Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Happy holiday!
01. Donald Byrd - Love Has Come Around
02. George Duke - Brazilian Love Affair
03. Rick James - Give It to Me Baby
04. Donna Summer - Spring Affair
05. Roy Ayers - Running Away
06. Marvin Gaye - Got to Give It Up
07. Letta Mbulu - Nomalizo
08. Parliament - Give Up the Funk
09. Sister Sledge - He's the Greatest Dancer
10. War - Low Rider
Surely we’ve all seen at least a couple of Getty’s stock photos at some point. However, perhaps it has failed to come to most of society’s attention that those photos may be too ‘generic’, too ‘bland’, and don’t inclusively reflect the actual picture of society race-wise. In reality, society has more colors, more vibrant characters, and certainly more to include in photos that supposedly represent society’s daily, regular endeavors.
British-Ghanaian photographer Campbell Addy attempts “to highlight and celebrate diversity in society and ultimately drive positive change in visual language," as he puts it, in order to ‘recolor’ Getty’s stock photos to become more inclusive of society. By further examining the complexities of racial identity, Addy also attempts to explore more of not only race but also sexualities. It may be concluded that the upcoming Getty images would no longer simply be mere illustrations of society’s daily activities, but holds the grander purpose to capture society’s colors and energies beyond the illustrative functions of a photo.
The 24 year-old London based photographer’s fresh new intakes of what to capture from society may be something to look forward to. After all, they may hold more than just posing models; they may hold ‘stories’ of today’s reality, which can be seen simply by paying attention to the colorful angles captured in them.
Check out the complete collection here.
Pada submisi open column-nya, Nugroho menghidupkan kembali ingatan-ingatan tentang Stadion Lebak Bulus. Tentang teriakan yang dulu bersumber dari bangku penonton, juga aksi hingga sejarah yang pernah tercipta di atas rumputnya.
Di saat teman-temannya sibuk memilih gaun dan mencari pasangan untuk menghadiri pesta pelepasan, Ella Marija Lani Yelich-O'Connor justru berdiam diri di kamarnya. Ia seolah tak ambil pusing dengan acara bergengsi bagi remaja berusia 17 tahun dan meneruskan membaca Anderson, Carver, dan Salinger. Baginya, memenuhi isi kepala merupakan prioritas utama yang kelak jadi bekal terbaiknya dalam mengarungi dunia musik dan menciptakan salah satu karya besar berjudul Pure Heroin.
Semesta mengenalnya sebagai Lorde; gadis belia asal Takapuna, Selandia Baru yang menghentak kekagetan massal kala melepas album perdana dengan hits “Royals.” Di usia yang kurang dari seperlima abad, Lorde sudah meraih segala bentuk kesuksesan; menguasai Billboard, tur dunia, serta merengkuh piala Grammy. Semua dilakukan begitu cepat atau jika tak ingin disebut mendadak, sebelum akhirnya ia memutuskan kembali ke kehidupannya yang normal.
Namun empat tahun kiranya waktu yang cukup guna melepas bermacam atribut masa silam. Ia tak dapat berlama-lama sembunyi dari kejaran penantian dan lantas mewujudkan album keduanya yang baru dirilis beberapa hari yang lalu. Melodrama, begitu judul albumnya tertera, memuat sebelas nomor yang kaya warna art pop sampai indietronica. Menggandeng Jack Antonoff selaku produser, Lorde berhasil menaikan kapasitasnya ke level yang mengagumkan.
Hal tersebut dapat dilihat tatkala ia menyanyikan “Perfect Places” dengan penjiwaan yang terlampau sukar ditebak. Suaranya membelah lautan kemustahilan; terkadang meletupkan secerah harapan, terkadang pula membunuhnya secara perlahan. Tak ada yang mengerti kegelisahan seperti apa di balik kontur electro pop berdurasi empat menit ini. Tapi mengapa musti ambil pusing? Setidaknya dengan kehadiran Melodrama kita paham ke mana Lorde membawa seluruh angannya yang setapak demi setapak menerangi isi batinnya.
Seni memang tidak bisa dikatakan sebagai suatu kesatuan yang tetap, tapi justru layak diapresiasi dengan kedinamisannya. Dinamika kontemporer dari senilah yang ingin ditunjukkan melalui seni Acute Art di Stockholm tahun ini, di mana beberapa seniman ternama seperti Marina Abramović, Jeff Koons, dan Olafur Eliasson berupaya menciptakan suatu realita virtual yang ditampilkan bagi masyarakat umum untuk menggugah pemahaman dan perasaannya melalui ilusi akan realita yang bertemakan eksistensi, perubahan iklim, dan pencarian pelangi di tengah rintik-rintik air.
Bentuk seni baru ini memang bertujuan untuk membuat penikmatnya merasa seolah berada di tengah suatu ilusi akan realita yang digambarkan melalui sebuah alat interaktif. https://casinoreg.net provides inexperienced players with the most detailed casino FAQ virtual, menerima keberadaan dari ilusi realita yang disuguhi jenis seni seperti inilah yang justru berkesan, lebih dipahami, dan bisa tetap sebagai lebih dari sekadar pameran seni ‘asal lewat’ saja.
Kehadiran pada Acute Art ini menjadi wujud nyata ketahanan seni di masa digital bahwa seni mampu progresif dalam merespon zaman - dan menggugah pikiran dan perasaan melalui realita yang diciptakannya sendiri.
Profesi sebagai aktor tak menutupi keingintahuan Nicholas Saputra untuk mengeksplorasi beragam tempat lewat traveling. Kami mewawancarai Nicholas Saputra di sela kesibukannya untuk bertanya tentang responsible travel dan proyeknya bersama Angki Purbandono yang dipamerkan di Art Jog 2017.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?