Latest stories

Heart Attack
30.05.17

Vol.33

I’m completely thrilled to present the latest installment of Heartattack. Massive shout outs to Indra Menus for the incredible tracklist on our previous episode, here I am tangled in a glorious nostalgic encounter. Skramz or screamo has been widely misunderstood for its mainstream appeal, whereas we have all these great alternate scene; filled with massively underappreciated outfits from different parts of the world. These are tiny reflections of my appreciation towards the style, the zeitgeist, the energy and the substance. Listen to this episode of Heart Attack on Whiteboard Journal's Mixcloud. Tracklist: 01. Welcome the Plague Year - Behold a Pale Horse 02. Ampere - We Neither Rise Nor Fall 03. Hassan I Sabbah - Watching the Eyes of Someone Lying 04. Shikari - Post Student Syndrome 05. Circle Takes the Square - Same Shade As Concrete. 06. Daighila - Hunt 07. City of Caterpillar - When Was the Last Time We Painted Over the Blood On the Walls 08. Kaospilot - Rethink the Guidelines 09. Orchid - I Am Nietzche 10. Pg99 - In Love with an Apparition 11. Piri Reis - When Life Hand You Grenade 12. Daïtro - Chaque Seconde 13. Utarid - There is Definitely Room For Growth 14. Saetia - Notres Langues Nous Trompent 15. Anomie - Avorter N’est Pas Tuer 16. Textbook Traitors - Diagram of How To Take a Punch 17. Orbit Cinta Benjamin - Fuck Tomorrow 18. Sjanse - An End to No End 19. La Quiete - * 20. Hot Cross - A Tale for the Ages

29.05.17

The Breakfast Club dan Asupan Gizi di Waktu Pagi

Ada yang berkata bahwa cara tepat untuk merawat sebuah kenangan masa lampau adalah dengan memeluknya erat. Mendekap penuh hangat serta menjaganya agar esensi yang terkandung dapat disalurkan di momentum mendatang. Kiranya hal itu pula yang sekarang dilakukan oleh kolektif asal Malang, The Breakfast Club. Pasca melepas tiga nomor berjudul “Daisy”, “Distance”, serta “My Humanoid from the Outer Space” di tahun 2016, kali ini, The Breakfast Club kembali merilis nomor baru berjudul “Silent Caravan.” Sebuah lanskap yang menceritakan perihal kenangan serta upaya menikmati masa kebebasan. Apabila ditelisik lebih jauh, aroma 90’s indie/jangly pop ala Ballads Of The Cliché, Aztec Camera, Belle & Sebastian begitu terasa pada lagu-lagu mereka. Komposisi yang sederhana dengan warna riang juga tanpa beban menghiasi sudut-sudut rutinitas bersama keinginan menghilangkan penat di kepala. Beranggotakan Mucho Karmuko (vokal) dan Bimo Soerjoputro (gitar), The Breakfast Club dibentuk di tahun 2015. Rencananya, EP perdana mereka yang bertajuk Morning People akan diluncurkan ke khalayak ramai dalam waktu dekat. Membawa roman kejayaan Britpop, musik mereka patut dimasukan ke saku playlist guna menemani hari-hari yang membosankan. https://soundcloud.com/wearethebreakfastclub

29.05.17

Quick Review: Paterson

Jim Jarmusch, lewat karya terbarunya bertajuk Paterson, sengaja memberikan keleluasaan tafsir mengenai kisah pasangan di sebuah kota kecil. Tidak berbeda secara esensi dibanding film-film terdahulunya, Paterson menawarkan eskapisme, namun kali ini lebih berkat cerita. Seiring bergulirnya waktu, kedua tokoh utama dihadapkan pada kondisi di mana kenyamanan yang selama ini dirasakan dihadapi dengan fase kemustahilan. Film ini menangkap relasi intim antara keheningan-keheningan yang biasa dialami oleh manusia dalam keseharian, tanpa harus menambahkan tendensi sebagai bentuk artistik. Lewat film ini, Jim Jarmusch membuktikan kepiawaiannya dalam mentranslasi skenario menjadi mudah dinikmati penonton dari segala kelas. Didukung dengan dan alur yang tepat, Paterson menjadi film yang dapat ditonton berulang kali dengan sudut pandang berbeda. Paterson (2016) Sutradara: Jim Jarmusch Sinopsis: Berfokus pada Paterson, seorang pengemudi bus di kota Paterson, New Jersey. Setiap hari, Paterson selalu melakukan aktivitas yang sama dalam rutinitasnya yang sederhana, dia mengendarai busnya di rute yang sama, melihat kiri kanan kota itu melalui spion busnya sambil mendengar orang-orang berbicara di sekitarnya. Dia menulis syair di dalam laptopnya, berjalan bersama anjingnya, lalu berhenti di sebuah bar dan minum bir dan tepat hanya satu gelas saja, kemudian dia pulang ke istrinya Laura. Namun berbeda halnya dengan hati Laura; baginya dunia terasa terus berubah. Sebuah mimpi baru selalu hadir dipikirannya setiap hari. (Film Bioskop)

29.05.17

Kwitang 14

Mengunjungi Kwitang 14 yang menawarkan ruang baca baru di area Jakarta Pusat. Dikelola bersama Cinema Poetica, Kwitang merupakan tempat kecil yang membuka wacana dan diskusi baru seputar film, kesenian dan kemanusiaan.

26.05.17

Senandung Trauma dalam “Menara Ingatan” oleh Teater Garasi

Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan oleh pergerakan atas dasar konflik. Transisi kekuasaan dari era kolonial dan kemerdekaan menyisakan daftar sejarah yang memuat riwayat perang. Lewat sebuah pementasan bertajuk Menara Ingatan, Teater Garasi membawakan suguhan teater-musik yang mengangkat kembali riwayat-riwayat konflik di tanah air. Adalah Yennu Ariendra yang menginisiasikan pementasan tersebut. Yennu yang dikenal juga sebagai gitaris dari grup musik Melancholic Bitch ataupun Belkastrelka berusaha mengangkat lagi riwayat konflik tanah air. Ia menceritakan sebuah memoar akan kakeknya yang menjadi korban tragedi 65 pada pengantar pertunjukan. Penampilan “Menara Ingatan” ini didasarkan juga pada riwayat konflik yang signifikan seperti cerita Minak Jinga dan Suku Osing yang dalam sejarahnya selalu menolak dan berkata “tidak” pada kekuasaan yang represif. Teater Garasi dan Menara Ingatan, melakukan manajemen ruang yang baik untuk menampilkan musik dan teater yang proporsional. Pemain musik, penyanyi, dan para pemain teater berbagi panggung dan memainkan repertoire musik berbarengan dengan gerak dan olah tubuh dan eksplorasi properti. Kecermatan komposisi musik yang dibangun oleh Yennu dan kawan-kawan berangkat dari bangunan musik kontemporer yang beragam lewat perpaduan berbagai alat musik tradisional dan efek suara. Menarik bisa mencermati bentuk dramaturgi yang fleksibel dengan menggunakan bantuan medium musik. Saat gerak pemain dan repertoire lagu makin liris, selanjutnya tiba-tiba musik dangdut koplo dimainkan dan lampu warna-warni ikut menyoroti menonton. Ada unsur partisipatoris juga di sana, penonton diminta memakai properti topeng hewan berkulit merah dan diminta ikut berjoget. Saat penggambaran konflik mulai kuat dan berangsur liris, nyatanya semua dibuat lupa oleh sorotan kegembiraan dan perayaan. Jika isu konflik biasanya dibawakan pada karya yang eksplisit mengambil contoh, pelaku dan korban menjadi sorotan yang sensitif. Dengan membawa nuansa dan muatan yang disembunyikan, isu konflik menjadi sesuatu yang bisa direnungkan. Begitulah “Menara Ingatan” ditampilkan, memberi ruang refleksi atas konflik tanpa membebani pandangan tertentu.

Column
25.05.17

Penjara Rasa

Melalui submisi open column, Muhammad Rahaddis Adiyoga menangkap resah hati dan ketakutan dari pengungsi Rohingya dalam gambar dan tulisan. Ia bercerita mengenai kronologi dan masalah yang dihadapi oleh para pengungsi di bawah kuasa peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.