Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Setelah melahirkan Phantasma Studio - sebuah fashion dengan konsep kontemporer yang mengeksplorasi di bidang - Eric Lim kembali mewarnai fashion melalui yang menjual barang-barang yang ia namai Toko Misteri. Semua produk yang ditawarkannya di sini menjadi spesial karena tidak hanya yang menjadi jualan utama, melainkan kurasi ajaib oleh Eric Lim membuat Toko Misteri berbeda dengan yang lainnya. Berbagai produk seperti pakaian dan barang-barang antik, piringan hitam, mainan, dan buku-buku unik bisa ditemukan di Toko Misteri.
Toko Misteri yang berlokasi di Bara Futsal Jl. Falatehan No.68 ini sudah membuka tokonya sedari pertengahan Agustus lalu. Selain menjual pakaian dan barang-barang antik, dijual juga minuman ala Toko Misteri seperti “Cold Brew Coffee”, “Green Tea with Yakult”, “Es Kopi Bon-Bon”, dan “Es Kopi Tropicale”.
Yang menarik adalah, selain memamerkan koleksinya lewat akun Instagram, Toko Misteri mencoba untuk memberikan dan alternatif padu-padan untuk setiap koleksi dengan foto yang Toko Misteri juga sudah menyelenggarakan dua acara kolaborasi yaitu “Pekan Misteri” dengan Manual Jakarta dan “Binatang Press! Pop Up Launch”. Dengan cakupannya yang tak hanya fashion, Toko Misteri disamping menawarkan -nya diharapkan bisa menjadi salah satu wadah yang bisa mendukung lainnya seperti desain, dan juga musik.
Silahkan cek Instagram Toko Misteri di sini
Toko Misteri
Jl. Falatehan No.68, Melawai
Jakarta Selatan.
Salah satu sosok yang terkenal di dunia manga, Gosho Aoyama adalah pengarang salah satu serial yang paling sukses di dunia, yaitu Detective Conan. Selama 22 tahun, kisah detektif dan misteri ini sudah mencapai 90 volume, diterjemahkan dalam 21 bahasa, dijadikan serial televisi, dan 20 film-panjang. Kami berkesempatan untuk berbicara dengan Gosho Aoyama di antara kesibukan beliau di Singapore Writers Festival.
Setelah lima tahun kemunculannya, band asal Bandung yang memperkenalkan diri sebagai band medieval-folk, Kamis 1 Desember 2016 mengunggah debut album perdana mereka. Berbeda dengan andalannya “Senandung Senja” dan “Black Sun”, melalui video berdurasi kurang dari satu menit yang diunggah pada kanal YouTube mereka, selain memperlihatkan penggarapan album, juga memperdengarkan musik dengan nuansa neo-psikadelia. Hal ini ditunjukkan dengan dominasi permainan synthesizer dan sound yang lebih bulat. Direncanakan Rusa Militan akan merilis 10 lagu pada album ini.
Dengarkan single Rusa Militan di sini
What began as a search for Brazilian tunes in my old computer ended up being a bit of a nostalgic trip with old favorites. Hope you enjoy all of this great music as much as I do.
Listen to this mixtape on whiteboard journal's mixcloud.
01. Karen Dalton - Reason to Believe
02. That's Why - Dyp Av Nade
03. Sarah Jones - Blood
04. Broadcast - The Be Colony
05. Tito Puente, Machito, Celia Cruz - Blues a la Machito
06. Erkin Koray - Seni Her Dordugumde
07. Francis Bebey - Sanza Tristesse
08. Glasslamp Killer - Nissim (Live)
09. Doug Carn - Acknowledgement
10. Joe Hisaishi - Howl's Moving Castle
Duo eksperimental asal Yogyakarta; Rully Shabara dan Wukir Suryadi, yang dikenal dengan Senyawa akan menggelar konser tunggal pertamanya di Indonesia. Dikenal berkat format musik yang tiada duanya, mereka berhasil membawa elemen dan semangat musik tradisional dalam kerangka musik modern ke dunia internasional. Berkat instrumen musik yang dibuat sendiri oleh Wukir, bebunyian yang hadir untuk mengiringi ragam frekuensi dari vokal Rully pun memiliki karakter kuat, sehingga mampu membedakan Senyawa dengan musisi lain dari seluruh dunia.
Adanya komposisi unik yang mereka hasilkan, membuat unit ini mampu berbagi panggung dan berkolaborasi dengan sejumlah nama penting seperti Damo Suzuki, Keiji Haino, Oren Ambarchi, Sun Ra Arkestra, Melt Banana, Death Grips, Trevor Dunn, Swans, hingga Bon Iver.
Kristi Monfries selaku manajer Senyawa mengatakan, “Kini, akhirnya Senyawa akan menggelar konser tunggal untuk pertama kalinya di tanah air, membawakan repertoar penuh yang mencerminkan progresi musik mereka selama ini dengan layak.” Mengambil dua judul lagu Senyawa, “Tanah" dan "Air,” konser yang diadakan oleh G Production ini, akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta. Gedung ini dipilih berkat kualitas akustik yang besar sehingga Senyawa dapat mempresentasikan sejarah musik mereka dan mengajak penonton ke dalam perjalanan bunyi melalui perkembangan mereka sebagai unit musik. Dengan tata lampu minimalis serta gagasan menarik untuk menampilkan nomor-nomor dari Senyawa, konser ini akan menjadi penutup tahun yang berbeda.
-
Kamis, 22 Desember 2016
19:00
Gedung Kesenian Jakarta
Tiket:
Early bird Rp. 125.000 (berlaku sampai 21 Desember 2016) di Ruru Shop dan Omuniuum
On the spot Rp. 175.000
Informasi lengkap, silakan ke www.gproduction.co.id/senyawa
Honored to contribute another playlist for my buddy Jan's W Music program; Heart Attack. Selecting some new and not-so-new music from everywhere that has been regularly played on my smartphone's playlist to accompany my daily routines on the road. Nothing special here, just songs that i considered can give a slap in the face every time you need to be slapped in the face.
Listen to this episode of Heart Attack on Whiteboard Journal's Mixcloud.
01. Intro - Arus Kuat Arus Lemah
02. Razorheads - Black Blade
03. Gas Rag - Abort Them
04. Vaaska - Policia! Policia!
05. Bib - Pressure
06. Hoax - Down
07. Goon - Tall Buildings
08. Mongrel - Worthless
09. Hidden Bones - Slow Rot
10. A Sistem Rijek?! - Survive
11. Creep Stare - Cop Problem
12. Q - CQNTRQL
13. Failed Mutation - Flood Gates
14. Sonic Order - Common Thread
15. Technical Ecstasy - Pit Exists
16. Raid - What's Mine
17. Warthog - Functioning World
18. Slur - Control
19. Lubricant - Slave Driver
20. Peace or Annihilation - Nyanyikan Lagu Perang
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?