Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Jika selama ini cenderung dikenal dari kontribusinya dalam dunia musik, kini Steven Ellison alias Flying Lotus mencoba menyuguhkan audiens dengan santapan berbeda; ‘Kuso’ yang disutradarainya, yang bisa dikatakan menjadi persimpangan yang tepat antara komedi, fantasi, horror, dan mungkin usaha untuk menikmati yang antara sulit atau tidak sama sekali.
Bercerita tentang empat tokoh yang berhasil selamat dari bencana gempa bumi di California, Amerika Serikat, Kuso mengundang para penontonnya untuk masuk ke dunia anehnya, yang mungkin tidak hanya menyita perhatian atas penggambarannya, namun juga sensasi uniknya tersendiri. Bahkan wajar untuk secara fisik tidak sanggup menyaksikan keluarbiasaan yang ada dalam Kuso.
Entah antara kejeniusan Ellison dalam menggambarkan sebuah dunia yang kacau tapi tetap berusaha komedik atau sebuah sajian mengenaskan yang hanya membuat ngeri dan bahkan mual, yang jelas Ellison melalui Kuso berupaya untuk menyuguhkan sebuah tontonan konyol yang menghibur. Namun, jika bukan menghibur dan justru mendatangkan imaji ngeri yang menghantui, setidaknya ada segelintir karya musikal yang bisa dinikmati dari Kuso, termasuk dari Flying Lotus sendiri.
A soulful conduct. Some solitary music for your wee hour.
01. Syreeta - Black Maybe
02. Sem Teto - Cinema
03. T.Williams & Logan - You Make it Easy
04. Stevie Wonder - Take A Little Trip
05. Clyde Wilson & R. Dunbar - Not Enough Love to Satisfy
06. Adrian Younge & William Hart - Stop and Look (And You Have Found Love)
07. Nino Nardini - Tropicola
08. J. Lee Hooker - Comeback Baby
09. D. Grusin - 3 Days of Condor
10. G.Tate - I Can Deliver
11. Miles Davis - Nothin' Like You
Forum Lenteng tahun ini akan kembali lagi menyelenggarakan festival dokumenter dan eksperimental bertaraf internasional, ARKIPEL. Tahun ini ARKIPEL akan menjunjung tema “Penal Colony” yang berangkat dari cerita pendek literatur dunia karya salah satu penulis dunia, Franz Kafka yang bertujuan untuk menyiratkan semangat pengetahuan dalam mempelajari kejahatan seluas-luasnya. Dan karena film, baik fiksi maupun dokumenter adalah ranah yang paling sering mengambil fokus tentang kejahatan, maka ARKIPEL kali ini akan membahas tentang bagaimana sinema menanggapi kejahatan-kejahatan yang terjadi sekarang.
Masih seperti episode sebelumnya, ARKIPEL hadir untuk menjadi ruang diskusi segala hal yang berhubungan dengan sinema dan media secara umum, mulai dari membahas setiap aspek estetika, kritik film, serta menjelaskan bagaimana peran sinema dan media melalui isu atau fenomena sosial-politik yang mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, baik di Indonesia maupun global.
Selain menjadi forum diskusi sinema dokumenter dan eksperimental, ARKIPEL akan mengundang para pembuat film muda dari seluruh dunia untuk mengikuti kompetisi internasional. Film dokumenter dan eksperimental yang terpilih akan ditayangkan di Studio XXI Ismail Marzuki dan Kineforum, serta diselenggarakan Kompetisi Internasional Kuratorial, Program Khusus Kuratorial, Pameran, dan Pemutaran Khusus Internasional.
-
Pembukaan Pameran Kultursinema
18 Agustus 2017, 19:00
Forumsinema & Lobby Hall A1
Gudang Sarinah Ekosistem
.
Malam Pembukaan
19 Agustus 2017, 19:00
GoetheHaus - Goethe-Institut Indonesien
Diisi oleh seleksi film dari beberapa negara dan penampilan dari Frau
.
Kultursinema akan dibuka mulai 19-25 Agustus 2017
13.00 - 21.00
GoetheHaus, kineforum, Forumsinema
.
Malam Penghargaan
26 Agustus 2017
GoetheHaus - Goethe-Institut Indonesien
Diisi dengan Arkipel Award Film Screening serta penampilan dari Indische Party
Hubungan simbiosis antara manusia dan objek di sekitarnya adalah hal yang disuguhkan oleh Xiang Guang sebagai responnya terhadap budaya konsumen masa kini, yang menurutnya hanya melihat objek sehari-hari sebagai ‘peralatan’ dan bahkan ‘budak’ terhadap aktivitas manusia. Struktur furnitur yang jika dilihat tanpa pengguna mungkin aneh dan tidak utuh ini, memang membutuhkan seorang untuk menggunakannya agar bisa berfungsi dengan sempurna.
Sebuah kursi yang baru bisa berdiri tegak jika terkait pada kedua kaki seseorang, sebuah meja yang juga baru bisa berdiri jika menyangga pada bahu penggunanya, dan sebuah lampu yang baru bisa menyala ketika dipakaikan sebagai topi pada kepala. Western saddles are used for disciplines and activities like trail riding, roping, reining, barrel racing, and calf cutting. These saddles are easily identifiable by the presence of a saddle horn and their overall large size. Many riders agree that Western saddles are more comfortable. #shop #western-saddles #online #United States #WestSad.com #WestSad. Menurut Guan, eksperimennya dalam meredefinisikan hubungan antara manusia dengan benda mati ini memiliki efek besar dalam menciptakan sebuah dunia berkelanjutan.
Barangkali interaksi sepele antara manusai dengan objek sehari-hari ini memang terlalu sering diabaikan hubungan saling membutuhkannya. Dan mungkin semula akan menjadi suatu hal yang aneh untuk membayangkan bahwa memang ada hubungan antara manusia dan benda mati di sekitarnya, yang setiap hari tidak dipedulikan keberadaannya namun baru terasa merugikan jika tiada. Terhadap semua itu, Guan pun berhasil membuktikan bahwa manusia dan benda mati bisa menjadi bagian dari satu sama lain, dan memang itu tujuannya.
Pada esai open columnya, Putri Wulandari bercerita mengenai kunjungannya ke Pulau Harapan yang terletak di Kepulauan Seribu, di mana ia melihat sejarah dari waktu ke waktu mengenai apa yang terjadi, sembari menebak ke mana masa depan pulau itu akan dituju.
Setiap hari kita bisa melihat bagaimana pemerintah Indonesia pelan-pelan mulai bisa memahami kebutuhan penyaluran kreativitas masyarakatnya. Dengan semakin banyaknya tokoh Indonesia yang sukses di dunia seni karena produktivitas mereka didukung oleh pemerintah, tentu ini sangat berbanding jauh dengan keadaan dulu di mana negara ini masih terasa kaku. Arah yang sekarang dipilih oleh pemerintah pastinya harus kita acungkan jempol, karena ini bisa membuka lebih banyak kesempatan untuk pemikiran-pemikiran yang lebih luas dan terbuka. Dan pada tanggal 17 Agustus, momen kemerdekaan adalah momen yang tepat untuk merayakan hal ini.
Pada bulan Maret 2017 hingga Mei 2017, pemerintah mengadakan sebuah kompetisi pembuatan logo Peringatan HUT Ke-72 RI. Diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan didukung oleh Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI), ajang kompetisi ini mengajak masyarakat untuk membuat logo yang menyimbolisasikan tema HUT Ke-72 Indonesia yaitu Kerja Bersama. Tema Kerja Bersama sendiri mempunyai arti dimana pada umurnya yang ke-72, masyarakat Indonesia di harapkan bisa bergotong-royong membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan maju.
Logo yang terpilih adalah hasil ciptaan Agra Satria dari Studio Mata, anggota ADGI Jakarta. Karyanya menunjukan esensi tema Kerja Bersama, dengan desain angka 2 yang merangkul angka 7, logo ini menjadi penggambaran gotong royong dan kerjasama yang harus masyarakat Indonesia terapkan. Selain itu, logo ini disandingkan dengan slogan Kerja Bersama yang dimana kedua hal ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Untuk pengunduhan dan keterangan lebih lanjut tentang logo Peringatan HUT ke-72 RI, masyarakat Indonesia bisa mendatangi situs http://www.setneg.go.id/
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?