Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Cukup susah untuk tidak tersenyum di konser White Shoes and the Couples Company. Dengan kualitas musik dan penampilan yang telah membawa mereka menjadi salah satu band paling maju di Indonesia, hampir setiap panggung WSATCC adalah gelaran yang selalu menghibur. Indra penglihatan dan pendengaran selalu terpuaskan oleh nyanyi dan tari yang selalu ditampilkan dengan sepenuh hati oleh tiap personilnya. Baik di panggung besar, maupun di gigs kecil di sebuah kafe yang penuh sesak, pentas sextet ini selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Hari itu, Rabu, 5 Agustus 2015 WSATCC dijadwalkan untuk bermain dan membagikan pengalaman yang menyenangkan tersebut di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Dan, pada hari tersebut, entah berapa banyak senyuman yang terkembang di muka para penonton setelah sajian yang cukup spesial dari WSATCC. Bukan hanya karena hari itu merupakan “ulang tahun” ke-13 dari WSATCC, tetapi juga karena acara ini memiliki tajuk yang juga lumayan istimewa, yakni “White Shoes and The Couples Company Konser di Cikini”.
Dalam hal ini, Cikini khususnya Graha Bhakti Budaya sebagai bagian dari Taman Ismail Marzuki menjadi konteks yang cukup penting sehubungan dengan sejarah kemunculan unit WSATCC dari Institut Kesenian Jakarta yang juga berada kompleks Taman Ismail Mazuki. Selang sekitar tiga belas tahun dari tahun 2002, setelah nama WSATCC berkembang jauh dari band kampus menjadi salah satu band independen paling sukses di Indonesia, kembalinya mereka ke kompleks ini seakan merupakan tanda terima kasih sekaligus homage kepada sebuah entitas yang sedikit banyak juga berperan dalam progresi karir mereka. Sebuah hal yang ternyata juga dirasakan oleh para penggemar musik lokal, semenjak sore, kawasan Taman Ismail Marzuki terlihat lebih ramai daripada biasanya dengan kedatangan penonton konser yang memadati area sekitar gedung Graha Bhakti Budaya. Ratusan tiket pre-order sekaligus tiket on the spot yang ludes dalam waktu yang singkat menjadi bukti sahih akan antusiasme para penggemar musik terhadap konser ini. Dan benar saja, ketika akhirnya pintu teater dibuka pada sekitar pukul setengah delapan malam, antusiasme itu seperti menemukan muaranya pada panggung WSATCC.
Tapi tetap saja, ada beberapa hal yang terasa tak terlalu sempurna pada konser Cikini tersebut. Sebenarnya, jika dilihat secara umum, Konser Cikini bukan merupakan konser yang buruk, White Shoes tetap tampil bagus dan menghibur. Tapi, jika dilihat lebih jauh, untuk band dengan level White Shoes, predikat bagus dan menghibur semata jelas tidak cukup. Sebagai salah satu nama yang menjadi panutan di scene independen lokal, juga mengingat segala prestasinya di level internasional, benchmark untuk White Shoes berada pada level yang setingkat, atau bahkan dua tingkat di atas band lokal pada umumnya. Dan, pada malam itu ada beberapa poin yang cukup mengganggu kesempurnaan acara.
Hal pertama yang cukup mengganggu adalah kostum Sari dan Mela di sesi pertama, identitas endorser brand Ugly terlalu menonjol, membuat fokus yang seharusnya ada pada penampilan White Shoes secara keseluruhan justru agak tenggelam. Secara umum, set White Shoes di paruh pertama pertunjukan juga tak terlalu istimewa, nuansanya hampir sama dengan panggung White Shoes pada pentas mereka biasanya. Sebuah hal yang cukup disayangkan, mengingat gelaran ini cukup spesial, baik secara sejarah juga tempat yang cukup istimewa. Memang, tak ada masalah serius pada musik yang mereka mainkan, tapi sekali lagi, “aman” jelas bukan sebuah hal yang diharapkan pada konser semacam ini.
Untungnya di paruh kedua pertunjukan, ada perubahan yang cukup mengangkat keriaan Konser Cikini ini. Set dibuka menjadi lebih lapang, dengan tambahan deretan mini orchestra dan dekorasi panggung bertemakan perkotaan, plus kali ini kostum para personil tampak lebih koheren satu sama lain. Semua tambahan tersebut membuat panggung terasa lebih hidup dan memberikan pengalaman yang cukup istimewa kepada penonton. Ada pula berbagai atraksi yang cukup menarik dari John dengan mesin tik-nya yang cukup menggelitik, juga cover version dari Tielman Brothers yang dimainkan dengan cukup rancak. Sayangnya, di set kedua ini masih ada beberapa elemen yang agak mengacaukan keutuhan acara. Terutama pada sisi artistik yang terasa digarap agak kendor, terlihat pada bagaimana transisi per lagu yang agak awkward, dekorasi dan lampu yang tak maksimal, dan agak cukup susah untuk mengapresiasi burung-burung dengan lampu menyala yang tiba-tiba muncul di tengah set itu. Dalam hal setlist dan kolaborasi dengan orchestra, sebenarnya masih bisa lebih baik lagi. Chemistry antara band dengan orchestra dari Indra Perkasa terasa cukup saling melengkapi, namun di beberapa lagu yang agak “ramai”, sering terasa suara instrument dari WSATCC bertumpuk dengan bunyi dari string section.
Tapi toh, tampaknya hal-hal tersebut tidak membuat senyum para penonton terhenti terkembang. Bisa dilihat pada bagaimana hampir semua penonton sangat bersemangat untuk mengikuti lagu per lagu yang dimainkan. Sebuah hal yang terus terjaga hingga akhir panggung dan malah semakin nyata terlihat pada sesi encore, dimana para personil mengajak penonton untuk mendekat ke bibir panggung untuk nyanyi bersama. Tampak jelas kepuasan pada setiap wajah personil dan penonton, dan dengan demikian bisa dipastikan semua pulang dengan hati bahagia. Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, bukankah rasa lega merupakan hal yang paling utama?
Melalui musik dan lirik dari Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud mencuat sebagai salah satu nama penting di scene musik independen nasional. Diluar aktivitasnya di dunia musik, Cholil juga dikenal sebagai sosok yang cukup vokal dalam menyuarakan kegelisahannya mengenai berbagai isu sosial. Whiteboard Journal berkesempatan untuk berdiskusi bersama Cholil mengenai dunia musik independen, perkembangannya hingga tentang pandangannya mengenai hak-hak warga negara.
Yessss finally able to do a new Mix for you, apology for the long hiatus but I hope this will make it up, enjoy =)
Playlist:
01. Shyla Hylton - Falling In Love (McBoing Boing Edit)
02. The Doors - Down So Long
03. Slick - Space Bass
04. DUB IN WAVE
05. Telephones - Lotusland (Sunset Mix)
06. Young Marco - Darwin In Bahia
07. 2 Bitches From Queens - E 4 LOVE
08. The OJON - G3000
09. The Mekanism - Acid Love
10. STRANDBAR JOAKIM REMIX
11. QUANDO QUANDO - LOVE TEMPO
12. Jirapah - SOL (WNOPERMISSION ADJMENT)
This episode of Loka Suara is titled “Redam” a selection of songs to get back to daily routines. Take a listen to the episode and do look for the band featured if you like what you hear.
photo by: Samuel Evander
Tracklist:
01. Zoo - Giza
02. LKTDOV - All We Have Left Is A Memory Of Yesterday
03. A City Sorrow Built - Datang/Pergi
04. Haldol - Time Is Not On Our Side
05. Vague - 23
06. Cotswolds - Fire
07. Knurd Hamsun - Death By Piano
08. The Colour Mellow - Pauper
09. Unperfect Sky (ft. Sigit Tigapagi)
10. Ramondo Gascaro - Oh Jakarta
In her final essay, Yanti Sastrawan describes how analog activities are the roots of their digital counterparts, as well as the changes in the approach and interaction towards these activities when translated through today's technology.
Tahun 2015 menjadi tahun yang sibuk bagi Polka Wars. Setelah berangkat ke Amerika Serikat untuk rekaman di Studio Rubber Tracks milik Converse, mereka melanjutkannya dengan merilis boxset limited edition "Axis Mundi," album perdana dari quartet ini yang terjual habis dalam waktu kurang dari dua jam. Kali ini, Polka Wars merilis "Axis Mundi" dalam bentuk CD melalui label Helat Tubruk. Pada tanggal 22 Agustus, mereka akan menggelar konser tunggal di Institut Francais Indonesia, dimana Polka Wars akan membawa lagu-lagu di "Axis Mundi" dan yang telah mereka rekam di studio Rubber Tracks. Untuk informasi selanjutnya, silahkan membaca informasi di bawah ini.
--
Setelah sebelumnya dirilis dalam format boxset dan digital, album perdana dari Polka Wars bertajuk Axis Mundi kini akan dirilis dalam format cakram padat (CD) pada 1 Agustus 2015. Melalui label Helat Tubruk, CD Axis Mundi merupakan rilisan fisik kedua dari Polka Wars.
Mengomentari mengapa distribusi Axis Mundi dilakukan secara terpisah dalam rentang waktu 3 bulan dengan format berbeda, drummer Giovanni Rahmadeva mengajukan alasan karena terpotong libur lebaran. Terlebih, merilis Axis Mundi di iTunes diperuntukkan bagi pendengar yang sudah “tidak sabar lagi mendengarkan album ini, banyak yang tidak puas kalau tidak memegang versi fisik.”
Lagu-lagu yang dikemas dalam CD ini akan sama seperti format sebelumnya, kecuali lagu bonus track “Coraline.” Dalam CD, nomor ini akan diambil dari rekaman Polka Wars yang sebelumnya diunggah ke dalam akun SoundCloud mereka, ketimbang versi yang bisa didengar di boxset ataupun digital.
CD Axis Mundi sudah dipastikan akan didistribusikan ke kota-kota berikut: Jakarta, Bogor, Bekasi, Bandung, Solo, Jogjakarta, Jambi hingga Makassar. Rilisan ini juga akan dibarengi dengan pengunggahan video lirik dari lagu “Mokéle” yang merupakan single dari album Axis Mundi di kanal YouTube Polka Wars.
Putaran promosi dari album Axis Mundi akan dilanjutkan dengan konser perilisan album dengan kuota terbatas yang akan berlangsung pada tanggal 22 Agustus 2015. Panggung Polka Wars yang kabarnya akan memainkan lagu-lagu dari Axis Mundi beserta lagu-lagu yang direkam di New York dalam rangka Converse Rubber Tracks akan bertempat di auditorium Institut Français Indonesia, Jakarta. Pemesanan tiket dengan jumlah kursi terbatas ini dapat dibeli secara online via
Axis Mundi Tracklist (Regular CD Version):
1. Mokéle
2. Alfonso
3. Top Gear (Moths & Flies)
4. This Providence
5. Horse’s Hooves
6. Lovers
7. Tall Stories
8. Piano Song
9. Coraline (SoundCloud version)
BIOGRAFI
Selama 3 tahun terakhir, Polka Wars menjalani proses kreatif secara mandiri. Para personilnya pun tumbuh dewasa bersama, baik dalam konteks personal maupun bermusik. Tak jarang, akibat proses-proses yang tumpang tindih tersebut, muncul konflik di dalam tubuh kuartet indie rock muda terhangat milik Indonesia ini.
Namun dengan etos kerja yang gigih, Polka Wars berhasil membayar lunas seluruh jerih payah dengan sederet prestasi; respon publik yang luar biasa positif terhadap single Mokéle, 100 keping boxset limited edition sold-out dalam 150 menit dan tentu saja, rekaman di New York, AS. Seluruhnya diraih dalam tempo sangat singkat di medio Mei - Juni 2015.
Merupakan sebuah pengalaman unik untuk duduk dan berbincang bersama keempat pemuda yang diganjar predikat Young Guns 2015 oleh Rolling Stone Indonesia ini. Terbuka untuk membicarakan masalah sepele hingga spiritualitas level tinggi yang merupakan rumus musik Polka Wars; yang tak sungkan mereka akui sebagai musik dakwah dalam kemasan yang modern.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?