Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Belakangan, serial televisi Amerika dan Inggris banyak mengadaptasi buku yang telah lebih dulu terbit. Kesuksesan Game of Thrones yang dianggap sebagai serial terbaik sepanjang masa, menjadikan alih wahana buku ke dalam layar seperti hiburan yang baik untuk mengisi kesenjangan hiburan lokal. Nama Neil Gaiman sebagai penulis kontemporer yang penting memiliki tempat tersendiri bagi beberapa penggemarnya. Banyak rencana untuk mentransformasi beberapa tulisan Gaiman sebelumnya seperti novel grafis Sandman yang belum terealisasi sampai sekarang, namun mungkin tahun ini bisa jadi tahun yang baik karena American Gods mulai disiarkan.
Dengan visual dan yang mendukung cerita, American Gods berkomitmen untuk menjalankan keseluruhan buku. Neil Gaiman dibawa sebagai produser eksekutif yang mengawal berbagai proses dari mulai hingga penyutradaraan. Bisa jadi, Gaiman ingin para pembaca dan penggemarnya yang lebih dulu membaca American Gods tidak kecewa dengan jalan cerita dalam serial yang bisa jadi cacat jika diterjemahkan oleh sembarang orang untuk kemudian diangkat ke dalam layar.
American Gods kaya akan referensi mitologi. Tak hanya mitologi Nordic dan Slavic namun juga mengangkat tokoh-tokoh dari mitologi Mesir dan Hindu. Sederhananya, cerita dalam American Gods mengisahkan para dewa lama (Old Gods) yang akan berkonfrontasi dengan dewa baru (New Gods). Jika ditafsirkan secara kasar, Gaiman menghadirkan sajian konflik antara keyakinan lama yang digerus oleh modernitas. Peradaban dibangun oleh perang dan keyakinan yang berdasar pada suatu aspek dan simbol tertentu yang seiring waktu mengalami perubahan. American Gods adalah cerita yang menyediakan ruang yang baik untuk kembali mempertanyakan keyakinan dan membuka pandangan atas kekuasaan-kekuasaan yang kita kehendaki.
Berkat pengalamannya dalam bidang jurnalistik, Andreas Harsono terkenal dengan jurnalisme sastrawinya di awal reformasi. Selain itu, ia juga berkecimpung aktif dalam penegakan hak asasi manusia. Whiteboard Journal berkesempatan berbincang bersamanya untuk membahas perjalanan hidup, jurnalisme era sekarang, dan mengapa negara sulit mengakui kesalahan masa lalu.
Teater Payung Hitam bukanlah nama baru, malah namanya seperti hantu yang ingin hidup kembali. Tahun lalu mereka melakukan pentas di rumahnya, Bandung untuk memperingati usia 34 tahun sejak Rachman Sabur mendirikannya. Rabu dan Kamis (17-18/5) lalu mereka tampil di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki setelah mungkin hampir 10 tahun tidak menggelar pertunjukan di sana.
Membawa pementasan yang sama dengan pementasan akhir tahun lalu yang diberi judul “Post-Haste”, Payung Hitam dengan cermat membaca kritik yang kontekstual. Manajemen ruang dan para pemain yang bergerak di atas panggung memberi gambaran yang gelap. Properti yang rusak dan arus gerak pemain adalah jalan Rachman Sabur memberi tekanan akan modernisme yang kita jalani. Sesuatu terjadi dan dengan tanpa ancang-ancang yang pasti sesuatu lain terjadi seperti kejadian dan berita yang kita lihat mewarnai media.
Kehidupan kini tak seperti kisah yang sederhana. Segalanya berjalan begitu cepat dan dengan tanpa gambaran yang jelas mengantar kita pada tujuan. Dengan membawa tubuh, gerak, dan gaya teater yang tak biasa, pesan satir justru bisa diterima oleh siapapun yang ingin sejenak berhenti dan menyadari bahwa kita telah diseret oleh kekuatan yang amat cepat.
Marjin Kiri Publisher adalah penerbit lokal yang secara independen berdedikasi untuk menghadirkan berbagai judul buku filsafat, sastra hingga berbagai topik penting lainnya. Bekerja sama dengan Windu Jusuf dari Indoprogress.com, Whiteboard Journal memilih delapan judul buku penting dari rilisan Marjin Kiri.
Hip hop barangkali adalah subkultur yang dalam kurun waktu dekat bisa menelurkan banyak nilai dan simbol baru. Aplikasi musik, fashion, dan gaya hidup masyarakatnya yang terbuka menjadikan ruang ini seakan menerima apapun dan siapapun menjadi bagiannya. Dulu punk digadang-gadang sebagai budaya tandingan dari hip hop tapi nyatanya banyak juga yang mampu mengawinsilangkan mereka seperti apa yang dilakukan oleh Homicide. Tak jarang juga, beberapa yang tidak menawarkan gaya baru dalam hip hop hari ini justru menjadi penawar akan kerinduan pada bangunan beat yang sederhana namun menjelajah alam tekstual yang dulu menjadi kekuatan rap sebagai bagiannya.
Tak banyak yang mengenal Alfabeta, satuan hip hop dari Ternate yang keriuhannya sudah ada sejak 2012. Sempat menelurkan album penuh berjudul Dream Rhyme Amazing atau yang biasa disingkat D.R.A., pada bulan April kemarin mereka meluncurkan EP berjudul Pancarima. Mengambil judul yang tegas dan menyindir, Alfabeta menekankan ‘rima’ sebagai kekuatan tekstual dari produk hip hop pada rilisan terbarunya. Rasanya sudah banyak wajah baru yang tampil hip hop namun terbata-bata saat menyusun rima, butuh waktu untuk wajah-wajah baru itu punya kualitas seperti Alfabeta.
Mengambil bangunan dan beat beragam untuk setiap lagunya, 5 lagu mereka memberi variasi yang membuatnya mudah dinikmati. Yang menarik dari proyek baru mereka ini adalah hadirnya nama Senartogok, seorang vokalis folk yang juga banyak meremix beberapa lagu lintas-genre pada kanal YouTubenya. Senartogok campur tangan pada dua lagu dan salah satunya adalah pada lagu ‘Budi’ yang jika didengarkan dengan seksama terdapat sample lagu Tigapagi “Tangan Hampa Kaki Telanjang” yang petikan gitarnya diulang dan memberi nuansa nada pentatonik untuk mengiringi beat pada lagu.
Jika produksi musik hip hop East Coast banyak mengemban sample tiupan terompet jazz, Alfabeta dengan cermat menggunakan elemen yang terasa lebih tradisional untuk mewarnainya. Ditambah muatan lirik yang penuh perhatian, bisa jadi Pancarima adalah rilisan hip hop dalam negeri terbaik menuju pertengahan tahun ini.
Soul
Listen to this episode of Fat Cat Ffonz on Whiteboard Journal's Mixcloud.
1 I Put A Spell On You by Nina Simone
2 Mama’s Got A Good Thing by Laura Lee
3 The Wailer by Sonny Cox
4 Sweetback's Theme by Brer Soul & Earth, Wind and Fire
5 Ray Charles' Place by Duke Ellington and Coleman Hawkins
6 My Little Suede Shoes by Charlie Parker's Jazzers
7 Time is Tight by Booker T and MG’s
8 Love Me or Leave Me by Nina Simone
9 Tom Cat by Muddy Waters
10 I Just Want to Make Love to You by Muddy Waters
11 Mr. Big Stuff by Elder Jimmy Hicks
12 Freddie's Dead by Curtis Mayfield
13 Making It Better by The Barons Ltd
14 I've Got Reasons by Mary Jane Hooper
15 Keep On Movin' On by Martha Reeves
16 What Do You See in Her by Inell Young
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?