Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Tidak dapat disangsikan dua album terdahulu mereka Wolfgang Amandeus Phoenix (2009) dan Bankrupt! (2013) mempunyai afeksi luar biasa. Tur dunia yang padat, single menduduki hingga mengisi festival-festival besar di penjuru dunia. Dari band indie yang hanya bisa memuja Cassius beralih menjadi salah satu pesona di jagat permusikan.
Namun setiap kesuksesan memiliki konsekuensi tersendiri. Kebosanan dan pelbagai sikap yang sering diejawantahkan sebagai macetnya inspirasi menjangkiti kuartet asal Versailles tersebut. Suka tak suka, produksi karya harus dihentikan sementara waktu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk melepas album terkini yang bertajuk “Ti Amo.”
Tiga nomor dikeluarkan sekaligus guna menjaga antusias lahirnya nuansa menyegarkan. Adalah “J-Boy”, “Ti Amo”, dan “Goodbye Soleil” yang didapuk Phoenix selaku senjata andalan. Secara garis besar, musikalitas mereka tak berubah banyak kecuali nada-nada mayor yang mendominasi lanskap notasi. Ketukan yang elegan, maupun permainan gitar repetitif masih menguasai papan teknis Thomas Mars, Deck d’Arcy, Laurent Brancowitz, dan Christian Mazzalai.
Munculnya album ini membawa angin sejuk tentang pertemuan yang diidam-idamkan sejak lama; musim panas, roman bahagia, atau kerinduan tak berbalas. Phoenix terlahir kembali seperti era French pop yang memenuhi seleksi lagu di Cherie FM atau Radio Nova dan sesuai judul albumnya, tiap lagu yang ada di dalamnya membuat pendengar ingin menghujani mereka dengan kata “ti amo.”
Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu indah yang menyentuh kalbu.
01. Chrisye - Kala Sang Surya Tenggelam
02. Sore - Aku
03. Suarasama - Sang Hyang Guru
04. Ramayana Soul - Terang
05. The Milo - Daun dan Ranting Menuju Surga
06. Tigapagi - Tangan Hampa dan Kaki Telanjang
07. Banda Neira - Sampai Jadi Debu (Menampilkan Gardika Gigih)
08. Bin Idris - Di Atas Perahu
09. Efek Rumah Kaca - Kuning
British photographer Cecilie Harris tries to evoke new thoughts from society of what it means to be masculine, and to be a boy that fits the criteria of being a man. Through her popular biannual print publication entitled “Boys By Girls,” Harris attempts to present visualization of boys in what she considers their natural ‘colors’ or identities. The aim of these visualizations is to present male figures as personal as possible, without making them look any less than a man no matter their nature. The emphasis of the publication would also be on ‘the female gaze’, on how female photographers may dismantle the already existing gender binaries through the way they choose to capture their subjects.
With the evolving recognition of women’s equal rights to men, and women’s position in the modern society becoming more considerable than they were just decades before, there may also be a shift in the general perception of women, whose socially-assigned characteristics and traits may not be considered as weak or embarrassing for men to also adopt as they used to be. Thomas Brodie-Sangster, one of the public figures photographed for this publication agrees with this thought as he stated that, “Every male has a feminine side.”
In its efforts to present more redefinitions of manhood, the publication also feature Solomon Golding, a gay, black male ballet dancer from London, along with a gay couple who’d met in an LGBT support group. It becomes more and more apparent how, the definitions of manhood, to figuratively illustrate it, doesn’t only consist of a range of certain dark, strong toned colors. It consists of the entire color spectrum.
And perhaps, in all the focus and concentration society places on how there should be a redefinition of what it means to be a woman (i.e. being a woman doesn’t necessarily mean you should be able to cook, do house chores, have babies), we have disregarded any possibility of the need to redefine what it means to be a man.
After all, man or woman, whatever our race, whomever we choose to love, whatever we decide to do with our bodies, and however we choose to celebrate ourselves, we are all a part of a grand color spectrum called life.
Pada submisi open columnya, Ikrar Raksaperdana menyoal tentang konsepsi ruang di era sekarang. Tentang bagaimana terjadi pergeseran fungsi di dalamnya dari waktu ke waktu, dan bagaimana dinamika sosial yang terjadi di dalamnya juga turut berubah.
Satuan Post-Hardcore dari Jakarta, Rekah, tengah bersiap merilis EP bertajuk "Berbagi Kamar". Rencananya, siaran digitalnya sudah dapat dinikmati secara penuh besok, Kamis (8/6). Entitas ini akan dirilis dalam format CD dan Kaset serta produksinya sedang berjalan dan akan selesai dalam waktu dekat.
Tomo dan kawan-kawan mempertahankan gelombang produktivitas yang signifikan. Bulan lalu mereka telah merilis video klip "Tentang Badai / Belajar Tenggelam" yang sekaligus merampung dua lagu kuat mereka lewat visual yang menggugah. Balutan musik keras dengan muatan lirik yang rinci sekaligus eksplisit menjadi senjata utama mereka.
Mereka akan merilis album pendek ini lewat label Royal Yawns, sebuah rumah rekaman independen asal Bandung. Materi entitas pendek ini layak untuk dicermati. Menyusun repertoire dengan satu benang merah yang baik, mini album ini adalah rilisan baik di pertengahan tahun yang terasa datar. Susunan lagu dalam album ini bisa dilihat dan akan bisa dinikmati lewat halaman bandcamp Rekah.
Menyimak jalannya film besutan Denis Villeneuve ibarat menyaksikan kondisi global hari ini yang sering muncul di kanal media berbayar ataupun warta cetak setempat - dipaksa tegang mengamati dan tak paham bagaimana akhir dari yang terjadi. Menggunakan premis sederhana untuk filmnya, publik pun menerima Villeneuve dengan tangan terbuka dan hal tersebut memang tak bisa dipungkiri karena ia bukan sekadar sutradara kemarin sore yang menonjol di layar pertama.
Villeneuve adalah hasil proses yang ditempa ribuan ide secara terus-menerus dengan durasi tak sebentar, dan lewat film pertamanya, Prisoners, ia membuka mata dunia mengenai potensinya. Film ini menuturkan misteri hilangnya sepasang anak dari dua keluarga di Pennsylvania pasca merayakan kunjungan Thanksgiving. Tanpa disadari, tanpa jejak, tanpa pertanda, keberadaan mereka lenyap dan seketika menimbulkan serangan panik bagi sang orang tua. Dari awal film, penonton diajak menyelusuri intrik yang membingungkan logika dengan apik lewat akting Hugh Jackman dan Jake Gyllenhaal berusaha membalap jalan waktu untuk menemukan anak yang hilang.
Prisoners kiranya berhasil mengawali langkah perhitungan seorang Denis Villeneuve. Walaupun kritikan perihal monotonnya film ini sejak babak mula terdengar di sekitar telinga, tapi keseluruhan berkata bahwa Prisoners hadir mengesankan. Dari sini kelak kita menyaksikan dan perlahan memahami isi otaknya yang ditumbuhi keliaran menyoal mafia narkoba di film Sicario, abstraknya konflik sci-fi di Arrival, dan menerka-nerka kerumitan humanisme pada Blade Runner 2049.
Prisoners (2013)
Sutradara: Denis Villeneuve
Sinopsis: Dari menit beralih ke jam, panik adalah satu-satunya yang ada dalam diri Dover. Sementara petunjuk hanya ada lewat RV bobrok yang tadinya di parkir di jalan mereka. Detektif Loki (Jake Gyllenhaal) telah menangkap pengendara RV itu, Alex Jones (Paul Dano). Tetapi penangkapan itu masih kurang bukti untuk menjadikan Alex seorang tersangka. Mengetahui nyawa putrinya sedang terancam, Dover memutuskan tidak ada pilihan lain kecuali menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri. (Film Bioskop)
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?