Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Melalui esainya kali ini, Iman Fattah menuliskan mengenai pengalamannya mengunjungi museum pembantaian massal di Kamboja sembari melihat kembali pada bagaimana kita masih gagal dalam menemukan titik temu dengan kasus di masa lalu. Tentang bagaimana hantu di masa lalu sering membuat kita terjebak pada ketakutan tanpa alasan yang sering menjadi muara masalah seperti yang terjadi di LBH Jakarta kemarin.
Bayangkan sekumpulan musisi eksperimental dalam sejarah musik duduk dalam satu meja. Dengan jiwa avant-garde dari diri masing-masing, mereka memulai eksperimentasi musiknya. Satu musisi mungkin akan bermain biola dengan nada yang sumbang, lalu musisi lain akan menggunakan tetesan air sebagai komposisinya, lalu musisi lainnya akan mendekonstruksi lagu klasik secara brutal. Mendengarkan eksperimentasi ini dalam satu mix terasa tidak memungkinkan, tapi tidak bagi Jenya Sobol.
Jenya Sobol, kurator ARMA 17, telah membuktikan bahwa sekumpulan musik avant-garde bisa harmonis. “8 of Swords” mengomposisikan dari lagu-lagu avant-garde dunia dalam satu mix. Terdapat beberapa musisi terkenal yang masuk, sepert Haroumi Hosono dari Yellow Magic Orchestra sampai Zoviet France, grup bergenre industrial. Mix juga diisi oleh dua raksasa avant-garde Russia, Sergey Kurhyokin dengan komposisi instrumentalnya di Pop-Mechanics Orchestra, serta Oleg Karavaychuk dengan melodi vokal dan piano yang intim. Musik harmonis bisa didengarkan di mana saja, tak terkecuali komposisi yang tidak harmonis.
Duto Hardono adalah salah satu seniman dan juga edukator berbasis di Bandung yang mengeksplorasi sound dan waktu dalam berkarya. Whiteboard Journal menemuinya di rumah sekaligus studio untuk membahas looping study, silence sebagai sound hingga eksperimentasi seni.
Dengan memperhitungkan perubahan dramatis antara cahaya dan bayangan, desainer Jepang Koucihi Kimura membangun rumah sekaligus studio fotografi yang ditutupi oleh lempengan besi. Kouchi, pendiri studio desain Form, mencanangkan proyek ini dengan sebutan “House for a Photographer.”
Bangunan ini berlokasi di prefektur Shiga, Jepang, dengan luas bangunan 170 m2. Lantai bawahnya beroperasi sebagai rumah dan studio fotografi. Ruangan ini terdiri dari tembok putih, lantai abu-abu yang dipoles, serta jendela yang terbuat dari kayu, sehingga memberikan pencahayaan alami pada interior ruangan yang dapat berubah sepanjang jalannya hari. Ruangan ini juga memiliki pintu geser besi yang mengantarkan pengunjung ke teras. Terdapat pula galeri yang menghubungkan studio dengan berbahan kayu.
Menurut Kouichi, cahaya dan bayangan penting baik bagi fotografer juga arsitek. Ruangan ini diharapkan memunculkan pengalaman estetis, kreativitas, dan kegiatan-kegiatan baru bagi fotografer.
Sama seperti karya desain Kouichi yang lain, ia menggabungkan fungsi bangunan tradisional Jepang yang terbuka dan terbagi-bagi, dengan warna bangunan yang dibatasi, untuk menciptakan ruang yang minimalis dan estetis.
Kehidupan merupakan racikan dari bumbu-bumbu yang bertentangan; hidup dan mati, kuat dan lemah, naik dan turun. Tak ada yang mengira bahwa pertentangan ini saling mempengaruhi dan menciptakan keseimbangan dalam hidup. Betul, kehidupan ini paradoks, dan fenomena inilah yang coba didalami oleh seniman Lie Fhung dalam pamerannya, “Life Force.”
Sebagai lulusan peminatan Keramik di Institut Teknologi Bandung, Lie Fhung mengeksplorasi ragam medium mulai dari porselen, tembaga dan kaca. Dalam instalasinya, “Life Force ll: An Installation”, ia menggantung bunga-bunga putih yang terbuat dari porselen, berjejer dalam ruang galeri yang gelap. Bunga-bunga itu merekah, tapi terdapat setangkai bunga yang ditutupi oleh kaca di tengah-tengah instalasi, seakan ingin dilindungi. Karya ini mengeksplorasi sifat kuat dan lemah. Porselen merupakan jenis keramik yang kuat karena dibakar pada temperatur yang 1300 °C, tapi ketika ia dibentuk dengan sangat tipis, ia rapuh.
Di ruang seberangnya terdapat instalasi tembaga berbentuk silinder yang disusun berentetan dengan ketinggian yang berbeda-beda. Lantai ruang itu dipenuhi batu-batu koral hitam, sehingga ketika masuk kita akan menciptakan bunyi berderap di atas bebatuan. Jika dilihat dari tampak depan, rentetan tembaga itu menyerupai pegunungan, karya ini mengajak kita memaknai naik dan turun dalam kehidupan.
Naik dan turunnya kehidupan ini digambarkan pula di karya-karya tembaga Lie Fhung yang lain. Ia mengeksplorasi medium tembaga beberapa tahun belakangan ini, di sini ia menemukan suatu proses yang menarik dari tembaga, yaitu oksidasi. Metode ini dengan amat filosofis ia kaitkan dengan menyerahkan setengah karyanya dikerjakan oleh kekuatan alam. Oksidasi merupakan proses penguraian mineral di bahan logam oleh oksigen, di mana pada pelapukan kimia inilah, logam dapat berkarat. Maka dari itu, karya-karya tembaganya terlihat spontan dan brutal, Lie Fhung seakan menyerahkan ide-idenya pada zat kimia yang menggerogoti tembaganya.
Karya-karya berbahan porselen membicarakan sifat kuat dan lemah, sedangkan eksplorasi tembaga membicarakan relasi manusia dengan alam serta gelombang naik turun dalam hidup. Kedua bahasan ini berada di bawah satu payung bernama kehidupan, yang di dalamnya juga terdapat sifat bertentangan paling absolut, yaitu hidup dan mati.
Kini, di tengah-tengah mobilitas kaum urban yang kerap melalaikan, Lie Fhung mengajak kita berhenti sejenak dan memaknai kehidupan melalui karya-karyanya yang kontemplatif.
-
14 September-8 Oktober 2017
09:30-18:00
Dia.Lo.Gue Artspace
Jl. Kemang Selatan No. 99 A
Jakarta
www.dialogue-artspace.com
A bit of rock a bit of pop, a whole lot of melodies today on Stereo Strange.
01. Deerhunter - Sleepwalking
02. Sheer Mag - Expect the Bayonet
03. Alvvays - Adult Diversion
04. Gun Outfit - In Orbit
05. Car Seat Headrest - Fill in the Blank
06. Chastity Belt - Joke
07. Beach Fossil - This Year
08. Widowspeak - Fir Coat
09. Tennis - South Carolina
10. Palehound - Cinnamon
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?