Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Tahun ini adalah tahun ke-10 Record Store Day (RSD) dirayakan di Indonesia. Mengingat riuhnya RSD tahun lalu yang sempat di gelar di belasan kota di Indonesia, tahun ini perayaan tersebut kembali digelar di beberapa kota. Tak hanya itu, para musisi dan studio rekaman terkait ramai-ramai bersiap meluncurkan rilisan fisik terbatas khusus Record Store Day tahun ini.
Salah satu yang menarik adalah The Brandals yang merilis album The Best lewat submisi para penggemar untuk memberi masukan 12 lagu terbaik The Brandals versi mereka. Nantinya album tersebut akan ditambah 1 lagu baru yang akan menjadi single untuk album baru mereka. Selain itu masih banyak nama lama yang merilis ulang album mereka dalam bentuk baru maupun para pendatang yang memberanikan diri merilis sendiri album atau single mereka untuk RSD tahun ini. RSD tahun ini dilangsungkan di 23 tempat di 18 kota, berisikan puluhan rilisan khusus dan puluhan penampil yang terlibat serta dengan durasi serta jadwal yang bergiliran, Record Store Day tahun ini akan terasa lebih meriah dari RSD tahun lalu.
Berikut adalah jadwal perhelatan Record StoreDay di masing-masing kota serta rilisan khusus yang dipersiapkan pada perhelatan tahun ini.
- Wee & Co, Palu
- Kiputih Satu, Bandung
- Kuningan City P7, Jakarta
- Pasar Santa, Jakarta
- Blom M Square, Jakarta
- Lokasuara, Batam
- Anonimo, Coffee, Medan
- Castel Distric, Bekasi
- Rumah Budaya Prof. Soeroso, Yogyakarta
- MX Mall, Malang
- Black Cup Coffee House & LUBU Store, Manado
- Hardcore Mayhem, Padang
- Popscene, Tasikmalaya
- Semut Cooke, Pekanbaru
- A Bar - Aston Imperium, Pekanbaru
- Rumah Kelinci, Bandung
- Pasar Santa, Jakarta
- Blom M Square, Jakarta
- Blackbox Cafe & Resto, Banjarmasin
- Aiola Eatery, Surabaya
- Gedung Sentral Yamaha Markoni, Balikpapan
- Lokananta, Solo
- Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar
- Bingen Record Store, Palembang
- Bongkis, Mataram
- The Gang of Harry Roesli - Philosophy Gang (Vinyl)
- Adhi Rahman & Compadres - Cerah (CD)
- Oscar Lolang - Epilogue (Kaset)
- Glaskaca - Staedig E.P. (CD)
- Pillo - Belia (CD)
- The Brandals - The Best
- Payung Teduh - Live & Loud (Kaset)
- Nonanoskins - Ricochet Baby (Kaset)
- Bottlesmokers - Slow Mo Smile (Kaset)
- Makassar Rocksteady - Shake Your Body (CD)
- The Mentawais - Surfin Java (Kaset)
- Tikam - Jurnal Amarah (CD)
- Murphy Radio - Naftalena
- Shewn - At Home Drowning
- Purpla - Superealita
- Kompilasi Rock in Celebes
- Costaroy - Double Single (Kaset)
- Alice - Konsorsium Humaniora (Kaset)
- Petaka - Live at Extreme Moshpit (Kaset)
- Indigo Moire - Perth (Kaset)
- Hira - Solitude (CD)
- Ayu Anjani - The 1Step (CD)
- Weekend Roll - 2.5 (CD)
- Scarhead Barricade - Earth (CD)
- PI G Face Joe - Maling (CD)
- The Tetz - Menelan Jangi (Kaset)
- Pelteras - Meranggas/Pusaran (Kaset)
- Various Artists - Sub-Ordinat Musika (CD)
- Various Artists - Trust Yourself, Realize! (CD)
- Water Slide - Asa (CD)
- 70 Soc - Electric Love (Kaset & CD)
- Norr Frygt - Introduction (CD)
- Mocca - Mini Album (Kaset)
- Gerram & Terapi Urine - Poranda (Split Kaset)
- Under The Big Bright Yellow Sun - Painting of Life (Kaset)
- Kompilasi Apokaliptape (Kaset)
- The S.I.G.I.T - Visible Idea of Perfection (Vinyl)
- Deugalih - Tanahku Tidak Dijual
- Hellsoil - In Grind we Bong
- Strider - Defishit Moral (Kaset)
- Bangkai - Re-Emotional Conform
- DOM 65 - Greatest Pledge Articles (Vinyl)
- Zoo - Prasasti (Vinyl)
- Shaggydog - Putra Nusantara (Vinyl)
- Rain in Summer - Discordant Anthem From The Gutter (CD)
- (((...))) - s / t (CD)
- Death Vomit - Eternally Deprecated (Kaset)
- Kompilasi Arpappel (CD)
- Kompilasi Sounds from Sulawesi (CD)
- Kompilasi Riverstone (CD)
- To Die ! - Live (Kaset)
- Kompilasi Jogja Records Store Club (Kaset)
Untuk lebih lanjut mengetahui kabar terkini mengenai perhelatan Record Store Day di seluruh Indonesia, silakan kunjungi linimasa Instagram Record Store Day Indonesia.
On this open column submission, Avicenna shares his comment regarding how musicians expand their works from time to time. And how the need of being relevant might ends up as an embarrassment.
Sudah lebih dari 5 dekade yang lalu, Luciano Benetton mendirikan Benetton Group dan mulai melakukan proyek kesenian besar yang Ia beri nama Imago Mundi atau Image of The World. Ia telah mengumpulkan lebih dari 2000 lukisan dari perupa di seluruh dunia.
Dalam proyek dokumentasi seni rupa tersebut, secara kasar Imago Mundi ingin menjadikan seni rupa sebagai medium demokrasi dan globalisme. Luciano Benetton dalam buku katalog pameran mengemukakan bahwa Indonesia kaya akan regionalisme dan keberagaman. Dalam usaha menonjolkan keberagaman ekspresi seni rupa, terlintas cerminan kekayaan budaya Indonesia dalam 200 lukisan bebas dari 200 perupa di seluruh Indonesia dalam ukuran medium yang sama.
Khusus untuk sebuah edisi koleksi dari Indonesia tahun ini, ia memberi judul Indonesia: Islands of Imagination. Koleksi tersebut menghimpun lebih dari 200 perupa Indonesia dari berbagai umur dan latar belakang lain. Pameran karyanya telah berlangsung pada 12 November akhir tahun lalu di Bentara Budaya Bali, 28 Desember di Bentara Budaya Yogyakarta, dan tanggal 11 April lalu di Bentara Budaya Jakarta.
Setelah memenangkan ajang pemilihan model, Lola Amaria merambah perfilman lokal dengan peran kuat dalam film Ca-bau-kan. Walau tidak memiliki latar belakang sekolah film, ia memiliki ketertarikannya untuk membuat film dengan tema dekat dengan dirinya. Whiteboard Journal menemuinya di studio untuk membahas kritik akan support system perfilman di Indonesia.
Museum Modern and Contemporary Art Nusantara (MACAN) akan mempersiapkan perhelatan pameran koleksi pertamanya akhir tahun ini. Rencananya, pameran koleksi perdana November nanti akan menampilkan karya maestro Seni Rupa Indonesia seperti Raden Saleh, Soedjojono, Affandi, FX Harsono, dan Heri Dono juga dengan beberapa karya seniman kontemporer nusantara dan internasional lain yang harapannya dapat menawarkan dialog Seni Rupa Indonesia dan Seni Rupa internasional.
Pameran koleksi pertama tersebut nanti akan dibagi ke dalam 4 linimasa sesuai dengan ruang koleksi museum. Ruangan pertama diberi judul Land, Home, People yang menyajikan karya dari tahun 1800 hingga menuju kemerdekaan yang mengekspose lanskap bumi Nusantara dan masyarakatnya. Dua ruangan lain berjudul Independence & After dan Strugles Around The Form membahas karya-karya modern setelah kemerdekaan, sebelum tragedi 1965, dan sebelum reformasi. Ruangan terakhir diberi judul Global Soup yang berusaha menampilkan karya-karya di atas tahun 1998 yang menunjukan perubahan signifikan lewat pencarian individu di tengah globalisme.
Awalnya musem MACAN beranjak dari mimpi kolektor seni dan pengusaha Indonesia, Haryanto Adikoesoemo untuk membangun museum seni rupa bagi masyarakat Indonesia dan untuk pengunjung luar negeri. Aaron Seeto ditunjuk sebagai direktur museum dari akhir 2016 lalu. Museum MACAN diharapkan dapat menjadi ruang diskursus Seni Rupa Indonesia di antara masyarakat internasional. Dengan bangunan seluas 4000m persegi, museum MACAN baru akan dibuka ke publik pada eksibisi perdana koleksinya November nanti dan mulai berencana menggelar banyak pertunjukan kebudayaan tahun 2018.
Gelaran tahunan dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) kembali hadir dan kali ini mengusung tema Eclipsed. Masih mengangkat kolaborasi sebagai aksi utama di balik acara ini, Parahyangan Fair mengajak seluruh komposer dan penampil dari segala jurusan di UNPAR. Namun, kali ini Parahyangan Fair tidak hanya fokus pada subkultur Bandung, tapi juga membuka pintu kepada sosok kreatif di Jakarta untuk berkontribusi.
Hadir dengan konsep wadah kreatif, acara ini menghadirkan deretan hiburan mulai dari visual art, fotografi, film dan tentunya musik - dengan penampil antara lain, Maliq & the Essentials hingga Elephant Kind. Untuk mengangkat subkultur film, Gianni Fajri pun didaulat sebagai bintang tamu.
Akan ada yang akan memutar film-film karya mahasiswa UNPAR serta para kontributor. Lalu ada pula penampilan kolaboratif antara mahasiswa dan musisi lokal sebagai bentuk kreasi baru yang ditampilkan hanya pada acara ini. Adanya yang besar mengizinkan pengunjung untuk berkarya langsung di tempat, layaknya melukis di kanvas bekas. Adapun yang akan tersebar di area Bumi Sangkuriang selaku , akan menyediakan alat-alat berkarya yang bisa digunakan pengunjung untuk membuat sesuatu dan di bawa pulang sebagai memento.
-
Senin, 24 April 2017
15:00 - selesai
Bumi Sangkuriang, Bandung
Tiket bisa dibeli online di
https://goo.gl/forms/AnHqf1dVTgXSEAHu1 atau http://goers.co/eclipsed-parahyanganfair
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?