Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Singapore Writers Festival (SWF) kembali tahun ini dengan berbagai program menarik, mulai dari diskusi, lektur, performance, lokakarya hingga berbagai bentuk aktivitas lainnya. Tahun lalu, kami berkesempatan untuk menghadiri festival internasional saat Indonesia terpilih menjadi Country Focus. Tahun ini, layaknya tahun lalu, mayoritas program SWF berpusat di The Art House, bekas gedung parlemen Singapura yang diubah menjadi pusat kebudayaan. Selain disana, kali ini akan ada berbagai program yang akan berlangsung di The National Gallery dan Asian Civilisation Museum. Mayoritas tempat aktivitas SWF terjadi di satu daerah, jika berminat datang, dalam satu hari pun Anda bisa mengatur jadwal untuk menghadiri berbagai pilihan program yang ada.
Tahun ini, tema yang SWF angkat adalah "Sayang", sebuah kata Malay yang cukup puitis dalam menunjukkan cinta kasih. Lokalitas term "sayang" membuat kata ini menjadi menarik sebagai tema untuk SWF. Dan, tema ini akan diangkat dalam berbagai program acara, termasuk "Great Wall of Sayang", pameran kolaborasi antar 12 penulis dan seniman, "Still I Sayang", performance art yang mengkombinasikan puisi, tarian, dan musik, dan "Secret Sayang", seri pembacaan puisi di lokasi-lokasi rahasia. Tema ini juga akan diangkat di "This House Believes that Singaporeans are in the Mood For Love" Closing Debates-nya yang super-populer dan menjadi salah satu tradisi setiap SWF.
Jepang menjadi Country Focus SWF tahun ini. Dimulai dari tamu penulis fiksi Taiyo Fujii, Hiromi Kawakami, dan Risa Wataya, musisi Kojima Keitaney, dan salah satu komikus favorit kami: Gosho Aoyama (pengarang serial Detective Conan), dan topik pembahasan mulai dari seni Haiga, kondisi Jepang setelah Fukushima, eksplorasi budaya Jepang dalam literatur, sampai konser musik, SWF akan membahas Jepang dari berbagai sudut pandang.
Indonesia juga akan diwakili di SWF oleh sosok-sosok seperti penulis Eka Kurniawan, Okky Madasari dan komikus Jho Tan, yang akan menjadi bagian dari berbagai panel, peluncuran buku Neither Civil Nor Servant, The Loner: President Yudhoyono's Decade of Trials and Indecision, dan Indonesia and Not: Poems and Otherwise.
Sebagai festival internasional, UWF tentunya mengundang tamu dari penjuru dunia. Selain tamu Country Focus-nya, Jepang, beberapa tamu UWF yang sangat menarik adalah Lionel Shriver, penulis fiski yang telah memenangkan berbagai penghargaan termasuk New York Times Best Seller dan BBC National Short Story Award, dan bukunya yang telah diadaptasi menjadi film, We Need to Talk About Kevin. Selain Lionel Shriver, jurnalis yang membocorkan Panama Papers Frederick Obermaier juga menjadi salah satu pembicara dan panelis, Youtuber yang sedang naik daun Evan Puschak aka The Nerdwriter akan berbagi pengetahuan, hingga sejarawan Frank Dikotter akan membahas revolusi budaya Cina.
Sebagai festival Singapura, penulis lokal juga terepresentasikan di programnya. 280 penulis lokal dan penulis yang berbasis di Singapura akan mengadakan program untuk merayakannya. Dari penulis cerpen Nur Aisyah Liyana, Farish Noor yang akan memberi kuliah mengenai etimologi kaya "Sayang", sampai penulis puisi dan komikus Gwee Li Sui, talenta lokal akan memberi kontribusi yang sangat besar, dan yang menarik-nya lagi, dalam berbagai bahasa termasuk Mandarin, Malay dan Tamil.
Singapore Writers Festival akan mulai pada tanggal 4 November dan berakhir tanggal 13 November. Cek websitenya untuk tahu program-program yang ditawarkan dan merencanakan kunjungan anda. Kami dari Whiteboard Journal juga akan hadir pada festival ini, sampai bertemu di Singapore Writers Festival!
Bagi yang cinta dengan buku dan segala hal yang berkaitan dengannya, tentu melihat adanya ajang seperti Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) sebagai hal yang patut untuk diikuti. Setelah berhasil mempertahankan festival sejak awal episode serta meningkatkan varian programnya, UWRF kembali tahun ini dengan tema Tat Tvam Asi.
Menawarkan deretan program yang tidak hanya fokus pada penulis ternama dari Indonesia dan internasional, UWRF juga mengangkat topik menarik dalam diskusi yang memaparkan media hingga perfilman secara selektif. Mulai dari Wregas Bhanuteja, Joko Anwar, Djenar Maesa Ayu hingga Hanya Yanagihara akan membeberkan fakta menarik yang patut untuk disimak.
UWRF dimulai pada tanggal 26-30 Oktober 2016 di beberapa tempat di Ubud, Bali. Cek website-nya untuk tahu program-program yang ditawarkan dan merencanakan kunjungan Anda. Kami dari Whiteboard Journal juga akan hadir pada festival ini dan akan meliput acara dari tanggal 28-30 Oktober 2016. Ikuti cerita kami di akun Instagram, Facebook serta Twitter yang akan melihat UWRF dari sudut pandang berbeda. Sampai bertemu di Ubud Writers & Readers Festival!
Dimulai dengan penggunaan kata "menarik" dalam mendeskripsikan karya fotografi, Ridzki Noviansyah mengangkat topik bahasa yang dipakai untuk mengkritik sebuah karya. Kosa kata, gambar, dan referensi menjadi titik awal sebuah Column dimana Ridzki ingin memperkaya opini dan perspektif dalam mengkritik fotografi.
Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, Whiteboard Journal berkesempatan untuk menemui Leila S. Chudori salah satu jurnalis yang mengemukakan fakta melalui fiksi untuk membahas perkembangan pers dan konsep kebebasan di Indonesia.
Setelah meraih pujian dan penghargaan di event Unknown Asia 2016 yang berlangsung di Osaka beberapa waktu lalu, delegasi Indonesia, Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun merayakan sekaligus memamerkan karya mereka kepada publik lokal pada pameran yang bertajuk "Weekend Exhibition". Bertempat di Dia.Lo.Gue. Artspace, pameran ini akan dibuka pada Jum'at, 28 September 2016. Pameran akan berlangsung hingga 30 September 2016.
--
Weekend Exhibition:
with Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun .
Weekend Exhibition is initiated by Dia.Lo.Gue in order to extend and share the work of creators to broader audiences. Sharing knowledges through presentations, lecturers, workshops, performances.
This first edition is focused on the seven Indonesia representatives at the latest UNKNOWN ASIA ART EXCHANGE 2016 Osaka. The participants are Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun. Presenting the works that previously previewed last month in Herbis Hall Osaka.
The opening exhibition will be held on Friday, 28 October 2016 on 18.00 PM. There might be a secret performance happen on this day too!
In the following day Saturday, 29 October 2016 the artists will available in Dia.Lo.Gue to present their work in person.
28th October 2016 - Sunday 30th October 2016.
Venue:
Dia.Lo.Gue Artspace
Jl. Kemang Selatan 99 a
Jakarta 12730
Friday, October 28 2016
18.00 PM Opening Party and a secret performance
Saturday, October 29 2016
11.00 - 20.00 PM During this session the artist will available to present their work in present. Also, there might be a secret performance on this day.
15.00 PM Artist Talk
17.00 PM Special performance by CRAYOLA EYES
Sunday, October 30 2016
08.00 AM – 18.00 PM Last chance to see the artists' work.
Should you require more informations please contact us to info@dialogueartspace.com
See you at the #weekendexhibition at @dialogue_arts
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?