Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
‘Perjalanan’ akan berbagai nuansa funk ini disuguhkan oleh Will Sessions, sebuah kelompok musik yang kental dengan aliran funk asal Detroit. Deluxe yang disajikan dalam bentuk LP ini membawa pendengar memasuki berbagai dimensi funk yang berbeda, mulai dari dentingan dengan instrumen ramai hingga nuansa funk yang membawa sensasi menyantai. “Jump Back,” “Cherry Juice,” dan
Run, Don’t Walk” juga disumbangi talenta dari Ricky Calloway, Allan Barnes, Coko of Funk Night Records dengan karakter-karakternya masing-masing, seperti “Cherry Juice” yang menawarkan vibe funk yang perlahan namun meroket, yang juga patut untuk disimak.
Sekilas memang pasti terasa usaha keras Will Sessions menyulap Deluxe menjadi sebuah karya dengan berbagai lapisan warna funk yang tidak menjenuhkan. Sebuah kedatangan dalam skena musik funk yang menawarkan tidak hanya satu sisi dari karakter bermusiknya, Will Sessions layak dilihat sebagai pengubah mood dan nuansa menjadi lebih berwarna dan berdimensi lewat Deluxe.
Semangatnya untuk mengkaji media dan konteksnya telah membuat Otty Widasari menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam literasi media di antara masyarakat Indonesia. Whiteboard Journal menemuinya untuk menanyakan program yang ia buat bersama Akumassa, peran Forum Lenteng hingga eksperimen dalam karya seni.
Pameran yang menampilkan hasil kurasi Rizky A. Zaelani dan akan menghiasi dinding-dinding Dia.Lo.Gue hingga 14 Agustus mendatang ini mendalami persoalan waktu ‘kini’ dan pengalaman yang menyertainya. Bagaimana seluk beluk dari ‘kini’ bisa menghasilkan interpretasi yang beragam dari segelintir pribadi yang mengalaminya. Dialog yang dihasilkan pun akan berbeda antara penyaji dan penikmat karya, di mana realisasi dari varian sikap dan pengalaman mereka dipertemukan oleh ruang dan waktu di lokasi pameran.
Sederet karya dari 21 nama seperti, Nus Salomo, Budi Kustarto, Ykha Amelz, Erizal As, Putu Sutawijaya, Rebellionik, dan masih banyak lainnya ini seolah merefleksikan perbedaan interpretasi yang diintensikan tersebut melalui macam medium karya yang digunakan. Seperti karya dari Rebellionik bertajuk Connecting Unconnected yang berbasis cermin, di mana kata-kata ‘kecewa, sedih, khawatir’ tertanam di atasnya; karya reflektif tersebut berada di seberang Darth Mader karya Nus Salomo dan Kotot van de Jroth yang menampilkan patung kertas tokoh Darth Vader berbuah dada. Kedua karya ini berada di ruang terpisah dari Mentari Pagi Menembus Benda-Benda dan Sebuah Perspektif karya Budi Kustarto yang menampilkan interpretasinya atas situasi pagi hari di dalam ruangan dalam lukisan cat minyak.
Seluruh rangkaian pameran yang tersebar di sudut-sudut Dia.Lo.Gue ini, seolah mengundang lebih banyak interpretasi lagi dari para penyimaknya di dalam konteks berbeda. Dengan menyimak sederet judul dan rupa dari karya lainnya, mungkin yang dibutuhkan untuk memahami tiap pengalaman di baliknya memang interpretasi pribadi. Berbagai karya yang menjadikan pameran ini, memang melarutkan penyimaknya dalam pemaknaan yang meluas, namun tetap demi tujuan yang sama, yakni pengalaman emosional dalam ragam bentuk dan warna.
25 Juli – 14 Agustus 2017
Senin – Sabtu, 09:30 – 18:00
Dia.Lo.Gue
Jl. Kemang Selatan 99A
Jakarta
The 1990's were beloved for many reasons. Awesome bands provided enough one-hit-wonders for us to reminisce and belt them out at karaoke. These songs will surely bring back the nostalgia along with chokers, jnco pants, and bleached hair. As if!
1. Ben Folds Five - Army
2. Eagle Eye Cherry - Save Tonight
3. Marcy Playground - Sex And Candy
4. Eels - Novocaine For The Soul
5. Fastball - The Way
6. The Verve Pipe - The Freshmen
7. Semisonic - Closing Time
8. Live - Lightning Crashes
9. Stereophonics - Mr. Writer
10. The Wallflowers - One Headlight
11. Local H - Bound For The Floor
12. Nada Surf - Popular
13. Bloodhound Gang - The Bad Touch
14. White Town - Your Man
Kontes desain tahunan UNIQLO T-Shirt (UT) Grand Prix kembali hadir dan kali ini mengangkat tema “Marvel.” Setelah sukses mendapatkan belasan ribu submisi secara global pada kontes sebelumnya, tahun ini UNIQLO memilih Marvel sebagai tema dikarenakan potret heroisme, karakter ikonik serta penceritaan epik yang diproduksi Marvel Entertainment telah menarik perhatian beragam khalayak di dunia.
Kontes ini mengajak sosok kreatif di dunia untuk berpartisipasi dalam koleksi UTGP yang akan dirilis pada tahun 2018 dan menunjukkan kreativitas lewat ilustrasi maupun fotografi. Para kontestan akan diminta untuk mensubmit karya berdasarkan karakter Marvel yang terdaftar di sini. Selain akan di ke menjadi koleksi UTGP, karya yang terpilih akan mendapat sebesar US$ 10.000.
-
Pendaftaran dibuka mulai 24 Juli - 31 Agustus 2017
Info lebih lanjut, kunjungi laman ini
Menuangkan cerita yang berkaitan dengan alam gaib, dunia misteri, serta keganjilan-keganjilan yang tak masuk akal ke dalam layar sinema memang menjadi ketertarikan umum bagi para penggiat film. Selain suburnya narasi-narasi semacam itu, pengangkatan tersebut juga dilandasi motivasi banyaknya penonton yang akan datang menyaksikan. Namun apakah kualitasnya dapat menjadi jaminan? Jangan samakan dulu persepsi Anda sebelum menonton film terbaru Na Hong Jin, The Wailing.
The Wailing berkisah mengenai polemik atas kematian beberapa warga di sebuah desa secara misterius. Para korban mendadak berubah brutal; dimulai dengan menghabisi anggota keluarganya sebelum akhirnya tumbang membawa noda-noda penuh darah. Satuan kepolisian lokal yang dipimpin Jong-Goo (Kwak Do-won) pun dipaksa menelan rasa bingung dan frustasi. Menerka apa penyebab tragedi pahit tersebut hingga akhirnya prasangka terhadap orang asing dari Jepang (Jun Kunimura) digunakan sebagai dalil; ia dalang atas semua perkara.
Yang menarik dari The Wailing adalah bagaimana Na Hong Jin membungkus konflik berlandaskan asumsi, dugaan, omongan dari mulut ke mulut tanpa paham betul kenyataan masalah, kemudian menyembunyikan aktor sebenarnya di balik teror menyeramkan. Walaupun realitanya memang sosok roh jahat yang berdiri menghancurkan kehidupan damai warga desa, Na Hong Jin mengaburkannya dengan samar-samar di antara gadis lugu bernama Moo-Myeong (Chun Woo-Hee), cenayang beridentitas II Gwang (Hwang Jung-min), atau mungkin kiranya orang asing dari Jepang. Sayangnya, menjelang akhir Na Hong Jin merusak investigasi dengan sekenanya dan meninggalkan sejuta tanya di kepala.
Menyaksikan The Wailing di lain sisi menampar keras kebiasaan kita selaku Kita tak jarang larut dalam pusaran masalah berdasarkan perkataan orang ke orang tanpa melihat jernih yang terjadi sebenarnya. Dari kegelisahan itu, Na Hong Jin mencoba menyelipkan pesan humanis kepada khalayak ramai. Dalam balut kisah menyeramkan, nyatanya muncul keteguhan sikap guna menjaga nalar manusia agar tak menelan semuanya mentah-mentah.
The Wailing (2016)
Sutradara: Na Hong-jin
Sinopsis: Film ini menceritakan tentang kasus pembunuhan misterius yang menimpa sebuah keluarga. Seluruh anggota keluarga itu mati secara tragis. Namun salah satu korban kondisinya sangat aneh. Kulit dan tubuhnya membusuk seperti mayat hidup. Kasus ini kemudian ditangani oleh polisi bernama Jong Goo. (kakaeynotes.com)
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?