Bagaimana Kita Merayakan Piala Dunia saat Semesta Tak Sedang Baik-Baik Saja
Kami sempatkan untuk ngobrol dengan beberapa sosok dari berbagai latar belakang dan fokus—semua yang merindukan rasa euforia itu dari Piala Dunia dan sepak bola.
Kami sempatkan untuk ngobrol dengan beberapa sosok dari berbagai latar belakang dan fokus—semua yang merindukan rasa euforia itu dari Piala Dunia dan sepak bola.
Kami sempatkan untuk ngobrol dengan beberapa sosok dari berbagai latar belakang dan fokus—semua yang merindukan rasa euforia itu dari Piala Dunia dan sepak bola.
In this Open Column submission, Jagardo Gabetorang Damanik jots down the facts that show how disability representation in Indonesia is a lot more urgent now, more so due to political leadership here that continues to be associated with 'ideals' that marginalize those who do not conform.
Fashion designer Toton Januar ngobrol dengan beragam tokoh dari koridor yang berbeda demi terciptanya panduan dalam menavigasi masa depan yang tidak menentu.
In this Open Column submission, Early NHS writes the bitter and often overlooked reality behind major-sounding Musik Timur, and how people need to take into account the reality in which Orang Timur face: racism, land dispossession, extractivism, and political marginalization.
Dalam Open Column ini, Muhammad Zaidan menuliskan kemiripan yang ia temukan dari film Edwin yang akan datang, Monster Pabrik Rambut (2026), dengan iklim eksploitatif di lanskap pekerjaan hari ini, dan bagaimana horor yang pelan-pelan menyergap itu kian menjadi nyata selagi durasi film bergulir.
Menjelang hadirnya Romantisasi Impulsif (2026), kami berbincang dengan Tata dan Adji mengenai keterbatasan yang membentuk identitas The Jansen, kecintaan mereka terhadap format album, hingga ambisi untuk membangun semesta cerita yang melampaui musik itu sendiri.