Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
A snippet of the cat's contribution to Natasha Gabriella Tontey's joint in Japan.
1. I Am An Instrument by Sun Ra
2. Ai No Ballad by Yuji Ohno
3. 浅川マキの世界 by 浅川マキ
4. Purquoi, Pas? by Takeshi Inomata & Sound Limited
5. Sunrise by Zerosen
6. Tak’s Tune by Takeshi Inomata & Sound Limited
7. Ilir Ilir by Tony Scott & The Indonesian Allstars
8. You Are My Heart by Rex Williams
9. Palenque by Abelardo Carbono Y Su Conjunto
10. Eddie Quansa by Peacocks Guitar Band
11. Odoo Be Ba by Pat Thomas, Kwashibu Area Band
12. Yiri Yiri Boum by Gnonnas Pedro
13. Dunia Milik Kita by Cholil Mahmud & Lintang Radittya
14. Oh Lord, Why Lord-Prayer by Parliament
15. Di Dunia yang Lain by Ariesta Birawa Group
16. Lam Plearn Mee Mia Laew Pai by Angkanang Kunchai
17. Bump Lam Plearn by The Petch Phin Thong Band
18. Pen Jung Dai by Unknown
19. Main Akeli Raat Jawan by Ajit Singh Ft. Asha Bhosle
20. The Witness by Babla and His Orchestra
21. Eua Aree See Sor by Thonghuad Faited
22. Awara Sadiyon Se by Kalyanji Anandji Ft. Asha Bhosle
23. Djanger Bali by Tony Scott & The Indonesian Allstars
24. Saturn by Le Sun Ra & His Arkestra
25. Summertime by Tony Scott & The Indonesian Allstars
Seniman Prancis Xavier Veilhan menciptakan patung sosok arsitek Richard Rogers dan Renzo Piano, yang akan dipamerkan secara permanen di seberang Centre Pompidou, gedung ikonik ciptaan kedua arsitek tersebut. Patung-patung ini merupakan variasi dari Seri Arsitek Xavier Veilhan dan telah dipamerkan secara khusus untuk pertama kalinya di Palace of Versailles pada 2009. Kedua patung ini juga akan dipamerkan di Galerie Perrotin, Paris, sebelum ditempatkan di Place Edmond Michelet, seberang Centre Pompidou.
Seperti versi aslinya, karya teranyar ini dibuat dari setinggi 5 meter dan memiliki bentuk segi, yang membedakan adalah warna dan ukurannya yang lebih beragam. Kedua patung ini diberi warna hijau agar menyerupai konstruksi Centre Pompidou dan akan ditempatkan di ruang publik.
Sebelumnya, Veihan ingin membuat seri patung musisi pop, politisi atau aktor-aktor terkenal, tapi sosok arsitek merupakan subjek favoritnya dan ia menyebut mereka sebagai Arsitek Richard Rogers dari Inggris dan Renzo Piano dari Italia ia pilih karena karya-karya mereka memadukan kemahiran teknis, modernitas dan teknologi, serta ide-ide mengenai humanisme yang dikembangkan pada 1970-an.
Pada submisi open columnya kali ini, Roy Martin Simamora berbagi tentang pandangannya mengenai kondisi yang dihadapi oleh perempuan Batak dalam kehidupan sosialnya.
Dikenal dengan keberaniannya dalam mengeksplorasi seksualitas dalam berkarya, Djenar Maesa Ayu menonjol di antara seniman Indonesia. Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, kami berkesempatan untuk menemuinya di rumah bersama dengan partnernya, Kan Lume untuk membahas medium beropini hingga film barunya, “hUSh.”
Kehadiran salah satu kolektif muda yang memperkenalkan diri sebagai Studiorama di awal dekade tahun 2000-an, membawa sebongkah harapan besar untuk keberlangsungan skena musik independen di Indonesia. Pasalnya apa yang coba ditawarkan oleh mereka adalah bibit-bibit peleburan berbagai bidang kreatif untuk bisa menghadirkan penampilan-penampilan baru yang segar. Dengan merangkul para pelaku musik itu sendiri, seniman dan sosok-sosok kreatif lainnya, Studiorama secara pasti memperlihatkan seperti apa konsistensi yang mereka miliki.
Kali ini menggandeng salah satu alternatif yang memberikan pengalaman lain untuk menyaksikan pertunjukan musik secara digital, yakni Sound From The Corner (SFTC), mereka menginisiasi sebuah konferensi musik tahun ini, bernama Archipelago Festival. Konferensi ini akan mengundang berbagai narasumber untuk panel diskusi dan musisi lintas genre untuk tampil guna memberikan berbagai menarik, dengan harapan mampu mendorong perkembangan musik Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Kami berkesempatan untuk menanyakan konsep dan harapan dari diselenggarakannya acara ini dengan mereka.
Walaupun benar SFTC dan Studiorama mengunjungi Inggris untuk The Great Escape di Brighton bulan Mei kemarin, Archipelago Festival tidak secara khusus terinspirasi hanya oleh kunjungan tersebut. Konferensi musik ada di berbagai negara (Music Matters - Singapura, SXSW - Amerika Serikat, TGE - Inggris, MIDEM - Perancis, MUCON - Korsel, dst) dan kami berpikir ini saatnya Indonesia juga punya konferensi yang serupa; yang mengajak pelaku, penikmat, maupun pemula untuk berdiskusi dan kemudian siapa tahu berujung kepada aksi nyata yang berdampak signifikan.
dan memakai visual kultural, tepatnya bagian Timur Indonesia? Apa yang mau ditekankan lewat identitas ini?
Bila berdiri sendiri, Archipelago sebagai sebuah kata memiliki arti “kepulauan.” Pendekatan dan identitas visual yang kami terapkan tidak ada kaitannya dengan pandangan Indonesia sebagai negara kepulauan, apalagi mengadopsi semangat nasionalisme.
Kami memandang dinamika/isu/masalah yang ada di musik lokal seperti layaknya pulau-pulau kecil yang berdiri sendiri dipisahkan lautan, tapi berada di dalam satu teritori. Niatannya adalah membawa dinamika-dinamika yang berbeda ini untuk dibahas dalam satu wadah, yakni Archipelago Festival.
seperti apa yang ingin kalian tekankan pada emerging artist lokal lewat festival ini?
Salah satu tema besar yang kami ingin bawa adalah Ada dan yang tidak seimbang di dalam musik lokal di Indonesia. Penampil yang itu-itu saja merajai acara-acara musik lokal, di saat yang sama talenta baru yang kualitasnya bagus semakin banyak. Kami ingin menggeser pola pikir tersebut dan mencoba untuk berani memberikan panggung utama bagi musik-musik baru yang (bagi kami) layak mendapatkan perhatian lebih.
Salah satu tujuan utama Archipelago Festival adalah untuk mengajak audiens yang lebih umum untuk melihat industri musik sebagai sebuah ekosistem: musik tidak hanya tentang musisi semata, tapi di balik layar adalah sejumlah peran-peran yang sama pentingnya. Dari kacamata penonton umum, Archipelago ideal bagi mereka yang ingin tahu band-band baru yang seru untuk dicek, dan melihat musik tidak hanya sebagai sesuatu yang dinikmati (sebagai penampilan musik) tapi juga sebagai sebuah industri, komunitas dan ekosistem yang berkesinambungan.
Tidak ada metode empirik atau riset mendalam untuk menentukan topik panel diskusi, namun kami percaya diri topik-topik yang diusung punya relevansi besar terhadap kodisi riil di lapangan. SFTC dan Studiorama sebagai kolektif musik, juga sering berhadapan dengan isu-isu yang diangkat jadi campuran antara pengamatan sosial dan pengalaman sendiri.
Kami bermitra dengan British Council untuk panel ini. Tema besarnya tentang bagaimana band Indonesia bisa memulai membangun di Inggris. Industri di Inggris termasuk yang tersulit di dunia - sangat kompetitif dan kami kira ini bisa jadi insight yang menarik untuk audiens Archipelago Festival.
Dampak jangka panjangnya, kami berharap Archipelago Festival bisa dijadikan ajang silaturahmi dan semua orang yang suka dan peduli terhadap musik di Indonesia. Kami juga berharap lokal yang ditampilkan di sini, juga yang ada di luar sana, bisa mendapat sorotan layak. Sehingga acara yang bertebaran tidak hanya akan diisi oleh penampil yang berulang, tetapi juga nama-nama segar dengan cakupan musik luas. Keberagaman talenta tentunya memperkaya musik Indonesia.
-
14-15 Oktober 2017
Soehanna Hall
The Energy Building
SCBD, Lot 11A
Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53
Setelah melaksanakan instalasi pertamanya, Project23, kolektif musik elektronik dan seni visual asal Bali, akan mengadakan bagian kedua dari gelaran “Chapter One” mereka. Tetap dengan visi misi yang sama, yaitu menaikkan talenta-talenta kontemporer lokal yang selalu ditenggelamkan oleh artis-artis internasional, “Project23 Chapter One, Part 2” akan menjadi versi mini dari acara pertama kolektif tersebut yang diadakan pada 2 September 2017 lalu. Dengan menampilkan 8 DJ, 4 live PA, 2 instalasi seni, dan kelebihan dari instalasi kali ini adalah bahwa acara ini tidak akan memungut biaya apapun, alias gratis.
Keputusan untuk menggratiskan biaya masuk sebenarnya bermotivasi dari evaluasi acara pertama. Komunitas lokal, yang merupakan target pengunjung utama Project23, merasa bahwa harga yang diangkat untuk biaya masuk instalasi pertama sedikit berlebihan. Walaupun dari pihak Project23 merasa bahwa harga yang mereka tetapkan sangat masuk akal jika mengingat besarnya biaya produksi acara tersebut, mereka juga sadar bahwa harga yang mahal tetap akan menjadi masalah secara jangka panjang. Demikian mengapa kolektif ini sepakat untuk membuat acara selanjutnya gratis.
“Chapter One, Part 2” juga akan menghadirkan untuk artis dan komunitas lokal seminggu sebelum pertunjukan utama. ini akan memiliki dua kategori: kreatif dan karir. Kreatif, seperti namanya, akan membahas sisi kreatif dan memberi materi-materi tentang bagaimana membuat atau menyempurnakan karya seperti musik, DJ, dan Sedangkan kategori karir akan lebih fokus kepada dan juga menjadi
“Project23 Chapter One, Part 2” akan diadakan pada tanggal 28 Oktober 2017 di Arboon Beach Bar, Bali. Untuk informasi selanjutnya, bisa dilihat di Instagram dan Facebook Project23.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?