Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Nindityo Adipurnomo, pria yang lahir tahun 1961 di Semarang ini adalah alumni jurusan Seni Rupa Murni di STSRI (ASRI) Jogjakarta. Ia pernah memanjangkan studinya ke Amsterdam, Belanda pada tahun 1986 dan terlibat pada beberapa program residensi maupun lokakarya di berbagai tempat di Eropa.
Dalam pameran tunggalnya kali ini, ia melibatkan 10 seniman yang bermukim di Jakarta yakni Jessica Soekidi, Jo Elaine, John Navid, Afi Shamara, Gregorius Supie, Michela Cavagna, Arimbi Nimpuno, Gianni Fajri, Vanessa Kalani Ong, dan Wiyu Wahono. Pameran ini merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap seni dan perhatian akan keterlibatan seniman sebagai masyarakat modern di antara rumitnya ibukota Jakarta. Turut juga memberi sambutan dan pengantar pada pameran, Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN.
Pembukaan Pameran
Kamis, 27 April 2017 pukul 19:00
dia.lo.gue artspace
Jl. Kemang Selatan 99A
Periode Pameran
30 Maret - 16 April 2017
9.30 - 18.00
Sebagai seniman senior, Dolorosa Sinaga telah memberi warna baru pada dunia seni, melalui karya patungnya yang mengangkat kesadaran tentang perempuan. Whiteboard Journal berbincang bersamanya mengenai posisi perempuan, posisi seni di masyarakat modern hingga hal-hal yang mengganggu benaknya sebagai seniman.
Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu bergenre indie pop dan indie rock yang menyegarkan sebagai penyambutan bagi musim panas yang segera datang.
Tracklist:
01. Ardneks- Tender Blue
02. The Talkboy - No Blue
03. The Lousy Pop Group - The Ballad Of A Powerful Antagonist
04. Sunny Summer Day - In Summertime
05. Secret Meadow - Followed by The Voice
06. The Cottons - Yesterday Is Gone
07. The Ranjau - Jena Jenaka
08. Moonbeams - Coolibah '97
09. Morscode - Calm Down
10. The Porno - Hidden Language
Ada dua akhir pekan panjang yang akan datang di akhir April dan awal Mei ini. Momen-momen seperti ini adalah saat yang tepat untuk rehat sejenak dari aktivitas, sekaligus mendekatkan diri kembali pada keluarga dan kenyamanan yang sering terlupakan di antara keseharian. Berikut adalah beberapa musik pilihan yang bisa menemani saat-saat tersebut, beberapa di antaranya juga bisa didapatkan versi fisiknya di Records Store Day 2017.
Tak ada yang lebih indah daripada suasana sore akhir pekan dengan musik menenangkan sembari mengingat kembali masa kecil yang menyenangkan. Melalui cover Simon Garfunkel ini, Monita Tahalea memberikan lebih dari itu. Digarap bersama Indra Perkasa dari Tomorrow People Ensemble, terjemahan lagu klasik “Sound of Silence” ini menunjukkan potensi sejati yang dimiliki Monita, yang semoga akan bisa lebih kentara di materinya yang akan datang.
Jika ada yang menanyakan siapa yang bisa menjadi penerus Efek Rumah Kaca di masa yang akan datang, Moonbeams bisa menjadi salah satu kandidat terkuatnya. Muncul tanpa pretensi, dan dengan latar belakang yang cukup menarik (drummer Moonbeams juga bermain di unit powerviolence, Disfare), mereka menunjukkan potensi itu. “Coolibah ‘97” lagu terbaru mereka semakin menguatkan kesan tersebut, ada beberapa bagian yang mengingatkan pada lagu “Balerina”, dan yang menarik adalah Moonbeams tak literal dalam berkarya, di sana-sini, Moonbeams juga terasa seperti bentuk baru dari band indie lawas, Planetbumi. Dengan kombinasi menarik Efek Rumah Kaca dan Planetbumi, rasanya Bin Harlan, sosok indies yang menemukan Cholil dan kawan-kawan pasti bangga.
Dengan sedemikian banyak pantai yang dimiliki Indonesia, entah kenapa belum terlalu banyak band yang menjelajahi ombak dari genre surf-pop/pop. The Mentawais adalah salah satu yang berani melakukannya dan menghasilkan bebunyian instrumental indah sebagai hasil akhirnya. Dan jika hasilnya semenarik ini, di suatu sudut sana, Ratu Pantai Selatan pasti menyepakatinya.
Setelah rehat selama setahun, Ramayana Soul kembali untuk menyelesaikan hal-hal yang belum usai. Di pertamanya ini, psikedelia sekali lagi datang dengan balutan suasana yang sedikit lebih cerah, namun tetap kental dengan suasana spiritual.
--
Materi dari Moonbeams (Leeds Records), The Mentawais (Hujan! Rekords), dan Ramayana Soul (Pas Pas Records) dirilis dalam bentuk fisik pada Records Store Day 22 April 2017 ini. Mari mengisi liburan dengan mengunjungi toko musik independen lokal terdekat!
Groove in, Groove out, yang penting you groove! (haha).
Listen to this mixtape on Whiteboard Journal's Mixcloud.
01. Buttering Trio - Love in Music
02. Milo - True Nen w/ Open MiKe Eagle
03. MNDSGN - Use Ya Mnd
04. Noname - Forever (feat. Ravyn Lenae & Joseph Chilliams)
05. Brad Mehldau - Sassyassed Sassafrass
06. Bibio - Feeling
07. Mick Jenkins - Vibe
08. Miles Davis and Robert Glasper - Ghetto Walkin (w/ Bilal)
09. Iojii & Swarvy - Pay Rent (feat Zeroh)
10. Homeshake - Every Single Thing
11. Koushik - Be With
12. Kenny Cox - Lost My Love
13. Bobby Humphrey - Harlem River Drive
Tur mikro bawaan Dentum Dansa Bawah Tanah kembali hadir dan kali ini merajai kota Bandung. Defile terus menyebarkan semangat ala mereka dan membawa roster pilihannya dibarengi dengan nama-nama dalam skena sebagai bentuk kolaborasi guna menawarkan padanan seleksi lagu pemeriah lantai dansa.
Salah satu pengisi acara untuk Defile kali ini adalah Pujangga Rahseta aka Rhst aka Django. Hadir dengan banyak moniker dan afiliasi; mulai dari Divisi62, DEAD Records, Funkbox Records, hingga The Cru Creatives, Django memiliki ragam referensi musik yang patut diperhitungkan. Kami berkesempatan untuk bertanya tentang apa pembeda karakter antara monikernya serta bagaimana ia mendekonstruksi musik bersama Wahono dan RMP.
Berkembangnya selera saya awalnya berdasarkan sekadar biar terlihat keren dengar musik aneh di sekolah. Lalu belajar memadukan musik dengan runtutan tertentu untuk didengarkan sendiri, atau saat membuatkan mixtape untuk seseorang. Hal-hal klise tersebut yang akhirnya membuat saya eksplorasi musik yang bermacam-macam.
Sampai sekarang juga bereksplorasi masih menjadi utama saya. Akhirnya memutar musik sebagai DJ juga karena ingin memutar musik kesukaan pribadi untuk kalangan teman dekat. Kemudian setelah menemukan serunya sharing musik dengan orang lain lewat DJ set. Lalu jadi keterusan.
Pembedanya mungkin hanya di pendekatan, dan narasi yang ingin disampaikan lewat musik saja. Pendekatan saya kepada tiap moniker dan afiliasi mungkin lebih seperti mendalami peran. Django sendiri selalu suka musik yang mengandung unsur suara ketipang-ketipung dan dentam-dentum unik.
deck?
DIVISI62 terbentuk dari pembicaraan panjang di mana muncul ide-ide bersama. , label ini bertujuan untuk mencapai . Ketika tampil sebagai konstituen DIVISI62, seleksi saya akan mencoba mendekonstruksi ragam identitas musik dansa elektronik hingga tribal/etnik lokal dan global dengan interpretasi sendiri.
Judul Kamseng Riddim muncul karena waktu produksi trek tersebut, saya sedang menunggu datangnya pesanan bubur babi , cakwe, & ubur-ubur dari restoran Kamseng waktu dini hari. Begitu ceritanya.
yang ada dalam skena musik . Menurut Anda yang memiliki ketertarikan pada musik elektronik/dance, musik dance seperti apa yang belum diliput oleh Aldo; selaku inisiator, dan kawan-kawan?
Menurut saya, musik dalam skena musik yang belum diliput/masuk kompilasi ini masih banyak. Tapi keluasan dan kedalaman berdasarkan genre atau afiliasi bukanlah tujuan utama dari kompilasi ini.
Kompilasi ini adalah potret dari sebagian skena ini sekarang. Artefak skena musik dansa arus bawah tanah dengan menilik beberapa nama yang dipilih menurut preferensi si pembuat. Jadi kalau banyak yang merasa kurang terwakilkan, saya harap akan lebih banyak lagi yang tergerak untuk membuat hal yang serupa dan lebih baik. Biar makin seru.
-
Sabtu, 22 April 2017
Verde
21:00
Django, Harvy, Android 18
Special guest:
Herta (Scrubs) dan Bagvs (Roofless)
Gratis
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?