Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Bulan ini, film debut Francis Lee, “God’s Own Country” akan ditayangkan di seluruh bioskop di Inggris. Bertempat di peternakan di desa Yorkshire Dales, film ini menceritakan tentang Johnny, seorang peternak domba yang harus menjalankan tugas keluarganya untuk beternak, setelah ayahnya terkena stroke. Johnny merupakan orang yang sendirian. Kebiasaan menyakiti dirinya perlahan berubah ketika seorang imigran Romania bernama Gheorghe datang, menjadikan kisah hidup Johnny sebagai perjalanan mencari jati diri.
Film ini dijanjikan untuk menampilkan kisah cinta Johnny dan Gheorghe yang maskulin. Alih-alih menceritakan kisah cinta sesama jenis yang romantis, Francis Lee ingin menampilkan setiap adegan fisik secara realistis, sebagaimana pedesaan Yorkshire terasa nyata secara fisik dan emosional bagi Francis. Film ini juga menceritakan kebimbangan Johnny saat ingin memutuskan menjalankan hidup baru atau tetap tinggal di peternakan domba milik keluarganya.
“God’s Own Country” tidak sekadar menampilkan kisah cinta universal. Terdapat pesan yang lebih dalam dan filosofis, yaitu perjalanan mencari jati diri secara emosi, serta pelajaran mencintai orang lain dan diri sendiri, di tengah lingkungan yang membuat kita putus asa.
Diorganisir oleh ARCOLABS, Pameran Seni Media dan Instalasi Korea-Indonesia kembali digelar. Pada episode kelimanya, pameran ini hadir dengan tajuk “Nomadic Traveler” untuk mengkaji gagasan mengenai pengembaraan dan mobilitas manusia sebagai pertukaran nilai kebudayaan. Terdapat 8 seniman dari Indonesia dan Korea yang mengolah gagasan pengembaraan dengan pendekatan seni media, instalasi, dan teknologi.
Kurator Jeong-ok Jeon dan Evelyn Huang mengatakan, konsep nomadik ini tidak hanya dilihat secara fisik saja, tetapi juga metode kreatif para seniman. Sebagai salah satu seniman yang gemar mengeksplorasi ragam media, F.X Harsono membicarakan sejarah migrasi orang-orang Tionghoa ke Indonesia dalam berbagai periode. Instalasi “Perjalanan ke Masa Lalu/Migrasi” yang dibuat pada 2013 ini, menampilkan perahu berisikan lilin-lilin sembahyang yang dihadang oleh lautan huruf, di seberangnya terdapat sebuah kursi yang menduduki huruf-huruf tersebut. Karya ini membicarakan sejarah Tionghoa yang didistorsi oleh penguasa, serta adanya perbedaan bahasa ketika orang-orang Tionghoa datang ke Indonesia.
Berbeda dengan Lee Wan yang melakukan pengembaraannya ketika ia sampai di Indonesia. “The Travels of Lee Wan: Jakarta 2-8 Sep 2017” merupakan instalasi situs-spesifik yang menampilkan jurnal visual Lee Wan saat ia berjalan-jalan di Jakarta. Di salah satu tembok Edwin’s Gallery yang cukup tinggi, ia memajang ragam benda seperti wayang dan barang antik, serta menulis catatan-catatan harian selama perjalanannya.
Narasi yang terkandung di setiap karya tidak hanya mampu berdiri sendiri, tapi juga berkesinambungan dalam menjabarkan gagasan pameran. Setiap seniman pun merespons isu ini dengan sentuhan personal, terlihat dari bagaimana mereka membicarakan latar belakang dirinya baik dari segi sejarah maupun teritorial. Namun, pengunjung tetap bisa merelasikannya dengan isu yang ada kini. Dengan menghadirkan perspektif baru, pameran ini mengajak pengunjung untuk melihat isu pengembaraan secara lebih kritis.
Pameran Nomadic Traveler dilengkapi program publik seperti kuliah umum, tur pameran, dan lokakarya seni untuk anak.
-
7-17 September 2017
Senin-Sabtu
09:00-17:30
Edwin’s Gallery
Jl. Kemang Raya No.21
Kemang
Musik di balik film Badai Pasti Berlalu merupakan karya Eros Djarot yang monumental dan masih dipuja hingga hari ini. Berbekal kenekatan dan rasa, ia berhasil membuat musik yang mampu bercerita dengan sendirinya. Kami menemuinya di rumahnya untuk membahas originalitas di blantika musik lokal dan pesta disko berisi lagu Indonesia.
Tentunya rasisme sudah tidak menjadi topik yang asing lagi, khususnya jika kita kerap kali memantau berita mengenai diskriminasi ras kulit hitam di Amerika Serikat atau kampanye Black Lives Matter. Secara umum pemahaman tentang rasisme yang menaruh stereotype atau generalisasi dari suatu ras pun barangkali juga tidak asing lagi, namun mungkin yang belum menjadi pemahaman umum adalah bahwa contoh mengenai rasisme dan stereotype tidak perlu jauh-jauh dicari hingga ke Amerika Serikat; perempuan Asia pun turut mengalaminya.
“Tidak semua dari kami (wanita Asia) bertubuh mungil, ramping, bersifat penurut dan submisif,” ujar Elizabeth Gabrielle Lee selaku koordinator dari Xing, serangkaian karya fotografi dari sederet fotografer ternama seperti Vivian Fu, Clara Lee, Ronan Mckenzie, dan Lee sendiri, yang mengeksplorasi tema stereotype yang tanpa disadari melanda banyak perempuan Asia. Xing diintensikan menjadi sebuah cemoohan atas standarisasi tersebut, sekaligus menunjukkan bagaimana konvensionalitas bukan menjadi satu-satunya resep dari keindahan.
Hal ini menurut Lee juga seringkali diasosiasikan dengan seksualitas, dan ya, memang perempuan Asia kerap ditampilkan dalam media dan masyarakat sebagai makhluk yang cantik dan atraktif. Namun ada ilusi di sana; ada suatu ketabuan di dalam pemahaman tersebut yang justru tidak menjadikan perempuan yang dimaksud terjauh dari pengaruh yang mengekang batinnya secara seksual dan emosional.
Mungkinkah kita dikelilingi masyarakat yang masih termakan ilusi tersebut? Atau sudahkah ilusi tersebut memakan rasio kita dalam memandang perempuan sekitar kita? Barangkali jawabannya hanya dapat ditemukan dengan menyanyakan diri sendiri, apakah sebelum menyelesaikan tulisan ini, standar-standar tersebut tidak nampak sebagai stereotype dan hanya sebagai karakteristik yang wajar dan biasa saja?
Winky Wiryawan is probably one of the last trance DJ standing in Indonesia. With his JUNKO outfit and Sundanese charms, Winky still keeps the dance floor trance hot!!! Check out the music that formed this talented artist and stories of his first ever LP, PLAYLIST!
01. Chopin - Minute Waltz Op 64 No 1
02. Sepultura - Dead Embryonic Cells
03. Metallica - Sad But True
04. Knife Party - Begin Again
05. Madeon - Technicolor
06. Michael Jackson - One Day in Your Life
07. Rage Against the Machine - Fistful of Steel
Mendengarkan ode dan kegelisahan Oscar Lolang yang ia nyanyikan di album pertamanya. Sembari memahami pandangannya mengenai folk lokal, hingga keinginannya berkolaborasi dengan Vira Talisa.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?