
The More You Keep from the World, The Likelier You Are to Have Autoimmune?
Dari seorang psikolog, founder dari support group untuk anak-anak yang memiliki autoimun, hingga dokter yang bekerja di bidang primary health care, kami ngobrol dengan mereka untuk mendedah narasi seputar autoimun.
Words by Whiteboard Journal
Words: Garrin Faturrahman
Image: Tom Fisk/Pexels
Kalau merasa di sekitarmu ada kawan yang rasanya gampang jatuh sakit, mengeluhkan brain fog, atau bisa tiba-tiba membatalkan acara sembari bilang nggak enak badan, mungkin coba ambil waktu dan telaah jika kawanmu memiliki autoimmune.
Simpelnya, autoimmune adalah kondisi ketika imun tubuh – yang fungsinya adalah untuk membuat kita kebal dari serangan penyakit – malah berbalik menjadi yang menyerang sel-sel sehat dalam tubuh. Bentuknya pun beragam. Ada yang bikin sendi-sendi terasa sakit, ada pula yang membuat kulit meradang dan menjadi merah.
Jika kondisi autoimun menghambat kegiatan sehari-hari secara signifikan, kondisi ini kita sebut juga sebagai disabilitas taktampak.
Rupanya, kemunculan autoimmune ini tidak muncul dari garis keturunan atau juga antah berantah. Mengutip dari tulisannya Emma Beddington (2026) di the Guardian:
As a woman with an autoimmune condition (alopecia), this resonates on a woo-woo level: my hair fell out when I was trying and failing to reconcile incompatible demands; to make everyone happy.
Apalagi, 4 dari 5 orang yang terdiagnosa autoimmune adalah perempuan, dan kasus kekerasan terhadap perempuan lagi tinggi – belum lagi kalau ngomongin medical misogyny, kondisi ketika sakit yang dirasakan perempuan malah diabaikan.
Artikel ini pun berangkat dari konten Reels yang sempat ramai berputar di jagat media sosial, yang bertuliskan: “You really need to be a bitch or you’re going to develop an autoimmune.” Jadi pertanyaannya adalah, beneran kita harus jadi ‘a bitch’ biar tidak punya autoimun?
Lantas, kami coba ngobrol sama teman-teman yang memiliki ketajaman akan isu-isu autoimun. Dari seorang psikolog, founder dari support group untuk anak-anak yang memiliki autoimun, hingga dokter yang bekerja di bidang primary health care.
Salah satunya adalah dengan komunitas edukasi tentang ragam kondisi kesehatan kronis di usia muda dengan perspektif psikologi kesehatan, Ragam Wajah Lara.
Raissa Fatikha
Ragam Wajah Lara
Your thoughts on the ‘You really need to be a bitch, or you’re to develop an autoimmune’ take?
Kalau kita melihat apa saja yang menjadi penyebab dari suatu kondisi kesehatan, kita perlu melihatnya secara biopsikososial.
Perspektif biopsikososial adalah pengembangan dari perspektif biomedical yang hanya melihat faktor biologis/medis yang menyebabkan kondisi kesehatan tertentu. Menurut perspektif biopsikososial, faktor biologis (e.g. genetik, sistem organ), psikologis (e.g. kepribadian, motivasi, kondisi emosional), dan sosial (e.g. hubungan dengan keluarga, pertemanan, lingkungan tempat tinggal, akses kesehatan, dll.) itu semuanya saling berinteraksi dan memengaruhi bagaimana seseorang mengalami kondisi kesehatan tertentu, termasuk kondisi autoimun.

Image via Health Psychology: Biopsychosocial Interactions (1990)
Terkait “being a bitch” or “not being a bitch” ini tampaknya membahas tentang faktor psikologis dalam bentuk kepribadian, ya? Jadi aku coba jelaskan faktor kepribadian dulu secara umum:
Kepribadian/personality trait itu definisinya pola berpikir, merasakan emosi/perasaan, dan berperilaku yang relatif stabil. Memang, ada riset yang menunjukkan korelasi antara kepribadian tertentu dengan dimilikinya kondisi kesehatan. Sebab contohnya, kepribadian juga mencakup bagaimana individu berperilaku kesehatan (atau melakukan healthy behavior, seperti menjaga pola makan, berolahraga, dll.). Atau, kepribadian juga memengaruhi bagaimana seseorang bereaksi ketika mengalami stres. Karena perilaku kesehatan (sejauh mana menerapkan gaya hidup sehat) dan reaksi terhadap/maupun kondisi stres (sejauh mana individu bisa mengelola stresnya secara efektif dan menyebabkan dimilikinya tingkat stres tertentu) itu dapat memengaruhi dimilikinya kondisi kesehatan tertentu, dapat disimpulkan kalau kepribadian pasti punya peran.
Pertanyaannya, mana kepribadian yang lebih berisiko?
Menurut temuan riset, orang dengan kepribadian neuroticism, yang cenderung impulsif serta lebih mudah merasakan stres dan emosi negatif (e.g. cemas berlebihan, kesedihan yang intens/gejala depresi), relatif konsisten menjadi prediktor dari dimilikinya gejala penyakit kronis (Sutin et al., 2013).
Sebab, orang yang impulsif biasanya rentan kurang menerapkan gaya hidup sehat (e.g. merokok, meminum alkohol, kebut-kebutan di jalan tanpa menggunakan sabuk pengaman) yang menjadi faktor risiko dari dimilikinya penyakit kronis.
Selain itu, orang yang mudah merasa stres relatif mengalami reaksi fisiologis/fisik yang kurang adaptif dan recovery yang lebih lama ketika menghadapi stres (yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan mereka) (Yin et al., 2024). Selain itu, individu yang mudah merasa stres lebih berisiko juga untuk mengalami penyakit jantung dan gangguan metabolik (Syk et al., 2021) serta penurunan imunitas (poorer immune fitness)/mengalami immune related complaints (e.g. radang, sakit kepala, flu) (Iseric et al., 2025).
Bagaimana dengan being bitch agar tidak memiliki autoimun (atau being people pleaser cenderung memiliki autoimun)?
Menurutku, people pleaser itu kombinasi kepribadian agreeableness (mudah berempati, friendly, kooperatif) dan neuroticism (Kuang et al., 2025). Mereka itu selalu memprioritaskan orang lain karena cemas ditinggalkan/tidak disukai orang lain.
Setemuanku, yang konsisten ditemukan berkorelasi sama kondisi imun itu neuroticism (Iseric et al., 2025), sedangkan agreeableness kurang konsisten hubungannya sama kondisi kesehatan. Oleh karenanya, menurutku lebih tepat dan empiris jika kesulitan dalam mengelola kecemasan dan stres itulah yang membuat rentan mengalami masalah pada kondisi imun.
Jadi kesimpulannya, belum ada bukti yang kuat kalau people pleasing menjadi faktor utama/satu-satunya dari dimilikinya kondisi autoimun. Faktor penyebab dimilikinya penyakit autoimun perlu dilihat dengan perspektif biopsikososial yang kompleks dan interaksional, jadi kita sebaiknya tidak menyederhanakan faktor penyebab autoimun.
Dari perspektifmu, kok rasanya belakangan ini semakin banyak orang yang memiliki autoimmune?
Menurutku semakin banyaknya orang yang memiliki autoimun bisa juga dijelaskan dengan perkembangan di dunia medis dalam mendeteksi kondisi autoimun. Karena sistem deteksinya sudah semakin berkembang, identifikasi orang yang mengalami autoimun bisa semakin banyak.
Selain itu, aku merasa stresor di zaman sekarang itu semakin kompleks dan beragam dibandingkan masa lalu. Seperti jawaban sebelumnya, pengalaman stres seseorang juga bisa menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mengalami penyakit kronis, termasuk autoimun.
Nah, lalu ini opini aku aja, aku mengamati bahwa edukasi kesehatan itu semakin banyak dan mudah diakses sekarang berkat media sosial. Menurutku ini bisa mendorong orang untuk lebih aware tentang kondisi kesehatan mereka dan memeriksakan diri ke dokter. Sebab, aku juga curiga aku punya autoimun setelah melihat banyaknya edukasi tentang autoimun yang salah satu karakterisistiknya adalah merasakan kelelahan yang ekstrem. Oleh karena itu, aku mau memeriksakan diri, dan akhirnya benar aja – aku juga diketahui memiliki kondisi autoimun.
Adakah miskonsepsi tentang autoimmune yang harus kita sadari?
Miskonsepsi atau stigma ke orang yang memiliki autoimun menurutku adalah banyak sekali yang kurang memahami betapa menyakitkan (salah satu gejalanya bisa berupa nyeri kronis) dan melelahkannya memiliki kondisi ini.
Oleh karenanya, mereka tidak memahami kebutuhan yang kami punya, seperti butuh waktu beristirahat ketika gejala kamu memburuk. Menurutku ini dipengaruhi oleh bagaimana nyeri dan kelelahan itu tidak bisa dilihat langsung dengan kasat mata, jadi orang lain sulit untuk membayangkan maupun mempercayai tantangan yang dialami oleh individu dengan autoimun.
Maka, seperti halnya yang dialami oleh disabilitas taktampak lainnya, kesulitan kita diremehkan dan dianggap “baik-baik saja” dan “tidak seburuk itu”, sehingga kebutuhan kami dianggap sepele.
Bolehkah tahu tips darimu untuk menjalani keseharian jika kita memiliki autoimmune?
Menurutku yang paling penting adalah mengetahui batasan diri, sejauh apa kita bisa beraktivitas dan kapan kita butuh beristirahat. Banyak kondisi autoimun yang memburuk jika terlalu kelelahan.
Selain itu, kita perlu belajar untuk asertif dengan menerapkan batasan diri kita dan menyampaikan kebutuhan kita. Misalnya, ketika kita butuh duduk untuk beristirahat atau membatasi aktivitas agar tidak terlalu banyak, katakan kebutuhan dan kondisi kita ke orang lain dengan jelas.
Menurutku, juga penting untuk belajar meregulasi stres dan menerima kondisi autoimun yang kita miliki. Kita bisa berefleksi dan mencari tahu apa saja hal yang bisa membuat kita merasa lebih nyaman, senang, bersemangat, serta bisa merasakan bahwa kita bisa hidup berkualitas dan bermakna meskipun memiliki penyakit kronis/autoimun.
Selain itu, jangan lupa untuk selalu rutin berobat dan menjaga kondisi kesehatan.
Jika orang di sekitarku (atau terdekatku) memiliki autoimmune, apa yang sebaiknya aku lakukan?
Jadi suporter yang suportif sih yaa.
Menariknya, salah satu hal yang konsisten membantu seseorang merasa lebih bisa mengelola stres adalah ketika mereka memiliki support system yang baik. Ketika seseorang memiliki support system, akan lebih murah bagi orang yang memiliki autoimun untuk berpikir bahwa mereka tidak sendirian dan punya banyak orang yang menyayanginya. Ketika pikiran/pemaknaan itu ada pada orang yang memiliki autoimun, mereka akan lebih merasa mampu untuk menghadapi tantangan yang mereka alami dan merasa aman/punya “tempat berlindung” ketika mengalami kesulitan dalam hidup mereka. Jadilah orang yang bisa memberikan validasi/pengakuan atau tidak menghakimi perasaan, pikiran, rasa sakit, dan segala tantangan yang dimiliki orang dengan autoimun.
Adhityawarman Menaldi, M.Psi
Psikolog
Your thoughts on the ‘You really need to be a bitch, or you’re to develop an autoimmune’ take?
Secara saintifik, ada korelasi kuat antara stres yang kronik dan disregulasi sistem imun. Premis “menjadi bitch” sebenarnya adalah bahasa provokatif untuk asertivitas radikal. Saya kurang sependapat dengan ini sih ya. Banyak pasien autoimun memiliki riwayat sebagai people-pleaser yang menekan emosi (terutama kemarahan) demi harmoni sosial. Meskipun sekali lagi, tidak ada korelasi bahwa people-pleaser artinya pasti akan mengembangkan autoimun ya.
Saat kita gagal menetapkan batasan (boundaries), tubuh kita yang akan melakukannya secara internal—terkadang dengan cara menyerang dirinya sendiri. Jadi, secara psikologis: Berhenti menjadi “terlalu baik” bukan berarti menjadi jahat, tapi menjadi sehat. Jika lingkungan ada yg berpendapat asertif sebagai perilaku “bitchy”, biarkan saja. Stres yang berlebihan karena berusaha keep up dengan tuntutan sosial, lama kelamaan akan membuat tubuh kita sendiri yang kalah.
Dari perspektifmu, kok rasanya belakangan ini semakin banyak orang yang memiliki autoimmune?
Mungkin bukan trend, tapi kombinasi dari beberapa faktor yang mengemuka:
– Diagnostik yang Lebih Canggih: Dulu mungkin hanya dianggap “sering lemas” atau “sakit-sakitan”, sekarang kita punya biomarker yang jelas.
– The Hygiene Hypothesis: Lingkungan kita terlalu bersih sehingga sistem imun “bosan” dan mulai mencari musuh di dalam tubuh sendiri.
– Stres Modern: Kita hidup di era yang menuntut kesiagaan 24/7. Dengan internet, media sosial , dll. Otak kita tidak didesain untuk menerima notifikasi terus-menerus, yang secara konstan memicu respons fight-or-flight.
– Faktor Lingkungan: Polusi dan makanan olahan yang memicu inflamasi sistemik.
Gabungan/kombinasi faktor-faktor inilah yang potensial memicu munculnya autoimun yang semakin “terlihat” di masyarakat.
Adakah miskonsepsi tentang autoimmune yang harus kita sadari?
Miskonsepsi terbesar adalah “kamu/si pasien kelihatan sehat-sehat saja”. Autoimun sering kali merupakan invisible illness.
– Hanya Masalah Fisik: Ini keliru ya. Kondisi autoimun sangat memengaruhi (dan dipengaruhi) kesehatan mental (depresi, brain fog, kecemasan, karakter kepribadian seseorang).
– Bisa Sembuh Total dengan Diet: Diet membantu mengelola gejala, tapi ini adalah kondisi kronis yang membutuhkan manajemen holistik, bukan sekadar mengganti menu diet jadi lebih bernuansa sayuran/buah-buahan.
– Malas: Kelelahan (fatigue) pada autoimun bukan malas; itu adalah hasil dari tubuh yang sedang melakukan “perang” di dalam.
Bolehkah tahu tips darimu untuk menjalani keseharian jika kita memiliki autoimmune?
Sebagai psikolog, saya menekankan pada pentingnya fleksibilitas dan self-awareness (tanpa mengesampingkan berbagai tanggung jawab kita dalam setiap peran kita ya):
– Sadari bahwa kita punya energi dan kapasitas yang tidak unlimited. Kita perlu menentukan dengan bijak urusan yang kita mau “tumpas”.
– Radical Self-Compassion: Berhenti merasa bersalah karena harus beristirahat. Tubuhmu sedang bekerja lebih keras dari orang lain. Tapi, ini lagi2 harus diimbangi dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah bagian dari society, lengkap dengan peran masing-masing dan tanggung jawab kita ya.
– Relationship check: Senada dengan poin pertama, kita perlu takar dengan bijak lingkungan kita, area sosial kita. Batasi hubungan dengan orang yang menghabiskan energi kita dan merugikan. Tempatkan diri kita bersama dengan lingkungan yang membangun, memberikan support yang sehat.
– Peka terhadap sinyal tubuh: Jangan menunggu sampai flare-up untuk mulai beristirahat.
Jika orang di sekitarku (atau terdekatku) memiliki autoimmune, apa yang sebaiknya aku lakukan?
– Validasi keadaan mereka dan upayakan untuk tidak menggurui seperti langsung memberikan solusi: Hindari memberikan saran medis yang tidak diminta (seperti “Coba herbal ini…”). Cukup sampaikan bahwa kita mengerti/memahami gambaran apa yang dirasakan orang tersebut, dan lanjutkan dengan menawarkan bantuan yang bisa dan memang sanggup kita lakukan.
– Percaya: Keluhan mereka tidak perlu kita bantah, se”aneh” apapun yang mereka katakan. Kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan mereka karena bukanlah momen yang patut.
– Bantuan Praktis: Menawarkan bantuan spesifik (seperti “Aku pesankan makan malam ya?”) jauh lebih berguna daripada “Kabari ya kalau butuh apa-apa”, misalnya.
– Edukasi Diri: Banyak baca dan edukasi diri sendiri mengenai dinamika autoimun, jangan minta pasien yang harus menjelaskan semuanya.
Aliyah Pratomo
Dirandra Indonesia
Dari perspektifmu, kok rasanya belakangan ini semakin banyak orang yang memiliki autoimmune?
Kalau berdasarkan beberapa riset, memang angka autoimun cukup meningkat di berbagai belahan dunia.
Namun, penyakit autoimun dulu sebenarnya banyak sekali yang underdiagnosed karena memang cukup sulit didiagnosis, mungkin masih sampai sekarang. Namun, sepertinya belakangan ini semakin banyak yang memiliki autoimun karena dunia medis sudah bisa lebih tajam dalam menetapkan diagnosis.
Adakah miskonsepsi tentang autoimmune yang harus kita sadari?
Ada banyak miskonsepsi bahwa autoimun itu hanya terjadi pada orang dewasa, padahal tidak. Autoimun bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Banyak yang tidak tahu kalau anak-anak juga bisa terkena autoimun dan struggle mereka pun jadinya tidak terlihat ataupun dibicarakan.
Banyak juga yang menganggap penyakit autoimun itu menular, dan mitos ini cukup berbahaya karena banyak yang jadinya mengucilkan penyandang autoimun.
Bolehkah tahu tips darimu untuk menjalani keseharian jika kita memiliki autoimmune?
Jangan lupa untuk menjalani pengobatan yang sudah disarankan oleh dokter, baik itu minum obat, datang ke terapi, atau perawatan lainnya.
Kalau kamu capek, jangan lupa istirahat, it’s okay to take a break! Jangan lupa juga untuk mengapresiasi diri sendiri karena sudah berjuang sejauh ini.
Jika orang di sekitarku (atau terdekatku) memiliki autoimmune, apa yang sebaiknya aku lakukan?
Understand that their struggle is valid and not always visible, don’t be judgmental. Menjadi seseorang yang bisa memberi pengertian itu sangat penting. Ada baiknya untuk tanya saja apa yang kamu bisa lakukan untuk membantu mereka dibandingkan berasumsi sendiri, karena setiap autoimun juga bentuknya berbeda-beda.
Maria Puspa Kartika
Primary Health Care Manager CISDI
Your thoughts on the ‘You really need to be a bitch, or you’re to develop an autoimmune’ take?
Saya paham kenapa kalimat ini begitu banyak dibagikan. Lucu, sedikit provokatif, dan mungkin menyentuh pengalaman banyak orang, terutama perempuan.
Tentu saja autoimmune tidak sesederhana “terlalu baik hati lalu jadi sakit”.
Kondisi ini melibatkan banyak faktor yang kompleks, mulai dari genetik, lingkungan, hormon, hingga sistem imun. Tapi saya melihat ada pesan yang menarik di balik candaan tersebut. Kita hidup di budaya yang sering memuji kemampuan untuk terus memberi, terus mengalah, dan terus mengutamakan orang lain. Padahal menjaga batasan, beristirahat, atau mengatakan “tidak” juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan.
Jadi mungkin pesannya bukan tentang menjadi lebih galak, melainkan lebih berani mendengarkan kebutuhan diri sendiri.
Dari perspektifmu, kok rasanya belakangan ini semakin banyak orang yang memiliki autoimmune?
Ada kemungkinan kita sedang melihat dua hal sekaligus.
Pertama, kesadaran dan kemampuan diagnosis saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Banyak orang yang dulu mungkin hanya dianggap “sering sakit” atau “mudah capek” kini mendapatkan diagnosis yang lebih jelas.
Kedua, kita hidup di lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Polusi udara, pola makan yang semakin banyak mengandung makanan ultra-proses, kurang tidur, stres kronis, hingga perubahan lingkungan hidup menjadi faktor yang terus diteliti karena diduga berkontribusi terhadap gangguan sistem imun.
Sebagai seorang dokter yang bekerja di bidang primary health care, saya melihat kesehatan tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam tubuh, tetapi juga oleh apa yang terjadi di sekitar kita. Karena itu, meningkatnya perhatian terhadap autoimmune juga mengingatkan kita bahwa kesehatan sangat dipengaruhi oleh cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Adakah miskonsepsi tentang autoimmune yang harus kita sadari?
Salah satu miskonsepsi terbesar adalah menganggap autoimmune hanya sebagai akibat dari stres atau pola pikir tertentu.
Padahal autoimmune adalah kondisi kesehatan yang nyata dan kompleks. Stres memang dapat memperburuk gejala, tetapi bukan berarti penyakitnya hanya ada di pikiran seseorang.
Miskonsepsi lain adalah bahwa seseorang harus terlihat sakit untuk dianggap sakit. Banyak penyandang autoimmune yang tetap bekerja, berolahraga, atau menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa, meskipun sedang menghadapi nyeri, kelelahan, atau gejala lain yang tidak terlihat.
Karena itu, autoimmune mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat menilai kondisi kesehatan seseorang hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Bolehkah tahu tips darimu untuk menjalani keseharian jika kita memiliki autoimmune?
Saya rasa salah satu tantangan terbesar bagi banyak orang dengan autoimmune adalah belajar menerima bahwa kebutuhan tubuh bisa berubah dari waktu ke waktu.
Kita sering hidup dengan standar bahwa tubuh harus selalu produktif, selalu kuat, dan selalu siap bekerja. Padahal tubuh manusia tidak bekerja seperti mesin.
Menjaga kualitas tidur, tetap aktif sesuai kemampuan, mengikuti pengobatan yang dianjurkan, dan memiliki sistem dukungan yang baik tentu penting. Tetapi yang tidak kalah penting adalah belajar mendengarkan tubuh sendiri tanpa rasa bersalah.
Terkadang, bentuk perawatan diri yang paling sederhana adalah mengizinkan diri untuk beristirahat ketika tubuh memang membutuhkannya.
Jika orang di sekitarku (atau terdekatku) memiliki autoimmune, apa yang sebaiknya aku lakukan?
Saya percaya bahwa dukungan sosial adalah bagian penting dari kesehatan, meskipun sering kali tidak dianggap sebagai terapi.
Banyak penyandang autoimmune hidup dengan kondisi yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Mereka mungkin tampak baik-baik saja di luar, tetapi sedang menghadapi tantangan yang cukup besar setiap harinya.
Kita tidak harus menjadi ahli untuk bisa mendukung mereka. Sering kali yang dibutuhkan adalah empati, fleksibilitas, dan kemauan untuk mendengarkan tanpa langsung memberikan solusi.
Menurut saya, salah satu hal terpenting adalah menyadari bahwa setiap pengalaman autoimmune bisa berbeda. Apa yang membantu satu orang belum tentu membantu orang lain. Karena itu, alih-alih berasumsi, lebih baik bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan untuk mendukungmu?”
Karena sering kali, rasa dipahami sama berharganya dengan pengobatan itu sendiri.




