Latest stories

31.07.17

Jakarta’s Newest Hub for Creativity

With the ever-growing population, the government seek an opportunity to create a reciprocal relationship with the use of platform where young creative businesses can utilize machines, such as 3D printers as well as woodworking, sewing and fashion sizing machines, and share their skills to local residents at the recently opened Jakarta Creative Hub.

30.07.17

Canadian ‘Field Guide’s’ Guide to Modern Reality

While it may not be the most intriguing way of describing a selective work of art undoubtedly worthy of celebration, perhaps there’s more to this inaugural exhibition at the upcoming Remai Modern’s opening than the title lets on. A collection of some 8,000 works that were previously in the former Mendel Art Gallery, joined by a selective number of Picasso linocuts and ceramics that are to be displayed upon the opening are intended to trigger visitors into raising several questions on modernity and reality. “What is modern? Can art confront reality? What is urgent and why?” are some of them. Perhaps a more conversational experience is what ‘Field Guide’ aims for. And perhaps, in a world of constantly evolving understanding of reality, met with the contradictive stillness of the limited ability of our minds to perfectly grasp the entire picture, a mind-trip into the thought-triggering collection of art that speaks through ‘Field Guide’ is just what’s needed. Who knows? Maybe ‘Field Guide’ could be the unexpected guide that provides its visitors with a wider range of ideas and possibilities of what it means to be modern, and just how art is supposed to have more to do with reality than realized.

29.07.17

Perjalanan Melankolis Matthew Dear

Kiranya semula menjadi membingungkan untuk membayangkan sebuah musikalisasi berisi ‘intipan’ ke dalam pengaruh substansi dengan dosis tertentu. Namun melalui “Modafinil Blues,” Matthew Dear memberikan kemungkinan untuk mengintip tersebut, yang disertai dengan vibrasi melankolia yang makin menuju kegelapan, namun juga dibumbui dengan sedikit humor. Terlepas dari penilaian akan kelaziman dari kondisi yang mengarah kepada terbentuknya “Modafinil Blues,” perlu diakui bahwa ia berhasil menghantui pendengar dengan sensasi seakan terjebak di dalam seluk beluk kerumitan dunia buatannya. Sebuah alunan goth yang mengalur secara perlahan, mungkin kebutuhan untuk bersantai dan meringankan suasana tidak bisa dipenuhi dengan lagu satu ini. Namun, bukan berarti kemampuan Dear dalam mengalterasi sebuah ‘perjalanan’ yang tidak berakhir dengan mulus ke dalam sebuah alunan tidak perlu diakui. “Modafinil Blues” mengundang pendengarnya untuk juga menarik kesimpulan sendiri terkait pesan yang ingin disampaikannya. Tapi bukankah itu letak keindahannya?

28.07.17

Gimme 5: Adythia Utama

Saat tak tampil dengan monikernya, Individual Distortion, Adythia Utama juga dikenal sebagai videografer handal yang telah menghasilkan beberapa video musik dan satu film dokumenter berjudul "Bising" yang merekam pergerakan noise lokal. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Adythia Utama untuk memilih lima film dokumenter terbaik versinya. Dokumenter yang menggabungkan 2 hal yang saya suka, experimental music scene di Jepang dan gaya cinema verite Perancis. Enak ditonton dan tidak membosankan. Meskipun, setelah nonton dokumenter ini saya justru ingin segera makan fastfood. Bukti yang sangat jelas kenapa GG Allin patut mendapatkan predikat legend. Semua shotnya enak dilihat. Sangat direkomendasikan untuk ditonton di layar besar. Pendekatan direct cinema yang dilakukan D.A. Pennebaker membuat saya jadi (sepertinya) mengenal Bob Dylan ketika dia tur waktu masih muda. Lihat juga karya Adythia Utama di sini.

28.07.17

Kombinasi Mematikan Donato dan Donatinho

Mungkin yang begitu kuatnya turut berkontribusi terhadap keserasian yang dihasilkan oleh Joao Donato yang sudah tidak asing lagi namanya dalam skena musik Brazil, yang menggandeng anaknya Donatinho dalam menyajikan Sintetizamor. Sebuah kolaborasi yang tidak segan-segan menunjukkan warna jazz dan funk elektronika yang selama ini memang menjadi identik dengan karya Donatino sendiri, khususnya dalam album legendarisnya Quem e Quem. Kelahiran kembali Donatino dengan rekan barunya ini tidak mengecewakan sejarah sumbangsihnya dalam skena musik Brazil selama ini. Dengan eksplosi warna-warna yang penuh keceriaan dan dentuman yang begitu menggoda untuk dinikmati, sajian-sajian dalam Sintetizamor mungkin memang sedang dalam perjalanannya mengejar keluarbiasaan Quem e Quem.

28.07.17

Nuansa Pop 80-an dengan Chaz Bundick

Mungkin bisa menjadi sebuah suguhan yang unik dan tidak biasa bagi mereka yang rindu sensasi bernostalgia dengan alunan-alunan khas dekade 80-an. Melalui album terbarunya, Boo Boo, Chaz Bundick alias Toro Y Moi tidak hanya mampu menyulap suasana seolah berada di dekade penuh warna tersebut, namun juga menyelaraskan tema kaget tenar dan patah hati menjadi kesatuan dalam Boo Boo. Alunan suara Bundick memang perlu diacungi jempol dengan bentangan nada yang impresif, dengan transisi halus yang seolah melebur dengan latar yang tidak kalah patut dinikmatinya. Pengendalian emosi yang antara perlu dipertanyakan atau semata-mata mengesankan, hampir sulit untuk mengabaikan vokal dari Bundick yang sama sekali tidak terdengar sebagai seseorang yang sedang dilanda patah hati. Rasa kenyamanan dan familiaritas yang ditawarkan tiap lagu dalam album ini menjadikannya hanya semakin perlu untuk diberi kesempatan

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.