Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Ada tempat spesial bagi SORE di benak penikmat musik lokal. Dikenal dengan aransemen megah yang membuat keseharian terasa lebih indah, SORE baru saja merilis 3 buah video musik lewat “Wonderland Trilogy” yang berisi lagu "Plastik Kita", "I Never Knew You In Wonderland", dan "Tatap Berkalam" dari album penuh ketiga Los Skut Leboys.
jadi kata sifat yang bisa meringkas trilogi video ini. Perih menjadi kata kedua yang dapat disandingkan. Bukan karena warna lagu dan lirik yang melankolis, tapi karena ada pesan mendalam tentang kisah hidup tiga manusia yang sama-sama berjuang menjalani nasib, kesendirian, dan harapan. Seakan ada usik dari sesuatu yang indah. Sebuah usikan yang tidak bisa dideskripsikan. Sebuah khas SORE yang juga kerap muncul di musiknya. Tentang kompleksitas hidup yang menjadi buah karya.
Walau tidak memiliki korelasi di antara ketiga videonya, etos DIY dibalik pembuatan video ini patut diapresiasi, sebab Ade Paloh yang turut andil berada di kursi sutradara mampu menerjemahkan ide dibalik lirik lagu dengan ‘teks’ visual yang penuh dengan simbol-simbol yang melengkapi rasa lagu. Selain Ade, SORE juga mengajak untuk video ini, antara lain Daffa Andika pada "Plastik Kita", serta Aditya Arnoldi pada "Tatap Berkalam". Sementara untuk "I Never Knew You In Wonderland" Ade mempercayakan sepenuhnya kepada kawan yang berada di Los Angeles, Milco Ricardo untuk mengambil suasana kota.
Bertolak dari rasa yang seringkali diabaikan atau dihindari oleh tiap manusia, SORE kembali membuktikan diri bahwa mereka mampu membius pendengar setianya dengan kepasrahan dan harapan yang romantis sebagai landasan musik mereka. Walau trilogi ini bisa disebut sebagai akhir atau penutupan dari rangkaian album Los Skut Leboys, SORE tidak menutup kemungkinan dan kesempatan jika ada pihak lain yang ingin melanjutkan usaha interpretasi lagu-lagu dari album ini ke dalam bentuk-bentuk lainnya di masa yang akan datang.
Dan, ini bukan satu-satunya berita baik bagi penggemar SORE, karena ada materi baru dari unit ini akan segera hadir dalam bentuk EP yang direncanakan rilis pada awal 2017.
https://sorezeband.com/
In this essay, Jo Elaine conducts an imaginary conversation with celebrated Japanese author, Haruki Murakami to illustrate the personal relevance of literature on ordinary, everyday lives.
Tiap kota memiliki karakter dalam merepresentasikan kesenian dan salah satu yang menarik untuk diamati adalah Sydney. Hadir sebagai kota besar dan terkenal di Australia, Sydney menawarkan banyak warna kesenian melalui galeri, pasar hingga festival yang tersebar di beberapa sudut strategis. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.
Entah disengaja atau tidak, gelaran Weekend Exhibition yang digelar di Dia.Lo.Gue. Artspace pada 28 September 2016 hingga 30 September 2016 kemarin terasa seperti tempat dimana publik disuguhi karya seniman muda yang merepresentasikan bentuk seni terkini. Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun masing-masing menunjukkan kekuatan karakter masing-masing melalui karya yang mereka tampilkan disana. Dari persilangan realita dan fantasi warna-warni khas Tontey, dunia imajiner dari Kendra Ahimsa, hingga tebal-tipis goresan yang membentuk indah lukisan Eko Bintang, Weekend Exhibition menjadi platform bagi emerging artists untuk memperlihatkan concern serta kegelisahan masing-masing terhadap khalayak luas. Dan dengan begitu, sekali lagi Dia.Lo.Gue. membuktikan dedikasi mereka untuk tumbuh kembang dan terus lahirnya karya baru di ranah lokal.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?