
Artist on Artist: Fengshui Berbincang dengan Paguyuban Crowd Surf, Kolibri Rekords, sampai Club Vixxxen tentang Bikin Acara Musik di Saat Situasi yang Semakin Tak Menentu
Merespons waktu-waktu tidak menentu ini, kolektif musik tetap memastikan the show must go on. Fengshui, kolektif musik dari Universitas Moestopo, ngobrol dengan mereka yang sudah lebih dulu babak belur menjalani hidup sebagai kolektif yang merayakan musik: Paguyuban Crowd Surf, Kolibri Rekords, Pokta Collective, Club Vixxxen, dan Ruang Baur.
Words by Whiteboard Journal
Words: Rajan Nausa
Photo: Fengshui
Bagi seorang batita yang baru merangkak ke usia dua tahun, dunia terasa begitu besar, membuatnya ingin selalu menjelajahi semua sudut yang ada. Kurang lebih begitu pula yang tengah dirasakan Fengshui.
Lahir dari lingkungan kampus Universitas Prof. Dr. Moestopo, Fengshui berangkat dari keresahan yang tumbuh di kampus dan keinginan sederhana untuk membangun “rumah buat anak-anak.” Begitu tutur Dirga, satu dari empat penggagasnya.
Untuk itu, setelah menggelar Puncak Perayaan 2 Kalender-nya, dan sembari mengumpulkan nekat untuk melangkah lebih jauh, Dirga dari Fengshui mewawancarai mereka yang sudah lebih dulu babak belur menjalani hidup sebagai kolektif yang merayakan musik: Paguyuban Crowd Surf, Kolibri Rekords, Pokta Collective, Club Vixxxen, dan Ruang Baur.
Kalau harus balik ke umur dua tahun sebagai kolektif, satu hal apa yang ingin kalian lakukan lebih cepat?
Ruang Baur (Mahendra Ihsan): Mungkin lebih ngerjain dengan serius dan fulfilled aja sih, karena mungkin hal yang dilakukannya lebih cepat atau terlambat kayaknya itu tetep proses buat ngejalanin sebuah kolektif.
Serius juga nggak melulu kaku, membosankan, juga membebani, lebih ke apa yang pengen dibikin, ya bikin aja.
Paguyuban Crowd Surf (Robonggo): Bubar.
Kolibri Rekords (Daffa): Tidak ada. Kami percaya setiap kolektif punya waktu, proses, jalan, dan pembelajaran masing-masing di tiap babaknya yang unik dan harus dilewati sendiri dengan alami dan dengan ketidaktahuan. Kami sangat menikmati keamatiran umur dua, lima, delapan, dua belas tahun kami. Tidak ada yang harus dilakukan lebih cepat selain terus melakukan apa yang menyenangkan dan harus dilakukan pada saat itu. Kolektif yang panjang umur adalah yang bersenang-senang dan tidak terburu-buru.
Pokta Collective (Dai): Bikin gigs sebanyak-banyaknya dan lebih berani berjejaring ke banyak hal di luar musik. Rasanya itu akan jadi sebuah perpanjangan umur kolektif yang dampaknya akan terasa begitu baik di kemudian hari—karena nggak langsung kelihatan kayak mukjizat.
Club Vixxxen (Jordan): Nggak sering-sering bikin acara! Buat mereka kangen dan FOMO jadi mereka nggak bosen sama acara kami.
Club Vixxxen (Zara): Betul, selain itu kayaknya kami nggak ada penyesalan apa-apa. Kami melakukan apa yang kami bisa dengan pengetahuan yang kami punya saat itu. Pelajaran-pelajaran ini yang membuat kami menjadi seperti hari ini.
Apa arti “berkelanjutan” bagi sebuah kolektif musik di hari ini?
Ruang Baur (Mahendra Ihsan): Bisa terus berjalan dan berdampak positif terhadap orang-orang di dalamnya. Sisi lebih spesifik dalam pendanaan, di saat bisa terus berputar dan pemanfaatannya tepat mungkin akan hadir keberlanjutan itu. Agar tetap ada. Agar tetap lanjut. Walaupun mungkin orangnya berganti tapi ideas kolektifnya bisa terus menular.
Paguyuban Crowd Surf (Robonggo): Regenerasi. Karena ketika kolektif itu bisa beregenerasi berarti akan selalu ada ide liar yang baru.
Tidak harus berusaha relevan yang penting masih percaya diri sama ide-ide tersebut.
Kolibri Rekords (Daffa): Keinginan, keberanian, dan kerendahan hati untuk secara sadar terbuka terhadap hal baru, perubahan, dan kemungkinan besar kalau kita tidak akan selamanya relevan dan menarik. Terbuka untuk terus mengoreksi dan meredefinisi diri baik sebagai kolektif atau sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar tanpa harus trying too hard to fit.
Keep learning and unlearning things biar tidak jadi kolot, sotoy, dan sok iye. Selera, skill, pengetahuan, dan keputusan yang kita punya hari ini harus bisa menjadi dan digunakan untuk platforming teman-teman berikutnya.
Pokta Collective (Dai): “Berkelanjutan” sebuah kolektif hari ini kayaknya saya maknai jadi sebuah cara bertahan hidupnya kolektif, sih.
Seperti bertahan untuk nggak cuma gimana kita bisa terus bikin acara, bertahan untuk mewadahi dan keep in touch sama teman-teman yang terus support kolektif, bertahan untuk untuk terus “ada”, itu juga bentuk berkelanjutan yang harus diperhatikan sama teman-teman yang sedang berkolektif atau akan mulai membuat kolektif.
Club Vixxxen (Zara): Terus beraktivitas dan berkarya selama mungkin hingga dapat menjadi wadah untuk regenerasi. Tidak burnout setelah mengerjakan acara terus-menerus selama beberapa tahun (*points to self*). Mengembangkan skala acara juga jadi salah satu bentuk sukses dari berkelanjutan.
Gimana caranya kalian dalam menciptakan ekosistem yang sehat dan tidak mencekik pihak mana pun – baik kolektif, band, venue, sampai vendor?
Ruang Baur (Mahendra Ihsan): Keterbukaan satu sama lain bisa menjadi hal yang patut di coba. Saat dampak struktural yang dirasakan 4 variabel tersebut (5 dengan pengunjung), mau nggak mau akan memengaruhi ekosistem tersebut.
Daya beli tiket, kebutuhan band, kerja vendor, keberlangsungan venue, juga penyelenggara kolektif yang memiliki objektifnya masing-masing. Mencoba sehat dan tidak mencekik masing-masing memerlukan koordinasi dan keinginan untuk membuat itu terjadi bersama.
Paguyuban Crowd Surf (Robonggo): Kalau yang dilakukan dari kolektif kami di acara berseri, ngatur cash flow itu hal terpenting—karena seringnya acara kami digelar secara independen.
Sebisa mungkin kami juga transparan cash flow itu di depan untuk semua yang terlibat. Kecuali venue sama vendor, karena mereka sudah ada harga pasti dan seringnya kami yang ikut saran kebijakan mereka.
Kolibri Rekords (Daffa): Sejujurnya kami juga belum tahu dan masih terus belajar dan mengupayakan apa yang kami rasa paling layak. Untuk saat ini mungkin by always putting ourselves last dan berfokus pada apa yang bisa kami berikan ke penonton.
Pokta Collective (Dai): Komunikasi jadi hal penting juga ya di dalam kolektif. Misal di dalam kolektifnya, siapa berperan apa di hari acara itu juga penting.
Nggak harus saklek kayak organisasi, sih. Tapi, seenggaknya jadi tanggung jawab untuk kelancaran acara. Untuk band yang main, kami juga menjelaskan teknis acaranya seperti apa. Misal studio gigs A–Z-nya seperti ini, untuk acara bersponsor dari A–Z-nya seperti ini. Supaya nggak ada kesalahpahaman atau bahkan keributan-keributan yang memang seharusnya nggak perlu.
Untuk venue, ini juga krusial, karena benar-benar perlu dicari jalan tengahnya—sharing profit, FDC, dan skema lainnya sebaiknya beres di awal sesuai dengan insting dan kemampuan kolektifnya. Nggak perlu memaksakan venue yang standarnya harus gimana-gimana kalau nantinya malah bikin kolektifnya yang sakit kepala.
Vendor juga nggak kalah krusialnya. Paling dekat kebutuhannya tentu soundsystem dan alat-alat perintilannya. Negosiasilah dengan baik. Kalau buntu, coba cari teman-teman terdekat yang punya alat-alat serupa. Siapa tahu nilainya bisa miring dikit atas nama kolektif. Hehehehe.
Club Vixxxen (Jordan): Mencoba untuk mendengar input dan masukan dari berbagai pihak. Walaupun kadang tidak semua masukan bisa menjadi suatu yang beneficial untuk satu sama lain, contohnya: banyak orang yang mau guestlist—yang kadang kami mengerti untuk para teman-teman yang lagi mengalami halangan finansial—tapi banyaknya bagi-bagi guestlist juga tidak baik untuk kolektif. Apalagi kalo lagi ngundang DJ dari luar negeri, yang akhirnya malah tidak menutup semua cost-nya. Ini juga bisa jadi snowball effect.
Club Vixxxen (Zara): Mengedukasi dan meyakinkan audiens bahwa selain dukungan di media sosial, dukungan secara fisik dan finansial juga akan menguntungkan mereka sendiri (selain pihak-pihak lain yang terlibat di balik layar).
Sebagai komunitas, penting untuk memahami bahwa acara musik independen sangat membutuhkan komunitas itu sendiri untuk terus bergerak. Pada akhirnya, uang yang dihasilkan dari setiap acara kami selalu kami jadikan biaya produksi untuk acara kami selanjutnya, yang bisa dinikmati teman-teman juga sekaligus mendukung venue dan vendor yang selama ini sudah menyediakan tempat untuk kita semua.
Kalau nggak mau bayar untuk musik dan acara produksi orang lain, apa bedanya dengan pengguna generative AI?
Cara kalian menentukan program yang benar-benar dibutuhkan komunitas, bukan cuma ikut arus tren?
Ruang Baur (Mahendra Ihsan): Lebih ke bikin apa yang suka aja, dibutuhkan mungkin belum tentu. Arus tren juga cepet banget dan kadang itu-itu lagi, template-nya sama, cuma modif dikit. Jangan sampai jadi komoditas dan ditunggangi aja sih kebutuhan komunitas itu.
Paguyuban Crowd Surf (Robonggo): Untuk scouting talent baru kami biasanya masih tanya-tanya beberapa rekomendasi teman terdekat kami. Yang semangatnya masih sama dengan kami. Datang ke gigs, atau digging lewat Bandcamp/Soundcloud. Sisanya band-band bagus yang [emang] udah lama nggak main, kami usahakan main dengan kami.
Kolibri Rekords (Daffa): Dengan memastikan diri kalau kita juga datang dan adalah bagian dari komunitas itu sendiri dan tidak melihat teman-teman di sana sebatas potential market atau sumber cuan.
Pokta Collective (Dai): Sejauh ini, kami nggak pernah ikutan tren yang gimana-gimana, sih. Karena apa yang kami bikin, itu yang bikin kami senang dan sesuai kemampuan kami aja.
Kalau ngomongin program yang kaitannya sama kolektif atau komunitas lain yang mau coba berdampingan sama Pokta, kami selalu terbuka. Beberapa waktu lalu kami diajak kolaborasi sama Intromagz untuk turnamen PS. Kami yang hobby main game jadi punya jeda sedikit dari urusan musik di atas dan belakang panggung, karena tetep bisa ngumpul dan senang-senang.
Jadi, ya, memperluas makna kolektif yang nggak cuma sebatas penampil dan penonton.
Club Vixxxen (Jordan): Dengerin apa yang market lagi mau, atau buat sesuatu yang baru yang mungkin sebenarnya ada marketnya tapi nggak pernah aja ada acara untuk spesifik market tersebut.
Club Vixxxen (Zara): Being nosy online… Hahaha. Aku cukup sering search keyword-keyword tertentu untuk cari tahu apa yang lagi diperlukan DAN diinginkan oleh audiens. Tapi nggak jarang juga apa yang aku kira bakal ramai menurut animo media sosial ternyata cuma heboh di kalangan chronically online saja, nggak berlanjut beneran datang ke acaranya.
Ketika banyak orang mempertanyakan relevansi untuk berkumpul dan “merayakan musik” di tengah krisis, bagaimana kalian memaknai pentingnya tetap membuat gigs atau acara musik independen?
Ruang Baur (Mahendra Ihsan): [Berkumpul] jadi salah satu cara yang bisa dilakukan dan bisa menjadi distraksi dari krisis yang terus terjadi.
Mungkin banyak yang bingung juga harus apa di masa-masa ini, dan alasan berkumpul yang sudah kita kenal [dengan] akrab ya memusika– apalagi banyak musik/aktivasi yang memang berlandaskan krisis itu sendiri. Sehingga relatable, dan nggak lagu cinta doang.
Paguyuban Crowd Surf (Robonggo): Menurut saya pribadi, pentingnya di kondisi seperti sekarang. Gigs buat saya itu mungkin perannya jadi melting pot saja.
Dari nongkrong dan jalin tali silahturahmi dengan kawan-kawan lama, melihat kawan-kawan kondisinya sehat mental dan jasmani sudah senang—yang di mana perannya memang sudah begitu sebelumnya.
Jadi, secara tidak langsung membuat gigs itu penting untuk ‘anak-anak’ juga. Kalau tidak ada yang dikejar, digelar jarang pun tidak masalah.
Kolibri Rekords (Daffa): Membuat gigs, independen atau tidak independen, tidak pernah sepenting itu. Buat dan rayakan musik hanya ketika semua teman-teman kita bisa ikut merayakannya bersama-sama.
Pokta Collective (Dai): Entah berlebihan atau nggak, tapi yang bikin kami tetap waras di kondisi hari ini kayaknya memang musik-musikan deh.
Kami buat gigs itu biar ketemu temen-temen, ngobrol, lihat band-band baru, menjamu teman-teman yang sedang tur, atau yang sekadar “haha hihi” itu mungkin menyelamatkan orang-orang yang harinya sedang nggak karuan.
Dan lagi-lagi, gigs yang kami bikin itu jadi sebuah perayaan yang bisa dirayakan semua yang datang tanpa harus bermegah-megahan.
Club Vixxxen (Zara): Di saat berita-berita tentang intoleransi dan diskriminasi terus mendominasi, penting untuk membuktikan dan meyakinkan diri sendiri bahwa kita tidak sendirian.
Datang ke club, dandan seperti yang kalian mau, bertemu teman-teman, dengerin musik yang kamu suka dan joget. Walaupun cuma beberapa jam, aku ingin menunjukkan bahwa dunia yang menerima kita apa adanya itu ada dan kita bisa membangunnya bersama-sama.
Gimana kalau menjaga ruang aman dari sisi pelaksana? Bagaimana cara kalian memastikan setiap hajat musik berjalan dengan aman dan inklusif untuk semua warga?
Ruang Baur (Mahendra Ihsan): Syukurnya, kesadaran untuk menjaga ruang yang inklusif dan aman sudah sering kita lihat dan rasakan. Kolektif/acara sudah mulai gencar membuat aturan yang bermuara untuk kenyamanan semua orang. Namun, terkadang masih ada saja oknum yang memang pada akhirnya mungkin tidak memiliki niat untuk mengapresiasi hajat musik yang ia datangi.
Harapannya lebih gencar lagi bahasan-bahasan mengenai ruang aman ini dan dinikmati oleh setiap elemen yang terlibat pada terwujudnya sebuah hajat musik.
Paguyuban Crowd Surf (Robonggo): Mungkin sebelum hari acara, kami biasanya mengingatkan atau mengedukasi lagi tentang ruang aman.
Di hari acara kami menempel poster mitigasinya yang mana sudah kami siapkan poskonya. Jadi misalkan ada yang merasa dirugikan, bisa menghampiri posko tersebut. Sebelum acara dimulai kami biasanya mengumumkan himbauan tentang poin-poin ruang aman dan mitigasinya.
Kolibri Rekords (Daffa): Kami percaya ruang aman bukan label yang bisa kami tempel di poster atau klaim sepihak melainkan sesuatu yang harus terus diupayakan lewat nilai dan tindakan sehari-hari dan lebih pantas dinilai oleh orang-orang yang datang.
Sampai saat ini yang kami coba lakukan adalah memilih kolaborator, venue, dan vendor yang sejalan dengan nilai yang kami pegang, memastikan semua pihak yang terlibat tahu apa yang tidak boleh terjadi, siapa yang harus dibela, bagaimana merespons ketika ada pelecehan, diskriminasi, atau situasi yang membuat orang lain merasa tidak aman, serta berani bertindak ketika diperlukan.
Kami juga percaya inklusivitas tidak hadir dari kebijakan panitia saja. Ruang aman dibentuk oleh budaya yang kita rawat bersama. Kalau sejak awal sebuah kolektif atau komunitas dibangun dengan rasa saling menghormati, kasih sayang, dan keinginan untuk membuat lebih banyak orang merasa bisa menjadi dirinya sendiri dengan aman, kami percaya orang-orang yang datang pun akan ikut membawa dan memperkuat nilai yang sama.
Walaupun masalah tidak otomatis hilang, tapi saat yang ditakutkan terjadi, harapannya semua yang terlibat punya kepedulian dan keberanian untuk saling menjaga.
Pokta Collective (Dai): Di banyak kesempatan, kami sebagai kolektif terus ngingetin untuk penonton kalau acara yang mereka datengin itu ruang aman untuk siapa pun. Supaya nggak ada tindak pelecehan atau tindakan kejahatan lainnya.
Karena kadang nggak sedikit wajah-wajah baru yang datang ke gigs dan terpapar hal tersebut. Selain itu, kami sangat berterima kasih juga ke beberapa band yang spreading awareness soal itu di panggung.
Nggak lupa, kami mengingatkan untuk mereka yang datang untuk tahu batasan ketika menonton. Moshing boleh, ngerusak pedalboard dan venue jangan. Semuanya boleh bersenang-senang, tapi kalau ruangnya hilang kan kami sedih juga. Hehehe.
Club Vixxxen (Jordan): Club Vixxxen dimulai karena adanya kekurangan ruang dan acara yang saya sendiri pikir cukup repetitive dan tidak se-inklusif itu. Salah satu hal yang Club Vixxxen lakukan juga scouting talent-talent baru dan membuat platform untuk para hidden talents ini bertampil.



