
Bagaimana Kita Merayakan Piala Dunia saat Semesta Tak Sedang Baik-Baik Saja
Kami sempatkan untuk ngobrol dengan beberapa sosok dari berbagai latar belakang dan fokus—semua yang merindukan rasa euforia itu dari Piala Dunia dan sepak bola.
Words by Whiteboard Journal
Image: Andrew Harnik/Getty Images
Kita tengah berada dalam euforia Piala Dunia… atau tidak? Beberapa tulisan di jagat internet pun menyampaikan bagaimana perhelatan sepak bola ini tidak lagi mengisahkan keriaan dari para penduduk bumi, pun penggemarnya.
Dari situ, tersisa satu pertanyaan: Masih bisakah kita punya ruang aman untuk bersenang-senang jika ruang kebahagiaan itu diambil alih oleh mereka yang hanya bisa menghancurkan?
Untuk mencari jawabannya, kami sempatkan untuk ngobrol dengan beberapa sosok dari berbagai latar belakang dan fokus, semua yang merindukan rasa euforia itu dari Piala Dunia dan sepak bola.
Merdi Simanjuntak
Musisi
Bagaimana menyambut Piala Dunia di tengah situasi menuju Perang Dunia III?
Antusiasme saya jauh berkurang dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Dulu saya selalu rutin mengumpulkan jadwal pertandingan, mempelajari skuad setiap tim secara detail, sampai mencari jersey tim yang ingin saya dukung. Sekarang rasanya biasa saja. Hidup berjalan seperti biasa, lalu tiba-tiba sadar bahwa minggu depan Piala Dunia sudah dimulai.
Selain itu, dengan semakin banyaknya peserta yang dilibatkan, saya merasa FIFA semakin terlihat berorientasi pada keuntungan. Proses kualifikasi di berbagai konfederasi pun terkadang terkesan dipaksakan agar semakin banyak negara bisa berpartisipasi. Pada akhirnya, semakin banyak tim yang ikut berarti semakin besar pula potensi pendapatan yang bisa diperoleh.
Setelah Tragedi Kanjuruhan dan afiliasi banyak tim terhadap institusi yang problematik, bagaimana rasanya menjadi penggemar sepak bola sekarang?
Ada perasaan serba tanggung ketika ingin benar-benar merayakan sesuatu. Misalnya sebagai pendukung Arsenal, setelah lebih dari dua dekade menunggu akhirnya bisa merasakan gelar Liga Inggris. Namun kebahagiaan itu terasa tidak utuh ketika melihat klub yang saya dukung juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas maupun institusi yang dianggap mendukung praktik zionisme. Contohnya dapat dilihat dari kasus pemecatan kitman yang menyuarakan dukungan terhadap Palestina, maupun kerjasama sponsorship dengan perusahaan Deel.
Hal-hal seperti ini membuat saya sulit menikmati sepak bola secara sepenuhnya tanpa memikirkan konteks yang lebih besar di baliknya.
Bagaimana melihat sepak bola kini menjadi alat politik, padahal dulunya merupakan medium ekspresi warga?
Bagi saya, kondisi ini membuat semangat untuk mendukung sepak bola sedikit demi sedikit berkurang. Banyak hal terasa dijadikan kendaraan untuk kepentingan tertentu dan jalan pintas politik, alih-alih dibenahi dari akar permasalahannya.
Akibatnya, tingkat antusiasme saya terhadap sepak bola juga berubah. Saya menjadi lebih sulit percaya begitu saja terhadap narasi yang ada. Kadang kemenangan maupun kekalahan terasa seolah ada banyak kepentingan yang bekerja di belakang layar. Karena itu, sekarang saya lebih memilih mengelola ekspektasi. Ketika tim kalah, saya tidak terlalu larut dalam kekecewaan. Sebaliknya, ketika menang pun saya merayakannya secara wajar, tidak lagi meledak-ledak seperti dulu.
Apa upaya yang bisa dilakukan sebagai penggemar sepak bola agar lebih bijak dalam situasi seperti ini?
Mungkin salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengurangi cara pandang yang terlalu ekstrem terhadap rivalitas. Pada akhirnya, jika dipikir-pikir, para pendukung dari berbagai klub sering kali berada di posisi yang sama: sama-sama menjadi pihak yang terdampak oleh keputusan dan politik yang dijalankan federasi maupun pengelola sepak bola.
Karena itu, daripada terus memperuncing perbedaan, mungkin sudah saatnya para suporter lebih banyak membangun solidaritas dan kesadaran bahwa banyak persoalan dalam sepak bola sesungguhnya berasal dari struktur yang lebih besar daripada sekadar rivalitas antarklub.
Hasbi Erlangga
CEO of SYMA./Alice/Haul
Bagaimana menyambut Piala Dunia di tengah situasi menuju Perang Dunia III?
Sebenarnya, jujur saya memang selalu tidak terlalu antusias tentang Piala Dunia mungkin sejak Piala Dunia tahun 2010. Karena ya, kayak ngapain kita ngedukung negara orang lain? Hahaha. Jadi dengan situasi geopolitik dunia saat ini yang sedang tidak baik-baik saja mah, kayak makin aneh, nggak sih? Semakin tidak antusias kalau saya, mah.
Setelah Tragedi Kanjuruhan, dan afiliasi banyak tim terhadap institusi yang problematik (di dalam dan luar negeri), bagaimana rasanya menjadi penggemar sepak bola sekarang ini?
Posisi yang membingungkan buat saya juga ini. Tragedi Kanjuruhan membuat saya sangat sedih dan terpukul sebagai penikmat sepakbola lokal. Posisi saya sebagai penikmat dan penonton juga rasanya gimana gitu ya. Ada ganjalan. Apalagi semakin dewasa, ada nilai-nilai personal yang bikin saya semakin sadar akan beberapa hal. Termasuk keberpihakan klub favorit saya terhadap isu global.
Ini pun salah satu kekecewaan saya terhadap tim yang saya dukung sejak kecil, Arsenal. Jadi sekarang kayak ga pengen yang gimana banget gitu ngedukung Arsenal. Cukup senang aja akhirnya mereka juara liga, tapi ya udah gitu aja lah ga usah berlebihan. Kalau dari point of view saya sih seperti itu ya.
Bagaimana melihat sepak bola kini menjadi alat politik, padahal dulunya merupakan medium bagi ekspresi warga?
IMHO sepakbola selalu jadi alat politik kok. Mau yang skalanya besar ataupun kecil. Karena ya mungkin pengaruh sepakbola terhadap kemasyarakatan kali ya. Meskipun tidak semua kok, tapi ya dari dulu juga sepakbola sudah dimanfaatkan untuk menjadi alat politik.
Apa upaya yang bisa dilakukan sebagai penggemar sepak bola untuk bisa lebih bijak dalam situasi yang demikian?
Menikmati sepakbola balik lagi sebagai permainan kali ya? Ga usah terlalu yang gimana banget gitu, santai aja. Menang ya syukur, kalau kalah ya udah biarin aja. Masih banyak hal lain di kehidupan ini yang menurut saya lebih penting kok.
David Tarigan
Irama Nusantara
Bagaimana menyambut Piala Dunia di tengah situasi menuju Perang Dunia III?
Hmm… Buat saya ini Piala Dunia yang paling tidak diantisipasi. Nggak tau kalau orang lain, ya? Saya bahkan nggak ngeuh kalau sudah mulai.
Setelah Tragedi Kanjuruhan, dan afiliasi banyak tim terhadap institusi yang problematik (di dalam dan luar negeri), bagaimana rasanya menjadi penggemar sepak bola sekarang ini?
Konflik di dalam diri tidak pernah terasa seberat sekarang ini. Saya jadi ingat sebuah diskusi di dalam perjalanan kereta Bandung–Jakarta bersama teman-teman sekolah yang juga gandrung sepak bola. Saat itu pertengahan tahun ’90-an, dan kami berkesimpulan kalau sepak bola yang ada saat itu sudah ‘tidak murni’ lagi. Kami yakin ada kekuatan besar yang mengatur hasil akhir setiap pertandingan sepak bola di dunia ini, apa lagi di ajang besar. Kami sudah pasrah dengan hal itu, dan berlagak gila untuk terus tenggelam dalam keasikan sepak bola yang kami bentuk sendiri.
Sihir itu tentu tetap ada. Saya seorang penggemar Arsenal, baru saja juara liga setelah 22 tahun. Saya tenggelam dalam selebrasi, tersenyum melihat betapa kecintaan terhadap klub mempersatukan keberagaman dan mengekspresikan harapan warga kelas dua di dunia ini. Konflik dengan banyak hal yang terjadi bahkan hingga detik ini; Mark Bonnick, Ozil, Visit Rwanda, hingga korporasi seperti Deel. Kami, penggemar, selalu punya cara untuk selebrasi bahkan dengan melawan itu semua dengan cara masing-masing.
Apa upaya yang bisa dilakukan sebagai penggemar sepak bola untuk bisa lebih bijak dalam situasi yang demikian?
Tetap dukung tim yang kamu rasa mewakili kamu. Saya selalu yakin kalau pemilihan itu terjadi karena peran kedua belah pihak, kamu pilih si tim, si tim memilih kamu 🙂 Konflik dengan kebijakan yang dikendalikan oleh kekuatan besar pasti akan terjadi, tunjukkan sikap kamu dalam tiap selebrasinya.
Chandra Drews
Chef
Bagaimana menyambut Piala Dunia di tengah situasi menuju Perang Dunia III?
Well I try and look at it this way: I’ll get to somewhat experience what my paternal grandfather went through in the 1938 World Cup, as a 13 year old Polish citizen at the time. Granted, there were only around 15 teams and it would have been on radio instead of 4k streaming services. But the sense of impending doom is uncanny to say the least.
Setelah Tragedi Kanjuruhan, dan afiliasi banyak tim terhadap institusi yang problematik (di dalam dan luar negeri), bagaimana rasanya menjadi penggemar sepak bola sekarang ini?
At the risk of sounding like a forty-something year old boring fart, football has changed immeasurably over the last thirty years (as it had kept on doing since its codification in the 19th century).
Yet Global Capital had never had its hands squeezing as firmly on football’s neck as it has now. The blatant corruption of the governing body(ies) isn’t even hidden anymore. That goes for the international stage as well as our own domestic scene.
Then again football has always been a reflection of society, placing a mirror firmly in front of us. And as with society, it’ll always keep on changing.
Bagaimana melihat sepak bola kini menjadi alat politik, padahal dulunya merupakan medium bagi ekspresi warga?
Football as a political tool? Plus ça change.
It was certainly the case in the 1934 and 1938 World Cups for Mussolini. Oh, and the 1978 edition of course. What about 1986? Las Malvinas and all that. 1994? 2018? 2022? It has always been the case.
Yet at the same time it keeps on being a medium of expression for the common (wo)man. That has—for the most part—stayed the same too. And that’s where hope lies.
Apa upaya yang bisa dilakukan sebagai penggemar sepak bola untuk bisa lebih bijak dalam situasi yang demikian?
That’s the trillion rupiah question isn’t it?
As fans, I feel the only thing we can do is be aware of the state football is in, and make personal decisions accordingly. Your beloved Football Club wants to join an exclusive Super League? Give them hell. Your childhood team is in the grips of blood-sucking parasites? Stand against it. Etc., etc., etc.
And as long as grassroots and community-based football exists, soccer will always have a healthy core that supports the whole.
Xandega
Musisi
Bagaimana menyambut Piala Dunia di tengah situasi menuju Perang Dunia III?
Ini absurd banget. Sebuah experience semi post-apocalyptic yang surreal. Kita hidup di era multitasking dan multi-experiential, di mana kita dikonfrontasi oleh hal terburuk dari kemanusiaan yang terekam di layar HP, tapi di saat yang sama, kita tidak ingin direnggut dari kebahagiaan hiburan yang kita cintai dan menjadi salah satu alasan kita bertahan hidup.
Jujur, lebih muted sih euforia menjelang Piala Dunia kali ini. Apalagi Piala Dunia kali ini di Amerika Serikat, negara yang beberapa tahun ke belakang makin disadari dunia betapa problematic track record geopolitiknya. Bisa jadi ini akan menjadi Piala Dunia paling aneh, unik, dan mengherankan dalam lifetime gue.
Setelah Tragedi Kanjuruhan, dan afiliasi banyak tim terhadap institusi yang problematik (di dalam dan luar negeri), bagaimana rasanya menjadi penggemar sepak bola sekarang ini?
Jujur, gue akhir-akhir ini jadi belajar bahwa gue tidak akan pernah bisa dengan sepenuh hati mendukung organisasi yang digerakkan oleh kapitalisme murni. Karena mau tidak mau, pasti ada afiliasi dengan instansi atau organisasi yang problematik di dalamnya.
Kita bisa mencintai bentuk murni dari olahraga sepak bolanya, tapi tetap bisa tidak setuju dengan entitas yang mendukung sepak bola tersebut. Semuanya abu-abu, apalagi dalam industri sepak bola hari ini.
Bagaimana melihat sepak bola kini menjadi alat politik, padahal dulunya merupakan medium bagi ekspresi warga?
Asumsi gue, karena sepak bola adalah olahraga paling influential di seluruh dunia, pasti ada saja pihak-pihak berkepentingan yang memanfaatkan hal yang pure ini demi agenda mereka sendiri. Mungkin sekarang di era yang serba instan dan transparan ini, eksploitasi politik itu terasa jauh lebih telanjang.
Tidak akan ada yang benar-benar murni hari ini. Semua yang organik bisa bergeser menjadi komoditas yang problematik pada waktunya. Sekarang, tinggal bagaimana kita me-regulate cara kita mencintai klub atau olahraga ini dengan kesadaran kritis yang baik.
Apa upaya yang bisa dilakukan sebagai penggemar sepak bola untuk bisa lebih bijak dalam situasi yang demikian?
Tetap bersuara walaupun kita tetap menikmati hal yang kita tentang. Kalau lo kuat untuk boikot sepenuhnya, itu keren banget dan sangat rispek brader. Tapi kalau tidak bisa, minimal acknowledge bahwa lo punya keterbatasan itu, tapi tetap bersuara apabila ada hal yang bertentangan dengan apa yang lo percaya. Kita manusia penuh nuance yang tidak hitam atau putih saja.
Sebagai penggemar Manchester United, gue memosisikan diri untuk tetap kritis terhadap orang-orang yang berwenang di klub, mengulik dinamika pemainnya, dan terus bersuara menyuarakan keresahan walaupun tetap men-support permainannya.
Zen RS
Pengamat bola/Toko Buku Plagia
Bagaimana menyambut Piala Dunia di tengah situasi menuju Perang Dunia III?
Piala Dunia selalu berhasil membawa kegembiraan ke ruang-ruang keluarga dan pos ronda kita. Di tengah beratnya tekanan ekonomi hari ini, hiburan seperti ini tentu menjadi ruang bernapas yang berharga bagi warga. Namun, sebagai masyarakat, kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa turnamen besar ini berlangsung di tengah situasi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik global hari ini bukan lagi sekadar berita jauh di televisi, dampaknya sudah lama sampai ke dapur-dapur kita dalam bentuk kenaikan harga pangan dan ketidakpastian lapangan kerja.
Saya bisa mengerti opsi boikot. Apalagi perkembangan terakhir tampak jelas diskriminasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat, misalnya perlakuan mereka terhadap Iran, tim Senegal, wasit asal Somalia, dll. Tetapi, boikot agar memiliki dampak punya rumus strategis sendiri, dan saya tidak melihat ini akan efektif di Indonesia, karena tidak ada juga yang mengorganisirnya. Sebagai opsi, boikot menonton Piala Dunia 2025 akhirnya tersedia sebagai pilihan moral individual, dan sekali lagi itu sangat bisa dimengerti. Saya pribadi melakukannya pada Piala Dunia sebelumnya.
Sebaliknya, saya mencoba melihat kemungkinan lain yaitu memperbanyak titik-titik nonton bareng (nobar), terutama di tempat-tempat yang biasa menjadi tongkrongan sehari-hari. Kita sangat butuh ketemu fisik sekarang. Di pos ronda, warung kopi, atau teras rumah, ruang berkumpul ini menjadi kesempatan berharga untuk saling bertegur sapa. Saat layar kaca menampilkan kemegahan kompetisi antarnegara, di ruang nobar itulah warga bisa duduk berdampingan dan baku bicara tentang apa saja. Dari obrolan santai soal pertandingan, pembicaraan tentu akhirnya akan mengalir ke situasi nyata yang dihadapi hari ini. Toh, semua orang merasakan hal yang sama: BBM naik, kebutuhan pokok mahal, dan lapangan kerja semakin sulit. Pertemuan fisik ini mengembalikan ruang bagi warga untuk saling bertukar cerita, mengeluhkan beratnya beban hidup, dan mendiskusikan persoalan nyata di lingkungan sendiri.
Menghadapi ketidakpastian ke depan, benteng pertahanan terbaik bukanlah kebijakan para elit global, melainkan seberapa kuat warga di lingkungan terkecil bisa saling menjaga dan kompak. Sepak bola memberi alasan untuk keluar rumah dan duduk bersama malam ini; ruang untuk mengobrol jujur dan bertahan bersamalah yang membuat warga tetap terhubung esok hari.
Beberapa hari lalu saya jalan ke beberapa kota, dan saya mendengar tentang bagaimana warga dan kelompok suporter lokal di salah satu kota di Jawa Timur menentang Koperasi Desa Merah Putih karena bangunannya memakan lapangan sepakbola kampung. Isu begini bisa dibicarakan di nobar-nobar kampung masing-masing. Masa kanak dan remaja saya bagian dari atmosfir nobar seperti itu, dan saya ingat kami membicarakan berbagai hal terkait kepentingan kami sebagai anak muda saat itu: perbaikan lapangan, mempersiapkan turnamen, dll. Ini percakapan warga yang genuine. Kita tidak pernah tahu percakapan-percakapan seperti itu akan menjadi apa ujungnya sampai kita sendiri menjalani percakapan-percakapan itu secara langsung.
Setelah Tragedi Kanjuruhan, dan afiliasi banyak tim terhadap institusi yang problematik (di dalam dan luar negeri), bagaimana rasanya menjadi penggemar sepak bola sekarang ini?
Menjadi penggemar sepak bola hari ini seringkali memicu konflik batin yang berat. Ada rasa bersalah yang terus mengganjal; kita tahu ada darah korban yang belum tuntas keadilannya, seperti pada Tragedi Kanjuruhan, dan kita sadar ada uang kotor serta kepentingan institusi problematik yang menunggangi industri ini. Namun, di tengah hidup sehari-hari yang sudah teramat melelahkan, sepak bola tetap menjadi salah satu hiburan murah yang tersisa untuk melepas penat. Kita terjebak dalam rasa bersalah itu—mengetahui rusaknya sistem di belakang layar, tetapi tetap menyalakan televisi atau datang ke stadion karena tidak ingin kehilangan ruang bernapas yang berharga.
Dari ruang dilema moral ini, sikap para penggemar yang punya dosis perasaan bersalah akhirnya terbelah ke dalam dua pilihan posisi yang menurut saya paling realistis:
Opsi pertama adalah mengambil jarak secara taktis dengan menjadi apatis terhadap industri. Kita memilih untuk tetap peduli dan setia pada tim yang kita kenal sejak kecil, karena klub tersebut sudah menjadi bagian dari identitas kolektif dan sejarah hidup kita. Namun, di saat yang sama, kita bersikap masa bodoh terhadap manajemen klub maupun federasi. Pertandingan sepak bola akhirnya hanya diletakkan sebagai alasan kuat bagi warga untuk tetap keluar rumah, nongkrong, ketemu fisik, dan ngopi bareng. Kita mengambil fungsi hiburan dan ruang sosialnya, tetapi sepenuhnya mengabaikan dan menolak peduli pada industrinya.
Opsi kedua adalah memilih jalan perlawanan dari dalam. Kita tidak mundur atau menjauh dari stadion, melainkan merebut tribun sebagai ruang publik untuk menyuarakan apa yang benar. Penggemar di posisi ini tetap datang menonton, tetapi mereka memanfaatkan momentum pertandingan untuk memasang berbagai spanduk tuntutan keadilan dan membawa isu-isu nyata dari luar lapangan ke dalam stadion. Di sini, sepak bola tidak lagi menjadi alat pembius, melainkan panggung alternatif untuk merawat ingatan, menolak lupa, dan memastikan suara warga tetap terdengar di tengah gemerlapnya kompetisi.
Beda lagi dengan penggemar yang tidak punya dosis perasaan bersalah. Mungkin mereka punya opsi menikmati lebih banyak. Dan itu tidak bisa dipaksakan. Posisi seseorang dalam setiap isu tidak pernah lahir dari ruang kosong sejarah, mereka sampai pada cara bersikap tertentu, ya, karena punya titik berangkat yang berbeda-beda. Mereka juga kawan yang bisa berpotensi sebagai alliance di banyak momen lain.
Bagaimana melihat sepak bola kini menjadi alat politik, padahal dulunya merupakan medium bagi ekspresi warga?
Loh, dari dulu sepak bola memang selalu menjadi alat politik. Anggapan bahwa sepak bola dulunya bersih dari politik adalah sebuah kekeliruan, karena ekspresi warga di lapangan hijau sejak awal sering kali bersifat sangat politis. Sebagai contoh, di era kolonial, dukungan warga terhadap klub seperti Persib atau Persija bukan sekadar urusan hobi, melainkan bentuk perlawanan dan penegasan identitas nasional terhadap kekuasaan penjajah.
Oleh karena itu, sebenarnya tidak perlu ada persoalan moral dengan politisasi sepak bola. Politik dan sepak bola sudah berkelindan sejak lahir. Persoalan mendasarnya bukan pada apakah sepak bola dipolitisasi atau tidak, melainkan: siapa yang sedang mempolitisasinya? Dan yang lebih penting, bisa tidak warga biasa juga melakukannya?
Suka atau tidak, massa yang berkumpul dalam jumlah besar di mana-mana selalu diperebutkan. Minimal, mereka diincar untuk dijadikan target pasar oleh industri, atau komoditas suara oleh para elit penguasa.
Jika para elit dan korporasi bisa menggunakan sepak bola untuk kepentingan kekuasaan mereka, maka warga juga memiliki hak dan ruang yang sama. Tantangan hari ini adalah bagaimana warga di tingkat lokal bisa merebut kembali ruang berkumpul tersebut—baik di tribun maupun di tongkrongan nobar—agar tidak sekadar menjadi penonton pasif atau objek pasar, melainkan menjadi subjek yang mampu menyuarakan kepentingan dan solidaritas mereka sendiri.
Apa upaya yang bisa dilakukan sebagai penggemar sepak bola untuk bisa lebih bijak dalam situasi yang demikian?
Tugas suporter sepak bola itu bukan untuk menjadi “bijaksana”. Istilah “bijak” itu terlalu berjarak, seolah-olah kita diminta untuk diam, mengalah, atau menjadi penonton yang manut di tengah situasi yang karut-marut ini. Suporter itu punya energi, punya karakter, dan yang kita butuhkan sekarang bukan kebijaksanaan, melainkan tindakan taktis dan posisi yang jelas.
Jika ingin mengambil sikap di tengah situasi yang problematik ini, ada beberapa upaya nyata yang bisa dilakukan:
Pertama, berhenti menjadi konsumen yang patuh. Kita harus bisa memisahkan antara kecintaan pada klub dan ketergantungan pada industrinya. Kalau selama ini industri sepak bola melihat massa suporter hanya sebagai angka—baik sebagai target pasar jualan produk sponsor maupun komoditas suara politik—maka cara melawannya adalah dengan tidak memberi mereka keuntungan cuma-cuma. Kita tetap menonton pertandingannya, tetapi kita boikot produk-produk yang menungganginya, menolak membeli merchandise resmi yang uangnya lari ke manajemen korup, dan tidak mau ikut dalam skenario pencitraan mereka.
Kedua, rebut dan kuasai ruang berkumpul kita sendiri. Jangan biarkan ruang nobar atau tongkrongan di kampung-kampung didikte oleh agenda luar. Kita yang punya tempat, kita yang bikin acaranya. Di titik-titik nobar mandiri inilah kita pegang kendali narasinya. Saat jeda pertandingan atau sambil ngopi pasca-laga, gunakan ruang itu untuk baku bicara secara jujur tentang realitas kita: soal harga-harga yang naik, susah cari kerja, atau bagaimana fasilitas publik di sekitar kita makin buruk. Kita jadikan kumpulan massa ini sebagai modal sosial warga untuk saling jaga, bukan alat politik elit.
Ketiga, bawa masalah nyata di luar lapangan ke dalam stadion. Bagi yang memilih tetap datang ke tribun, jangan biarkan stadion menjadi ruang steril yang abai pada kemanusiaan. Tribun harus tetap berisik oleh tuntutan keadilan, seperti merawat ingatan atas Tragedi Kanjuruhan atau menolak penggusuran lahan warga. Suporter harus berani memasang batas tegas: klub boleh berafiliasi dengan institusi problematik, tapi tribun dan warna kebanggaan tetap milik warga.
Pada akhirnya, suporter tidak perlu menjadi bijak. Suporter hanya perlu sadar bahwa jumlah kita banyak, kita punya posisi tawar, dan ruang berkumpul yang kita miliki terlalu berharga untuk diserahkan begitu saja kepada industri dan elit penguasa.
Madukina
Musisi
Bagaimana menyambut Piala Dunia di tengah situasi menuju Perang Dunia III?
Jujur rasanya conflicted banget. Di waktu yang lagi berantakan, krisis, kurs naik dan lainnya, tapi beberapa bulan lagi orang-orang juga akan teriak bareng nonton bola. Tapi aku melihatnya bukan sesuatu yang kudu dipilih salah satu juga—kita tetep bisa aware sama apa yang lagi terjadi dan tetep punya kewajiban bikin boundaries buat mental kita sendiri agar nggak stress, dengan menonton bola.
Setelah Tragedi Kanjuruhan, dan afiliasi banyak tim terhadap institusi yang problematik (di dalam dan luar negeri), bagaimana rasanya menjadi penggemar sepak bola sekarang ini?
Sebagai orang Malang yang juga ngerasa hancur setelah Tragedi Kanjuruhan, sekarang kalau habis senang nonton bola ada rasa yang udah nggak sama lagi. Rasanya kayak ada luka yang emang benar-benar belum selesai gitu.
Mungkin yang harus dibangun adalah kultur supporternya biar tetep bisa menikmati sepak bola, tapi tetep kritis sama apa yang terjadi di belakangnya.
Bagaimana melihat sepak bola kini menjadi alat politik, padahal dulunya merupakan medium bagi ekspresi warga?
Sebenernya dari dulu sepak bola selalu politis yah. Cuma sekarang aja bisa ngelihat lebih jelas karena cepetnya kita nerima berita. Yang aku takutkan malah bukan sepak bola jadi politis, tapi suara supporternya yang akan kalah sama orang-orang di atas sana yg punya duit dan kuasa.
Apa upaya yang bisa dilakukan sebagai penggemar sepak bola untuk bisa lebih bijak dalam situasi yang demikian?
Seperti yang udah aku sampaikan tadi, kita boleh boleh aja cinta sama bola, baik di liga maupun Piala Dunia. Tapi juga harus tetep aware, nggak nutup mata, dan tetep kritis sama apa yang dirasa nggak bener. Aku percaya banget itu bisa dilakukan bersamaan. Mengingat solidnya suporter bola baik di dalam negri maupun di luar negeri, aku yakin banget kita juga bisa bijak jadi suporter yang tetep punya empati.
Fadli Fikriawan Wibowo
.Feast
Bagaimana menyambut Piala Dunia di tengah situasi menuju Perang Dunia III?
Jujur dengan berbagai berita buruk belakangan ini, gue agak kurang merasakan hypenya piala dunia sih. Bahkan berita yg sampe ke perhatian gue beberapa pemain dan tim dapet perlakuan tidak menyenangkan saat mau masuk US.
Setelah Tragedi Kanjuruhan, dan afiliasi banyak tim terhadap institusi yang problematik (di dalam dan luar negeri), bagaimana rasanya menjadi penggemar sepak bola sekarang ini?
Sebenernya, in my very humble opinion, sepak bola dalam bentuk permainan dan olahraganya tetap harus terus menyala sampai level grassroots. Meminjam kata mang Zen RS, perbanyak main bola kurangi menonton bola. Karena yang problematik itu institusi yang ada di industrinya, bukan permainannya.
Bagaimana melihat sepak bola kini menjadi alat politik, padahal dulunya merupakan medium bagi ekspresi warga?
Dengan massa sepakbola yang begitu banyak, memang potensial menjadi lumbung mengeruk celah-celah dukungan politik. Balik lagi, manusianya sebagai penikmat sepakbolanya lah yang menurut saya harus lebih waspada terhadap agenda agenda kepentingan itu. Bahkan di beberapa kasus, banyak fanbase yang akhirnya membuat aksi atau club tandingan sebagai bentuk protes.
Apa upaya yang bisa dilakukan sebagai penggemar sepak bola untuk bisa lebih bijak dalam situasi yang demikian?
Mungkin sebagai manusia pada umumnya aja kali ya, tetap harus aware dengan perkembangan isi global dan nasional. Jadi lebih aware ketika ada praktik atau pihak pihak yang mencoba masuk ke dalam industri sepakbola atau organisasi juga tim yang didukung.



