Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Setelah mempelajari industrial design di Ontario College of Art and Design dan mendalami passion-nya di keramik, Ayu Larasati pulang ke Indonesia untuk mendirikan brand keramik hand-made, sekaligus mengajar di workshop-workshop kreatif di Jakarta. Whiteboard Journal mengunjungi home-studio Ayu dan berbincang mengenai pendekatanya terhadap dunia keramik, desain, dan juga ketertarikannya di seni rupa yang semakin tinggi.
Tahun 2015 adalah tahun keempatbelas perjalanan Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (bass, vokal latar), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar) sebagai unit musik bernama Efek Rumah Kaca. Banyak peristiwa terjadi pada dasawarsa pertama mereka ini, dua album penuh yang dirilis pada dua tahun berturutan, 2007 (Selftitled) dan 2008 (Kamar Gelap), sampai lagu-lagu yang menjadi nyanyi bersama pada panggung-panggung yang terjelajahi di penjuru Indonesia. Tapi diantara semua peristiwa, ada pula getir cerita pada kondisi Adrian yang memaksanya absen pada penampilan live Efek Rumah Kaca. Satu hal yang bisa merangkum perjalanan mereka adalah eksperimentasi yang menjadi inti dari setiap karya. Kekayaan Bahasa Indonesia, dan pemilihan tema adalah area yang telah mereka jelajahi.
Setelah vakum selama hampir satu setengah tahun sehubungan dengan kepergian Cholil ke luar negeri untuk fokus menyelesaikan sekolah, Efek Rumah Kaca menandai kembalinya eksistensinya dengan single “Pasar Bisa Diciptakan”. Dan seperti yang biasa mereka lakukan, eksperimentasi menjadi kunci di karya ini. Kali ini, musik menjadi fokus utama eksperimentasi. Aransemen dibuat lebih kaya dengan layer-layer gitar yang lebih membahana, dinamika sekaligus struktur lagu juga menjadi semakin berwarna.
Sejatinya, single ini bukanlah materi yang sepenuhnya baru. Dasar-dasar lagu ini telah terbentuk sejak tahun 2008. Ide dasar dari “Pasar Bisa Diciptakan” adalah semacam elaborasi lebih lanjut dari lagu “Cinta Melulu”, tentang kegelisahan Efek Rumah kaca terhadap proses berkarya sebuah karya seni dengan posisinya di pasar/industri. Jika “Cinta Melulu” menyampaikan pesannya dalam nada yang cenderung sinikal, pada “Pasar Bisa Diciptakan” Efek Rumah Kaca memilih perspektif yang lebih optimis. Bahwa selalu ada cara untuk berkarya dengan jujur.
“Seiring dengan waktu, kita sudah tidak sekeras dulu. Masih ada api itu tapi kami ingin lebih kalem. Kita ingin lebih tenang dalam meneriakkan sesuatu. Banyak lirik yang akhirnya diganti karena kami merasa sudah tidak sesuai lagi. Yang jelas, ‘Pasar..’ dibuat untuk kami sendiri, tidak ada rencana untuk membuat manifesto atau apapun itu. Ini hanya cermin kegelisahan kami,” ujar Cholil.
“Pasar Bisa Diciptakan” dirilis bersamaan dengan single “Biru” yang merupakan extended version dari single ini. Ada dua fragmen yang tergabung dalam lagu “Biru”. Fragmen pertama ada pada paruh awal lagu yang juga menjadi versi pendek lagu untuk versi radio edit dengan judul “Pasar Bisa Diciptakan”. Fragmen kedua dengan judul “Cipta Bisa Dipasarkan” berada pada sisa durasi lagu. Secara terpisah, fragmen-fragmen tersebut masing-masing mewakili dua angle dalam proses penciptaan karya dalam kesenian, yakni secara internal dan eksternal. Keduanya membentuk secara utuh, “Biru” sebagai rangkuman pemikiran Efek Rumah Kaca tentang pentingnya eksplorasi dalam proses berkarya.
This episode of Loka Suara is titled “Ampun” a selection of songs to accompany your eid holidays. Take a listen to the episode and do look for the band featured if you like what you hear.
photo by: Samuel Evander
Tracklist:
1. Bungabel - Sungai
2, Billy Aulia Saleh - Salju Panas
3. Stars and Rabbit - The House
4. Danilla - Junko Futura
5. Tika - You Belong to Me
6. Gabriel Mayo - You and Me
7. Orkes Keroncong – Alang-alang (cover)
8. Semak Belukar - Malas Marah
9. Suarasama - Fajar di Atas Awan
10. Gardika Gigih - 'Lagu Ibu' OST 'Lemantun'
Even with the advent of Google Images, there is nothing quite like going through a book to look at art. In this selection, we have chosen books we look through in the office, whether to look for references or simply enjoying the great visual content.
A mix of familiar Brazilian tunes of samba, bossa, and tropicalia.
1. Gal Costa & Caetano Veloso - Baby
2. Os Mutantes - A Minha Menina
3. Maria Bethania - Carcara
4. Jorge Ben - Comanche
5. Marcos Valle - Não tem nada não
6. Gal Costa - Lmngua Do P
7. Gilberto Gil - Aquele Abraço
8. Tim Maia - Que Beleza
9. Jorge Ben - Chove Chuva
10. Joao Gilberto - Samba da Minha Terra
11. Caetano Veloso - Irene
12. Tom Zé - Gloria
In the fifth part of her Column series, Yanti Sastrawan discusses social media as our means of communication, as well as the concept of ambient co-presence. As the digital communication allows us to always be aware of each other's presence, she explains how we can be there without being there.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?