge-reissue Shonen Knife…
Tata: Beberapa langkah lebih dekat dengan idola.
Setelah Jepang, arah yang merambah lebih jauh pun bisa kita temukan di banyak band lainnya – seperti Thee Marloes yang signed dengan Big Crown Records. Di saat yang bersamaan, The Jansen sekarang sudah lebih berbahasa Indonesia ketimbang rilisan-rilisan awalnya. Kenapa justru malah lebih mendekatkan diri ke arah lokal ketimbang global?
Tata: Keinginan pakai bahasa Indonesia itu udah dari lama, tapi mungkin saya dulu nggak mampu menulisnya. Dulu kan saya yang nulis lirik, tapi sebenarnya sudah cita-cita dari album pertama ya?
Adji: Iya. Album pertama tuh udah ada bahasa Indonesia, cuma memang baru satu lagu.
Tata: Setelah Banal Semakin Binal (2022), ketemu Rio Tantomo dan beberapa penulis lain, akhirnya saya makin yakin kalau pakai bahasa lebih oke, tapi bukan untuk mendekatkan diri ke lokal juga. Justru ya kalau bisa ke global, kenapa nggak? Tapi ,kami pun juga nggak terlalu permasalahin [penggunaan] bahasa.
Adji: Musik kan universal sebenarnya. Bahkan secara global, [malah] menggunakan bahasa ibu itu punya unique selling-nya sendiri. Itu yang sebenarnya udah dilakuin sama industri K-pop, bahkan Jepang. Mereka bisa internasional karena menggunakan bahasa ibu sendiri. Mungkin kalau gue ngeliatnya gitu.
Tata: Ini analisa ngasal, sih. Dulu saya benar-benar suka J-rock gitu, saya ingin bikin musik genre nya J-rock. Ketika saya pakai bahasa Jepang, ‘Wah, ini Jepang banget nih!’ Tapi, begitu saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, ‘Kok ini mendayu-dayu ya?’
Terus, lagi-lagi ini analisa ngasal, kayaknya aksen dan bahasa itu mempengaruhi genre – tanpa mengkotak-kotakan ya. Genre juga yang tau para akademisi aja, kalau kita kan kayak yaudah aja.
Mungkin The Jansen di luar diterimanya bukan sebagai band punk, atau band power pop, kan nggak ada yang tau karena si pengaruh bahasa tadi.
Ngomongin bahasa Jepang, akankah rilis lagu berbahasa Jepang?
Tata: Belum tau sih. Itu mungkin bisa jadi, tapi bukan untuk menggait pasar Jepang ya. Karena kami pengen aja, itu juga kalau kami [sudah] bisa berbahasa Jepang, kalau belum bisa ngapain?
Banal Semakin Binal (2022) itu salah satu album yang saya [sempat] nggak suka – dalam artian, karena liriknya aja kan puitis banget, terus ada kata ‘aku.’
Ini yang saya dulu bingungin. Saya kan pengen genre-nya punk, dan ‘aku’ tuh dulu belum mewakili si punk ini. Dulu kan saya menganggapnya ‘aku’ tuh, yaudah laki-laki romantis yang nggak punya power atau apa gitu.
Kalau bahasa Inggris, presiden, preman, segala macam ya ‘I’ aja, tapi ini ‘aku’ bisa nggak sih mewakili seorang yang memberontak?
Tapi ya akhirnya, Mas Rio ngasih jawaban: “Itu salah, sekarang lo bayangin, yang ngomong ‘aku’-nya tuh Gajah Mada.”
Sadar, Gajah Mada aja bisa nyatuin Indonesia. Akhirnya saya nggak alergi lagi sekarang untuk nulis ‘aku.’
Akhirnya kami pakai bahasa Indonesia aja, mau pentas di mana aja. Waktu manggung di Singapura, ada penonton yang nanya, karena setlist-nya setengah lirik bahasa Indonesia, setengah bahasa Inggris, ‘Kok nggak semua berbahasa Indonesia aja?’
Adji: Kalau gue sih, kenapa suka bahasa Indonesia, karena ‘aku kamu’ kan non-gender – nggak ada binernya. Dan yang sampai saat ini masih jadi pegangan gue untuk nulis, kalau gue dengerin band-band dari Rusia, Filipina, dan lainnya, gue mikir, ‘Kenapa ya lagu-lagu Rusia, Jerman tuh kedengarannya serem? Kenapa lagu-lagu yang berbahasa Prancis tuh kedengarannya romantis?’ Tanpa kita tau artinya ya. Dari situ, gue nyoba bahasa Indonesia, terus mikir ‘Akan seperti apa ya [rasanya]?’
Nah, kalau gue pribadi nyimpulinnya, bahasa Indonesia tuh romantisnya dapet, nakalnya dapet, semangat kayak lagu-lagu Jepangnya juga dapet. Walau, yang bisa jawab seperti apa ketika kita menggunakan bahasa Indonesia dalam sebuah lagu itu adalah orang luar.
Belakangan, kita melihat band lebih condong untuk merilis singles/EP, meninggalkan format album biasanya. Namun, The Jansen datang dengan Romantisasi Impulsif (2026), satu album penuh yang bahkan memiliki semestanya sendiri. Apa yang mendorongmu untuk justru mengambil arah rilisan seperti ini?
Tata: Ya, mungkin Adji bisa nambahin. Cuma kalau ditarik ke belakang, memang dari awal kita pengennya jadi band yang fokus di rekaman dulu. Mau ada uang atau nggak ada uang, gimana caranya satu tahun satu album. Walau pada kenyataannya, jadi dua tahun satu album. Tapi mungkin itu yang mengawali ‘apa’-nya.
Terus kalau mau lebih personal, saya kan bisa dibilang anak 90-an ya. Maksudnya mengalami momen-momen membeli kaset. Dulu jarang banget orang rilis single karena itu sayang, mungkin biayanya lebih mahal. Kalaupun ada single, biasanya ada di album kompilasi, dan itu pun seringnya diambil dari album yang sudah ada.
Karena terbiasa dengan itu, saya juga jadi terbiasa mendengarkan karya sebuah band dalam bentuk album- artwork-nya, liriknya, layout-nya, segala macam. Saya baru bisa mencerna apa yang mereka obrolin ketika 12 track atau 8 track itu didengar secara utuh.
Dari kebiasaan itu, saya tawarkan ke The Jansen sejak awal band ini lahir. Waktu itu kan kami nggak tahu kalau di tahun 2022-an akan dapat kehidupan untuk bisa main di mana-mana, untuk bisa ketemu banyak orang.
Namun itu pun nggak menghapus perjanjian lama, alias kami tetap nulis album. Nggak ada target tertentu juga. Dan kalau melihat album baru, ya itu malah seperti menghancurkan diri sendiri.
Jadi mungkin karena sudah terbiasa menulis album, akhirnya saya menawarkan ke Adji untuk menulis album juga. Tapi, itu bukan berarti kita nggak pernah rilis single.
Adji: Kalau kami menyebutnya single lepasan. Karena single-nya kadang nggak nyambung sama albumnya.
Karena kami sudah terbiasa bikin album yang terkonsep, kalau ada single lepasan, ya sudah, single lepasan. Kalau album, biasanya memang terkonsep.
Kalau dari konsep penulisannya sih, dari Banal Semakin Binal (2022) sampai yang terbaru, memang terinspirasi dari beberapa referensi – misalnya Silampukau dan Melancholic Bitch yang punya album dengan konsep kuat.
Sampai akhirnya, karena sudah jadi kebiasaan bikin konsep dalam satu album, jadilah ada dua bentuk rilisan: ada single lepasan, dan ada album.





Iya, kalau ngomongin dengerin album secara religiously kayak tadi Mas Tata bilang, sejalan juga sih sama prediksi awal tahun lalu. Sejauh mata sendiri memandang juga memang nampaknya generasi ini kembali gemar mengoleksi hal-hal analog dan berbentuk fisik sih.
Tata: Kami nggak punya strategi sih tapi. Mungkin kenapa sekarang banyak yang ngeluarin single, itu juga salah satu strategi mereka. Dengan kondisi zaman sekarang yang serba cepat, terus juga mungkin ada pengaruh dari biaya. Bikin album kan lebih mahal daripada bikin single padahal.
Tapi karena kami nggak terlalu memikirkan itu, ya tetap album aja. Kalau dibilang nggak peduli juga bukan nggak peduli sih, lebih tepatnya kami nggak tahu. Kami nggak tahu caranya berstrategi di industri ini. Yang kami tahu, waktu mau bikin karya ya kami harus bikin album.
Adji: Ya tadi, berawal dari keterbatasan sebenarnya. Awalnya kan kami cuma bisa rekaman satu sesi. Jadi gimana caranya biar manfaatnya maksimal, biar nggak nunggu terlalu lama. Daripada ngakalin satu single aja, ya sekalian beberapa track langsung.
Tata: Kalau tracking itu kan mungkin sekitar 300 sampai 700 ribu satu lagu ya.
Adji: Nah, dengan biaya segitu sebenarnya bisa jadi satu album kalau kami rekamannya live.
Tata: Tapi ada beberapa studio yang, kayakpas bikin album pertama ya, sistemnya masih per jam, bukan semi-track. Jadi dulu kita pernah rekaman 3 atau 4 jam, terus 12 lagu selesai. Jadi lebih murah, kan? Akhirnya ya balik lagi, kami berteman dengan keterbatasan. Kalau tiga jam bisa jadi 12 lagu, kenapa nggak sekalian album?
Adji: Biasanya kalau kami rekaman tuh dapet masukan dari Denol (Swellow). Waktu itu pas rekaman Banal Semakin Binal (2022), dia nyaranin kalau rekaman jangan kasih jeda yang terlalu jauh antar sesi. Buat jaga mood-nya supaya nggak berubah.
Itu yang biasanya kami terapin. Jadi pegangan The Jansen setiap kali rekaman, kami nge-block beberapa hari sekaligus. Ketika rekaman, ya sudah, biar antar-track dalam satu album itu mood-nya sama, energinya sama.
Kalau misalnya rekamannya nyicil, wah belang tuh pasti. Yang kami capture itu kan emosi pada waktu itu juga.
Tata: Makanya, album buat kami itu arsip. Apa yang kita rasain, apa yang kita pernah jalani, ada di situ semua.
Tadi ngomongin AI juga kan di depan sebelum masuk ruangan, tanggapan soal penggunaan AI dalam proses berkarya?
Tata: Kalau secara gamblang, bikin lagu jadi pakai AI, kayaknya nggak sih. Kami itu lebih pecinta prosesnya daripada hasilnya. Justru yang kami nikmati itu prosesnya – berantemnya, rekamannya, detik demi detik yang dilewati. Kalau semuanya bisa jadi dalam hitungan beberapa detik, ya apa enaknya?
Justru kami nyari enaknya di situ. Enaknya apa? Keluar rumah, ke kontrakan, nyari sound, nyari segala macam. Kegagalan juga banyak. Atau bahkan kegagalan yang akhirnya dimasukin ke dalam karya. Itu yang diambil, itu yang kita cari. Bukan lagu bagusnya.
Mungkin pakai AI bisa menciptakan sebuah lagu yang bagus, bahkan bisa menciptakan lagu yang persis seperti yang kita pengen. Tapi kami bukan nyari hasil. Kami nyari ketemu orangnya, ketemu engineer-nya, hari ini mereka lagi ada apa, lagi bawa mood apa ke hari itu, bunyi-bunyinya, baunya, laparnya.
Adji: Kadang-kadang justru pas salah, ternyata ketika kita dengar hasilnya malah enak. Jadi itu yang kita kejar. Banyak kejadian seperti itu.
Tata: Ya, terima kasih sudah bikin AI. Tapi kayaknya bukan buat kita gitu ya. Terus waktu itu ada juga yang nanya soal fenomenanya secara umum. Kami jawabnya gini sih: pada akhirnya, lambat laun, pendengar itu punya selera. Punya selera untuk membedakan mana yang dibuat sama manusia. Tapi itu cuma waktu yang bisa menjawab. Ini menurut saya ya, bukan berarti saya bilang orang harus pakai AI atau jangan pakai AI. Itu nggak bisa sih. Pada akhirnya orang juga akan punya seleranya sendiri. Akan ketahuan lah.
Adji: Harusnya memang ada peran regulasi sih. Regulasi dari sebuah negara.
Untuk albummu yang akan datang, Romantisasi Impulsif (2026), kita melihat bahwa ada satu penyampaian cerita yang kohesif – bahkan, dari judul sekalipun. Bolehkah diceritakan apa yang ingin kami rasakan dari arah kreatif ini dari The Jansen?
Tata: Waktu memulai album Romantisasi Impulsif (2026), Adji sudah bilang, “Gue pengen punya konsep album ini, pendengar itu seperti membaca novel.” Pendekatannya ke film. Jadi ada chapter-nya, atau mungkin ada babaknya, dan ada keterikatan antar lagu yang bukan cuma sedikit.
Adji: Biasanya film kan selalu based on novel. Kenapa nggak based on album? Kayaknya itu harus kita normalisasikan.
Tata: Itu cita-cita besarnya Adji. Banyak novel yang dibuat film, kenapa nggak album yang dibuat film? Karena album ini memang dibuat seperti sebuah alur kisah.
Adji: Romantisasi Impulsif (2026) gue bikin sebagai penutup trilogi. Biasanya trilogi atau tetralogi itu kan identik dengan buku-buku novel.
Jadi Romantisasi Impulsif (2026) gue jadikan sebagai rumah untuk Banal Semakin Binal (2022) dan Durja Bersahaja (2024). Dalam film, alurnya bisa maju-mundur. Kenapa di Romantisasi Impulsif (2026) ceritanya terasa baru, narasinya baru dijelaskan sekarang, ya karena pendekatannya seperti itu.
Nanti di album ini juga ada kisah tentang dua tokoh. Gue harap dua tokoh ini bisa hidup juga di 2 album sebelummya.
Kalau secara timeline, Durja Bersahaja (2024) ada di awal karena waktu gue nulis itu, POV-nya adalah seorang anak yang melihat dunia orang dewasa. Makanya kenapa sound-nya lebih lo-fi. Di kepala gue, timeline-nya mungkin ada di tahun 70-an atau 80-an, ketika suaranya memang lebih lo-fi. Baru setelah itu masuk ke Banal Semakin Binal (2022), yang jadi fase coming of age-nya. Baru ke album baru ini.
Mas Tata nggak mau buatkan filmnya, mengingat dulu dekat dengan film?
Tata: Ah iya, saya sudah lupa. Tapi memang, dari ide Adji ini akhirnya saya jadi berpikir, mungkin dulu sudah pernah ada, tapi kalau antar-disiplin dalam satu ekosistem yang nyambung itu kayaknya seru juga.
Akhirnya saya jadi membayangkan, ketika seorang sutradara membutuhkan lagu untuk filmnya, relasinya nggak harus sekaku lewat publisher. Kita malah bisa bikin sesuatu dari awal bersama-sama.
Dari situ saya jadi punya cita-cita sendiri juga. Kalau film dan musik ini jalannya bisa bareng, kenapa nggak ada gerombolannya sendiri? Kayaknya seru deh.
Walaupun dulu kayak Janji Joni (2005), kolaborasi Joko Anwar dan David ada, itu seru ya.
Tapi memang kebanyakan filmmaker mengajak musisi untuk mengisi film kemudian ya, bukan karya album yang kemudian difilmkan.
Tata: Kalau nggak salah, sekarang mulai ada ya. Adaptasi album Hindia yang baru itu misalnya? Nah, kami pengen coba lihat, kalau makin banyak yang kayak gitu, bakal marak nggak ya? Terus dari sana mungkin penulis-penulis skenario juga akhirnya punya trigger baru. Sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru, tapi di Indonesia mungkin bisa jadi sesuatu yang terasa baru.
Mungkin ada film Slank dulu, tapi kan lebih ke biografi ya. Kalau di luar yang saya tahu Across The Universe (2007), cuma itu bukan album yang diadaptasi, melainkan lagu yang dijadikan film.
Kalau suatu saat jadi film, maunya musikal atau gimana?
Tata: Kalau saya pribadi sih kayaknya nggak musikal deh. Biar jauh dari apa yang kita lakuin sekarang. Kalau musikal, rasanya kayak mengulang hal yang sama seperti ketika menulis album.
Justru saya berharap si penulis atau si sutradara punya terjemahannya sendiri terhadap karya The Jansen. Akan jadi seperti apa hasil pembacaannya terhadap karya itu.
Kan Adji juga kalau nulis selalu ngasih ruang untuk pendengarnya. Multitafsir. Jadi kalau suatu saat diterjemahkan ke medium lain, saya lebih tertarik melihat tafsir baru yang lahir dari sana.



