Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Indonesian hits circa 90's until early 2000. Listen to this mixtape on WHiteboard Journal's Mixcloud.
01. Tentang Aku - Jingga
02. Cinta Terakhir - GIGI
03. Ada Cinta - Bening
04. Mak Comblang - Potret
05. Ternyata Cinta - Padi
06. Yang Terbaik Bagimu - Ada Band
07. Demi Masa - Cokelat
08. Kamu Harus Pulang - Slank
09. Surti & Tejo - Jamrud
10. Rock In 82 - Edane
11. Di Atas Normal - Peterpan
12. Kirana - DEWA 19
13. Cantik - Kahitna
14. Pemuja Rahasia - Sheila On 7
Sejak digelarnya salah satu perhelatan seni terbesar di Tanah Air, Jakarta Biennale di penghujung tahun 2015, sebuah ruang kreatif baru lahir, dan sejak itu iklim seni Jakarta tampak semakin menjanjikan. Gudang Sarinah muncul sebagai opsi baru dalam hal galeri, juga ruang pertunjukan.
Footurama is recruiting full-time photographer to join our growing team of creatives.
Get the opportunity to be involved in photo shoot sessions, as well as cooking creative concept for editorial.
You will benefit to be trained by our experienced, dedicated and innovative team who has worked side-by-side with Studio 1212 & Whiteboard Journal, which happen to be our other internal reputable aggregates. He/she must have great photography skill, and has the ability to use all studio equipment and image editing software.
If you are a future young creative who has high interest and strong passion in our focused area, please send your inquiry to .
Memperkenalkan diri sebagai Dekadenz, sebuah kolektif dance music asal Jakarta yang beranggotakan Jonathan “Ojon” Kusuma, Aditya Permana dan Ridwan Susanto mengabarkan bahwa mereka telah merilis sebuah podcast series bertajuk “Themes for Divided Tribes”. Di dalamnya terdapat sembilan nama (termasuk Dekadenz) dari para DJ juga music selector yang berasal dari berbagai macam kolektif musik, seperti Belda Farika (Never Too Disco), Dr. Satomata, Negative Lovers, Swarsaktya, Gerhan a.k.a Komodo (Akamady Music) serta Sostenes 'Ones' Alfonsos (Casual Dance).
Dalam salah satu wawancaranya Dekadenz menyampaikan bahwa podcast series ini memang telah dipersiapkan sejak tahun lalu, selain itu mereka pun juga tengah menyiapkan proyek lainnya berupa track-track Dekadenz edit. Lewat Dekadenz, Ojon, Adit dan Ridwan pun mencoba memperkenalkan karakter musik mereka sebagai dance music yang cenderung bernuansa gelap. Dengan suara kasar dari analog drum machine atau synth dan paduan unsur perkusi tropikal, membuat Dekadenz memiliki konsep party versinya sendiri. Hal tersebut dapat tergambar melalui musik pada podcast series ini, yang secara tidak langsung memotret atmosfer party ala bunker bawah tanah yang penuh peluh.
Ever had a long, tiering week? I've had two and so this is for all of you grinding daily. Take time to lower the lights, pour yourself a drink, and unwind.
Listen to this mixtape on Whiteboard Journal's Mixcloud.
01. Sonny Rollins - God Bless the Child
02. Joe Pass - Nuages
03. Wayne Shorter - Teru
04. Grant Green - Idle Moments
05. George Benson - Summer Wishes, Winter Dreams
06. John Coltrane - Naima
07. Jackie Maclean - Truth
08. Stanley Turrentine - Little Girl Blue
09. Cecil Mclorin Salvant - Monday
10. Joe Henderson - La Mesha
11. Kenny Burrell - Gee Baby Ain't I Good to You
12. Kenny Dorham - Lotus Flower
Sejak diinisiasi empat tahun yang lalu, selalu tercipta kenangan tersendiri dari setiap gelaran Film Musik Makan. Selain mempertemukan dua bidang kreatif Film dan Musik yang selama ini terasa seperti berjalan terpisah, Film Musik Makan terutamanya penting karena tradisinya yang menawan. Hampir setiap tahun, film yang diputar di festival ini kemudian meraih pujian di ajang internasional, dari “The Fox Exploits The Tiger Must” yang meraih pujian di Cannes, “Prenjak” yang juga meraih pencapaian di ajang yang sama, hingga “Siti” yang meraih banyak penghargaan di luar dan piala citra untuk film terbaik tahun 2015.
Dengan sejarah yang demikian, ada ekspektasi yang cukup tinggi pada gelaran keempat Film, Musik Makan 2017. Diadakan di tempat yang sama Goethe Institut Jakarta, awal Maret mendatang, Film Musik Makan tahun ini memiliki segalanya untuk menjawab tingginya ekspektasi ini. Pada press conference yang diadakan pada hari Kamis, 16 Februari 2017 di Kinosaurus, Kemang, tim penyelenggara memperkenalkan konsep yang mereka angkat tahun ini, sekaligus memberi cuplikan dari salah satu film yang akan ditayangkan perdana di Jakarta saat acara nantinya. Salah satunya yang diputar pagi itu adalah film panjang berjudul “Turah”, karya sutradara Wicaksono Wisnu Legowo. Film ini bercerita mengenai dilema kehidupan sosial sebuah kampung di Tegal, Jawa Tengah. Skrip yang real, dengan akting yang sangat kuat oleh casting yang terdiri dari para pemain teater, “Turah” mengingatkan pada kualitas “Siti” yang monumental itu.
Selain “Turah” akan diputar pula dua film panjang, salah satunya “Apprentice” karya sutradara Singapura, Boo Junfeng yang telah meraih “Official Selection Un Certain Regard” dari Cannes Film Festival 2016. Dan juga “Ziarah” karya BW Purbanegara yang telah memenangi Best Asian Feature daru Salamindanaw Asian Film Festival 2016.
Jika tahun 2016, Film Musik Makan mengundang White Shoes and The Couples Company, maka tahun ini musisi tamu yang akan bermain adalah Pandai Besi. Yang membuat penampilan Pandai Besi di acara ini semakin spesial adalah bahwa Poppie Airil dan kawan-kawan akan merilis satu single baru yang dibaut dari komposisi original Pandai Besi.
Dari sisi makanan, aktor sekaligus sutradara Lola Amaria yang biasa meracik makanan di Nasi Pedes Cipete akan bergabung dengan sinematografer Batara Goempar dan Aline Jusria yang berperan sebagai penyedia pangan di acara ini dengan resep tradisi yang tentunya menjadi salah satu alasan untuk menikmati festival ini. Pada hari Sabtu, 4 Maret 2017 Film Musik Makan akan dimulai dengan screening film jam 12:00 dan diakhiri dengan pentas Pandai Besi. Film Musik Makan bisa dinikmati dengan nilai donasi sebesar 200.000 (tidak termasuk makanan).
Info selengkapnya dan reservasi:
Email: filmmusikmakan@gmail.com
Telepon/Whatsapp: 085693346659
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?