Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Music that inspires me to keep noodling on the guitar. I hope you enjoy this mix where the six string is king!
01. Julian Lage - Persian Rug (live)
02. Petros Klampanis - March of The Sad Ones
03. Pat Metheny - Giant Steps
04. Jeff Parker Trio - Change
05. Nels Cline - Beautiful Love
06. Kurt Rosenwinkel - Zhivago
07. Joe Pass - Rosetta
08. Lenny Breau - Georgia on My Mind
09. George Benson - Take Five (Live)
10. Mary Halvorson Octet - Away With You (no.55)
Bulan Juni lalu, artis newcomer SZA merilis debut albumnya yang bernama Ctlr. Album yang sudah dinantikan oleh banyak penggemar R&B itu berhasil memuaskan para kritikus serta artis lainnya, dan baru-baru ini, SZA baru saja merilis video musik untuk “Supermodel”. Menjadi pertama yang ada di album ini, lagu “Supermodel” memang sudah menjadi dari awal perilisan.
Video yang menawan ini bercerita tentang seorang perempuan - diperankan oleh SZA sendiri - yang ditertawakan oleh pasangannya saat dia sedang bercermin, hingga akhirnya sang wanita membalas dendam kepada pasangannya dengan dibantu kekuatan magis para peri hutan. Tapi inilah memang inti dari satu album ini. SZA ingin berceramah tentang kebebasan dan kekuatan seksual pada wanita, atau lebih spesifiknya, pada diri dia sendiri. Video ini adalah perwakilan dari pernyataan bahwa sebagai perempuan, ketika ia ingin berdandan bebas dan berani, akan ada lelaki yang menertawakan dan berusaha menjatuhkan. Di akhir video SZA berhasil mengalahkan sang pasangan dengan cara mengikatnya di tengah lapangan dan menembakan petasan lewat ujung jemarinya.
Dari lirik lagu tersebut dapat ditebak bahwa menjadi temanya dan dalam lagu ini, SZA memang lebih bercerita tentang insekuritas dia setelah hatinya tersakiti oleh mantannya.
4:44 adalah rilisan terbaru dari rapper asal Brooklyn, Jay Z, dan album ini mungkin saja adalah karyanya yang terbaik, atau setidaknya yang paling jujur. Dalam album ini Jay Z membuka hal-hal yang sangat personal, dari perseteruan nya dengan Solange hingga sebuah sindiran kecil untuk Kanye West, tetapi selain itu Jay Z juga menceritakan tentang sosok Adnis Reeves, ayah dari sang rapper. Memang dalam karir lama sang rapper, menceritakan sosok ayahnya bukanlah hal yang baru, tapi kali ini, ia membuat sebuah video untuk menemani “Adnis” tersebut.
Dibintangkan oleh Mahershala Ali dan aktor veteran Danny Glover. Video yang terasa sangat personal ini memotret penonton perasaan duka dan simpati terhadap sang rapper lewat kepedihan dan penyesalan yang dirasa setelah ayahnya meninggal pada tahun 2003 silam. Lagu “Adnis” pun ia tulis sebagai sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada ayahnya dengan lirik sangat personal dan tulus.
Untuk sementara waktu, video ini hanya bisa disaksikan lewat Tidal. Tetapi tunggu saja beberapa waktu, karena mungkin saja Jay Z akan merilis videonya di YouTube sama seperti video-video 4:44 lainnya.
Sebuah kolaborasi berisi nada harmonis hasil improvisasi bass dan synth, jelas bisa menyita perhatian penikmat musik. Singkat namun tetap memiliki energi yang cukup untuk menciptakan suasana funk yang halus dan tidak tergesa-gesa, Raw Funk #01 merupakan karya penggabungan instrumen dan groove terbaru dari Fulgeance dan DJ Soulist asal Prancis yang rapi, penuh sensasi, dan jelas hanya bisa dinikmati.
Perbedaan karakter dari kedua kolaborator nyatanya tidak menghambat keselarasan melodi yang menciptakan sebuah dunia yang baru. Warna disko, hip hop, soul, latin, dan funk dari DJ Soulist bertemu dengan nuansa elektronika yang menghipnotis dari Fulgeance dan melahirkan sebuah spektrum baru yang jelas kaya akan nyawa dan energi. Sebuah keselarasan yang memang memaksa pendengar untuk menari-nari dan memang menghipnotis, kreasi Souleance nampaknya hanya mengambil bagian terbaik dari kedua dunia berbeda dari penciptanya.
Raw Funk #01 by Souleance
Tidak hanya hadir dengan konsep dan konten yang unik, tiap museum yang ada di dunia, mampu menawarkan pengalaman alternatif berupa kumpulan sejarah hingga perkembangan subkultur setempat kepada smart traveler. Artikel ini disponsori oleh Cathay Pacific Travel Fair yang menawarkan harga tiket pesawat dan hotel terbaik untuk melengkapi rencana perjalanan Anda.
‘Perjalanan’ akan berbagai nuansa funk ini disuguhkan oleh Will Sessions, sebuah kelompok musik yang kental dengan aliran funk asal Detroit. Deluxe yang disajikan dalam bentuk LP ini membawa pendengar memasuki berbagai dimensi funk yang berbeda, mulai dari dentingan dengan instrumen ramai hingga nuansa funk yang membawa sensasi menyantai. “Jump Back,” “Cherry Juice,” dan
Run, Don’t Walk” juga disumbangi talenta dari Ricky Calloway, Allan Barnes, Coko of Funk Night Records dengan karakter-karakternya masing-masing, seperti “Cherry Juice” yang menawarkan vibe funk yang perlahan namun meroket, yang juga patut untuk disimak.
Sekilas memang pasti terasa usaha keras Will Sessions menyulap Deluxe menjadi sebuah karya dengan berbagai lapisan warna funk yang tidak menjenuhkan. Sebuah kedatangan dalam skena musik funk yang menawarkan tidak hanya satu sisi dari karakter bermusiknya, Will Sessions layak dilihat sebagai pengubah mood dan nuansa menjadi lebih berwarna dan berdimensi lewat Deluxe.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?