Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Yang paling diingat dari panggung bikinan We Hum Collective adalah pilihan bandnya yang selalu segar dan menarik. Radar mereka selalu tajam dalam mencium talenta baru yang sering luput dari pandangan. Di edisi terbarunya, mereka mempersiapkan sebuah konsep yang menarik, mencampurkan berbagai genre dalam satu gelaran. Mulai dari elektronik, hip-hop hingga black metal menjadi satu. Dan, untuk mewujudkan itu mereka mengundang Future Collective, rekah, Orestes, Wils dan Matter (proyek musik rap dari Fadil McGee eks Forever/Always). Dengan line-up yang demikian, malelui La Fête Noire, We Hum Collective sekali lagi membuktikan bahwa mereka memiliki visi yang menarik dalam setiap acaranya.
--
Future Collective, Rekah, Orestes, Proceus, Matter, dan Wils Siap Tampil di La Fête Noire
La Fête Noiremerupakan suatu perayaan teranyargarapan label rekaman pendatang baru Caged Choir Conjoint yang bekerjasama dengan kelompok penggerak kancah musik arus pinggir we.hum collective. Dalam perhelatan perdana yang bakal diselenggarakan di Xabi Space Studio, Jakarta Selatan pada Sabtu, 19 November2016 mendatang, La Fête Noireakan dimeriahkan oleh beberapa penampil lintas genre, yaitu Future Collective, Rekah, Orestes, Proceus, Matter, serta Wils. Alasan pihak penyelenggara mengurasi para penampil La Fête Noire dari berbagai genre adalah untuk membuat pentas ini bisa memercikkan keberagaman bermusik dalam satu atap sekaligus meminimalisir dikotomi dan homogenitas yang seringkali terjadi di pergelaran-pergelaran musik Tanah Air. Pemilihan nama-nama di atas pun awalnya berangkat dari sebuah pertanyaan, “Bagaimana jika lantunan musik elektronik bisa berserikat harmonis dengan hardikan komposisi-komposisi padat ala death metal, black metal, post-hardcore, indie rock, hingga hip hop?”Untuk menjawab hal tersebut, Caged Choir Conjoint dan we.hum collective lantas mencoba memadukan penampilan duo elektronik Future Collective dengan ketangkasan rap Fadil McGee alias Matter,keresahan kuintetpost-hardcore/black metal Rekah, kebengsisan band death metal/black metal Orestes, kegeraman unit black metal Proceus, serta intensitas riuh trio indie rock/post-hardcore Wils. Jika berjalan sesuai rencana, Caged Choir Conjoint dan we.hum collective siap menjadikan La Fête Noire sebagai perayaan rutin yang bertujuan untuk memberikan ruang lebih banyak lagi kepada mereka yang memiliki hasrat besar dalam menikmati perayaan musik dengan konsep intim, seru, hangat, serta berkualitas.
“La Fête Noire”
Xabi Space
Jalan Karang Tengah Raya, RT.13/RW.3, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12440
Peta: http://bit.ly/XabiSpace
Sabtu, 19 November 2016
19.00 –23.30 WIB
HTM: Donasi
Banyaknya sosok kreatif di Indonesia telah memberikan angin segar dalam subkultur di Indoneisa yang saling bertautan. Melihat adanya pengaruh nyata dari kreasi mereka, kehadiran regenerasi menjadi sakral guna mencari talenta baru yang mampu menggerakkan beragam scene yang ada.
Menikmati akhir tahun dengan mendekorasi ulang rumah menjadi lebih hangat guna merayakan suasana Natal maupun Tahun Baru, mulai dari ornamen berupa lampu gantung, tekstil di ruang keluarga hingga ornamen di meja makan. Artikel ini disponsori oleh IKEA VINTER 2016 yang akan membantu Anda mendapatkan Winter Wonderland di rumah Anda.
Setelah masa rehat yang cukup lama, kolektif Studiorama akhirnya kembali dengan salah satu program utama mereka, Studiorama Live. Menciptakan panggung bagi musisi terbaik dan menyandingkannya dengan videografer handal untuk sajian audio visual yang memukau, Studiorama Live adalah agenda penting yang selalu ditunggu setiap tahunnya. Untuk gelaran keenamnya, Studiorama telah mempersiapkan edisi spesial, dimana mereka akan menampilkan line-up internasional untuk pertama kalinya dalam sejarah acara ini. Dan tamu pilihan mereka pun tak sembarangan, Kero Kero Bonito grup elektro pop dari Inggris didatangkan untuk sebagai awal sejarah baru mereka ini. Dikenal sejak muncul pada tahun 2014 dengan EP Intro Bonito yang menarik melalui campuran Bahasa Inggris dan Jepang dari vokalis Sarah Bonito di atas musik elektronik pop minimalis yang dan kekanakan. Ditambah dengan konsep visual yang warna-warni, Kero Kero Bonito menjadi salah satu penyegaran yang datang dari scene musik Inggris.
Bersama Kero Kero Bonito, akan tampil pula Heals unit nu-gaze asal Bandung, Circarama dengan psikedelia ringan khas mereka, juga Ikkubaru yang dikenal sebagai pengusung city pop ala lokal. Musik keempatnya akan direspon oleh empat seniman visual, Anggun Priambodo bekerjasama dengan Ikkubaru, Rimbawan Gerilya dengan Kero Kero Bonito, Ramaputratantra bersama Heals dan Rafaela Lisa untuk bekerja sama dengan Circarama. Sebagai perayaan kerja sama kreatif ini, akan digelar panggung Studiorama Live #6 yang akan berlangsung pada 19 November 2016 di Rossi Musik. Dengan tiket masuk seharga 50 ribu rupiah, pengunjung akan disambut dengan penampilan musisi di atas, ditambah dengan musik dari DJ Django, Gerhan dan W_Music.
--
Untuk menghadiri acara ini, tiket presale seharga Rp 50 ribu (FDC) bisa didapatkan secara eksklusif melalui GO-TIX.
Penulis dan penyair asal India ini membuat dunia literatur kontemporer cukup terkejut dengan novel perdananya yang berjudul “Narcopolis” yang hadir dengan cerita dunia alternatif di Bombay. Kami menemuinya di Ubud Writers & Readers Festival 2016 untuk menanyakan adiksi yang menjadi salah satu hal menarik dalam literatur.
Pada tanggal 26 hingga 30 Oktober 2016, Ubud Writers & Readers Festival kembali digelar untuk yang ke-13 kali. Mengangkat tema Tat Tvam Asi, kali ini bermacam program dengan panelis pilihan mengangkat keberagaman dan kebersamaan dalam sudut pandang variatif.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?