Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Sebagai salah satu pengajar fotografi di sebuah sanggar di Bukit Duri, Adrian Mulya memiliki kenangan tersendiri dengan lokasi tersebut. Ketika terjadi penggusuran di lokasi itu beberapa waktu lalu, Adrian mengunjungi kembali lokasi untuk merekam momen-momen terakhirnya di sana.
Seno Gumira Ajidarma, tokoh penting penulisan dan sastra lokal ini dikenal berkat tulisannya yang berani menantang orang untuk melihat kebenaran lewat sastra. Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, Whiteboard Journal menemuinya seusai kelas di Taman Ismail Marzuki untuk membahas posisi sastra hari ini.
Karya kolaborasi adalah hal yang menarik. Diluar hasil akhirnya, interaksi antar 2 sosok, yang berusaha untuk saling mengisi satu sama lain selalu memiliki daya tarik tersendiri. Untuk sebuah projek musik berjudul "Seasons", Ben Wendel, musisi jazz asal Kanada, menciptakan 12 komposisi untuk berkolaborasi dengan 12 musisi berbeda.
Ben Wendel adalah seorang komposer musik dan musisi (saksofon, piano, bassoon) juga merupakan personil grup Kneebody, telah mendapat nominasi Grammy Awards. Sebagai musisi solo, ia juga tampil sebagai sideman atau band-leader untuk musisi terkenal seperti Snoop Dogg, Ignacio Berroa, Daedelus, dan Taylor Eigsti.
Sepanjang tahun 2015, setiap bulan Ben Wendel mengarang sebuah komposisi yang dibuat untuk musisi tertentu. Menurut websitenya, dia menulis lagu duet yang dibuat spesifik untuk musisi-musisinya dan instrumen yang mereka mainkan. Dari gitaris Julian Lage, pemain trompet Ambrose Akinmusire, sampai pemain piano Aaron Parks, setiap komposisi disesuaikan menurut permainan musisi dan karakter instrumen yang dimainkan.
Duet-duet yang dibuat semua merupakan karya orisinil, namun mengangkat beberapa tokoh yang mempengaruhi Ben Wendel, seperti Tchaikovsky dan lagu "I'll Remember April" karya Gene de Paul. Di lagu-lagu yang mereka mainkan, terasa pengaruh musik klasik dan jazz, dan juga dari permainan musisinya.
Yang paling menarik dari kolaborasi-kolaborasi ini tentunya adalah interaksi permainan antar musisi. Meski duetnya diciptakan oleh Ben Wendel, ada keberagaman yang menarik pada permainan instrumen kolaboratornya. Mulai dari permainan drum Eric Harland yang penuh dengan aksen, sampai permainan piano Shai Maestro yang mengayun. Karakter permainan musisi tamu memberi warna yang beragam pada projek "Seasons". Bisa dilihat dari video-videonya pula, permainan Ben Wendel sendiri juga terpengaruh oleh karakter dan interaksi musisi tamunya. Hal ini membuat "Seasons" seri yang menarik, karena meskipun komposisi lagunya datang dari satu kepala, kobinasi hasik permainan yang terjadi membuat setiap sesi momen jadi spesial.
Lokasi-lokasi permainan kolaborasi juga menjadi nilai plus. Dari club jazz, ruangan kosong, sampai ke ruang tamu sebuah apartemen, suasana setiap sesi berbeda dan menambah atmosfir kepada kolaborasinya.
Untuk membaca mengenai "Seasons" dan menonton semua videonya, klik disini.
Tahun ini, acara biennale boneka sampai pada gelaran ke lima. Sebagai penggagas sekaligus penggerak acara, Papermoon Puppet Theater terus konsisten dalam misi menumbuhkan budaya tutur dan cerita melalui medium boneka. Masih dengan semangat swadaya, rencananya tahun ini Pesta Boneka akan dilangsungkan akhir tahun dengan konsep acara yang semakin mendekatkan diri pada publik umum. Dan, untuk mendukung berjalannya misi mulia ini, Papermoon Puppet Theater bekerja sama dengan Edwin's Gallery menggelar "The New Version : Secangkir Kopi dari Playa", penggalangan dana sekaligus pameran karya.
Bertempat di Edwin's Gallery, Kemang Raya No.21, dimainkan kembali lakon Setjangkir Kopi Dari Plaja. Memang, bukan cerita baru yang dimainkan disini - Setjangkir Kopi Dari Plaja telah dimainkan lima kali pada berbagai tempat berbeda, namun layaknya hikayat abadi lainnya, kisah ini terus hidup dan selalu mampu menemukan tempatnya di relung hati penontonnya. Dan ini bukan tanpa alasan, beberapa detil ditambahkan, sesuai cerita baru yang didapatkan Ria dan Iwan dari tokoh yang menjadi inspirasi kisah ini. Dengan bekal itu, ruangan Edwin's Gallery dibuat hangat, sebelum berubah temaram dan diakhiri oleh sendu pada gerak-gerik Pak Wi - sapaan akrab dari Widodo Suwardjo beserta sang kekasih, tokoh utama kisah ini. Dan, tepat ketika sang kekasih menundukkan muka pada akhir cerita, Papermoon Puppet selalu berhasil menemukan celah untuk menyentuh benak pemirsanya, tak peduli apakah mereka awam atau kawakan dengan cerita ini. Penghargaan tinggi juga tercurahkan pada Ria beserta tim puppeteer yang selalu mampu menempatkan jiwa pada setiap gestur tokoh yang mereka mainkan.
Pentas Setjangkir Kopi dari Plaja dimainkan 5-7 Oktober 2016 pada jam 6 dan 8 malam, serta 8-9 october 2016 pada pukul 3 sore dan 7 malam dengan tiket seharga Rp. 300.000, dikabarkan tiket telah terjual habis hingga show tambahannya. Namun, kesempatan terbuka untuk mengunjungi pameran set dan pameran karya Iwan Effendi yang bisa dikunjungi kapanpun. Tersedia pula merchandise booth Papermoon Puppet serta beberapa pilihan donasi untuk ikut merayakan Pesta Boneka #5.
Long live Pak Wi, long live Papermoon Puppet Theater!
Telah ada sejarah panjang tercipta di bidang fotografi, dan seiring berjalannya waktu, berbagai hal baru lahir dan membawa perubahan di bidang ini. Melalui mata dan lensa kamera dua sosok kreatif di bidang fotografi, Whiteboard Journal melihat bagaimana bidang ini telah berkembang.
Whiteboard Journal kembali membuka program internship bagi individu berkemauan keras dan memiliki terhadap dunia kreatif dan sekitarnya. Selama menjadi intern, beragam departemen dalam Whiteboard Journal akan menjadi keseharian, mulai dari editorial hingga marketing yang mengolah data untuk konten situs kami.
Intern juga akan mendapat proyek khusus yang didesain untuk mendorong kreativitas dalam mengolah sebuah konten di bawah supervisi Whiteboard Journal. Ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan potensi dalam mengonsepkan sebuah ide dan mendapat platform untuk menunjukkannya langsung ke publik.
Jika tertarik, dengan judul email . Untuk info lebih lanjut, silahkan kirim ke pertanyaan ke email yang sama.
Syarat:
- Tinggal di Jakarta, karena kantor kami terletak di Kemang
- Bisa dan bersedia menjadi intern full-time, 5 hari seminggu
- Memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan Indonesia
- Memiliki ketertarikan terhadap beragam hal, mulai seni, desain, musik, fashion, kultur bahkan sosio ekonomi
- Memiliki pengetahuan luas dan keinginan untuk terus belajar
- Memiliki skill Photoshop menjadi nilai lebih!
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?