Latest stories

09.08.17

Kreasi Melayang di Tanah Lombok

Ialah seorang arsitek lokal dengan nama Budi Pradono yang menghiasi sebuah bukit di Lombok dengan kontainer melayangnya di atas sebuah rumah mewah. Disebut sebagai Clay House atau juga sebagai Seven Havens Residence, kreasi Budi memang dapat dipandang sebagai sebuah pencakar langit yang justru tidak berkonotasi negatif selayaknya sebuah pengganggu pemandangan, melainkan sebagai sebuah perwujudan seni yang menjadi sebuah penarik perhatian di antara lahan hijau sekitarnya. Dengan harapan akan memembantu menonjolkan daerah sekitarnya yang masih berkembang, ikonisasi dari Seven Havens Residence memang perlu digarisbawahi usahanya, mulai dari penggunaan kontainer barang setinggi 2.2 meter yang berasal dari pelabuhan pulau tetangga, tanah liat pada dinding yang diambil hanya 20 km dari lokasi dan diolah dengan keterampilan tenaga lokal, serta bambu yang telah dipreservasi sedemikian baiknya untuk menghias interiornya. Masih banyak lagi material lainnya yang menghiasi tiap sudut rumah, yang jika diusut satu per satu asal dan tujuannya mungkin hanya akan membuat terkesima akan kemampuannya menyempurnakan Seven Havens Residence yang arsitekturnya mendekati kata “sempurna.” Sebuah ikon yang memang berupaya untuk mengikutsertakan unsur lokal sekitarnya dalam aktualisasinya menjadi sebuah penarik perhatian yang lagi-lagi demi menyorot daerah sekitarnya. Kreasi terkini Budi memang tidak sembarangan dalam menjunjung tinggi nilai lokal.

09.08.17

Inisiasi Diskusi dari Saturasi

Sepuluh tahun terakhir, ada perkembangan menyenangkan di dunia desain lokal. Di kampus-kampus, Desain Komunikasi Visual menjadi jurusan favorit, semakin banyak pula gagasan-gagasan baru dari ranah desain yang membuka pintu baru di industri kreatif Indonesia. Buktinya bisa dilihat pada eksibisi “Seek A Seek” yang memamerkan potensi desain lokal, juga bermunculannya studio desain yang tersebar di penjuru bangsa, masing-masing dengan karakter tersendirinya. Nusae adalah salah satu bagian dari movement ini. Melalui karyanya, Andi Rahmat dan kawan-kawan telah mewarnai perkembangan praktek desain di Indonesia. “Saturasi” adalah karya terbaru dari Nusae yang bertujuan untuk memicu diskusi sekaligus mengembangkan kajian desain lokal. Datang dalam bentuk publikasi zine yang terbit 4 bulanan, Saturasi berupaya untuk menghadirkan wacana dan gagasan yang memperkaya khasanah visual lokal. Di edisi pertamanya, Saturasi berbicara tentang “Ruang” dalam bentuk esai pendek tentang fundamental desain dari Josef Muller-Brockmann, ruang alternatif dari Hiroshi Fujiwara hingga interview bersama Aswin Sadha - inisiator Thinking Form. Saturasi edisi pertama dibagikan secara gratis dan bisa didapatkan di beberapa tempat berikut: Dia.Lo.Gue Artspace, Sunset Limited, Footurama, dan Kopi Manyar. Ikuti Saturasi untuk mendapat info terkini mengenai kajian desain.

09.08.17

Forum Seni bersama Hafiz Rancajale

Setelah menjadi salah satu founding fathers ruangrupa, Hafiz Rancajale beralih menjadi pendiri Forum Lenteng yang menjadi titik balik akan ketertarikannya terhadap ranah media. Whiteboard Journal menemui Hafiz untuk membahas perannya sebagai kurator, impresi ruangrupa di mata publik hari ini, sampai konsep "going internasional" di antara seniman.

08.08.17

The Seen and Unseen

Jika sempat menungjungi Art Jog kemarin, ada sebuah karya interaktif yang mengajak pengunjung untuk merangkak ke dalam ruangan dengan instalasi sawah dan bulan berpendar. Itulah karya dari Kamila Andini bersama Ifa Isfansyah yang mengambil salah satu dari film terbarunya, “The Seen and Unseen.” Bukan hanya itu saja kejutan yang datang dari Andini, tapi ia kembali menorehkan cerita baru, dan kali ini tidak hanya pada dunia film lokal, tapi juga internasional - tepatnya Toronto, sebab film tersebut menjadi satu-satunya film dari Asia yang akan tayang perdana dan berkompetisi dengan 11 film lainnya di dalam sesi Platform di Toronto International Film Festival 2017 (TIFF). Adapun yang membuatnya spesial adalah sesi Platform yang merupakan sesi kompetisi paling prestisius di ajang festival tersebut. Pada film panjang keduanya ini, Andini membahas isu perempuan yang dikemas dengan cerita antara Tantri dan Tantra dalam pengalaman spiritual mereka yang sarat dengan kearifan lokal, mitos, cerita rakyat, tradisi, serta budaya Bali. Hadir dengan banyak elemen yang menempel pada isunya serta atmoster lokal, wajar jika Platform meloloskan film ini di antara jaajran film kelas dunia lainnya dari Eropa, Inggris, dan Amerika. Diproduksi oleh Treewater Productions dan Fourcolours Films serta diproduseri oleh Gita Fara dan Ifa Isfansyah, “The Seen and Unseen” menjalani proses produksi selama 5 tahun dan mendapatkan berbagai dukungan, antara lain dari Hubert Bals Fund (Belanda), Asia Pacific Screen Awards Children’s Film Fund (Australia), dan Cinefondation La Residence (Perancis) dalam proses pengembangan. Selain TIFF, film ini juga berkesempatan dipresentasikan dalam Hong Kong Asia Film Financing Forum, Filmex Talents Tokyo dan Venice Production Bridge. Pada pemutarannya di TIFF kali, Andini akan menghadapi juri handal - Chen Kaige, Malgorzata Szumowska, dan Wim Wenders - yang akan mengumumkan pemenang pada seremoni penghargaan tanggal 17 September 2017. Pemain dan Kru Produksi: Pemain: Thaly Titi Kasih, Gus Sena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma Penulis Skenario: Kamila Andini Penata Kamera: Anggi Frisca Penata Artistik: Vida Sylvia Editor: Dinda Amanda, Dwi Agus Sound: Yasuhiro Morinaga, Hadrianus Eko Musik: Yasuhiro Morinaga

08.08.17

Tephlon Funk: Anime ala New York

Semenjak merilis manga “Tephlon Funk” pada tahun 2015, Stephane Metayer, sang pembuat manga, telah berhasil menarik perhatian Willow Smith dan rapper Nas. Komik ini sendiri terinspirasi oleh Nas, di mana latarnya menggunakan kampung halamannya, yaitu Queensbridge. Setelah melihat kesuksesan manganya, Metayer ingin membawa karyanya ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu menjadikannya menjadi sebuah anime. Metayer pun bekerja sama dengan D’Art Shtajio untuk membuat sebuah animasi Animasi 50 detik itu diharapkan akan mendapatkan perhatian studio-studio besar yang mau menjadikannya sebuah anime Jika Metayer berhasil, “Tephlon Funk” akan menjadi anime pertama yang berlatar belakang di kota New York, dan juga yang pertama di mana karakter utamanya adalah orang kulit hitam. ini sendiri kurang lebih hanya mengenalkan empat karakter utamanya, yaitu Gabriel, Cameron, Giselle, dan Inez. Keempat karakter tersebut dipamerkan melewati adegan-adegan aksi seperti membawa pedang, pistol, dan kehebohan lainnya. Karena berlatar belakang di Queensbridge, manga ini menyentuh tema-tema kehidupan urban dan tentunya hip hop, maka tidak heran jika banyak penggemarnya yang membandingkan tersebut kepada “Samurai Champloo”dan “Cowboy Bepop”.

08.08.17

Petualangan Urban di Macao

Macao adalah destinasi wisata yang penuh dengan situs bersejarah dan subkultur beragam. Kami menelusuri beberapa titik menarik di Macao dengan daya tarik urban untuk para wisatawan yang mencari pengalaman unik dalam waktu 7 hari. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.