Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Sebagai pelopor di Bali, Hubud tidak sekadar menyediakan ruang, tetapi turut memberi kesempatan bagi para sosok-sosok kreatif agar bisa saling bertemu dan bertukar pikiran lewat program yang mereka namai dengan Startup Weekend Bali. Program yang diselenggarakan 2 kali dalam setahun ini berupaya untuk menggali berbagai kesempatan serta kemungkinan baru yang bisa mendukung perkembangan industri kreatif, khususnya di Bali. Setelah 4 tahun diselenggarakan, Startup Weekend Bali telah membuktikan kesuksesannya dengan melahirkan beragam inovasi dan ide-ide baru nan segar yang hingga hari ini terus berkembang, salah satunya seperti CashforTrash.
Pada tanggal 17-19 November 2017, Hubud kembali mengajak para penggiat desainer, dan pemasar untuk menghadiri Startup Weekend Bali kedua di tahun ini. Yang menarik, program ini di desain dengan waktu “mendesak” agar menantang para peserta supaya bisa memaksimalkan seluruh kemampuan kreatif yang mereka miliki. Kemudian pada rangkaian acaranya, para peserta akan saling bertemu dan membentuk tim setelah itu barulah mengolah seluruh ide dan gagasan bersama dalam waktu kurang lebih 54 jam. Bagi tim terbaik, akan berkesempatan untuk merealisasikan idenya lengkap dengan mendapatkan secara global, sehingga bisa disimpulkan bahwa Startup Weekend Bali menjadi ajang yang sangat sayang jika dilewatkan.
Untuk pendaftaran dan info lebih lanjut silahkan klik tautan ini.
-
17-19 November 2017
Hubud
Jl. Monkey Forest 88X
Ubud, Bali
Dekadenz is a party of synthetic rhythm, lunatic beats and primitive electronics runs by 3 DJs : Aditya Permana, Jonathan Kusuma and Ridwan Susanto. This 40-minute mixtape will tell you how it feels like to dance under the dark side of mirror ball.
1. Freudenthal - Rapax Apicem
2. N/A
3. Boot & Tax - Sintessi Bassa
4. Front 242 - Take One
5. K-Effect - Heisenberg (Thomaas Banks Version)
6. Alien Alien - Secret Sabbah
7. Pardon Moi - Touch2Much (Curses rmx)
8. Freudhental - Contrail
9. Otheo - V
10. N/A
11. Cardopusher - Chrystal Nightcap
12. Pletnev - St.Bones
Enam hari rasanya tidak cukup untuk menampung deretan subkultur dari Inggris dan Indonesia. Namun, UK/ID Festival kali ini mampu dengan apik menatanya dalam 1 saja. Berisi ragam diskusi, karya seni, hingga penampilan musik dari tiap negara, festival ini tidak hanya menggelitik mereka yang menggeluti subkultur dengan syahdu tapi juga mereka yang awam dan mencari hiburan segar lewat tema "Come Together."
Festival yang dimulai sejak tanggal 17-22 Oktober lalu ini patut disebut sebagai perkenalan; jika bukan eksplorasi, teknologi dan kesenian kepada generasi terkini. The Establishment sebagai acara diubah menjadi sebuah ruang serbaguna untuk kolaborasi antarnegara yang mampu menstimulus persepsi baru dalam melihat suatu hal, antara lain musik dan seni rupa.
Namun, di antara banyak acara yang digelar dalam UK/ID Festival ini, dengan adalah salah satu yang menarik - selain musik di penghujung festival tentunya. Bekerja sama dengan Sjuman School of Music dan Hanyaterra, 2 film berbeda; yakni karya Hitchcock dan George Clark, tampil dengan wajah spesial lewat komposisi dan bebunyian unik. Di ranah pun terdapat kolektif seni asal Inggris dan Indonesia yang menciptakan karya kolaboratif. Walau beberapa tahun ini konsep kolaborasi di Indonesia terasa mereka hadir dengan angin segar dan sisi kontemporer yang tidak biasa.
Selain melihat ke masa depan lewat optimalisasi teknologi dan topik yang diangkat, festival ini juga mengajak pengunjung untuk melihat ke masa lalu lewat warisan kuliner dari Dayak Iban bersama Rahung Nasution yang mengimplementasikan hal tersebut menjadi sebuah di Jakarta. Tak hanya itu, sebuah dibuat khusus, berisi diskusi dari Visionare, desainer Derek Lawlor hingga Yoris Sebastian dan bahkan sebuah wadah peluang bagi para seniman dengan disabilitas untuk berbagi cara untuk mengekspresikan diri.
Festival ditutup dengan meriah lewat penampilan DJ dari perwakilan masing-masing negara yang namannya telah mendunia, antara lain Paranoid London dan Thomas Bullock. Afrikan Boy pun yang minggu sebelumnya sempat tampil, turut hadir dan menghadirkan kolaborasi meriah bersama Onar serta UBC. Jonathan Kusuma, Direct Action dan Bergas selaku musisi dari Indonesia ikut mengubah The Establishment menjadi di tengah kota. Tanpa menjadi ambisius, UK/ID Festival kali ini mengerahkan usaha terbaiknya untuk menghibur sosok kreatif dari Indonesia maupun Inggris dengan padat acara inspiratif.
“The Keeping Room” membawa kisah yang gelap dan suram. Tetapi jika ada satu kata yang bisa menjelaskan film ini, mungkin kata itu adalah ‘cantik.’ Setiap bagian dari produksinya tidak ada yang tak enak dilihat, dari pilihan pemeran, latar, sinematografi, audio, bahkan adegan horor yang terjadi di awal film tetap dilakukan dengan indah. Mungkin Daniel Berber sengaja melakukan ini untuk membuat kontras yang baik antara keindahan dan kejelekan. Bahkan kecantikan adalah faktor konflik utama dalam film ini, dikarenakan paras cantik karakter utamanya, Augusta, mempesona dua tentara yang kejam. Akibatnya adalah Augusta, bersama adiknya dan pembantunya, harus bertahan hidup dalam rumah peninggalan orang tua mereka dari teror kedua tentara yang desersi tersebut.
Walaupun nilai produksi yang terjadi di balik pembuatan film ini sangat memikat, cerita yang sederhana justru membuat film ini lebih menarik. Ini bukan sebuah cerita bertahan hidup karena perang ataupun psikopat. Augusta bertahan hidup dari dua orang lelaki yang tertarik kepadanya dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan dirinya. Moses dan Henry bukanlah penjahat yang mengincar kekayaan, bukan juga pembunuh yang mempunyai penyakit jiwa, tetapi mereka adalah dua orang lelaki biasa yang kebetulan menemukan kesempatan. Ini adalah sebuah kondisi yang hingga sekarang pun masih terjadi, di mana lelaki akan melakukan apa saja untuk menenangkan nafsu birahinya jika disediakan kesempatan. Jika kita kesampingkan latar perang bersaudaranya, film ini sebenarnya adalah sebuah cerita nyata tentang ketidaksetaraan perempuan.
Sutradara: Daniel Barber
Sinopsis: Dengan setting perang saudara Amerika Serikat, seorang gadis harus bertahan hidup bersama adiknya dan pembantunya saat mereka diteror oleh dua tentara minggat.
Dua-tiga tahun terakhir, ada gejolak baru di skena musik. Gejolak itu berwujud dalam kehadiran band-band baru yang muncul dengan identitas kuat perempuan di dalamnya. Ini jelas bukan hal baru, tapi yang paling menyenangkan adalah kuantitasnya yang bertambah - dan dengan itu - semakin banyak pula warna di dalamnya. Tahun lalu, ada Mitski, Mourn, Mannequin Pussy, Strange Relation, Weyes Blood, hingga Noname yang menempati titik-titik tertinggi album terbaik 2016. Tahun ini pun sama adanya, sepuluh bulan berjalan, telah banyak musik bagus lahir dari tangan dan pikiran perempuan. Amelia Murray adalah salah satu yang menyumbangkan suara.
Bermain dengan moniker Fazerdaze, Amelia adalah salah satu talenta terbaik yang tumbuh di antara pegunungan Selandia Baru. Musiknya sederhana namun tajam mengena. Rilisan penuh pertamanya, “Morningside” dengan mudah menjadi album yang menyenangkan dan bahkan saat kali pertama mendengarkannya. Meski begitu, cukup mengejutkan saat mengetahui tiket konser ludes selang beberapa hari sejak penjualan. Ini menunjukkan bahwa ada permintaan yang tinggi pada untuk bermain di Jakarta, juga kejelian tiga kolektif, 630 Recordings, Noise Whore dan Studiorama untuk membawa Amelia pulang ke separuh pertiwinya (di akhir tahun ketiga kolektif ini akan mengundang unit noise rock seminal, A Place To Bury Strangers). Tapi poin terbaik konser ini bukan di situ.
Poin terbaik dari konser sabtu malam kemarin ada pada bagaimana band yang tampil merepresentasikan gejolak baru skena musik yang juga sedang berkembang di lokal. Tiga band yang dipersilakan tampil adalah band dengan vokalis/gitaris perempuan yang tampil dominan. Sharesprings - salah satu representasi indie pop Jakarta terbaik menurut kami - tampil sebagai pembuka. Grrrl Gang - band muda potensial asal Yogya - tampil berikutnya. Ini adalah sekaligus motivasi yang menarik - dengan memberikan panggung pada perempuan-perempuan ini, penonton diajak untuk melihat bahwa ada kesempatan yang sama bagi semua untuk berkarya. Poin ini kemudian digarisbawahi dengan tebal oleh Amelia dan kawan-kawan saat mereka membawakan lagu penutup yang membuat lantai atas Rossi bergetar dengan semua pengunjungnya - baik laki-laki maupun perempuan - sejenak melupakan bias gender dan melafalkan lirik lagu “Lucky Girl.”
Sepanjang dan sesudah acara, ada binar pada mata dan senyuman Amelia. Sepertinya ia puas dan bahagia dengan penampilannya di Jakarta. Rasa-rasanya senyum yang sama juga akan dengan mudah ditemukan pada paras semua penontonnya.
Archipelago Festival memupuk sebuah harapan dan semangat baru bagi para penggiat musik hari ini agar bisa saling mendukung dan melahirkan buah-buah ide segar.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?