Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Dikenal sebagai salah satu pendiri ruangrupa, Ade Darmawan mengantongi bermacam pengalaman yang membuatnya diakui sebagai sosok mumpuni di dunia seni rupa, khususnya kontemporer. Whiteboard Journal menemui Ade untuk membahas persepsi kontemporer dalam seni rupa, hingga sustainability di dalam skena.
Jika pernah menyaksikan atau minimal mendengar mengenai segelintir judul karya dari sutradara Amerika Serikat yang kaya akan kekhasannya sendiri ini seperti Moonrise Kingdom, The Royal Tenenbaums, Fantastic Mr. Fox, hingga yang terbaru yakni The Grand Budapest Hotel, mungkin juga pernah mendengar bagaimana gaya pengambilan gambarnya yang simetris dan kaya akan estetika telah memainkan peran sangat besar dalam memikat penontonnya.
Kesimetrisan tiap adegan yang ketepatannya perlu diacungi jempol, dibumbui dengan warna-warna pastel, serasi dan Belum lagi desain interior maupun eksterior yang ditampilkan cenderung dan seolah berasal dari imajinasi nostalgia seseorang di masa lalu membuat siapapun yang melihatnya merasa terpuaskan. Mungkin itulah beberapa kata yang bisa mendeskripsikan estetika sinematis dari Anderson. Siapa sangka, ternyata banyak orang dari seluruh belahan dunia yang bisa menemukan latar yang seolah berasal dari dunia Anderson dalam kehidupan nyata.
Sebuah komunitas dari Reddit bertajuk Accidental Wes Anderson menjadi pionir gerakan berantai ini. Berbagai gambar yang diambil dengan persisi atau seolah berasal dari dunia khayalan yang menyamai ciri khas Anderson, mulai dari foto kolam renang di Jerman, bangunan hotel berwarna pastel di Slovakia, sebuah bar di Kuba, hingga tempat duduk di sebuah restoran di Tennessee, AS ini banyak mengisi sudut-sudut internet beberapa pekan terakhir.
Siapa yang mengira, ternyata kemagisan sebuah adegan dari karya Wes Anderson tidak sesulit itu untuk bisa dirasakan oleh siapapun, di mana pun. Mungkin kini yang menjadi tantangan baru bagi para pemburu estetika alias pecinta kejeniusan sinematografis dari Anderson, yakni bagaimana merealisasikan kemagisan suatu tempat biasa hanya dengan memainkan persepsi - dan tentunya, sedikit imajinasi.
Sejak tanggal 23 Juli hingga 16 Agustus 2017, OK. Video menggelar pameran rutinnya, dengan tajuk “OK. Pangan.” Berisi paduan audiovisual hingga performance art, gelaran ini mengajak publik untuk menelaah isu politik pangan dengan beragam sudut pandang untuk melihat pangan tidak hanya sebagai kebutuhan, tapi sebagai medium dengan sejarah kebudayaan, mencakup sosial, budaya, hingga ekonomi.
Mostly African and Afro-Colombian goodness
1 Ezuku Buzo by Bola Johnson & His Easy Life Top Beats
2 Yiri Yiri Boum by Gnonnas Pedro
3 Eddie Quansa by Peacocks Guiter Band
4 You Are My Heart by Rex Williams
5 El Manicero Se Va by Afro Festival Led By Fantastic Tchico Tchicaya
6 Unknown
7 Aiye Le by Olufemi Ajasa & His New Nigerian Bros
8 Vibrations Groove by Lord Shorty & Vibrations International
9 Unknown
10 Odoo Be Ba by Pat Thomas, Jwashibu Area Band
11 Tromba by Sabrosa Soul
12 Unknown
13 Igbehin Lalayo Nta by Dynamic Africana
14 Atwer Abroba by Ebo Taylor
15 Unknown
Sebuah usaha untuk menggambarkan kembali suasana dan keglamoran Studio 54 yang legendaris, lengkap dengan sensasi kembali ke era 70-an, Dirty Bones yang kini hadir di Soho, London tidak hanya menjadi sebuah peleburan nostalgia akan sebuah era retro dengan nuansa urban modern. Penggabungan material industri yang mentah dengan unsur mewah, seperti dalam penggunaan kain yang menutupi sebagian permukaan perabotan mampu menunjukkan eksperimentasi elemen dari Dirty Bones, yang justru makin meningkatkan daya tariknya.
Mungkin sensasi berikutnya ialah dapat dirasakannya estetika sebuah apartemen yang penuh gaya dari Brooklyn, New York. Usaha desainer Lotti Lorenzetti ini untuk mereplika kembali atmosfer kultural dan musikal dari era 70-an tersebut dibarengi dengan angannya untuk juga menyuguhkan suasana familiar dan intim dari sebuah ruang publik. Mungkin kenyamanan dan keintiman rasa di antara keasingan dan kebisingan sebuah ruang publik yang mencoba disuguhkan oleh Dirty Bones justru berkontribusi dalam menciptakan atmosfer khasnya sendiri.
Sebuah film animasi pendek Jepang yang mungkin membutuhkan sedikit waktu lebih untuk dipahami. Bercerita tentang petualangan seekor kucing bersama saudaranya menghadapi segala rintangan dalam perjalanannya untuk bisa kembali pulang setelah sebuah bencana melanda tempat tinggalnya. Sejenak mungkin ringkasan kisahnya tidak terlihat luar biasa. Namun percayalah, terlalu banyak surealisme dan analogi sepanjang alurnya untuk bisa ditelan mentah-mentah.
Mungkin cara terbaik untuk bisa mendeskripsikan nuansa yang mewarnai film ini ialah skeptisisme, di samping surealisme dan sedikit bumbu melankolia. Satu cara untuk mempersepsikan pemaknaan dari keseluruhan film mungkin semudah pengisahan dengan analogi Tuhan, dunia, kasih sayang dalam keluarga, hubungan sebab-akibat dalam semesta, hingga keserakahan manusia. Dan tentunya, masih banyak pemaknaan yang bisa lahir untuk memahami animasi ini.
Mengapa skeptis adalah hal pertama yang muncul dalam impresi animasi ini? Karena nuansa yang menghujani film dari awal hingga akhir sangat sulit untuk disebut bahagia. Mungkin satu-satunya yang menjadi penanda adanya harapan dalam film ini ialah di bagian mendekati akhir film yang menggambarkan kekuatak sentuhan kasih sayang yang mampu menghidupkan saudara sang kucing dari keadaan ‘mati.’ Walau durasinya tidak panjang, ada baiknya siapkan mental dan waktu luang untuk menonton film ini.
Sutradara: Tatsuo Sato
Sinopsis: Seekor kucing dan saudaranya mengalami sebuah petualangan surealis demi mengembalikan nyawa saudaranya dari kematian.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?