Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Setelah sukses dengan buku perdananya, "Monsoon Tiger" di tahun 2015, Rain Chudori akan menerbitkan karya keduanya pada pertengahan Oktober 2017, yang diberi judul “Imaginary City.” Penulis muda asal Jakarta ini cukup mahir mengolah pengalaman personal untuk diabadikan melalui narasi-narasi indah yang mengajak para pembaca untuk terlibat dalam emosi yang ditumpahkan di setiap ceritanya. Kali ini dengan mengangkat tema kota, Rain ingin menceritakan seperti apa peran sebuah kota - yang pada buku ini digambarkan oleh Jakarta - untuk dirinya, dan bagaimana kota menjadi saksi bisu atas seluruh kejadian yang terjadi dan dialami oleh orang-orang di dalamnya. Kami berkesempatan untuk menanyakan cerita dan proses kreatif di balik pembuatan buku ini hingga harapan Rain untuk para pembaca melalui buku terbarunya.
Monsoon Tiger diterbitkan Desember 2015, jadi kira-kira sudah 2 tahun yang lalu. Proses penulisan Imaginary City hanya 3 bulan, dan proses produksi 2 bulan. Cukup singkat memang, ya mungkin karena ada banyak hal yang mau saya sampaikan di karya ini.
Dari mana latar belakang cerita untuk novel terbaru ini?
Menurut saya cinta itu pondasi dari tiap bagian dalam hidup – entah dalam bentuk apapun. Cinta terhadap keluarga, cinta ke teman, cinta dengan definisi romantis untuk pasangan, cinta ke karir, bahkan cinta akan hal-hal kecil dan indah dalam hidup. Nah, “Imaginary City” ini lahir dari kecintaan saya terhadap Jakarta.
Saya percaya bahwa tiap wanita di dunia ini adalah pejuang. Ada begitu banyak bentuk perjuangan, bahkan hanya untuk sekadar hidup, dan begitulah kita akan bertahan, lalu berkembang, dan saling bertemu satu sama lain hari demi hari. “The Young Woman” di “Imaginary City” adalah sosok penyendiri, ia memiliki banyak teman di hidupnya, pekerjaan, juga berbagai hal yang membuatnya bahagia. Yang kemudian dia jatuh cinta pada seseorang yang tidak mungkin ia dapatkan, dan tiba-tiba semua yang telah ia kerjakan selama ini, lenyap seketika.
Buku ini berbicara tentang momen-momen, keindahan dan kebrutalan, dan ruang di mana dua hal tersebut terjadi. Kota di karya ini menyimpan begitu banyak momen, yang amatlah penting, baik masing-masing maupun secara keseluruhan. Saya berharap pembaca bisa membuka buku ini dan menemukan kedamaiannya sendiri.
Bagi saya, bagian terpenting dari menulis adalah jujur pada diri sendiri. Dengan begitu, barulah saya bisa jujur pada orang lain. Semoga niatan tadi dapat tersampaikan pada pembaca melalui karya ini.
Saya ingin mereka semakin jatuh cinta dengan kota mereka (di manapun mereka berada).
-
Sabtu, 14 Oktober
17:00
Dialogue Artspace
Jl. Kemang Selatan No. 99A
Jakarta
Tahun ini adalah kali kedua upaya sebuah organisasi internasional asal Inggris, British Council dan Indonesia dalam mengadakan sebuah kegiatan berisikan kolaborasi antarbudaya dan beragam peluang pendidikan lewat acara yang diberi nama UK/ID Festival 2017. Festival ini merupakan bagian dari program tiga tahun “U.K/Indonesia 2016-2018” yang dikeluarkan pada kunjungan Presiden Jokowi ke Inggris pada April 2016. Kali ini dengan mengusung tema “Come Together,” UK/ID Festival 2017 akan melibatkan 32 seniman dan organisasi seni asal Indonesia serta 22 seniman asal Inggris.
Latar belakang tema acara tahun ini adalah untuk merayakan keberagaman manusia yang bisa ditandai dengan adanya aneka ragam kebudayaan. Selain itu, “Come Together” dimaksudkan untuk memperlihatkan seperti apa esensi dari berbicara dan mendengarkan seseorang yang berasal dari berbagai dan nantinya juga akan turut melibatkan potensi-potensi kreatif dari teman-teman disabilitas.
Pada festival sebelumnya, terdapat lebih dari 20 seniman asal Inggris dan Indonesia yang telah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu bulan di negara masing-masing untuk saling bertukar ide, mempelajari satu sama lain dan berkolaborasi. Nantinya, hasil dari proyek ini pun akan ditampilkan pada UK/ID Festival 2017 untuk menunjukkan seberapa luas dan banyaknya cara dan peluang bagi Inggris dan Indonesia untuk bekerja sama.
Tidak hanya itu, acara ini juga diisi dengan berbagai macam program yang merupakan hasil peleburan antara kebudayaan Indonesia dan Inggris, lewat rangkaian acara seperti pertunjukan musik, pemutaran film, seni pertunjukan, pameran visual dan instalasi, lokakarya hingga diskusi panel. Festival ini diharapkan agar bisa menjadi tempat berkumpul untuk para sosok kreatif untuk bisa bertukar gagasan mau pun ide kreatif dan menciptakan berbagai peluang dan kemungkinan baru yang dapat mendukung hubungan antarbudaya.
-
17 - 22 Oktober 2017
The Establishment
SCBD Jakarta
bit.ly/UKID2017
Rachel Whiteread dan pahatan-pahatannya mempunyai pengaruh yang besar dalam budaya Inggris. Whiteread awalnya hanya seorang seniman yang terganggu saat sedang melakukan rutinitas pagi biasa, berubah total saat ia memutuskan untuk membuat pahatan mahakarya “House,” sebuah cor beton dalam rumah asli dengan tiga lantai. Karya tersebut menghebohkan seluruh Inggris pada tahun 1993 dan menyulut kontroversi. Selama 11 minggu “House” berdiri hingga akhirnya disetujui oleh dewan setempan bahwa karya ini harus dirobohkan, di mana di hari yang mengerikan itu Whitread sedang menerima Turner Prize.
Cerita pendek itu adalah alasan kenapa Whiteread sangat dijunjung tinggi di skena seni kontemporer Inggris. Merayakan 25 tahun karya sang seniman, sebuah pameran akan diadakan di galeri Tate Britain yang menampilkan karya-karya legendarisnya serta yang belum pernah ditunjukkan. Beberapa dari kreasinya yang langsung menarik perhatian adalah sebuah cor beton berbentuk kandang ayam dan tangga. dalam pameran ini, Whiteread's Untitled (One Hundred Spaces), adalah sebuah instalasi yang sebenarnya sudah dibuat oleh sang seniman dari tahun 1995. Karya ini terdiri dari 100 cor resin berwarna bagian bawah sebuah kursi yang di bariskan dengan rapih di bagian selatan galeri.
Joko Pinurbo digandrungi bukan hanya karena puisi yang ia tulis, melainkan makna yang tertanam di balik kesederhanaan yang ia ceritakan. Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, kami berkesempatan untuk menemui beliau ketika berkunjung ke Jakarta untuk berbicara tentang menertawakan keseharian hingga pengaruh Alkitab dalam karyanya.
Kareem Soenharjo adalah salah satu nama panas di skena musik hip hop Selain dikenal dengan banyak alias, ia juda salah satu penggerak utama kolektif hip hop Cul De Sac yang sedang ramai di skena lokal. Eksistensi Kareem selama ini memang terbukti lewat talentanya dalam memproduksi lagu dengan nama Yosugi yang sudah menarik perhatian banyak. Tetapi kali ini persona -nya - BAP. - baru saja menunjukkan giginya dengan merilis EP perdana yang berjudul “Belladonna.”
BAP. seperti benar-benar meluapkan semua perasaan dan pikiran yang dipendam selama ini dalam “Belladonna.” Emosional dan intim, EP ini membuka sedikit celah ke dalam hidup seorang Kareem Soenharjo dan mempersilahkan siapapun untuk mengintip. Selain liriknya yang kuat, produksi musik yang baik juga memberikan kesegaran tersendiri. Ia terdengar lebih berjelajah di album ini lewat eksplorasi unsur-unsur trap, boom bap, jazz, funk, dan eksperimental.
Trek yang paling bersinar dari album ini adalah “Heed,” dengan ala musik soul 70-an dan lirik yang halus tetapi juga tajam. BAP. mengawali lagu ini dengan paksaan untuk menyimak dirinya, secara instan menyadarkan pendengar dari alunan yang hipnotis. Seperti pada trek pembuka berjudul “Belladonna,” penyampaian dan BAP. yang mulus mengingatkan kepada Earl Sweatshirt dan Tyler, The Creator.
Nadanya yang nestapa dibalut dengan dentuman hip hop inovatif terdengar segar dan tentu berhasil memberi kesan yang baik melalui EP perdananya. Namun, walau tidak sempurna, “Belladonna” bisa dihargai sebagai hal yang lebih dari sekadar EP perdana seorang Album ini merupakan curhatan terdalam seorang pemuda kepada hal yang paling dia pedulikan, yaitu musik.
“Belladonna” sudah bisa di dengarkan secara online di Spotify dan Soundcloud, serta bisa dibeli di halaman Bandcamp BAP.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?