Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Pada esainya kali ini, penulis tamu whiteboardjournal.com, Idhar Resmadi menulis pendapatnya tentang Record Store Day. Tentang pandangannya mengenai budaya ini ini semakin menyebar di banyak daerah di Indonesia, tentang belanja musik di era dimana toko musik semakin banyak yang tutup, dan fenomena gentrifikasi yang menyeruak diantaranya.
Bekerja sama dengan Kedutaan Norwegia dan Swedia, Kinosaurus, mikro sinema, menampilkan jadwal film untuk bulan April yang dibagi jadi beberapa jenis film, mulai dari “Scandinavian Popular Cinema” yang terdiri dari film asal Skandinavia yang mencapai Box Office dengan keuntungan puluhan juta dolar, “First Features” yang menampilkan film pertama dari sutradara pilihan seperti Josh Kim dan Andri Cung.
“Young Norway” didaulat untuk memperkenalkan sutradara muda asal Norwegia yang berhasil membawa filmnya ke festival dengan mengangkat cerita dari novel. Sedangkan untuk sinema anak, Kinosaurus hadir dengan “Kinokids with Club Kembang” berisi film-film animasi yang menggambarkan perkembangan film di Norwegia dibalut dengan kultur dan nilai artistik khas Norwegia.
Khusus untuk fokus sutradara bulan ini, Kinosaurus membuat “Spotlight on Mira Nair.” Seorang sutradara asal India berbasis di New York yang dikenal dengan isu ekonomi sosial dan budaya India dalam filmnya berjenis documenter hingga fitur, seperti Salaam Bombay! yang pernah dinominasikan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Award di tahun 1989. Untuk melengkapi agenda, “Kinodocs” pun kali ini diisi dengan gabungan film dokumenter lokal seperti WSATCC di Cikini dan film Norwegia berdurasi 80 menit, The Snow Cave Man.
Kunjungi website Kinosaurus untuk detail jadwalnya.
-
Kinosaurus
Jl. Kemang Raya No.8B
Mampang Prapatan
Jakarta
Merantau tak selalu terjadi atas kemauan sendiri, kadang aksi itu terjadi karena keadaan yang menggiring posisi seseorang untuk berpindah ke tempat yang dipercaya lebih menguntungkan. Berawal dari dorongan untuk berpindah tersebut, tentunya menggasak rasa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan meninggalkan kampung halaman akan memberikan fase haru biru bahkan krisis.
Cerita akan hal seperti itu tidaklah langka jika kita bayangkan keadaan yang dulu terjadi di Indonesia. Sebagai salah satu negara di dunia yang mengalami penjajahan tentu ada represi yang membuat orang-orang di zaman terjadinya okupasi harus mengambil sikap untuk bertahan hidup, tak hanya dari kondisi yang tak menguntungkan, tapi juga untuk mencari kedamaian. Belanda adalah Negara yang menjadi highlight dalam sejarah Indonesia hingga saat ini, bahasa maupun budaya keseharian cenderung terserap begitu dalam sampai batas yang dulu diciptakan sekian keras melebur sudah menjadi sekadar sejarah.
Fenomena bisa disematkan dalam hubungan antara Indonesia dan Belanda yang terjalin sekian lama dalam bisnis, budaya dan lain lain. Melihat warga Negara Indonesia yang tak terhitung jumlahnya di Belanda setelah meraih kemerdekaan di tahun 1945 telah menciptakan macam ‘kewarganegaraan’ baru. Hal itu telah didokumentasikan dalam sebuah film pendek berjudul “Untuk Selalu” oleh Andrea van den Bos, Ambar Surastri dan Robbert Maruanaija.
Mengangkat memori sebagai dasar cerita, film ini menyentuh kita sebagai warga negara Indonesia yang seringkali menyepelekan budaya nenek moyang dari orang tua. Terkesan klise memang, tapi melalui film ini terdapat empat orang berdarah Indonesia yang tinggal di Belanda merasakan kebanggaan tersendiri ketika memposisikan diri mereka di antara budaya Belanda. Adat, kebiasaan, kuliner, ritual hingga kepercayaan turunan menjadi celah dan warna dalam diri keempat orang yang mewakili para ‘indo’ (orang berdarah campuran – dalam hal ini adalah Belanda) dalam film yang dinominasikan sebagai Dokumenter Terbaik di Shortcutz Amsterdam tahun ini.
Negara memang mencatat diri seseorang ke dalam sistem untuk terus bergerak dan berkembang, tapi tradisi keluarga dan kepercayaan nenek moyang lah yang selalu menentukan sikap seseorang dalam mengatasi situasi yang menimpanya.
Teks: Febrina Anindita
Eksibisi seni sekaligus pencarian talenta baru dari Dia.Lo.Gue artspace kembali lagi dengan episode kelimanya. EXI(S)T kembali menggali potensi seni anak bangsa pada sebuah program dimana bakat-bakat yang ada akan diajak untuk berpartisipasi dalam project kreatif dan diskusi kritis untuk melahirkan karya dan gagasan baru. Simak detail submisinya berikut:
Dia.Lo.Gue Artspace kembali mengajak para perupa muda berbasis Jakarta untuk ikut dalam program tahunan EXI(S)T yang pertama kalinya diadakan di tahun 2012. Disini kami tertarik untuk menjadi semacam inkubator untuk berbagai potensi artistik, dimana dialog kritis antara partisipan dan mentor serta kurator menjadi proses utama.
Exi(s)t #5 mendatang akan diselenggarakan di bulan November 2016.
Kriteria calon peserta adalah :
Bagi yang tertarik, kami mengundang anda untuk mengantar / mengirim portfolio anda ke Dia.lo.gue artspace, Jl. Kemang Selatan 99a, Jakarta 12730 (dengan mencantumkan EXI(S)T #5 atau melalui e-mail ke exist@dialogue-artspace.com
Setelah melalui tahap seleksi oleh kurator, Dia.Lo.Gue akan mengundang peserta untuk mengikuti rangkaian program lokakarya yang akan berlangsung selama proses kuratorial.
Pada esainya kali ini, Muhammad Hilmi menuliskan tentang Leicester City, sebuah tim kecil yang sekarang sedang diperbincangkan banyak orang karena mampu menduduki peringkat tertinggi di Liga Inggris. Tulisan ini berusaha untuk mencari alasan dibalik bagaimana tim kecil minim dana bisa mengalahkan tim besar yang kaya raya.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?