Latest stories

09.05.17

Melihat Sex dalam Kacamata Seni

Sex mungkin adalah wacana yang tabu bagi sebagian orang. Banyak yang menganggap hal keseharian tersebut bukan barang yang layak untuk dicermati. Dalam sejarah Yunani kuno dan seni rupa klasik, figur yang dihadirkan selalu telanjang, tetapi jarang yang secara langsung menggambarkan persetubuhan. Seks dan erotisme dalam literatur dari mulai Aristophanes sampai Marquis de Sade menyediakan ruang interpretasi atas kegiatan intim yang menunjang hidup peradaban manusia itu. Adalah Alba Hodsoll, seniman muda asal New York yang mencoba memberi diskursus seks hari ini dengan menggelar sebuah pameran tunggal berjudul “PoV.” Ia mengambil judul sebuah genre dalam film pornografi “Point of View” di mana penonton seolah-olah menjadi partisipan langsung dalam sebuah film porno. Dalam eksibisi di Cob Gallery, London itu ia menampilkan seri karya lukisannya bersama dengan pemutaran film dokumenter tentang kelas melukis figur telanjang dan sesi di tempat. Psikolog Sigmun Freud mengatakan bahwa mungkin kemanusiaan tidak digerakkan oleh sesuatu yang mulia tapi justru karena hasrat sex. Apa yang Alba tawarkan adalah romantisisme akan sex yang selama ini dianggap tabu. Lukisan yang ia buat adalah tiruan fragmen adegan persetubuhan dengan pemberian tekanan warna yang erotis: merah. Ruang atas sex selama ini tertutup dan jika meneruskan apa yang pernah Freud bahas tentang seksualitas bahwa represi seksual seseorang bisa menentukan gejala psikologisnya ke depan. Apa yang Alba tawarkan adalah ruang terbuka untuk membicarakan dan melihat seks sebagai persatuan antara dua orang; atau lebih, untuk bersama bersepakat dan melebur pada tatanan yang setara.

09.05.17

LL/TCM Merilis EP “Morning Lights”

Marvin V. Saliechan (The Colour Mellow, Rekah) dan Dylan Amirio (Logic Lost) telah berbagi proyek ambient dengan nama LL/TCM sejak 2013 lalu. Mereka telah merilis 3 dengan judul Colour Lost. Rilisan teranyar mereka "Morning Lights" bisa saja dibilang sebagai Colour Lost IV. Ada jarak 4 tahun antara Colour Lost III dan Morning Lights. Di entitas ini terdapat tekanan gitar yang lebih berisik namun tetap mempertahankan kedamaian atmosfer ambient yang dibangun. Selain itu Marvin dan Dylan juga berbagi vokal pada beberapa lagu dan menjadikan EP ini sebagai satu-satunya yang baru memiliki muatan lirik di dalamnya. Eksplorasi dua personel yang memiliki latar karakter musikalitas yang berbeda, berbaur dalam satu gubahan yang seimbang. Karakter gitar Marvin dan eksplorasi bebunyian Dylan disulam dalam satu bangunan ambient yang mengharuskan mereka mengatur nuansa damai. Ada siasat yang cermat dari pemilihan nuansa setiap lagu dan pemberian judul dalam entitas ini. Membaca karya ini akan sesederhana mendengarkannya. Penyiaran Morning Lights sama seperti 3 EP lain yang sebelumnya yakni dapat dinikmati langsung lewat Bandcamp mereka. Morning Light by LL/TCM

Stereo Strange
09.05.17

Full Circle

If you are familiar with both Labbi Sifre and RJD2 work, then you will probably be understand why this episode of Stereo Strange is called Full Circle, though I'm probably using the term wrong. Enjoy a mix of beat and guitar oriented mish mash of music in this episode! Listen to this episode of Stereo Strange on Whiteboard Journal's Mixcloud. 01. Labbi Sifre - Bless the Telephone 02. Thundercat - Uh Uh 03. James Blake - Love What Happened Here 04. Sweet Taboo - Sometimes 05. Kutiman - I Think I Am feat Karolina 06. Arto Lindsay - Illuminated 07. Kaytranada Bad Bad Not Good - Weight Off 08. Jonti - Hornets 09. Sibylle Baier - Tonight 10. Ivan Ave - Obedience 11. RJD2 - Making Days Longer

08.05.17

Kolaborasi Karya Grafis M.C. Escher dan Supreme

Brand streetwear asal New York, Supreme, telah merilis Spring/Summer Collection untuk tahun 2017. Salah satu yang menarik adalah seri kolaborasi dengan menggunakan beberapa karya pelukis kelahiran Belanda, Maurits Cornellis Escher. Escher adalah seniman grafis yang banyak karyanya mengambil bentuk geometris rumit seperti polyhedra yang diproduksi dengan teknik linocut atau . Ia memberi tekanan pada persepsi dimensional dan bentuk dalam karyanya. Hiperbola geometris yang ditawarkan oleh Escher mempengaruhi bentuk kerupaan dan beberapa aspek teknologi yang dekat dengan keseharian sekarang Koleksi Supreme yang mengambil beberapa karya grafis Escher dicetak pada , dan topi. Beberapa hadir dengan pilihan 4 warna yakni hitam, putih, pink dan biru. Seri M.C. Escher ini telah dijual di New York, Paris, London, dan Jepang. Karya Escher dianggap kental dengan nuansa sains dan teknologi dan karenanya dianggap dekat dengan kultur pop. Kolaborasi ini bisa jadi bentuk yang baik untuk menawarkan karya seniman yang telah meninggal pada 1972 lalu itu sebagai bentuk aplikasi seni rupa pada fashion.

08.05.17

Kolase dalam Album Perdana Dangerdope “Raw Chapter One”

Muhammad Zaki atau yang lebih dikenal dengan nama panggung DangerDope atau DJ Rencong telah merilis album penuh pertamanya bersamaan dengan perhelatan Record Store Day bulan April lalu. DJ dari Aceh ini telah menekuni jalan bermusik lebih dari 10 tahun dengan berbagai gaya lewat proyek panggung dan kolaborasi yang beragam sebelum ia menelurkan rilisan pertamanya. Bangunan dan kolase musik yang ia pilih disusun dari rekaman komposer tanah air seperti Bob Tutupoli dan Lilies Suryani atau juga rekaman siaran TV tanah air yang ia padukan dengan instrumen tradisional. Menarik bisa mendengar nuansa ritme hip hop di antara rekaman jadul dan bangunan musik tradisional yang dihasilkan oleh seruling atau rebab misalnya. Ia mungkin bukan yang pertama memasukkan nuansa tradisional tanah air yang dipadukan dengan subkultur hip hop, namun karakter musiknya berangkat dari kecermatan memilih serta mengiris nya menjadi satu komposisi yang dinamis. Lewat label PasPas Records yang juga merilis EP Ramayana Soul April lalu, “Raw Chapter One” bisa jadi alternatif musik yang layak didengarkan dan mari berharap akan ada “Raw Chapter Two” yang akan dihasilkan oleh yang kerap memakai topeng gas saat manggung ini.

08.05.17

Kolektif Betina

Melihat lebih dekat pada posisi perempuan di Indonesia bersama unit yang telah mengangkat dan menyuarakan kesetaraan bagi semua, Kolektif Betina. Tentang bagaimana mereka menyebarkan kesadaran ke seluruh penjuru negeri, sembari terus mengembangkan diri.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.