Latest stories

28.09.16

Menyapa Teman Lama dan Harapan Baru di “For The Love of Aca”

Tak banyak yang tersisa dari Parc - kelab malam yang melegenda di awal 2000an berkat gig musik yang diadakan disana - gedungnya di Kebayoran Baru pun telah berganti fungsi, meninggalkan reruntuhan kebisingan serta keceriaan yang pernah terjadi disana. Tapi satu hal terus hidup hingga nyaris dua dekade kemudian, bahkan tanpa eksistensi bangunannya, adalah tawa dan cerita yang membekas dalam di setiap kepala yang pernah ada di dalamnya. Fadhila Jayamahendra alias Aca, vokalis band hardcore veteran Straight Answer adalah salah satu sosok yang pernah menjadi bagian dari sejarah yang tercipta di Parc. Disebutkan bahwa Thusrday Riot berhutang banyak pada Aca yang selalu aktif dalam membantu berjalannya acara hingga kompilasi musik yang terjadi disana. Tak lama setelah mendengar berita mengenai Aca yang jatuh sakit, teman-teman lamanya di Parc berkumpul kembali untuk mengumpulkan donasi bagi biaya pengobatan Aca yang terakhir dikabarkan siuman dan telah mampu berkomunikasi kembali ini. Bersama Rururadio, Thusrday Riot Family menggalang dana untuk Aca lewat penampilan musik, yardsale, dan lelang pada Kamis (29/9) mulai pukul 17.00 WIB di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta. Berjudul “For the Love of Aca Straight Answer”, akan tampil Superglad, The Adams, Harlan, Bequiet, Indische Party dan Loco9trio yang terdiri dari Aat, David Tarigan, dan Alvin Yunata. Akan ada pula penampilan pertama teman lama Thusrday Riot Family, Sir Dandy sekembalinya dari Eropa. Harga tiket donasi Thusrday Riot Family and Rururadio, for the Love of Aca ditetapkan Rp 25 ribu dan dapat dibeli langsung pada hari H di lokasi acara. Selain donasi pintu masuk, metode sumbangan lainnya juga dilakukan lewat lelang, belanja di yardsale, serta pembelian kaus Riot dan Seringai.

28.09.16

Seni dan Refleksi Kehidupan bersama Slamet Rahardjo

Slamet Rahardjo adalah salah satu tokoh senior di perfilman Indonesia. 30 Tahun lebih beliau mendedikasikan aktivitasnya di seni peran lokal, dan dari perjalanannya tersebut telah lahir beberapa film yang monumental, seperti Tjoet Nja' Dhien hingga Badai Pasti Berlalu. Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, Whiteboard Journal berbincang dengan Slamet Rahardjo tentang aktivitasnya, teater dan hubungan sastra dengan seni peran.

28.09.16

Mengejar Kesempurnaan Karakter Gitar Melalui Seri That Pedal Show

Gitar adalah instrumen yang sangat mempengaruhi suara dan gaya musik pada abad ke 20 dan 21. Dari petikan jazz Charlie Christian, suara yang dipakai Jimi Hendrix, sampai permainan gitar agresif dan penuh distorsi dari Youth of Today, gitar, khususnya gitar listrik, menawarkan pembaharuan pada warna musik, membentuk musik populer yang kita nikmati hingga hari ini. Salah satu inovasi yang datang bersama instrumen ini adalah pedal efek. adalah beberapa jenis pedal yang menambah warna dan karakter kepada suara gitar, dan di era sekarang sudah menjadi aksesoris umum bagi musisi, baik untuk yang sering pentas di atas panggung atau yang lebih gemar bermain di rumah. Karakter gitar yang sempurna adalah suara yang dicari oleh banyak gitaris, dan meskipun tone yang bagus adalah hal yang subjektif, ada banyak hal-hal teknis seputar gitar dan pedal yang patut dimengerti oleh pemainnya. Salah satu sumber pengetahuan gitar listrik yang sangat menarik adalah That Pedal Show, acara reguler yang bisa ditonton di Youtube. Bersama 2 reguler yakni Daniel Steinhardt, salah satu penemu perusahaan TheGigRig yang membantu gitaris menemukan gitar yang mereka cari melalui konsultasi dan beberapa produk rilisan mereka, dan Mick Taylor, gitaris profesional, jurnalis musik dan mantan editor-in-chief Guitarist Magazine, That Pedal Show menelusuri dan menjelaskan berbagai macam amplifier, pedal, dan gitar di setiap episode. Biasanya, satu episode That Pedal Show akan membahas satu jenis suara, misalnya pedal modulasi, dan mereka akan menelusuri berbagai pedal modulasi. Sembari mencoba pedal-pedalnya, mereka menjelaskan bagaimana jenis gitar, , pedal dan ampli berinteraksi sehingga membuat karakter unik pada permainan gitar. Percakapan mereka seputar hal teknis sangat menarik bagi musisi atau yang ingin mendalami pedal dan gitar. Selain itu, Daniel dan Mick selalu bisa menyelipkan candaan diantara penjelasannya, sehingga tiap episode yang berdurasi 20 menit terasa ringan namun tetap berisi. That Pedal Show memperbaharui acara mereka secara reguler dan bisa ditonton di tautan berikut: That Pedal Show on Youtube

27.09.16

Musik Pop Pertama buatan Teknologi Artificial Intelligence

SONY CSL Research Laboratory telah mengembangkan yang bisa menciptakan komposisi lagu pop, dan ternyata hasilnya sangat menarik. dengan nama Flow Machines mempelajari lagu dan komposer pop, kemudian menganalisa komposisi di dalam lagu-lagu tersebut dan dari situ kemudian dilahirkan sebuah komposisi berdasarkan gabungan unsur umum yang ia temukan. Lagu berjudul "Daddy's Car" adalah komposisi yang dibuat berdasarkan The Beatles. Dan, mampu menghasilkan lagu bernuansa yang terasa seperti buatan The Beatles. Kuat di melodi vokal, memiliki harmoni-harmoni vokal yang sangat mudah diingat, dengan bagian-bagian minor yang menambah elemen drama kepada lagunya. Pada lagu, "Mr. Shadow" Flow Machines mengambil komposer klasik Amerika, termasuk Irving Berlin, Duke Ellington, George Gershwin dan Cole Porter untuk membuat lagu yang beraroma jazz. Meskipun komposisi diatas adalah karangan , masih ada sentuhan manusia dalam rekaman lagu-lagunya. Di "Daddy's Car" dan "Mr. Shadow", Benoit Carre, seorang musisi, menentukan arahan musiknya (ia yang memilih The Beatles dan komposer-komposer Amerika), dan setelah komposisi oleh Flow Machine selesai, sebuah sistem bernama Rechord (dengan partisipasi oleh musisi) dipakai untuk mengisi karangannya dengan instrumentasi, dan seorang untuk melakukan dan lagunya. Mestinya, perkembangan berikutnya untuk adalah untuk mengembangkan instrumentasi dan ke langkah yang selanjutnya, untuk mewujudkan sebuah sistem yang lebih efisien dalam menciptakan lagu.

27.09.16

Warna-Warni Kreativitas Terkini

Selalu ada yang baru di dunia seni, dan dengan itu bermunculan pula karya baru yang unik. Beberapa di antaranya mencuat dengan keberanian untuk menjawab tantangan kreatif. Berikut adalah beberapa nama yang patut disorot berkat pendekatan karyanya masing-masing.

26.09.16

Dentum Dansa Bawah Tanah

Berawal dari kecintaan terhadap musik dan keinginan untuk mendokumentasikan skena musik elektronik di Jakarta, Pepaya Records sempat menulis artikel retrospektif musik elektronik di Jakarta pada tahun 2014 lalu. Melihat animo pengunjung yang mulai tertarik dengan musik elektronik, Pepaya Records mencoba untuk menindaklanjuti tulisan tersebut ke dalam format kompilasi. Dengan mengkurasi beberapa unit musik lokal sejak akhir 2015, sebuah album berjudul Dentum Dansa Bawah Tanah siap merangkum seluk beluk musik elektronik dengan beragam warna. Bekerja sama dengan Studiorama, terdapat 14 unit musik yang sebagian besar merupakan DJ/Produser di skena musik elektronik di Jakarta. Unit-unit musik tersebut adalah REI, Basement House, Harvy Abdurachman, Django, whoosah, Android 18, Duck Dive, Swarsaktya, Future Collective, Maverick & Moustapha Spliff, Sattle, Sunmantra, Baldi, dan John van der Mijl. Dalam kurasinya, Pepaya Records memandang bahwa unit-unit tersebut memiliki potensi untuk merepresentasikan era baru musik elektronik yang relevan dengan situasi saat ini. Dalam upaya menyempurnakan proyek ini, beberapa kolektif independen lokal juga ikut membantu, antara lain Bluesville yang dikenal sebagai label fashion pria yang sekaligus terinspirasi oleh kebudayaan tradisional Indonesia. Selain kolektif yang membantu memoles proyek ini, desain album ini juga dikerjakan secara kolaboratif antara Moses Sihombing (fotografer) dan Ratta Bill (desainer grafis). Dentum Dansa Bawah Tanah juga akan menyertakan serta yang ditulis oleh Merdi Simanjuntak (DJ, pengarsip musik, dan ) dan Dipha Barus (DJ, produser, personil Agrikulture). Eksklusivitas yang ditawarkan dapat dilihat dari beberapa nomor yang diproduksi khusus untuk disertakan dalam album ini. Terekam dalam bentuk kaset dengan jumlah terbatas, kompilasi ini akan dirilis bertepatan dengan gelaran Cassette Store Day Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2016. Selain kaset, rencananya, proyek Dentum Dansa Bawah Tanah juga akan diselenggarakan dalam bentuk , perilisan produk/ bentuk lain, dan penayangan pada akhir tahun 2016 melalui kerja sama dengan unit independen lainnya, antara lain adalah Anggun Priambodo, Edwin (Babibuta Film), Adythia Utama, dan Dana Putra (Gundala Pictures).

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.