Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Teknologi bisa menjadi hal yang menakutkan. Dengan semua pencapaian intelektual yang telah manusia gapai, perkembangan teknologi yang semakin kompleks seperti tidak ada hentinya. Ketakutan ini adalah tema utama acara “Black Mirror”, serial antologi horor asal Inggris. Dibuat oleh Charlie Booker, “Black Mirror” disebut-sebut sebagai “The Twilight Zone” era kontemporer karena format acaranya yang terinspirasi dari serial horor klasik tersebut. Pertama kali rilis di tahun 2011, tahun ini Netflix akan membawakan kembali acara ini dengan musim ke-4 nya, dan -nya yang mengerikan baru saja di rilis.
Dalam tersebut, Netflix memberi tahu judul setiap episode serta menunjukkan beberapa potongan-potongan klip yang mengekspos sedikit keseraman yang sudah disiapkan di musim ke-4. Judul episode-episode tersebut yakni “Arkangel”, “Black Museum”, “Crocodile”,” Hang The DJ”, “Metalhead” dan “USS Callister”. Seperti musim-musim yang sudah lalu, setiap episode mempunyai latar, pemeran, dan cerita yang berbeda-beda. Seperti contohnya “Arkangel” mempunyai latar di dalam perumahan daerah pinggir kota, “Metalhead” dengan latar di masa lalu dan “USS Callister” mempunyai latar di sebuah pesawat luar angkasa yang futuristik.
Untuk musim ke-4 nya, “Black Mirror” akan memfitur penampilan dari Rosemarie DeWitt, Owen Teague, Letitia Wright, Andrea Riseborough, Jesse Plemons, Cristin Milioti dan Jimmi Simpson. Selain itu, dibelakang layar juga akan ada arahan dari Toby Haynes, Jodie Foster, John Hillcoat, Tim Van Patten, Colm McCarthy and David Slade.
Imajinasi memang bisa dikatakan sebagai sesuatu yang liar. Namun, itulah yang bisa menjadikan imajinasi sebagai sesuatu yang begitu berharga. Melalui film animasi pendeknya, “Mermaid,” animator ternama Jepang Osamu Tezuka mencoba mengeksplorasi konsep keliaran imajinasi melalui tokoh seorang pemuda yang berteman dengan seorang putri duyung. Kesan pertama yang mungkin muncul ialah kekaguman akan gaya animasi khasnya; yang meskipun sederhana, jauh dari kerumitan, namun keindahannya tetap bisa menyokong imajinasi penonton sendiri sambil mengikuti alur ceritanya.
Sebuah animasi yang tidak membutuhkan konsentrasi terlalu tinggi dalam memahaminya, kecuali untuk menyimak beberapa selingan narasi yang sangat membantu penonton untuk mengerti apa yang sedang terjadi. Mungkin pada awalnya tidak akan diduga, namun nyatanya perjalanan menuju akhir cerita dapat mengundang kesedihan sebagai bentuk simpati terhadap sang pemuda, yang bersikeras menjaga teman putri duyung kesayangannya.
Film ini juga mengundang kita untuk menjadi reflektif terhadap diri kita sendiri. Masihkah kita memiliki keaktifan imajinasi di tengah alur statis dari realita? Sudahkah kita membiarkan rasionalitas kita membunuh imajinasi itu? Dan jika ya, apakah itu benar-benar bisa membuat kita lebih bahagia? Bahwasanya, sedikit kegilaan akan imajinasi mungkin menjadi diperlukan untuk berenang melawan arus keseragaman yang terlalu membatasi ruang gerak.
Sutradara: Osamu Tezuka
Sinopsis: Seorang pemuda yang kaya imajinasi menjalin pertemanan dengan seorang putri duyung, namun realita mencoba memisahkan mereka.
Type Directors Club (TDC) mengajak publik untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan karya-karya pemenang Type Directors Club Annual Typography. Sebagai salah satu asosiasi tipografi terbesar dan tertua, lewat pameran keliling keduanya di Indonesia, TDC ingin memperlihatkan pilihan karya-karya tipografi terbaik, yang dikemas dalam bentuk print untuk menginterpretasikan tipografi secara progresif.
Jika sedang bingung mencari hiburan baru untuk alias menonton maraton non-stop di waktu senggang, atau sekadar untuk sesekali mengisi kebosanan, serial sitcom Inggris yang mengudara di Netflix ini bisa disimak lebih jauh. Dengan berdurasi sekitar 20 menit lamanya tiap episode dan dengan mengangkat tema seorang gadis berusia 24 yang tinggal di London sedang mengkontemplasikan keinginannya untuk merasakan hubungan seksual pertamanya, tidak perlu konsentrasi terlalu keras untuk bisa menikmati tiap detik dari serial karya Michaela Coel ini yang tayang sejak 2015 ini.
Banyak tema lain yang dieksplorasi di dalamnya selain seks, seperti kereligiusan sang karakter utama misalnya, yang menjadi kontradiktif dengan keinginannya untuk mengalami hubungan seksual. Dibumbui dengan dialog interaktif antara sang karakter utama dengan kamera yang seringkali terlalu jujur mengutarakan pikirannya, dengan berbagai bahan tertawaan, dan berbagai kejujuran yang digambarkannya mengenai kecanggungan hubungan romantis mengarah pada kegiatan seksual, mungkin Chewing Gum yang juga menyuguhkan berbagai isu tabu yang memuaskan rasa penasaran kita dengan kocaknya bisa menjadi rehat yang menyegarkan dari berbagai keklisean tipikal sitcom biasa yang hanya berusaha terlalu keras untuk menghibur.
Suara merdu nan syahdu Danilla memang bisa membawa pendengarnya ke dalam keadaan yang magis, seperti yang dia tunjukkan dalam album “Telisik.” Wajar saat unit asal Bandung, Tigapagi, mengumumkan bahwa akan segera ada kolaborasi antara kedua pihak tersebut, ada banyak penggemar yang tidak sabar menunggu. Setelah dinanti-nantikan, akhirnya Tigapagi merilis video musik untuk lagu yang berjudul “Tidur Bersama” dalam akun YouTube mereka Tigapagi The Band.
“Tidur Bersama” sendiri merupakan kolaborasi pertama antara Tigapagi dan Danilla yang memang sudah direncanakan sejak lama. Vokal Sigit Pramudi bercampur baik dengan karakter suara Danilla yang empuk halimpu, menghasilkan suatu esensi yang sulit dideskripsikan setelah mendengarnya. Kedua artis terasa tulus dalam menyampaikan pesan yang terkandung dalam lagu ini, serta alunan musik folk yang mengiringi bisa-bisa menghipnotis siapapun yang mendengarnya.
Untuk menemani ini, sebuah mini film dibuat di mana Danilla berperan sebagai seorang gadis Jakarta yang sedang mencari alamat. Cerita manis ini terasa melengkapi alunan lagu dengan baik, pun nilai-nilai sinematiknya dan plot yang diberikan patut dihargai.
Saat tidak sibuk menjadi Content Director, Adita Kartasasmita akan dan menyesap bir sesering mungkin. Bukan apa-apa, bir adalah hal pertama yang muncul di kepala jika mendengar namanya berkat pengetahuannya akan macam bir yang ada di dunia, sehingga wajar kalau di kemudian hari ini membuat khusus tentang bir, bernama Beergembira. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Adita untuk memilih lima bir terbaik versinya.
Saya diperkenalkan bir ini oleh teman yang sedang bekerja di London. Waktu itu diajak ke sebuah rock ‘n roll bar di London dan dipesankan bir ini. Pertama coba langsung jatuh cinta. Bukan hanya karena desain labelnya yang keren ya, tapi rasanya pun sangat Mungkin karena bir ini menggunakan air yang sangat bersih di sana (tertawa). Waktu sekali teguk langsung bisa merasakan sedikit rasa dan Tidak berat, dan sangat Bir ini sangat untuk orang-orang yang tidak terlalu suka rasa pahit di dalam bir.
Ini bir pertama yang saya coba. Keluarga saya selalu minum bir ini dari zaman saya masih kecil. Bir ini legendaris banget di Ceko, karena bir ini adalah bir tipe pertama di dunia yang asalnya dari kota Plzen yang artinya saja Pilsen. Rasanya sedikit pahit namun ada rasa -nya setelah minum beberapa teguk. Kalau ada kesempatan mengunjungi Ceko, mampir deh ke kota Plzen dan ikut tur di Pilsner Urquell. Seru!
Bir keluaran Beavertown -nya memang sangat lucu-lucu. Banyak orang pertama beli bir ini karena desain kalengnya. Tapi rasanya pun tidak kalah dengan -nya. Waktu dibuka kalengnya, bisa langsung mencium aroma buah-buahan, agak seperti aroma mangga. Rasanya campur antara sedikit pahit dan manis, cocok untuk diminum kalau lagi panas-panasan. Saya suka semua bir keluaran Beavertown tapi Gamma Ray favorit saya.
Pertama mencoba bir ini di Jepang waktu diajak seorang teman ke Baird Taproom Bashamici di Yokohama. Saya mencoba beberapa bir dari Baird Beer saat itu dan jatuh cinta dengan Red Rose. Bir ini mempunyai karakter yang unik karena bir ini di fermentasi menggunakan ragi tapi diproses dengan temperatur yang sangat rendah seperti Rasanya seperti bunga dengan campuran karamel dan terasa sedikit pahit dan manis. Baird Beer dijual di Indonesia di beberapa dengan kemasan botol, tapi saya belum pernah lihat yang Red Rose. Yang pernah saya liat di sini yang Single Take Session Ale dan Wheat King Wit.
Sebelum mencoba bir ini, saya pikir bir berwarna gelap itu hanya Tapi ternyata bir berwarna gelap mempunyai banyak tipe. Saya pertama kali mencoba bir ini di Carlsberg Brewery di Copenhagen. Di situlah saya baru tahu kalau bir tipe itu ternyata ada yang karena dibuat menggunakan yang sudah di panggang. Saat mencoba langsung dari rasanya seperti karamel dengan sentuhan panggang dan ada sedikit rasa kacang juga. Setelah mencoba berbagai merk bir tipe saya tetap masih suka dengan rasanya Jacobsen Original, apa mungkin karena saya minumnya langsung dari di -nya ya? Hmmm….
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?