Latest stories

Selected
23.06.17

Febyac

Happy holiday! 01. Donald Byrd - Love Has Come Around 02. George Duke - Brazilian Love Affair 03. Rick James - Give It to Me Baby 04. Donna Summer - Spring Affair 05. Roy Ayers - Running Away 06. Marvin Gaye - Got to Give It Up 07. Letta Mbulu - Nomalizo 08. Parliament - Give Up the Funk 09. Sister Sledge - He's the Greatest Dancer 10. War - Low Rider

22.06.17

Adding ‘Colors’ to Getty Images

Surely we’ve all seen at least a couple of Getty’s stock photos at some point. However, perhaps it has failed to come to most of society’s attention that those photos may be too ‘generic’, too ‘bland’, and don’t inclusively reflect the actual picture of society race-wise. In reality, society has more colors, more vibrant characters, and certainly more to include in photos that supposedly represent society’s daily, regular endeavors. British-Ghanaian photographer Campbell Addy attempts “to highlight and celebrate diversity in society and ultimately drive positive change in visual language," as he puts it, in order to ‘recolor’ Getty’s stock photos to become more inclusive of society. By further examining the complexities of racial identity, Addy also attempts to explore more of not only race but also sexualities. It may be concluded that the upcoming Getty images would no longer simply be mere illustrations of society’s daily activities, but holds the grander purpose to capture society’s colors and energies beyond the illustrative functions of a photo. The 24 year-old London based photographer’s fresh new intakes of what to capture from society may be something to look forward to. After all, they may hold more than just posing models; they may hold ‘stories’ of today’s reality, which can be seen simply by paying attention to the colorful angles captured in them. Check out the complete collection here.

Column
22.06.17

Sanggraha

Pada submisi open column-nya, Nugroho menghidupkan kembali ingatan-ingatan tentang Stadion Lebak Bulus. Tentang teriakan yang dulu bersumber dari bangku penonton, juga aksi hingga sejarah yang pernah tercipta di atas rumputnya.

21.06.17

Lorde dan Pemahaman Pasca Bersembunyi

Di saat teman-temannya sibuk memilih gaun dan mencari pasangan untuk menghadiri pesta pelepasan, Ella Marija Lani Yelich-O'Connor justru berdiam diri di kamarnya. Ia seolah tak ambil pusing dengan acara bergengsi bagi remaja berusia 17 tahun dan meneruskan membaca Anderson, Carver, dan Salinger. Baginya, memenuhi isi kepala merupakan prioritas utama yang kelak jadi bekal terbaiknya dalam mengarungi dunia musik dan menciptakan salah satu karya besar berjudul Pure Heroin. Semesta mengenalnya sebagai Lorde; gadis belia asal Takapuna, Selandia Baru yang menghentak kekagetan massal kala melepas album perdana dengan hits “Royals.” Di usia yang kurang dari seperlima abad, Lorde sudah meraih segala bentuk kesuksesan; menguasai Billboard, tur dunia, serta merengkuh piala Grammy. Semua dilakukan begitu cepat atau jika tak ingin disebut mendadak, sebelum akhirnya ia memutuskan kembali ke kehidupannya yang normal. Namun empat tahun kiranya waktu yang cukup guna melepas bermacam atribut masa silam. Ia tak dapat berlama-lama sembunyi dari kejaran penantian dan lantas mewujudkan album keduanya yang baru dirilis beberapa hari yang lalu. Melodrama, begitu judul albumnya tertera, memuat sebelas nomor yang kaya warna art pop sampai indietronica. Menggandeng Jack Antonoff selaku produser, Lorde berhasil menaikan kapasitasnya ke level yang mengagumkan. Hal tersebut dapat dilihat tatkala ia menyanyikan “Perfect Places” dengan penjiwaan yang terlampau sukar ditebak. Suaranya membelah lautan kemustahilan; terkadang meletupkan secerah harapan, terkadang pula membunuhnya secara perlahan. Tak ada yang mengerti kegelisahan seperti apa di balik kontur electro pop berdurasi empat menit ini. Tapi mengapa musti ambil pusing? Setidaknya dengan kehadiran Melodrama kita paham ke mana Lorde membawa seluruh angannya yang setapak demi setapak menerangi isi batinnya.

21.06.17

Seni dan Realita Virtual

Seni memang tidak bisa dikatakan sebagai suatu kesatuan yang tetap, tapi justru layak diapresiasi dengan kedinamisannya. Dinamika kontemporer dari senilah yang ingin ditunjukkan melalui seni Acute Art di Stockholm tahun ini, di mana beberapa seniman ternama seperti Marina Abramović, Jeff Koons, dan Olafur Eliasson berupaya menciptakan suatu realita virtual yang ditampilkan bagi masyarakat umum untuk menggugah pemahaman dan perasaannya melalui ilusi akan realita yang bertemakan eksistensi, perubahan iklim, dan pencarian pelangi di tengah rintik-rintik air. Bentuk seni baru ini memang bertujuan untuk membuat penikmatnya merasa seolah berada di tengah suatu ilusi akan realita yang digambarkan melalui sebuah alat interaktif. https://casinoreg.net provides inexperienced players with the most detailed casino FAQ virtual, menerima keberadaan dari ilusi realita yang disuguhi jenis seni seperti inilah yang justru berkesan, lebih dipahami, dan bisa tetap sebagai lebih dari sekadar pameran seni ‘asal lewat’ saja. Kehadiran pada Acute Art ini menjadi wujud nyata ketahanan seni di masa digital bahwa seni mampu progresif dalam merespon zaman - dan menggugah pikiran dan perasaan melalui realita yang diciptakannya sendiri.

Art
21.06.17

Jelajah Alam bersama Nicholas Saputra

Profesi sebagai aktor tak menutupi keingintahuan Nicholas Saputra untuk mengeksplorasi beragam tempat lewat traveling. Kami mewawancarai Nicholas Saputra di sela kesibukannya untuk bertanya tentang responsible travel dan proyeknya bersama Angki Purbandono yang dipamerkan di Art Jog 2017.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.