Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
urban Jakarta yang keras adalah inspirasi utama Dominate dalam segi desain. Koleksi jaketnya yang bergaya kasar dan militeristik sudah lama dikenal dalam dunia internasional dan tahun ini tidak ada bedanya. Dengan desain tipikal pakaian musim dingin yang diberikan sentuhan kontemporer, koleksi Fall/Winter 2017 dari Dominate adalah solusi untuk pribadi yang memang tinggal di daerah dingin dan tetap ingin terlihat elok.
Dominate memang terkenal karena pakaian yang terinspirasi dari gaya militer modern dengan modelnya yang longgar dan juga kasar. Tetapi kali ini terlihat bahwa asal Jakarta ini ingin keluar sedikit dari zona aman mereka dan memproduksi sesuatu yang lebih berani. Terdiri dari jaket parka, dan juga celana cargo, koleksi ini seakan-akan ingin mengembalikan tren pakaian ala awal 2000-an. Palet warna hijau zaitun dan biru gelap memberikan suasana militeristik, tetapi bagian-bagian yang diberi warna jingga membuat koleksi ini tidak terlalu serius.
Koleksi dari Dominate ini dijual secara ekslusif di Urban Outfitters. Selain dijual di toko-toko di Eropa, koleksi ini juga dijual secara di sini.
Jika mendengar kata sepatu pastinya model yang dibayangkan jauh dari desain karet menggelikan seperti Crocs. Tapi hal itu berubah saat Balenciaga memperkenalkan desain sepatu terbaru mereka dalam panggung peragaan busana SS 2018. Dengan model yang terinspirasi dari Crocs, Balenciaga lagi-lagi mengejutkan semuanya.
Model unik ini datang dengan warna-warna yang biasa disuguhkan oleh Crocs, dari abu-abu hingga kuning mencolok. Selain mempunyai sol tinggi yang siap untuk dipakai di pasar malam maupun di bar terpanas Jakarta Selatan, setiap model juga diberikan pernak-pernik ala Crocs dengan bentuk bunga, bintang, bendera Amerika, dan hal-hal lain yang menandakan musim semi dan panas.
Ini merupakan kali kedua Balenciaga mengejutkan dunia dengan desain-desain yang terkenal jelek. Pada koleksi FW 2017, Balenciaga merilis “Triple-S,” lari mewah dengan desain yang hanya bisa dicintai seorang ayah tua. Tentu tren sepatu ini sudah dimulai sebelumnya oleh Raf Simons dan Kanye West, dan Balenciaga hanya melanjutkan. Mungkin memang Balenciaga dan banyak desainer besar lainnya ingin membuktikan bahwa ini adalah momen revolusi, yaitu jelek artinya keren.
Artis pop pada masa ini memang penuh dengan persamaan hingga kadang susah untuk membedakan satu dengan lainnya. Tentu dengan budaya yang ada pada saat ini, tidak ada juga yang peduli tentang hal itu. Autentisitas bukan lagi sesuatu yang dipikirkan di budaya pop, tetapi pernyataan itu tidak berlaku kepada Lady Gaga, sang penyanyi yang terkenal dengan aksen Manhattan-nya yang kental, pilihan bajunya yang eksentrik, dan juga penampilan yang luar biasa.
Tapi sejauh ini, hanya itulah yang kita ketahui tentang Gaga. Lady Gaga hanyalah sebuah identitas yang dibuat untuk mempromosikan pola berpikir “berbeda itu baik.” Media di manapun pasti sudah sering mengupas segala kebaikan dan kontroversinya. Namun dalam dokumenter “Gaga: Five Foot Two,” subjek utama yang ingin didalami adalah seorang Stefani Germanotta, penyanyi di balik nama fenomenal itu.
Film ini menceritakan tentang proses Germanotta dalam membuat album “Joanne” hingga penampilan spektakulernya di Super Bowl 2017. Dengan menggunakan gaya dokumenter ini akan menunjukkan secara blak-blakan apa saja yang telah menginspirasi album “Joanne” dan masalah emosional yang selama ini dialami Lady Gaga. Film yang mentah dan penuh perasaan ini akan membawa penonton dalam sebuah perjalanan mengenal hidup di balik seorang bintang pop internasional, juga membuktikan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang sama rendahnya dengan siapapun.
Untuk pribadi yang menyukai berpenampilan berani dan ramai, Ash memang menjadi opsi utama dalam fashion alas kaki. Kali ini buatan desainer Patrick Ithier dan Leonello Calvani akan berkolaborasi dengan artis dan ilustrator Filip Pagowski. Kolaborasi ini menghasilkan sebuah koleksi bermotif natural yang terang dan langsung menarik perhatian.
Pagowski sendiri memang terkenal karena karya-karyanya yang atraktif, mulai dari kerja samanya dengan Drake dalam “Views From the 6” dan mungkin karyanya yang paling terkenal, logo Commes des Garcons. Desainnya yang memikat bisa dibilang sangat menunjukan bahwa kolaborasinya dengan ASH memang cocok.
Koleksi ini mempunyai dua desain utama, “Flame” dan “Tweed.” “Flame” menunjukkan desain sayap berbentuk api dengan warna hijau daun terang, sedangkan “Tweed” menunjukan motif daun berwarna merah api yang di di seluruh sepatu. Koleksi ini tersebar di antara dompet, kaos kaki, dan tiga desain sepatu kesukaan Pagowski dari koleksi ASH. Semua desain ini mempunyai tujuan untuk melengkapi pakaian
Koleksi lengkapnya bisa dicek di website utama mereka di sini.
Sebagai seorang vokalis yang tergabung pada unit alternatif pop, Skandal, Siddha memiliki karakter dan persona yang cukup menarik perhatian baik di atas panggung maupun penampilan sehari-hari. Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini kami menanyakan siapakah 5 terbaik versinya, yang menginspirasi Siddha dalam berpakaian.
Sejak pertama kali mengenal hingga mengidolakan Beastie Boys, mereka selalu terlihat keren di mata saya. Dari musik sampai penampilan, trio seminal ini secara estetika punya karakter yang sangat kuat dan berdampak vital bagi saya sampai sekarang dan mungkin seterusnya. Saya bolak-balik ke seperti Pasar Senen, Pasar Baru, atau di mana saja karena terinspirasi dari apa yang dikenakan oleh Beastie Boys. Termasuk fanatisme saya terhadap hingga topi atau seperti dan jeans yang juga memang saya sering kenakan sehari-hari. Secara sadar maupun tidak, semuanya dipengaruhi oleh Ad-Rock, Mike D, dan MCA. Mereka juga yang membuat saya jatuh hati dengan seperti Puma Suede. Entah bagaimana, gaya dan cuek mereka selama 3 dekade ini, selalu definitif dan cocok untuk saya.
Menurut saya Earl Sweatshirt adalah tipe manusia yang kekerenannya sudah menjadi bakat alami. Sepaket komplit audio (musik) dan visual (penampilan). Walaupun bukan yang tertampan, anak muda ini punya bahasa tubuh yang didukung dengan penampilan sederhana yang membuat saya kagum. Topi, kaos, Seperti halnya Beastie Boys, bagi saya lagi tukang celoteh yang juga merupakan seorang produser berusia 23 tahun ini adalah salah satu persona yang gayanya saya jadikan referensi untuk diterapkan sehari-hari. Fungsional dan tidak perlu berusaha terlalu keras.
Saya dengan senang hati akan menjawab Bob Nastanovich jika ditanya perihal siapa personel favorit dari grup sinting tersebut. Selain bermacam peran pentingnya bagi band tersebut, penampilan dan apa yang selalu dikenakan sangat mampu mencuri perhatian serta sedikit banyaknya menginspirasi saya. Salah satu contohnya adalah ketika beliau memakai kaos Minutemen, dan bermain tamborin sambil bernyanyi di acara televisi tengah malam tahun 1994. ( karena saya masih bisa mengakses penting seperti ini di era sekarang). Penampilannya adalah representasi jelas dari istilah Sejak melihat video itu, sampai sekarang saya selalu terpengaruh (hingga kadang meniru) cara dan gaya beliau ketika bermain tamborin. Tentu saja, saya merasa berhutang banyak kepada mereka, khususnya Bob Nastanovich.
Saya lupa kapan saya pertama kali mendengarkan Dinosaur Jr., tapi yang jelas ketika melihat bentuk mereka, J Mascis, saya jadi makin mengidolakan band ini. Dari sekian banyak gaya beliau yang ingin saya tiru-tiru sedikit, penampilannya ketika muncul di dokumenter “1991: The Year Punk Broke,” membuat saya ingin menggunakan punya topi kuning. Menurut saya, J Mascis adalah satu dari sedikit yang membuat paduan topi dan rambut gondrong itu enak dilihat. Hingga hari ini gayanya masih keren meskipun umurnya sudah tidak muda lagi, entah itu memakai kaos band hardcore punk yang seangkatan dengan bandnya dulu atau yang lainnya. Jika nanti sudah tua, beruban banyak, berkumis-janggut, dan memutuskan untuk memanjangkan rambut, saya sudah tahu siapa yang akan saya jadikan kiblat penampilan.
Saya sudah cukup lama mengidolakan musisi jazz yang merangkap sebagai fotografer dan legendaris satu ini. Dengan sederhana, pembawaannya menyenangkan dan penampilannya pun punya ciri tersendiri plus mudah untuk saya adopsi. Kaos atau lengan pendek atau panjang, dan Vans - terutama Half Cab. Terlihat tidak berlebihan, dan tidak akan termakan tren apapun, menurut saya. Semua itu menariknya juga jadi kombinasi yang saat beliau sedang bermain gitar atau sedang berseluncur dengan -nya.
Selain seorang penyanyi dan pencipta lagu, sosok Ras Muhamad yang menyebut dirinya sebagai Indonesia’s Reggae Ambassador, di saat luang juga merupakan seorang DJ yang memperkenalkan diri sebagai Asia-Afrika Soundsystem. Unit yang dibentuk bersama seorang reggae Lion Rock, hari ini merilis sebuah mixtape bertajuk DehPon Vol. 2 yang merupakan sebuah kolaborasi bersama salah satu musisi reggae terbaik asal Eropa, Toke.
Mixtape ini berisikan 14 lagu yang mendeskripsikan seperti apa fleksibilitas dan kemampuan Toke dalam memilih instrumen yang dapat mencakup melodi-melodi dasar mulai dari reggae, hip hop, afrobeat hingga folk. Nantinya mixtape ini juga akan memperdengarkan secara ekslusif beberapa trek pilihan yang merupakan lagu olahan yang diambil dari materi album pertamanya, “Wake Up Inna Kingston.”
Selain itu, yang menarik dari DehPon Vol. 2 tidak hanya memperdengarkan keahlian para musisi yang terlibat dalam penguasaan lirik hingga segi musikal, namun juga memperlihatkan bagaimana hubungan yang tercipta antara musisi dan reggae itu sendiri. Dengan latar belakang tersebut, detail-detail seperti efek suara dan freestyle ala Indonesia yang dipilih dengan cermat. Mixtape ini menawarkan sebuah pengalaman baru yang dalam mendengarkan musik.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?