Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Selain merupakan personil band asal Wandsworth, London Jamie XX juga dikenal sebagai DJ dan produser. Setelah mengeluarkan album We’re New Here (2011) dan In Colours (2015) sebagai buah perkenalan karir solonya, juga memproduksi sejumlah rententan remix lagu, beberapa hari lalu Jamie sekali lagi memperlihatkan kebolehannya dalam mendaur ulang lagu dan memperdengarkannya kembali melalui prespektif yang berbeda.
Kali ini “On Hold” yang merupakan single pertama dari album teranyar The XX “I See You” menjadi trek pilihan Jamie untuk diramu kembali. Dengan sentuhan khas ala Jamie juga didukung dengan pengulangan nada-nada -nya, “On Hold” remix oleh Jamie bisa jadi salah satu trek yang wajib didengarkan di lantai dansa.
Sulit tidak menyebut nama Prabu Pramayougha saat membicarakan pop punk lokal. Melalui salah satu bandnya, Saturday Night Karaoke, ia menunjukkan bagaimana pop punk harusnya dimainkan: dengan penuh senang-senang. Beberapa waktu lalu, Saturday Night Karaoke memutuskan untuk menempatkan akhiran di perjalanannya, sebuah penutup yang manis setelah sejumlah album menawan, serta tur impian ke Jepang. Pada edisi Gimme 5 ini, kami mengundang Prabu untuk memilih lima lagu dari salah satu ikon pop punk, Descendents.
Album "Milo Goes To College (MGTC)" emang rilisan yang paling bagus dari mereka menurut saya. Salah satu elemen di album ini adalah permainan bass dari Tony Lombardo (bassist pertama Descendents) yang super melodik (bahkan lebih nge- daripada gitarnya) dan hampir semua lagu di album ini diisi sama kelas wahid dari dia. Lagu ini contohnya. Semua personil seperti menghantam langsung karakter unik masing-masing instrumennya termasuk lirik kesal-tapi-sebenarnya-galau dari Bill Stevenson pas masih remaja di lagu ini sangat mematenkan posisi Descendents sebagai band punk yang (Cupu di bahasa Sunda) pada zamannya
Di album "I Don`t Wanna Grow Up," mereka mulai main lebih nge-pop dibanding album MGTC plus keluarnya gitaris Frank Navetta - yang biasanya menulis dan main lagunya yang mulu - dari Descendents & masuknya Ray Cooper berpengaruh juga dalam musikalitas di album ini. Sebenarnya banyak kandidat lagu-lagu nge-pop di album ini, tapi "Christmas Vacation" benar-benar jadi pondasi awal lagu-lagu mid-tempo dengan progresi gitar yang agak miring tapi tetap nggak tuh!
Album dengan materi edan dari mereka. Edan dalam artian beneran gila. Thrash, pop punk sampai experimental ada di satu album ini. Ada satu "lagu" isinya kentut semua. Di sini mereka mulai bikin lagu lebih humoris - yang sebenernya kebanyakan - dan malahan beberapa lagu yang makin nge-pop juga, seperti "Sour Grapes" atau "Get the Time," bahkan ada Beach Boys terselip satu buah. Tapi ya lagu ini sih yang paling berkesan. Gitar ke mana, bass ke mana, drum ke mana tapi tetap bagus!
Album "ALL" kalo didengerin pas ALL (band setelah Descendents bubar di 1987, cuma ganti vokalis ) formasi awal pas Dave Smalley jadi vokalis rilis album "Allroy For Prez" malah terdengar jadi albumnya ALL. Masuknya Karl dengan Stephen banget ke musik Descendents yang sebelumnya agak sederhana, jadi tidak sederhana. gitar yang dan naik turun ke kunci mana mulai keliatan di album ini. Tapi ada 2 lagu yang berkesan buat saya, "Coolidge" dan "Pep Talk." Dua lagu itu masih ngasih kesan kalo Descendents masih band yang sama, yang masih ngepop. Cuma secara lirik & komposisi, "Coolidge" ini paling nempel. Kalo kamu pas sekolah ngerasa dijauhin karena jadi diri sendiri, (dan menurut orang-orang itu nggak banget) lagu ini buat kamu.
Akhirnya Descendents masuk label juga di tahun 1996. Epitaph rilis album "Everything Sucks" yang sekaligus jadi momen reuni mereka setelah bubar sebelumnya. Materi di album ini mulai lebih "megah" secara komposisi juga lebih tenang dibanding "Enjoy" atau "ALL." Lagu "Sick-O-Me" ini malah bikin kangen lagu-lagu mereka di album-album sebelumnya. Cepat, nge-pop dan tentunya progresi yang agak : di album ini juga vokal Milo yang paling enak selama dia main di Descendents
Satu kata yang bisa menjelaskan seorang Virgil Abloh adalah “inovatif,” dengan pengertian yang sederhana. Visinya tentang budaya fashion dan DIY telah menarik perhatian banyak nama-nama besar, dari Kanye West hingga perusahaan perabotan IKEA, serta menghasilkan salah satu merk paling disorot saat ini yaitu Off-White. Kali ini mungkin Abloh baru saja mewujudkan mimpi berjuta-juta dengan berkolaborasi bersama perusahaan sepatu terbesar di dunia, Nike, untuk mendesain ulang 10 model klasik mereka sesuai dengan estetika sang desainer.
Sepuluh model yang di desain ulang adalah Air Jordan I, Nike Air Max 90, Nike Air Presto, Nike Air VaporMax, Nike Blazer Mid, Converse Chuck Taylor, Nike Zoom Fly SP, Nike Air Force 1 Low, Nike React Hyperdunk 2017 dan Nike Air Max 97. Sepuluh model sepatu ini menurut Abloh adalah sebuah mahakarya yang lebih dari hanya sekadar namun melampaui batasan-batasan performa dan gaya, juga menjadi perubah budaya.
Virgil Abloh mendesain kembali sepatu-sepatu ini dengan gaya DIY yang atraktif, dari menjahit ulang lambang swoosh Nike hingga menambahkan pernak-pernik seperti tali pengikat dan lakban. Selain itu di beberapa bagian sepatu diberi tulisan nama teknologi tersebut dengan gaya penulisan pemberitan tanda petik yang sudah khas di dalam produk-produk Off-White seperti “SHOELACES” pada tali sepatu, “AIR” pada sepatu yang mempunyai teknologi Nike Air, dan juga “VULCANIZED” pada sepatu Chuck Taylor. Interpretasi Abloh pada model-model ini memang memberikan rasa otentisitas, di mana desain yang sangat berantakan dan bisa dibilang aneh ini memberikan nilai estetika tersendiri.
Nike dan Abloh mendirikan acara “Nike Off Campus” di London bagian timur pada tanggal 14 hingga 17 September kemarin untuk merayakan perilisan sepuluh model kolaborasi mereka, menampilkan koleksi keseluruhan serta beberapa karya seni yang dibuat untuk mempresentasikan model-model tersebut. Beberapa dari karya seni yang cukup menarik adalah Air Jordan 1 yang digantung pada kaki Micheal Jordan yang kasat mata dan juga Convere Chuck Taylor yang diletakkan di atas gunung kumpulan foto beberapa orang yang memakai Chuck Taylor.
Koleksi lengkapnya bisa mulai dipesan di seluruh dunia pada bulan November.
Episode Loka Suara ini merupakan tribut bagi salah satu gitaris penting di skena indie lokal, Andi "Hans" Sabarudin yang telah berkarya bersama beberapa unit krusial, mulai dari C'mon Lennon, The Upstairs, Efek Rumah Kaca hingga Seaside.
Tracklist:
01. C'mon Lennon - Adiksi
02. The Upstairs - Apa Aku Ada di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars
03. BITE - Don't Light My Fire
04. Efek Rumah Kaca - Hijau
05. Blossom Diary - The Rain Is Always Have An Answer
06. Pandai Besi - Desember
07. Elenin - Technyancolor
08. Whistler Post - Closer
09. Seaside - In The Morning
Magik berkolaborasi dengan Pepaya Records untuk membuat produk “A Journey to the Magik Sounds” yang diluncurkan di Everpress. Bersamaan dengan peluncuran ini, Sawi Lieu dari Pepaya Records juga membuat mixtape sesuai dengan konsep produknya, yaitu dan psychedelic.
Kolaborasi ini berangkat dari ide untuk membuat simulasi “realita baru” dan mengkritisi arus informasi di Internet yang dapat mengubah persepsi publik secara instan. Perkenalkan Pepayote Records, sebuah label musik Indonesia yang dikemas seolah-olah nyata. Label musik yang berasal dari Medan ini berdiri pada 1973 setelah sang Bosti Kasihbuan berkelana mengelilingi Amerika Selatan, Asia Selatan dan Afrika. Label ini telah merilis musik psychedelic, keroncong, garage, dan folk Indonesia, juga telah merilis album dari Easy Tanamal, Orkes Melayu Kelab Sosial Pimpinan Ary Kadir, The Tamimis, dan Daud Bahwafi & Puspita Bersaudara.
Mixtape yang dibuat Sawi pun menghadirkan lagu-lagu dari Duo Ouro Negro, Tito Puente, lalu Corduroy dan David Crosby, hingga Charlie Rouse dan Mongo Santamaria. Pada intro, pendengar diiringi oleh ragam permainan perkusi dan bernuansa musik Afrika Selatan dan Amerika Selatan. Ritual mid-tempo tadi membuat pikiran pendengar termanifestasi, dengan mendadak berlanjut ke lagu energetik dengan sentuhan psychedelic rock yakni “Apple Pipe” oleh Corduroy, dengan efek buzz dari bass, nada khas dari organ Hammond, dan pukulan drum yang terus berlari.
Tempo lalu turun sedikit, ditemani oleh lagu-lagu blues dan psychedelic rock yang cukup progresif dengan solo-solo instrumen yang menohok. Permainan instrumen ini lalu membawa pendengar kembali ke lagu-lagu perkusi dan nyanyian-nyanyian. “Timbales & Bongo” oleh Mongo Santamaria menutup mixtape dengan permainan perkusi yang cepat. Seakan mengelak dari "ritual" di kota besar, sajian ini menjadi sebuah alternatif menarik untuk didengarkan di tengah kesibukan atau mungkin saat menembus lalu lintas.
Masha Kharitonova menciptakan sebuah lanskap musik penuh komposisi avant-garde dan bass yang diotak-atik. Masha merupakan DJ dan seniman video dengan karya videonya yang terkenal adalah “Teletourgia.” Ia juga salah satu pendiri Erotika, festival musik noise dan post-industrial. Dengan pseudonim Chomeur, Masha kerap memanipulasi bebunyian padat berisikan menggebu, serta synth dan noise dalam musiknya.
Komposisi avant-garde ini memiliki dramaturginya tersendiri. Pendengar seakan diajak tur menikmati musik yang berbeda-beda. Musik dimulai dengan improvisasi modular dan rekaman-rekaman repetitif, dan berujung pada yang samar. Pendengar lalu diantarkan pada nuansa musik drum & bass, dubstep, dan techno yang kasar dan menghipnotis. Musik berlanjut dengan kolase gaung, synth, dan dentuman tribal mengerikan, yang perlahan berubah menjadi noise riuh berfrekuensi rendah.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?