Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Sebelumnya dikenal dengan Festival Salihara yang telah berlangsung 5 kali sejak pertama diperkenalkan pada tahun 2008, kini berganti nama menjadi Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest), festival seni yang layak ditunggu. Dengan mengganti nama menjadi SIPFest, gelaran ini diharapkan dapat mendulang sukses lebih besar dalam segi penonton serta variasi yang ditawarkan. Bekerja sama dengan Goethe-Institut, Japan Foundation-Asia Center, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kedutaan Besar Austria dan Kedutaan Besar Denmark serta didukung oleh Bekraf, festival ini akan hadir selama sebulan, tepatnya mulai tanggal 1 Oktober-6 November 2016.
Guna memperkenalkan nama barunya, SIPFest telah mengkurasi sajian seni berkualitas, yakni 14 penampil yang terdiri dari pentas tari, musik dan teater, antara lain She She Pop (Jerman), Eko Supriyanto (Indonesia), The Human Zoo Theatre Company (Inggris), Arica Theatre Company (Jepang). Sebagian besar karya yang akan ditampilkan pun didapuk sebagai dan Tidak hanya pertunjukan, pecinta seni juga bisa mengikuti sebagai bentuk interaksi dengan penampil atau seniman.
Selain menikmati aneka seni pertunjukan selama sebulan penuh, di area terbuka juga terdapat karya-karya seni rupa oleh empat perupa, yaitu Nus Salomo di Anjung Salihara. Terdapat pula instalasi karya Made Gede Wiguna Valasara di dekat Teater. Sementara itu Purjito menampilkan patung Abdurrahman Wahid berukuran 1:1 di depan Galeri. Indyra menampilkan gambar mural trimatra yang menyiratkan posisi Komunitas Salihara sebagai tempat merawat gagasan dan pemikiran di samping Serambi.
Keterangan lebih lanjut dan pembelian tiket: http://bitly.com/sipfest
Pada 15 hingga 24 September 2016, Auguste Soesastro membawa karya fashionnya ke Dia. Lo. Gue Artspace sebagai bagian dari pameran Architecture of Cloth yang ia gagas. Di dalamnya, Auguste mengajak pengunjung untuk menengok ke belakang serta melangkah ke depan bersama perspektif yang ia ciptakan.
Pada Column kali ini, Febrina Anindita mencoba membahas momen yang awalnya hadir sebagai inspirasi dibalik fashion, kini terbayangi oleh penilaian orang terhadap fashion.
Fungsi perhiasan yang kini beralih dari bentuk investasi menuju adornment membuat bisnis perhiasan berkembang dari segi konsep hingga material yang dipakai. From Tiny Islands menjadi salah satu brand lokal yang menawarkan relasi dan emotional attachment lewat desain perhiasan yang mereka buat. Whiteboard Journal berkesempatan untuk menemui salah satu penemunya, Jane Lukman untuk membahas cerita di balik perhiasan.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?