
W_LIST: Best Local Music of 2026 (So Far)
Kami memilih lagu-lagu lokal terbaik sepanjang pertengahan 2026.
Words by Whiteboard Journal
Image: Riezky Hana
Jika produk kebudayaan adalah cerminan situasi bangsa, maka dari lagu-lagu yang masuk di list ini, kita bisa melihat bahwa negara kita semakin carut-marut, bumi menuju ambruk, dan kita tak bisa berkutik karena kita, WNI, seolah destined to live with nasib buruk.
Tapi, jika Martin Suryajaya punya Kiat Sukses Sukses Hancur Lebur (2016), maka barangkali, yang kita punya adalah lagu-lagu ini. Karena di antara segala macam yang harus kita hadapi, di antaranya kita masih akan jatuh hati, berdansa, mengulik jati diri dan untuk itu semua, kita berhutang terima kasih kepada mereka.
Seringai – Akar
If there’s any silver lining after Mas Ricky’s passing, salah satunya mungkin adalah bahwa kita bisa memasukkan Seringai di list semacam ini lagi tanpa ada concern konflik kepentingan.
Karena, dilema atas konflik kepentingan itu akan sangat menyiksa bila lagu yang kita debatkan adalah “Akar”. Selama ini, kita mengidentifikasi bahwa Seringai adalah amarah, kemuakan yang dikibarkan dengan lantang. Lagu ini, adalah antitesisnya. Bahwa mereka juga manusia yang pula punya momen-momen sunyinya. Dan, seperti layaknya hal-hal lain di semesta, mereka yang tertawa paling keras, maka merekalah yang akan paling menggerus saat gundah. Dan itulah yang terjadi di sini, if not more. We all miss you Mas, yet all we have is this sad (otherwise great) song of you. [MH]
Flowr Pit – Tiba Waktunya
Terletak satu lagu sebelum album tiba pada akhirnya, “Tiba Waktunya” menjadi kilas balik cepat akan segala yang terjadi selama Super Possible (2026) menjadi keutuhan yang penuh cerita dan memori. One of those ‘life flashes before your eyes’ type of moments. Dan dengan itu juga, kita bisa mengenal segala manuver dan kekhasan dari sang songwriter, Alfath, dengan cepat—meski itu akan mengkhianati beragam kisah lainnya dalam album berisikan 12 lagu ini.
Kembali ke “Tiba Waktunya,” ia bertengger di segmen imajiner album yang mengubah arah penceritaan menjadi dalam bahasa Indonesia—yang ternyata, seperti pengamatan kawanku, lebih gelap dan introspektif ketimbang ketika lirik ditulis dalam bahasa Inggris. Apakah karena bahasa Indonesia menjadi bahasa ibu yang secara intuitif menjadi medium untuk mengeluhkan segala keresahan?
Apa pun jawabannya, Alfath tetap menitikkan sedikit harapan di chorus, dengan jatuhnya major sebagai chord kedua di progresi momen yang bisa terlewatkan jika terfokus (atau bahkan terkecoh) pada gaduh drums dan tumpukan gitar-gitar yang angsty. Di tengah itu, terucapkan “Akan tiba waktunya,” dan mungkin kita masih bisa bareng-bareng menunggu momen major itu, sembari riuh redam instrumen membawa kita menuju swan song album ini, “Selamanya.” Mungkin itu berlaku untuk the best of us, and for those who left us. [GF]
Kareem Soenharjo – Special Wishes I
My first experience with Tapas album was surrounded by marbled tiles in a hotel in Solo for a work trip at 6 AM. Sore, cold and damp, but the moment the timestamp landed on this song, I inevitably ended up feeling soothed ( I feel dilemmatic whether to put the first track or this one in my list, since ‘5864’ is a hell of a song for an intro.)
From Yosugi, BAP., to Bapak, and now Kareem Soenharjo. It feels like a privilege in itself to have grown alongside Kareem’s music all these years.
‘Special Wishes I’ feels like a new mature adult impersonated. Making a room for oneself to be sad and to isolate is one of the best ways to navigate adulthood. [JP]
Yoko City Ghost – Malari ’74
Bubbly and soothing – kontras dengan lirik dan kisah tragis yang diangkat dalam lagu. Goes to show kalau ‘lagu protes’ emang nggak melulu harus keras.
Untuk lagu yang berdurasi relatif panjang, alias 8 menitan, replay value-nya tinggi. Nggak heran, soalnya tiap bagiannya – dari intro dengan bunyi-bunyi creature-like, sampai melodi dan vokal yang kemudian masuk (dan nyangkut di kepala!) – terjahit jadi satu tapestry yang enchanting.
Nggak sabar buat ngikutin perjalanan ‘di bumi’-nya Yoko City Ghost. Dan kalau Gorillaz punya The Mountain (2026) yang bisa ngajarin soal duka dan penerimaan lewat lore dan world building yang mereka bangun, era baru band Medan ini agaknya bisa nge-capture hal yang kami, warga bumi, perlu untuk diingat kembali. [RN]
Alkateri – Lebih Dari (Love as Punishment Version)
Trip hop is alive and well in Indonesia, thanks to Love as Punishment. The duo’s latest rendition of Alkateri channels the spirit of Primal Scream, blending psychedelia with ’90s beat and a kraut-like atmosphere.
Can’t wait to hear what they come up with when they release their own material. [HA]
Pure Wrath – Spectral Insomnia
Jika di luar sana ada Agriculture yang merobek-robek pakem musik metal, untuk menemukan bentuk baru dari genre ini yang lebih hidup dan terhidupi. Di sini kita punya Pure Wrath yang rasanya mengarah ke jalur yang sama. Terutama di lagu ini. Kelokan-kelokan musiknya curam, tapi terasa intentional dan purposeful untuk isi lagunya. Dan much needed perspective di ranah metal kontemporer. In a world where we have curveball horror movies like backrooms, and the vvitch, we definitely need more bizarre songs for it. More of this pls. [MH]
Mustika – Rubber
Mungkin tepat untuk dibilang pengaruh-pengaruh Shibuya-kei hidup dalam setiap kelokan chord dan kocokan gitarnya, tapi tetap dengan elemen familier pop dan setitik wistfulness – terutama di chorus!
Kembali mempertanggungjawabkan poin Shibuya-kei, dengarkan tangga chords yang ditempuh dengan terang dan bermain di putaran jazz, ditambah warna gitar yang terang semakin membuat semburat optimisma khas Jepang era itu. Belum lagi mengenai sinkopasi yang menyapa di kanan–kiri seiring lagu melaju.
Belum selesai di situ, pilihan vokal yang melodius pun sukses membangunkan sisi energi coming of age yang mungkin dibutuhkan oleh kita di waktu-waktu seperti ini—simak juga bagaimana pre-chorus kedua bisa terasa cocok untuk mengiringi dua karakter yang berlari kencang, seperti mengejar sesuatu. Lagipula, penyanyi menyanyikan “whatever happen / just laugh / cuz all of this is just a test!”
Bahkan, ketika bridge hanya mengeluarkan vokal yang seperti dinyanyikan dari speaker kecil di suatu tongkrongan yang sedang ada bassist nyobain pedalnya (ada nggak ya, skenario begini), Mustika konsisten menunjukkan bagaimana mereka paham akan permainan dinamika demi menjaga perhatian pendengar terus ke segala teka-tekinya. [GF]
Jo Soegono – Lepas Kendali
Jo Soegono is the answer to what we really need in 2026. Saat nonton live di Prambanan Jazz kemarin, satu ruangan benar-benar dibikin joget (yang sepertinya udah jarang terjadi di ruang-ruang musik) sama Jo.
Di ‘Lepas Kendali,’ Jo tetap konsisten dengan lirik-lirik flirty-nya yang tetap enjoyable untuk didengar. Walaupun liriknya intimate, lagu ini tetap bisa didengarkan collectively dan possibly bisa jadi lagu yang bikin lepas kendali untuk bikin joget pit? [JP]
Rantau – Post-Hipdut
Safe to say, this is THE outburst anthem we needed. Kalau bisa digambarin, bayangin lagi doomscrolling di dalam truk yang balapan di Lintas Sumatra, AUX-nya nyetel Paris Texas era 2025 campur Prontaxan, sambil ada suara bocor orang di samping lagi nonton Naruto dub indo.
Gua rasa, lagu (bahkan album) ini juga bisa jadi cerminan kuat terhadap budaya anak muda pasca-internet di hari ini; peduli setan, meta-ironis, explosive AND substantial, very present yet vaguely nostalgic.
Jadi mungkin, kalau bertanya-tanya akan: ‘what comes after the hipdut wave?’ Well this! And if this is it, rest assured, we’re in good hands. [RN]
Thee Marloes – I’m Just a Girl
This track firmly stamps Thee Marloes onto the soul music map.
Driven by a ’70s groove, it feels like the soundtrack to a sleek spy thriller or classic cop film. Blending cinematic flair with an infectious, danceable rhythm, it expands Thee Marloes’ signature lounge-bar sound while keeping you engaged from start to finish. [HA]
Alice – Abstrak Anomali
Alice datang lagi setelah vakum dan melalui lagu ini mereka seolah mendeklarasikan pengingat bahwa mereka masih salah satu yang terbaik di semesta mathcore lokal. Saat keras, mereka lebih menghujam dibandingkan dengan mereka yang sepantaran. Saat musiknya berbelok, kelokan mereka makin tajam, to the point where we wouldn’t think is possible. Mereka akan bilang ini anomali, yang lain akan bilang musiknya abstrak. Saya akan bilang ini sejati-jatinya, Alice. [MH]
Defy – Unity
Apakah sudah pernah ada lagu tema yang relevan dengan sentimen SEABlings di era pasca-2020 ini? Jika belum, mungkin “Unity” dari band asal Palu ini bisa menjadi pembuka untukmu mencari jawaban itu.
Bermain di atas formula-formula powerviolence, Defy sanggup menciptakan dunia yang memerlukan unity itu. Kita diajak menyusuri semesta yang penuh kesukaran dan luka, seperti yang dibuka di verse pertama. Kok rasanya seperti realita keseharian?
Lalu, Defy enggan mengambil peran ksatria baja hitam yang berdiri megah di atas kudanya:
“Full of blood, many wounds, and we don’t care
Should we stop? / Nah, that’s not how we roll!”
Dan sesimpel itu, ternyata “Unity” mengingatkan bahwa memang kita sudah tangguh ditempa dengan segala nestapa yang mengitari dunia Asia Tenggara, terlebih di dunia pasca-2020 ini—dan kita tidak sendirian! [GF]
Kink Yosev, Tacbo, Bofflo – How Much Do You Spend
Is there such thing as having too many club music? Duo long-time collaborator (kali ini gandeng Bofflo) menjawab hal itu dengan lagu ini – with its brass sounds that come in abruptly and just the right amount of autotune.
So, meet me at the club? Ngingkukngiknguk! (that’s a yes). [JP]
Tekateky & Fanatik Kinetik – Safar
Depok dan petalcore dalam satu kalimat is definitely not on my bingo list of 2026.
“Safar” adalah the perfect mid-point track di EP yang bisa bawa kita ke gerbang #flowstate itu. Bunyian elektronik yang pelan-pelan merembes setelah lantunan akustik yang halus cukup berhasil menimbulkan perasaan à la seeing your life flashes before your eyes.
Terusnya, abis diguyur emosi secara dramatis, di 2/3 lagu ada anti-drop dengan arahan yang lebih gelap dan misterius (((…mungkin begitulah kematian?))). Anyways, semuanya terbungkus dengan hangat. [RN]
Remuk – Statuta Berseragam
Salah satu nama band paling bagus yang pernah muncul di suram muram kerak bumi Indonesia. Dan mereka mempertanggungjawabkan kualitas nama ini di musiknya. Rabid vocals, peculiar yet no nonsense drums, d-beat yang ngamuk seolah tak ada hari esok. Dan rasanya memang tak akan ada esok itu jika kita gini-gini aja. Salah siapa? Baca lagi judul lagunya. [MH]
Ali & Charif Megarbane – Mata Api
Ali continues to lead the rise of Indonesia’s modern psychedelic music scene.
The track seamlessly blends traditional orkes melayu with Mediterranean influences, weaving together fuzzy guitars, vintage organs, and a hypnotic funk bassline into a journey that stretches from Indonesia to the Arab world. [HA]
Notyourwife – Ecstasy
‘Ecstasy’ di album ini terasa seperti puncak dari semua emosi yang ada di satu album. Seperti puncak energi paling tinggi di albumnya mungkin? Energinya beda dengan lagu-lagu lain yang lebih galau kayak ‘te amo, pero’ dan ‘Fish.’ [JP]
Aryo Adhianto – Pourist
Making babies…? Denger album ini rasanya kayak masuk ke dalam semesta sinematik penuh warnanya Boots Riley.
This track specifically, despite being shorter and not as quirky as the other tracks on the album, manages to leave a lasting impression for me. Tonal shift yang ada di bridge juga ngebantu bikin lagu yang sudah funky ini jadi makin dinamis, sehingga makin immersive. Salam #surREAL. [RN]
Passive Income – Funky Pogo Anjing
Spektrum lain musik punk yang lahir dari beberapa sosok penting di Yogya (masih ingat Punkasila?). Yang lucunya ternyata justru mendapat nubuat dari masa lalu: vokalis Wok the Rock mengajak personil Dom 65, Sangkakala, hingga Zoo untuk meniupkan nafas baru di band lamanya yang terbentuk tahun 1994 di Madiun. Hasilnya persis seperti terjemah dari kata retrofuturis di kamus bahasa punk. Ia nyebrang ke sana kemari, mampir sedikit di lembah Mike Patton, lalu ngesot ke karang-karang grindcore, dan mendarat di ngarai dreamwave (google it up). You think you have listened to all kinds of music? Think again. [MH]
Dewa Alit & Gamelan Salukat – Baur Bentur
Poliritmik, dan menggabungkan dua scales tradisional Bali sebagai fondasi lagu karya maestro Dewa Alit. Bahkan, katanya secara sonik dan akustik ia dimaksudkan untuk mereplikasi suara glitching electronics.
Akan sangat cocok untuk teman-teman yang hobi mendengarkan Fox capture plan atau mouse on the keys, mengingat banyak paralel yang bisa kita temukan dari turunan-turunan jazz (bahkan ada bluesy phrases, seperti yang disebutkan dalam foreword di Bandcamp), serta dari kelindan piano dan saih-saih gamelannya. [GF]
AintGelita, Dante, and toxicdev! – ALAY
3 anak dalam lagu ini denger “Anak Layangan” oleh Lolita dan berkata: Is this fucking play about us?
Kolaborasi (or should I say… joint slay?) yang sangat tepat dari dev!, mengajak 2 internet personalities ke dalam track ini secara spesifik. Seeing them live was also a worthwhile experience.
Jadinya, kalau tahun lalu bertebaran ajakan “to be cringe is to be free,” tahun ini kita semua alay. [JP]
Strange Fruit – Pouvoir Moteur
Track pertama selalu punya beban sendiri karena ialah hal yang menyambut kita sebelum sepenuhnya masuk ke dalam air yang belum terjelajah.
Dalam konteks ini, “Pouvoir Moteur” berhasil meyakinkan kita untuk sepenuhnya nyebur ke dalam kolam hipnotik bernama Drips (2026). Thanks to its cosmic sounds, warm vocals, and stability. [RN]
Hong! – Ngeledek
I would say, Hong! adalah bentuk hardcore punk yang sangat kental aroma Indonesiana. Ia marah, namun masih berasa ada iseng/usil yang jadi coping mechanism kita semua dalam menghadapi takdir sebagai WNI. Di album perdananya, “Mengencingi Musuhmu” (my pick for best album of the year for now), amarah mereka rasanya ada di ubun-ubun (aren’t we all?).
Yang membuat Hong! berada di level berbeda adalah bagaimana mereka mengolahnya menjadi anthem ngamuk yang anthemic nan mosh-ngrebut mic dari vokalis-worthy. Simak liriknya, “Monyet! Anjing! Babi! Tai! Sumpah serapah yang paling tepat menggambarkan dirimu”, tak perlu sebut nama dan kita tahu sama tahu ini adalah salam yang kita semua ingin tujukan ke siapa. [MH]
Lore – mindfulness
Mungkinkah cocok menjadi lagu latar untuk Coffee Talk (2020)? Ketimbang mengambil pengamatan tersebut hanya berbekal atmosfer lagu-lagu Lore yang seperti menemani suatu ruang kafe, Lore justru ingin pendengar turut mendalami peran karakter-karakter yang hidup dalam semesta Aware of Almost (2026) ini, tempat “mindfulness” menemukan tempat tinggalnya.
Mari resapi foreword album ini: hiduplah seorang Dimas yang kesehariannya adalah menjalani suatu kafe yang bernama “Jeda.” Dalam dunianya, seluruh pengunjung adalah orang-orang yang ‘hampir’—’hampir selesai,’ ‘hampir bahagia,’ hingga ‘hampir menyerah.’ Di situ, Dimas mengoleksi segala memorabilia yang hampir selesai pula, termasuk surat tanpa alamat, pun tiket pesawat yang tak terpakai. [GF]
Bleeedrz – Lagu Patah Hati
Saat Bleeederz keluar tahun lalu, kami excited dengan arahan musik mereka yang segar, namun khawatir akan bagaimana publik merespon arahan segar yang sayangnya tak jarang bisa jadi barrier untuk bertemu pendengar baru. Lagu ini mematahkan ragu itu. Rich in hooks, tanpa mengurangi kualitas (dan intensitas noise yang juga esensial di musik dengan pembawaan ini). Jika akhir November nanti JAMC cari pembuka, look no further, Noisewhore. [MH]
Andien – Mata Ketiga
I can confidently say that Andien is reheating Kinanti (2002)’s nachos in her most recent album, Sehidup Semusik (2026).
Mata Ketiga mengingatkan gue dengan Norah Jones, Dido, dan yoga baddies tahun 2000-an, yang membuat gue fomo karena… kenapa sih gue baru lahir di tahun 2000?!
I simply want to enjoy Andien’s discography from the start as a 20-year-old-something girl. Thank you Andien for this album. [JP]
Basajan – Nadoman
Walau makin ke sini, makin banyak musik lokal yang mengawinkan budaya (baca: Parahyangan) dengan balutan musik psikedelik kontemporer, “Nadoman” berhasil menggaet telinga kami ke dunianya dengan penceritaan ulang lantunan 20 sifat wajib Allah.
Dalam lagu, lantunan familiar (untuk warga muslim) yang aslinya diawali dengan “Wujud, Qidam , Baqa’…” diputar sebanyak 3 kali, masing-masing ditemani dengan ramuannya Basajan yang memikat.
Personally speaking, kalau dari dulu ada Basajan yang membawakan lantunan-lantunan di pengajian saat kecil, things would be different. [RN]
Gavendri – I DON’T WANNA (BE YOU)
Selain produksi yang beres dan solid (dengarkan percikan drums dan letupan bass yang sama-sama crisp!), chorus yang infinitely catchy juga diselingi oleh progresi yang menemukan pulangnya dengan strategis dan reassuring. [GF]
Cherrywise – Wishing Well
Jika dulu ada SID yang membentuk musik Bali dengan melodic punknya, senang generasi berikutnya yang hadir adalah Milledenials, dan dengan berbagai macam prestasi yang mereka telah buat di umurnya yang masih baru, sudah ada band yang bisa menjadi tandem: Cherrywise.
Yang membuat Cherrywise menarik adalah tarik-menarik antara emo, punk dan pop yang chef kiss-worthy. Haters will say it’s too pop, but even the Anthony Fantano gave a strong 8 to Olivia Rodrigo’s you seem pretty sad for a girl so in love (2026). Sucks to be you, trolls. [MH]
RAKA – Mimpi Juga Tau
Produced by Rai Anvio, lagu ini jadi salah satu lagu yang paling nyangkut dari album barunya Raka. Which is outstanding karena album ini packed with catchy gems (re: “Brap. Brap. Brap.”).
Serasa dibawa lari-larian sejak awal track diputar, namun nggak bikin capek saat ia habis. Cocok dengan track placement-nya yang ditaruh di awalan album. Pun cocok dengan “chapter baru” yang Raka sedang jalanin. Jadi excited buat ngikutin quest-nya (pun intended). [RN]
Dengarkan daftar penuhnya di playlist Apple Music kami.



