Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Mendengar kata “diva,” ada 2 makna yang langsung terlekat padanya. Pertama adalah kata benda berupa penyanyi perempuan yang glamor, kedua adalah kata sifat yang diambil berdasarkan karakter penyanyi perempuan yang dielu-elukan tersebut. Lantas ketika sebuah bertema marak ditemui di klub-klub, wajar jika lagu yang diputar adalah lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Madonna, Mariah Carey, dan tidak lupa Whitney Houston. Hal tersebut pula yang ingin dicoba oleh Videostarr. Setelah sukses dengan Time After Time After Time, kali ini mereka hadir dengan bernama CherryBomb!
Menggunakan tema kali ini 4 orang sekawan di balik inisiator deretan inklusif ingin membuat pada pemahaman publik terhadap kata “diva.” Alih-alih sekadar menghadirkan lagu diva yang kita ketahui, mereka ingin menekankan kata “diva” sebagai kata sifat. Kami berkesempatan untuk menanyakan maksud CherryBomb dan meminta 5 lagu diva versi Videostarr.
seperti pada umumnya?
Lewat CherryBomb, kami mencoba untuk mengangkat lagu-lagu diva dengan kemasan dan interpretasi ala Videostarr. Kami ingin memberi pada pemahaman bahwa diva itu tidak melulu penyanyi wanita glamor, tapi lebih nunjukin kalau Lagipula, diva bukan penyanyi perempuan saja kok.
Lewat CherryBomb, kami mencoba untuk mengangkat lagu-lagu diva dengan kemasan dan interpretasi ala Videostarr. Kita ingin memberi pada pemahaman bahwa diva itu tidak melulu penyanyi wanita glamor, tapi lebih nunjukin kalau diva sendiri itu juga dapat diartikan kedalam beberapa aspek, dari sehingga seseorang yang mengekspresikan dirinya dengan penuh percaya diri tanpa pengaruh dari orang lain. Jadi menurut kami, diva itu tersirat dari persona yg dibawa seseorang, dan di dunia musik, persona tersebut muncul baik di musisi pria maupun wanita, sehingga diva sepatutnya tidak memandang gender.
?
Karena tidak harus ada batasannya dan kami ingin me- benang merah dengan lain kita. Layaknya lagu-lagu pada Time After Time After Time, banyak lagu yang dibawakan oleh para diva ini dikesampingkan di acara dansa. Mereka sudah diasingkan ke kategori karaoke padahal kebanyakan lagu mereka sangat bisa dinikmati di acara dansa.
Madonna - Holiday
Tina Turner - Love Explosion
George Michael - Careless Whisper
Ariana Grande - Focus
Titi DJ - Sang Dewi
Karena mereka lintas era, genre, gender dan
-
Rawdeal
Klapr
Ankka
Kamis, 29 Juni 2017
Lucy in the Sky
21:00
A feast for the eyes is certainly one way of describing this 2014-released film directed by Jon Favreau, which also stars himself. A journey of passion, dream chasing, all in the midst of a mid-life-crisis-led epiphany, Favreau takes us diving into a world of culinary creativity, while showing us how equivalent to art food may be, and also how ageless passion is.
Favreau definitely did his homework by turning himself into a seemingly experienced cook with what anyone would guess to be years of experience, which came just as natural as the dimensions of emotions that the film tried to show. Following the titular Chef’s struggles in getting back onto his feet after being publicly humiliated and fired from his job, this one would probably make you think twice about settling for just about anything.
Overall, Chef makes a pleasing delivery of its storyline, which is further ‘spiced up’ by its choice of soundtracks (that you probably would feel like dancing to), and of course with generous amounts of screen time for the seemingly savory delights featured in it. Be careful not to watch it on an empty stomach though!
Chef (2014)
Directed by Jon Favreau
Synopsis: Chef follows the journeys of a struggling chef trying to re-explore his love for cooking, while also juggling the ups and downs of his personal life.
Kehadiran museum sebagai wadah yang menawarkan retrospeksi, mampu memberikan pengalaman unik bagi wisatawan yang memilih destinasi liburan di Sydney. Tidak hanya menampilkan dunia alternatif kepada wisatawan, deretan museum yang ada mampu memberikan substansi dan interpretasi berbeda ketika berlibur ke Sydney. Rasakan secara langsung pengalaman seni ala Sydney dengan penerbangan bintang 5 bersama Garuda Indonesia.
Seni memang tak mengenal batasan. Ia dapat mendobrak sekat-sekat yang kiranya sulit diterobos demi mendapatkan esensi maupun filosofis kuat di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu subjek pameran Skulptur Projekte Munster; sebuah acara seni tahunan yang diinisiasi oleh Kasper Konig di Münster, Jerman berjudul After ALife Ahead karya seniman asal Prancis, Pierre Hyughe.
Dalam karyanya, Hyughe membuat sesuatu yang besar, kompleks, dan rumit secara teknis maupun penyampaian pesan. Ia menyulap gelanggang olahraga yang tidak terpakai menjadi wahana kreasinya. Tak main-main bereksplorasi, Hyughe menempatkan semacam pusat pengembangbiakkan sel kanker dengan kumpulan kehidupan yang saling berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung.
Walaupun terdengar mengerikan, nyatanya Hyughe juga menyertakan instrumen pengetahuan yang dapat diakses melalui aplikasi buatannya. Mulai sekedar mengetahui pola alami dalam spektrum akuarium, memonitori pergerakan bakteri, mengawasi tingkat karbondioksida, sampai memastikan data algoritma yang ia pasang guna mengukur tingkat vitalitas rata-rata maupun capaian informasi pada inkubator sel berjalan sedemikian rupa.
Sebelumnya dalam documenta 13 dan Palais de Tokyo, Huyghe juga pernah bereksperimen dengan kegilaan seperti ini. Ia tak ragu mengelola interaksi algoritma dan sel kanker dalam pengendalian kecepatan replikasi. Selain itu, ia membangun lingkungan dengan patung berkepala lebah serta dua bulldog sebagai pusatnya lantas orang-orang mengelilinginya seolah sedang terjadi absurditas di depannya.
Dengan After ALife Ahead Huyghe hendak menyampaikan isi pikirannya menyoal kehidupan dalam lingkup luas. Bahwasanya di balik proses yang melibatkan pelbagai perkakas berat serta formulasi sulit macam perhitungan dan lain-lain, kita, manusia, hanya bisa mengendalikan sebagian kecil dari inti kehidupan. Yang bisa kita lakukan hanya mencampurinya dengan teknologi atau mengintervensi dengan bumbu politis. Dua hal yang membuktikan jika semua tak berakhir baik-baik saja.
Sudah banyak kasus mengenai keluarnya salah satu anggota band dengan alasan ingin fokus menggarap proyek pribadi. Hal tersebut pula yang terjadi pada Peter Sagar; gitaris Mac DeMarco. Di tahun 2014 Sagar membulatkan tekad untuk mundur dari naungan Mac DeMarco guna meneruskan -nya yang sudah dikerjakan sejak tahun 2012.
Membawa entitas HOMESHAKE, dalam rentang waktu 3 tahun Peter telah melepas total tiga buah studio album; In the Shower (2014), Midnight Snack (2015), serta yang terbaru Fresh Air (2017). Walaupun mengusung tema Peter tak sendirian. Ia turut dibantu oleh Mark Goetz, Greg Napier, dan Brad Loughead dalam meramu karya-karyanya yang berlandaskan synth pop hingga alternative R&B.
Berbicara tentang album barunya, kita akan menjumpai banyak kontemplasi yang unik. Fresh Air memuat 14 (empatbelas) nomor yang memiliki karakter kuat nan kaya eksprimen. Misal di track “Hello Welcome”, HOMESHAKE sedikit memberikan ketukan downtempo dengan sisipan nafas jazz di petikannya. Atau “Every Single Thing” yang membaurkan aroma soul dengan pedal yang samar-samar. Dan yang terbaik tetap jatuh pada “Wrapping Up”; komposisi pengkultusan lo-fi, pola sampai abstraknya mesin efek.
Dari sepetak kamar di kawasan suburban Quebec dengan peralatan seadanya yang mungkin dipinjam dari studio sebelah apartemen, Peter dan teman-temannya membuat karya orisinil tiada dua. Membicarakan masalah identitas, bosannya kancah lokal setempat, maupun mencela habis-habisan konsepsi mengenai politik terdengar lebih menyenangkan dengan balut musikalitas yang berkelindan genre. Jadi, masih menyimpan berapa ratus yang belum diedarkan ke khalayak, Peter?
Fresh Air by HOMESHAKE
Muhammad Fahri adalah gitaris dari unit horror punk, “Kelalawar Malam”. Di panggung, ia dikenal dengan nama “Fahri Al-Maut” dimana ia bersama Kelalawar Malam menawarkan bangunan musik dengan ritme dan nuansa horror yang mencekam. Dalam episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Fahri untuk memilih lima album musik pilihannya.
Berat, agresif, sekaligus melodis. Lagu - lagu di album ini cocok dinyanyikan bersama sembari mengasah kapak perimbas dan menunggu serangan dari dusun tetangga.
Remission mungkin terdengar lebih laki - laki, tapi Crack the Skye membuat saya ingin mempelajari ilmu kebalnya Grigori Rasputin walaupun katanya itu hanya sebatas mitos.
Jangkauan vokal bagai orang kerasukan, instrumen yang tampak lebih pantas digunakan untuk berburu macan di pedalaman, dan pertunjukan yang lebih mirip ritual tolak bala ketimbang sekedar konser musik. Senyawa adalah sekte.
Lebih dari sekedar grup world music, Suarasama memainkan komposisi yang variatif, poliritmik, namun tetap terdengar natural. Album ini seketika membuat saya menjadi fanboy Irwansyah Harahap.
Adik saya yang pertama kali memperkenalkan saya pada Rabu. Debut album ini disertai dengan kemasan yang menarik. Besek berisi cakram padat dan perlengkapan sesajen sederhana. Putar album ini untuk menghadirkan Asu Baung dalam tidur mu.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?