Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Gitar adalah instrumen yang sangat mempengaruhi suara dan gaya musik pada abad ke 20 dan 21. Dari petikan jazz Charlie Christian, suara yang dipakai Jimi Hendrix, sampai permainan gitar agresif dan penuh distorsi dari Youth of Today, gitar, khususnya gitar listrik, menawarkan pembaharuan pada warna musik, membentuk musik populer yang kita nikmati hingga hari ini. Salah satu inovasi yang datang bersama instrumen ini adalah pedal efek. adalah beberapa jenis pedal yang menambah warna dan karakter kepada suara gitar, dan di era sekarang sudah menjadi aksesoris umum bagi musisi, baik untuk yang sering pentas di atas panggung atau yang lebih gemar bermain di rumah.
Karakter gitar yang sempurna adalah suara yang dicari oleh banyak gitaris, dan meskipun tone yang bagus adalah hal yang subjektif, ada banyak hal-hal teknis seputar gitar dan pedal yang patut dimengerti oleh pemainnya. Salah satu sumber pengetahuan gitar listrik yang sangat menarik adalah That Pedal Show, acara reguler yang bisa ditonton di Youtube.
Bersama 2 reguler yakni Daniel Steinhardt, salah satu penemu perusahaan TheGigRig yang membantu gitaris menemukan gitar yang mereka cari melalui konsultasi dan beberapa produk rilisan mereka, dan Mick Taylor, gitaris profesional, jurnalis musik dan mantan editor-in-chief Guitarist Magazine, That Pedal Show menelusuri dan menjelaskan berbagai macam amplifier, pedal, dan gitar di setiap episode.
Biasanya, satu episode That Pedal Show akan membahas satu jenis suara, misalnya pedal modulasi, dan mereka akan menelusuri berbagai pedal modulasi. Sembari mencoba pedal-pedalnya, mereka menjelaskan bagaimana jenis gitar, , pedal dan ampli berinteraksi sehingga membuat karakter unik pada permainan gitar.
Percakapan mereka seputar hal teknis sangat menarik bagi musisi atau yang ingin mendalami pedal dan gitar. Selain itu, Daniel dan Mick selalu bisa menyelipkan candaan diantara penjelasannya, sehingga tiap episode yang berdurasi 20 menit terasa ringan namun tetap berisi.
That Pedal Show memperbaharui acara mereka secara reguler dan bisa ditonton di tautan berikut:
That Pedal Show on Youtube
SONY CSL Research Laboratory telah mengembangkan yang bisa menciptakan komposisi lagu pop, dan ternyata hasilnya sangat menarik. dengan nama Flow Machines mempelajari lagu dan komposer pop, kemudian menganalisa komposisi di dalam lagu-lagu tersebut dan dari situ kemudian dilahirkan sebuah komposisi berdasarkan gabungan unsur umum yang ia temukan.
Lagu berjudul "Daddy's Car" adalah komposisi yang dibuat berdasarkan The Beatles. Dan, mampu menghasilkan lagu bernuansa yang terasa seperti buatan The Beatles. Kuat di melodi vokal, memiliki harmoni-harmoni vokal yang sangat mudah diingat, dengan bagian-bagian minor yang menambah elemen drama kepada lagunya.
Pada lagu, "Mr. Shadow" Flow Machines mengambil komposer klasik Amerika, termasuk Irving Berlin, Duke Ellington, George Gershwin dan Cole Porter untuk membuat lagu yang beraroma jazz.
Meskipun komposisi diatas adalah karangan , masih ada sentuhan manusia dalam rekaman lagu-lagunya. Di "Daddy's Car" dan "Mr. Shadow", Benoit Carre, seorang musisi, menentukan arahan musiknya (ia yang memilih The Beatles dan komposer-komposer Amerika), dan setelah komposisi oleh Flow Machine selesai, sebuah sistem bernama Rechord (dengan partisipasi oleh musisi) dipakai untuk mengisi karangannya dengan instrumentasi, dan seorang untuk melakukan dan lagunya. Mestinya, perkembangan berikutnya untuk adalah untuk mengembangkan instrumentasi dan ke langkah yang selanjutnya, untuk mewujudkan sebuah sistem yang lebih efisien dalam menciptakan lagu.
Selalu ada yang baru di dunia seni, dan dengan itu bermunculan pula karya baru yang unik. Beberapa di antaranya mencuat dengan keberanian untuk menjawab tantangan kreatif. Berikut adalah beberapa nama yang patut disorot berkat pendekatan karyanya masing-masing.
Berawal dari kecintaan terhadap musik dan keinginan untuk mendokumentasikan skena musik elektronik di Jakarta, Pepaya Records sempat menulis artikel retrospektif musik elektronik di Jakarta pada tahun 2014 lalu. Melihat animo pengunjung yang mulai tertarik dengan musik elektronik, Pepaya Records mencoba untuk menindaklanjuti tulisan tersebut ke dalam format kompilasi. Dengan mengkurasi beberapa unit musik lokal sejak akhir 2015, sebuah album berjudul Dentum Dansa Bawah Tanah siap merangkum seluk beluk musik elektronik dengan beragam warna.
Bekerja sama dengan Studiorama, terdapat 14 unit musik yang sebagian besar merupakan DJ/Produser di skena musik elektronik di Jakarta. Unit-unit musik tersebut adalah REI, Basement House, Harvy Abdurachman, Django, whoosah, Android 18, Duck Dive, Swarsaktya, Future Collective, Maverick & Moustapha Spliff, Sattle, Sunmantra, Baldi, dan John van der Mijl. Dalam kurasinya, Pepaya Records memandang bahwa unit-unit tersebut memiliki potensi untuk merepresentasikan era baru musik elektronik yang relevan dengan situasi saat ini.
Dalam upaya menyempurnakan proyek ini, beberapa kolektif independen lokal juga ikut membantu, antara lain Bluesville yang dikenal sebagai label fashion pria yang sekaligus terinspirasi oleh kebudayaan tradisional Indonesia. Selain kolektif yang membantu memoles proyek ini, desain album ini juga dikerjakan secara kolaboratif antara Moses Sihombing (fotografer) dan Ratta Bill (desainer grafis). Dentum Dansa Bawah Tanah juga akan menyertakan serta yang ditulis oleh Merdi Simanjuntak (DJ, pengarsip musik, dan ) dan Dipha Barus (DJ, produser, personil Agrikulture).
Eksklusivitas yang ditawarkan dapat dilihat dari beberapa nomor yang diproduksi khusus untuk disertakan dalam album ini. Terekam dalam bentuk kaset dengan jumlah terbatas, kompilasi ini akan dirilis bertepatan dengan gelaran Cassette Store Day Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2016. Selain kaset, rencananya, proyek Dentum Dansa Bawah Tanah juga akan diselenggarakan dalam bentuk , perilisan produk/ bentuk lain, dan penayangan pada akhir tahun 2016 melalui kerja sama dengan unit independen lainnya, antara lain adalah Anggun Priambodo, Edwin (Babibuta Film), Adythia Utama, dan Dana Putra (Gundala Pictures).
Sebelumnya dikenal dengan Festival Salihara yang telah berlangsung 5 kali sejak pertama diperkenalkan pada tahun 2008, kini berganti nama menjadi Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest), festival seni yang layak ditunggu. Dengan mengganti nama menjadi SIPFest, gelaran ini diharapkan dapat mendulang sukses lebih besar dalam segi penonton serta variasi yang ditawarkan. Bekerja sama dengan Goethe-Institut, Japan Foundation-Asia Center, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kedutaan Besar Austria dan Kedutaan Besar Denmark serta didukung oleh Bekraf, festival ini akan hadir selama sebulan, tepatnya mulai tanggal 1 Oktober-6 November 2016.
Guna memperkenalkan nama barunya, SIPFest telah mengkurasi sajian seni berkualitas, yakni 14 penampil yang terdiri dari pentas tari, musik dan teater, antara lain She She Pop (Jerman), Eko Supriyanto (Indonesia), The Human Zoo Theatre Company (Inggris), Arica Theatre Company (Jepang). Sebagian besar karya yang akan ditampilkan pun didapuk sebagai dan Tidak hanya pertunjukan, pecinta seni juga bisa mengikuti sebagai bentuk interaksi dengan penampil atau seniman.
Selain menikmati aneka seni pertunjukan selama sebulan penuh, di area terbuka juga terdapat karya-karya seni rupa oleh empat perupa, yaitu Nus Salomo di Anjung Salihara. Terdapat pula instalasi karya Made Gede Wiguna Valasara di dekat Teater. Sementara itu Purjito menampilkan patung Abdurrahman Wahid berukuran 1:1 di depan Galeri. Indyra menampilkan gambar mural trimatra yang menyiratkan posisi Komunitas Salihara sebagai tempat merawat gagasan dan pemikiran di samping Serambi.
Keterangan lebih lanjut dan pembelian tiket: http://bitly.com/sipfest
Pada 15 hingga 24 September 2016, Auguste Soesastro membawa karya fashionnya ke Dia. Lo. Gue Artspace sebagai bagian dari pameran Architecture of Cloth yang ia gagas. Di dalamnya, Auguste mengajak pengunjung untuk menengok ke belakang serta melangkah ke depan bersama perspektif yang ia ciptakan.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?