Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Sex mungkin adalah wacana yang tabu bagi sebagian orang. Banyak yang menganggap hal keseharian tersebut bukan barang yang layak untuk dicermati. Dalam sejarah Yunani kuno dan seni rupa klasik, figur yang dihadirkan selalu telanjang, tetapi jarang yang secara langsung menggambarkan persetubuhan. Seks dan erotisme dalam literatur dari mulai Aristophanes sampai Marquis de Sade menyediakan ruang interpretasi atas kegiatan intim yang menunjang hidup peradaban manusia itu.
Adalah Alba Hodsoll, seniman muda asal New York yang mencoba memberi diskursus seks hari ini dengan menggelar sebuah pameran tunggal berjudul “PoV.” Ia mengambil judul sebuah genre dalam film pornografi “Point of View” di mana penonton seolah-olah menjadi partisipan langsung dalam sebuah film porno. Dalam eksibisi di Cob Gallery, London itu ia menampilkan seri karya lukisannya bersama dengan pemutaran film dokumenter tentang kelas melukis figur telanjang dan sesi di tempat.
Psikolog Sigmun Freud mengatakan bahwa mungkin kemanusiaan tidak digerakkan oleh sesuatu yang mulia tapi justru karena hasrat sex. Apa yang Alba tawarkan adalah romantisisme akan sex yang selama ini dianggap tabu. Lukisan yang ia buat adalah tiruan fragmen adegan persetubuhan dengan pemberian tekanan warna yang erotis: merah.
Ruang atas sex selama ini tertutup dan jika meneruskan apa yang pernah Freud bahas tentang seksualitas bahwa represi seksual seseorang bisa menentukan gejala psikologisnya ke depan. Apa yang Alba tawarkan adalah ruang terbuka untuk membicarakan dan melihat seks sebagai persatuan antara dua orang; atau lebih, untuk bersama bersepakat dan melebur pada tatanan yang setara.
Marvin V. Saliechan (The Colour Mellow, Rekah) dan Dylan Amirio (Logic Lost) telah berbagi proyek ambient dengan nama LL/TCM sejak 2013 lalu. Mereka telah merilis 3 dengan judul Colour Lost. Rilisan teranyar mereka "Morning Lights" bisa saja dibilang sebagai Colour Lost IV.
Ada jarak 4 tahun antara Colour Lost III dan Morning Lights. Di entitas ini terdapat tekanan gitar yang lebih berisik namun tetap mempertahankan kedamaian atmosfer ambient yang dibangun. Selain itu Marvin dan Dylan juga berbagi vokal pada beberapa lagu dan menjadikan EP ini sebagai satu-satunya yang baru memiliki muatan lirik di dalamnya.
Eksplorasi dua personel yang memiliki latar karakter musikalitas yang berbeda, berbaur dalam satu gubahan yang seimbang. Karakter gitar Marvin dan eksplorasi bebunyian Dylan disulam dalam satu bangunan ambient yang mengharuskan mereka mengatur nuansa damai. Ada siasat yang cermat dari pemilihan nuansa setiap lagu dan pemberian judul dalam entitas ini. Membaca karya ini akan sesederhana mendengarkannya.
Penyiaran Morning Lights sama seperti 3 EP lain yang sebelumnya yakni dapat dinikmati langsung lewat Bandcamp mereka.
Morning Light by LL/TCM
If you are familiar with both Labbi Sifre and RJD2 work, then you will probably be understand why this episode of Stereo Strange is called Full Circle, though I'm probably using the term wrong. Enjoy a mix of beat and guitar oriented mish mash of music in this episode!
Listen to this episode of Stereo Strange on Whiteboard Journal's Mixcloud.
01. Labbi Sifre - Bless the Telephone
02. Thundercat - Uh Uh
03. James Blake - Love What Happened Here
04. Sweet Taboo - Sometimes
05. Kutiman - I Think I Am feat Karolina
06. Arto Lindsay - Illuminated
07. Kaytranada Bad Bad Not Good - Weight Off
08. Jonti - Hornets
09. Sibylle Baier - Tonight
10. Ivan Ave - Obedience
11. RJD2 - Making Days Longer
Brand streetwear asal New York, Supreme, telah merilis Spring/Summer Collection untuk tahun 2017. Salah satu yang menarik adalah seri kolaborasi dengan menggunakan beberapa karya pelukis kelahiran Belanda, Maurits Cornellis Escher.
Escher adalah seniman grafis yang banyak karyanya mengambil bentuk geometris rumit seperti polyhedra yang diproduksi dengan teknik linocut atau . Ia memberi tekanan pada persepsi dimensional dan bentuk dalam karyanya. Hiperbola geometris yang ditawarkan oleh Escher mempengaruhi bentuk kerupaan dan beberapa aspek teknologi yang dekat dengan keseharian sekarang
Koleksi Supreme yang mengambil beberapa karya grafis Escher dicetak pada , dan topi. Beberapa hadir dengan pilihan 4 warna yakni hitam, putih, pink dan biru. Seri M.C. Escher ini telah dijual di New York, Paris, London, dan Jepang.
Karya Escher dianggap kental dengan nuansa sains dan teknologi dan karenanya dianggap dekat dengan kultur pop. Kolaborasi ini bisa jadi bentuk yang baik untuk menawarkan karya seniman yang telah meninggal pada 1972 lalu itu sebagai bentuk aplikasi seni rupa pada fashion.
Muhammad Zaki atau yang lebih dikenal dengan nama panggung DangerDope atau DJ Rencong telah merilis album penuh pertamanya bersamaan dengan perhelatan Record Store Day bulan April lalu. DJ dari Aceh ini telah menekuni jalan bermusik lebih dari 10 tahun dengan berbagai gaya lewat proyek panggung dan kolaborasi yang beragam sebelum ia menelurkan rilisan pertamanya.
Bangunan dan kolase musik yang ia pilih disusun dari rekaman komposer tanah air seperti Bob Tutupoli dan Lilies Suryani atau juga rekaman siaran TV tanah air yang ia padukan dengan instrumen tradisional. Menarik bisa mendengar nuansa ritme hip hop di antara rekaman jadul dan bangunan musik tradisional yang dihasilkan oleh seruling atau rebab misalnya.
Ia mungkin bukan yang pertama memasukkan nuansa tradisional tanah air yang dipadukan dengan subkultur hip hop, namun karakter musiknya berangkat dari kecermatan memilih serta mengiris nya menjadi satu komposisi yang dinamis. Lewat label PasPas Records yang juga merilis EP Ramayana Soul April lalu, “Raw Chapter One” bisa jadi alternatif musik yang layak didengarkan dan mari berharap akan ada “Raw Chapter Two” yang akan dihasilkan oleh yang kerap memakai topeng gas saat manggung ini.
Melihat lebih dekat pada posisi perempuan di Indonesia bersama unit yang telah mengangkat dan menyuarakan kesetaraan bagi semua, Kolektif Betina. Tentang bagaimana mereka menyebarkan kesadaran ke seluruh penjuru negeri, sembari terus mengembangkan diri.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?